#17 Tulisan Terkasih
Tulisan Terkasih
#MeldaWidia
Hai. Apa kabar kamu disana? Sudah lama sekali rasanya aku
tak bertemu denganmu. Semoga keadaanmu selalu baik-baik saja. Tapi ngomong-ngomong
apakah kamu masih mengingatku? Aku harap masih, karena aku disini akan selalu
mengingatmu. Disini, dalam tulisan ini aku berniat menuliskan kenangan dan
pengharapanku padamu. Aku berharap kamu menyukainya. Kupilihkan kata sesantun
mungkin agar kamu bisa membacanya dengan nyaman.
Tahun ke tahun, bulan ke bulan, sampai hari ke hari aku
mulai mengenali seseorang yang tanpa alasan terselubung datang dan kemudian
memahamiku. Aku rasa itu yang dinamakan teman. Seseorang yang selalu memberi
senyuman apa adanya. Ah, sudah kupastikan sosok teman itu ada pada dirimu. Senang
sekali bisa melihat sosok itu. Aku bingung meneliti celah dimana kamu bisa saja
mendapat cela. Ternyata tidak. Kamu terlalu sempurna. Terlalu baik. Karakter rajin dan memiliki kepintaran yang
bagus adalah keunggulanmu yang paling kentara. Kadang aku merasa kamu seserang
yang lugu dan pemalu. Menurutku itu bukan cela melainkan sifat yang ada dan
bisa dirubah. Yang namanya cela itu tidak dapat dirubah menjadi lebih baik.
Dulu saat SMA kamu sering membantuku. Membantu mengerjakan
tugas sekolah. Kepintaranmu unggul di pelajaran hitung menghitung yang sayang
sekali tak bisa kupahami walau sudah setengah mati belajar. Sampai-sampai aku
ingin mual jikalau bertatap muka dengan angka
dan rumus itu. Dan saat kebuntuan menghantuiku dengan asiknya maka tak
lama lagi si ‘frustasi’ menghampiri. Tapi kamu, selalu datang menghadangnya dan
membantuku mencari jalan agar ditemukan hasil akhir yang mendekati kepastian
angka.
Jika ada kata yang lebih baik dari ‘Terimakasih’ mungkin aku
akan mengucapkannya padamu. Hanya saja tidak ada. Maaf aku disini hanya bisa
mengucapkan ‘Terimakasih’ setulus-tulusnya, sedalam-dalamnya. Selama ini, dari
mulai perkenalan kita sampai sekarang aku belum bisa membalas kebaikanmu saat
itu. Mungkin dengan doa aku bisa membayar kebaikanmu itu walau mungkin sampai
kapanpun aku tak akan bisa melunasinya. Segala harap yang terbaik kuberikan
padamu. Apapun mimpimu, apapun harapanmu, dan apapun keinginanmu semoga bisa
tercapai. Aku Rida Farida, menulis suatu yang tak seberapa ini untuk yang
terkasih. Kamu. Temanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar