PART 1: Truth Or Dare

| Rabu, 24 Juli 2013 | |
Kelas bergemuruh. Jam pelajaran kosong membuat sebagian besar murid-murid merasa termerdekakan dari molekul, senyawa, karbon, zat dan segala hal berbau kimia. Pelajaran kimia, bukanlah pelajaran yang terfavoritkan di kelas itu. Untuk pertama kalinya, setelah satu semester berlalu mereka tidak meng-“aduh”kan keberadaan jam pelajaran kimia, Bu Desi tidak masuk kelas dan hal itu menjadi kabar baik bagi kebanyakan murid.
Rangga, si maskot kelas menyumbang ide “cemerlang” bagi teman-temannya. Sikapnya yang nyeleneh, asal-asalan, super jail dengan gaya rambut yang maha amburadul menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mengisi kekosongan, Rangga menghasut teman-temannya untuk memainkan sebuah game menantang nyali yang tak biasa. Permainan yang disanggupi oleh delapan orang termasuk dirinya: truth or dare. Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando menerjunkan diri dalam permainan tersebut. Yang enggan mengikuti permainan terutama yang berkeinginan namun tidak punya nyali untuk bergabung  hanya bertugas menjadi penonton saja.
Satu pulpen diletakan di tengah-tengah meja dan para pemain pun berkumpul mengitarinya. Rangga berdehem. “Aturannya tetep sama. Siapa yang nanti ke pilih, harus rela ngeberesin tantangan dari pemain lainnya. Ga boleh nolak, ga boleh protes dan ga boleh dendam-dendaman. Ini cuma permainan, remember?! Gue udah nyiapin sepuluh gulungan kertas, isinya lima pilihan buat truth dan lima pilihan juga buat dare. Ga pake pertanyaan: truth or dare ya, biar lebih adil, seru dan gokil.”
Atmosfer kelas mulai memanas. “Let’s play!” sahut Jery.
Sebagai pengusung ide, Rangga ditanggungjawabi untuk memutar pulpen pertama kali. Saat pulpen itu menemukan porosnya, berpasang-pasang mata memusatkan diri di satu titik. Seiring melemahnya kecepatan pulpen, selama itu pula tidak ada satu orang pun yang bisa tenang baik itu pemain maupun penonton. Semua menarik nafas dalam-dalam dan pemain pertama yang terpilih adalah: Vina.
“Gue? Mesti ya, gue duluan? Rangga, elo sengaja? Pulpennya lo mantra-mantrain dulu, ya?” cetus Vina.
“Emangnya gue dukun? Liat dong setelan gue!” ucap Rangga sembari menaikan kerahnya.
“Rambut tuh urus! Setelan tikus kecemplung got juga!” timpal Nando.
“Bukan, tauk! Itu setelan masa kini majalah perkebunbinatangan!” menyusul Desta.
“Wah, wah, wah, rambut gue emang keren. Setelan Edward Cullen lagi sakit gigi, tapi ga usah di omong-omongin juga kali! Udah Vin, cepet lo pilih kertasnya!”
Nando menatap iba pada Rangga. Permainan tetap berlanjut. Walau enggan, Vina pun merentangkan tangannya untuk mengambil satu gulungan kertas. Setelah Vina memutuskan, ia membuka gulungan itu. Dare adalah takdir Vina. Semua pemain kecuali Vina, mulai berdiskusi. Cekikikan demi cekikikan pun terdengar menghantui sejalannya pendiskusian. Hati Vina sedikit gelisah, ia bertanya-tanta pada dirinya sendiri: apa ia memang bodoh karena telah mengikuti permainan ini? Vina bingung bahkan terlalu bingung.
Reno nampak serius. “Oke, Vin! Anggap aja ini hari yang kurang bersahabat buat lo. Lo harus tabah dan pasrah aja, ya? Kita semua udah mutusin tantangan dare yang harus lo beresin adalah,” Reno diam sebentar, “nyanyi Iwak Peyek di depan kelas lengkap dengan gaya Trio Macan.”
Vina melongo sementara teman-teman lainnya berupaya mengulum tawa. Bahkan Vina belum melakukan apapun tapi mereka semua sudah mulai melempari Vina dengan tatapan “menertawakan”. 
“Ayo, Vina! Vina! Vina! Vina!” layaknya suporter bola, mereka meneriaki penuh semangat menggebu-gebu.
Wajah Vina merah padam. Tidak ada lagi, Vina si jaim. Karena sebentar lagi Vina akan mematahkan anggapan teman-temannya itu. Ini akan buruk, pikirnya.
Vina beranjak dari kursinya menuju ke depan kelas. Nafasnya berburu, ia tak percaya akan melakukannya di hadapan mereka. Vina berdiri disana, sorak sorai teman-temannya memenuhi ruangan.  “Ayo, Vin! Ga pake gengsi! Putusin urat malu lo!” ujar Nando. 
Vina  gugup. Ia harus bernyanyi, benar-benar bernyanyi. Ia harus berjoged, benar-benar berjoged. Suara Vina mulai menggelosor dari kerongkongan, jarinya di kepal kecuali jempolnya yang diacungkan. 


Ooooo oooo oooo oooo
Ooooo oooo oooo oooo
Iwak peyek, iwak peyek, iwak peyek nasi jagung
Sampek tuwek, sampek nenek, trio macam tetap disanjung
Iwak peyek, iwak peyek, iwak peyek nasi gule
Sampe tuwek, sampek nenek, trio macan tetep oke

“STOP! STOP! Mana gaya Trio Macannya? Lo kira kita lagi nonton dangdutan komplek? Duplikasinya dong, Vin!” sahut Jery.
Sambil terkekeh, Desta menimpali. “Iya, Vin! Kepala lo puter-puter, kalo lo mau gue bawain satu kursi buat lo. Biar nambah properti aja!”
Vina berkacak pinggang. “Kalian nantangin gue? Lo jual, gue beli. Ayo, siniin tu kursi!”
Desta dengan sigap mengangkat kursi di sampingnya lalu menaruhnya di depan kelas. Suasana kelas menegang, mereka serempak menelan ludah.
Kemudian Vina bernyanyi, jelas lagu dangdut itu keluar dari mulutnya. Tubuh Vina berjoged, talu-taluan gendang buatan Rangga, Jery, Nando, Reno dan Desta mengiringinya hingga akhir. Satu kaki diangkat lalu kursi itu dijadikan pijakan, Vina memutar-mutar lehernya. Vina tak malu lagi, ia benar-benar sudah gila. Ada yang bersorak tak karuan, ada yang tertawa terbahak-bahak dan lebih banyak lagi yang melongo tak percaya. Vina sungguh melakukannya: nyanyi lagu Iwak peyek lengkap dengan gaya Trio Macan. Sempurna.
Vina megap-megap saking kelelahan. “Hore!!! Vina!!” tepuk tangan disusul sahut-sahutan seluruh penghuni kelas.
“Kayaknya Vina ‘Trio Macan’ butuh minum nih!” teriak Rangga.
“Kurang ajar! Gue pengen minum dong!!” rengek Vina.
Vina pun kembali duduk. Seseorang memberinya satu botol air yang langsung ia teguk hingga habis. Para pemain truth or dare merecokinya dengan berbagai komentar yang menggelikan, Vina tak tahan lagi. “Permainan masih panjang, kita mainkan lagi!” 
Delapan pemain truth or dare pun berkumpul mengerubuni pulpen itu. Tidak hanya Vina yang merasa capek, mereka yang menonton pun kecapekan karena lelah menertawai. Tapi suasana kembali teratur, semua orang fokus pada pulpen itu terutama ke tujuh pemain yang tersisa. Vina memutar pulpen dengan semangat, ia tak sabar mendapati korban kedua dari permainan itu. Salah-salah Rangga memelopori truth or dare dan kini dia-lah yang terpilih. 
“Gue? Ohoho, kembaran Nicholas Hoult ga takut sama yang beginian!” Rangga nampak percaya diri.
Semua orang yang melihatnya hanya dimampukan mengernyit kening. 
Rangga memilih kemudian membaca isi gulungan kertas itu. “Oh Neptunus, truth.
Aura kecewa menopengi wajah para pemain. Tak dapat dipungkiri, semua orang menginginkan Rangga dijatuhi dengan dare. Ya, mau bagaimana lagi mereka harus menerima bahwa Rangga sedang beruntung kali ini atau mungkin tidak. Elsa, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando pun berunding. Memikirkan pertanyaan jitu untuk seorang Rangga yang tak pernah punya malu. Jelas bukan tugas yang mudah, sekuat tenaga mereka mencari-cari hal yang mungkin cocok, sesuatu yang sulit dan di rahasiakan oleh Rangga. Inilah waktunya, dimana  Rangga harus jujur.
           “Setelah gue pikir-pikir, tantangan truth emang pas banget buat lo. Karena dare menurut gue, terlalu gampang untuk ukuran manusia aneh kayak lo. Siap-siap, Ga! Ini bumerang!” Karin menatap Rangga seolah ia adalah makanan.
“Bener juga, Rin! Gue setuju!” senyum Elsa semakin yakin.
Rangga merasa sedikit goyah. Hal baik yang dipikirkannya kini mulai sirna. “Apaan sih? Cepetan apa pertanyaannya? Jangan ngasih pertanyaan pake soal essai, ribet gue!”
Reno menggosok-gosok telapak tangannya. Reno sangat serius. “Bener lo pernah pacaran sama Bu Siska?”
Setelah pertanyaan diluncurkan, Rangga pun mematung. Banyak telinga yang menunggu perjelasan Rangga karena gosip tentangnya dengan Bu Siska sudah menyebar ke penjuru sekolah. Sebenarnya bukan hal yang menarik jika Bu Siska itu bukan guru (yang kini mantan guru) di sekolah itu dan tidak berumur 5 tahun lebih tua dibanding Rangga. Setelah kabar itu mencuat, Rangga tak pernah sekali pun membahas permasalah itu dengan teman-temannya. Ia selalu bertingkah biasa-biasa saja alias jail bukan main sehingga menumbuhkan anggapan bahwa kabar itu hanyalah gosip belaka. Tapi semua orang belum yakin dan belum benar-benar memastikan. Kini Rangga tetap bersikukuh dalam diam. Lama. Lama sekali.
"Kata nyokap, gue bukan anak yang sabaran!” sindir Desta.
Karin pun mengambil suara, “apalagi gue, sabar itu ga ada dalam kamus hidup gue!”
Tak ingin ketinggalan Vina juga berkomentar. “Gue terlalu sibuk buat sabar mulu. Rangga, cepetan jawab! Lagian lo ga perlu ngitung pake kalkulator kok buat jawab pertanyaan tadi!”
Rangga menarik punggungnya lalu mencondongkan tubuh ke depan. Ia menghela nafas panjang. Ini adalah pengakuan paling gila yang pernah ia lakukan. Kemungkinan terburuk setelah pengakuan itu adalah: runtuhnya image super jail dari seorang Rangga.
“Iya, gue pernah,” ucapnya dengan nada sangat pelan. Untungnya, daya dengar teman-temannya lebih tajam daripada yang bisa ia kira.
"Serius? Sekarang masih pacaran? Kok bisa? Oh Tuhan, gue kira cuma gosip!” cerocos Elsa.
“Yang jelas dong kalo ngomong! Masa iya, lo harus pake mike kayak mau pidato!” timpal Nando.
Rangga mengacak-ngacak rambutnya. Ia frustasi. “Lo pada gila, ya? Udah deh ga usah kepo!”
“Idih, jawab ya jawab aja. Sesuai aturannya, jangan banyak protes!” ujar Karin.
“Salah ya, kalo gue pacaran sama cewek yang lebih tua? Menurut gue, itu hak semua orang kok mau pacaran sama siapa pun. Gue sama Siska dulu pernah pacaran dan baik-baik aja, tapi karena Siska dijodohin sama orang tuanya, ya, gue harus ngalah. Gue sadar, gue harus berhenti. Gue masih sekolah sementara Siska butuh cowok yang siap nikahin dia di waktu dekat. Posisi gue saat itu juga saat ini belum bisa janjiin apapun buat dia. Lagian, gue kenal dia sebelum dia ngajar di sekolah ini. Hubungan kita semakin deket, lama-lama kita saling jatuh cinta lalu jadian dan setelah ia dijodohin, dia mutusin gue dan pindah ke Blitar. Setelah dia pergi, kabar itu menyebar dan gue males buat cerita lagi. Puas?” kelakar Rangga.
Semua orang terbengong-bengong. Pengakuan Rangga mampu mematahkan anggapan bahwa ia bukanlah cowok hetero yang bisanya merecoki dan mengganggu teman-temannya. Mereka tak percaya, Rangga bisa punya perjalanan cinta se-drama itu. Rangga sekilas tersenyum memerhatikan air muka teman-temannya. Roman-roman jailnya kembali muncul.
“Ga usah dianggap serius. Gini-gini juga gue keren walau gue ga ganteng. Buktinya, Siska mau pacaran sama gue. Vina, Elsa, Karin juga diem-diem jatuh cinta ‘kan sama gue? Ngaku aja, ga usah gengsi!” seloroh Rangga.
“Lo emang bukan cowok melankolis! Lo aneh bin ajaib! Walau lo punya sisi “normal”, tapi gue langsung nyesel pernah mikir gitu kayak barusan!” ucap Vina.
“Nyaris gue ketipu sama tampang lo yang tadi! Sumpah! Tapi bro, untuk pertama kalinya gue salut sama lo!” tangan Jery menepuk-nepuk punggung Rangga pelan.
“Gue lebih demen lo yang ini. Yang tadi bikin gue kayak kehipnotis. Sejail-jailnya lo, seperkasa-perkasanya lo ngelepasin Bu Siska, gue tetap suka gaya lo!” kata Nando mantap.
“Lo suka sama gue, Nan? Sejak kapan? Mau jadi pacar gue? So sweet banget!” 
Mata Reno menyipit, “nyesel kan lo, Nan?”
Nando pun angkat tangan sembari melambai. “Gue nyerah!”
“Keparat! Berani-berani lo nolak gue di depan orang, gue ga terima! DEMI TUHAAAAN!” Rangga pun menggeprak meja. Tingkahnya kali ini menduplikasi seorang selebriti si jargon “Demi Tuhan”: Arya Wiguna yang kepalang mantap. Nyaris mirip saking menjiwainya.
Jery mesem-mesem ingin menambahi. “WAKTUMU SUDAH HABIS! WAKTUMU SUDAH HABIS, SUBUUUR! BUR! CEPET PUTER PULPENNYA, SUBUUUUR!”
Ucapan Jery memancing tawa seisi kelas yang memantul ke setiap dinding. Mereka semua larut dalam canda tawa itu.
“Siap, Subuuuur!” sahut Rangga sembari menggerakkan pulpen itu hingga berputar.
Semakin cepat, cepat, kemudian melambat, lebih melambat dan lama-lama tenaganya menipis. Ujung pulpen itu pun menunjuk satu orang diantara delapan pemain lainnya. Dan Nando harus siap menjadi target berikutnya.
“Ihiii! Si Muka Boyband kepilih juga!” Desta kegirangan.
“Ah, elo bisa aja! Gue jadi malu!” celetuk Nando asal. Jemarinya merayap menggapai satu gulungan kertas. Nando mendapat: dare.
 Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina, Jery dan Reno langsung berdiskusi. Nando berupaya mencuri dengar kemungkinan apa yang bisa ia dapat dari tantangan itu. Namun semua tidak berhasil, upayanya hanya menambah sigap ke tujuh pemain itu.
               Setelah beberapa saat, mereka pun melepas diskusi. “Berhubung bentar lagi Pak Hikmat mau masuk kelas buat sementara permainan ini ditunda. Gue, Desta, Karin, Jery sama Reno bakal ngeberesin tantangan di lain waktu. Kita janji kok! Dan elo, Nan, tetep wajib nuntasin tantangan yang udah kita sediain spesial buat lo!” tutur Elsa.
“Biar surprice, sini gue bisikin tantangannya apa,” Reno nampak semangat sekali. Nando pun mendengar penuh khidmat bisikan Reno yang sangat pelan itu. Setelah beberapa detik berlalu mata Nando terbelalak. “Syukur-syukur Pak Hikmat ga nenteng bukunya yang super tebel itu. Nah kalo bawa? Ya, kena gaplok lah gue! Yang kayak gini nih macem-macem sama guru killer!! Kasihani gue dong!”
          “Udah pasrah aja, Nan! Masih mending lo ga disuruh joged-joged Iwak Peyek kayak gue,” sindir Vina cemberut.
"Pak Hikmat dateng!!” teriak seseorang di ambang pintu.
Nando pun meregang ototnya sebentar kemudian ia berdiri tepat di mulut pintu. Siluet Pak Hikmat dari kejauhan mulai menampakkan diri. Dari koridor menuju kelasnya yang kini sedang melewati tiga kelas lainnya. Pak Hikmat semakin dekat, wajahnya yang mampu membuat murid-muridnya lupa bagaimana cara menguap. Nando sekuat hati memberanikan diri. Pak Hikmat yang kini berada di ambang pintu menatap aneh pada Nando. Alih-alih Nando mengulurkan satu tangan, mengajak bersalaman. Pak Hikmat terlihat agak bingung namun ia menyambut uluran tangan itu.
“Selamat datang, di acara Bukan Empat Mata!” sekonyong-konyong kalimat itu meluncur mulus dari bibir Nando. Teman-teman sekelasnya setengah mati menahan tawa. Namun mereka tak berani meledakkan tawa karena takut tertawa di saat yang salah.
Tanpa tersenyum Pak Hikmat berkata, “Sejak kapan Tukul Arwana sekolah disini?”
           Nando ternganga. Pak Hikmat kembali berkomentar, “Bukankah ini lucu? Kenapa kalian tidak tertawa?”
        Bisa dibayangkan semua penghuni kelas tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang menjerit kegirangan, ada yang sampai keluar air mata saking tak bisa lagi menahan amukan humor dalam dirinya, ada yang mengebrak-gebrak meja dengan keras, ada juga yang nyaris buang air kecil di celana.
        Nando pun duduk dengan pipi tomatnya. Si Muka Boyband yang disandangnya akan segera hangus setelah komentar Pak Hikmat itu membombardirnya. Wajah oriental Nando terasa tak berguna lagi saat Pak Hikmat menyebutnya Tukul Arwana. Itu adalah tuduhan yang tidak berprikemanusiaan, pikir Nando. 
        Benar saja Pak Hikmat menenteng buku tebal itu. Ia menggebrak meja dengan buku itu, memberi kode bahwa lelucon itu sudah habis masanya. Sontak murid-murid pun mengatupkan bibirnya, sekarang mereka harus siap disuapi materi-materi. Truth or dare berakhir sampai disitu walau untuk sementara.

Bintang Bicara

| Sabtu, 13 Juli 2013 | |

Rasti merenung. Ingatannya berkelana ke bagian-bagian memori paling sensitif dalam benaknya di dua tahun yang lalu. Pikiran serta hatinya jatuh pada kepingan-kepingan kenangan masa itu. Satu per satu harapan-harapan memberengus kalbunya. Dengan tempat dan dalam posisinya yang sama di dua tahun yang lalu itu, Rasti memangku satu mangkuk mie instan yang mulai mendingin. Aroma mie instan pun terkalahkan oleh desir angin malam yang berselancar ke arahnya. Rasti menengadahkan kepala, sorot matanya penuh harap. Di dalam jiwa Rasti terselip keinginan agar seseorang yang dahulu dengan kebiasannya mengedap-ngendap naik ke pagar rumahnya, kemudian tanpa sedikit pun rasa takut memanjati balkon kamar Rasti dan selalu saja berhasil mencapai genting rumah yang menjadi tempat favorit keduanya untuk sekadar menikmati indahnya hamparan bintang. Ingatan di bagian itu semakin menguat dalam benaknya. Rasti melemah, tak mampu lagi melawan bayangan itu akhirnya, ia pun memasrahkan semua kenangan itu agar hidup kembali di diri dan pikirannya saat itu juga.
Dua tahun yang lalu...
Mie instan yang beberapa saat lalu masih mengepul asap kini bersiap menemui ajalnya. Isal menangkup kedua tangannya ke badan mangkok lalu mengarahkan mangkok itu ke mulutnya. Kuah mie instan yang malang itu pun masuk ke mulut Isal tanpa bisa melawan. Rasti memerhatikan sejenak tindakan Isal dan kemudian ia juga melakukan hal yang sama.
Kini dua mangkok terkapar tanpa nyawa. Rasti sangat menikmati makanan instan itu begitu pula Isal. Rasa pedas dan gurih yang ditinggalkan kuah mie instan masih menempeli rongga mulut mereka. Walau tak benar-benar membuat perut mereka kenyang, Isal dan Rasti merasa lega karena tidak perlu lagi mendengar jeritan malang dari cacing-cacing dalam perut mereka berdua, setidaknya untuk beberapa waktu.
Dengan beralaskan genting rumah, Isal membaringkan badannya. Melipat kedua tangan yang diposisikan sebagai bantalan untuk kepala. Mata Isal liar memandangi hamparan langit hitam yang banyak ditaburi ribuan bintang yang berkelap-kelip. Bibir Isal pun mengembang menandakan senyuman. Rasti yang masih mempertahankan posisi duduk bersilanya diam-diam menoleh ke arah Isal dan menangkap senyuman itu.
“Indah itu ga harus mewah. Makan mie instan di atas genting sambil nikmatin pementasan kekayaan alam kayak gini ga bisa ditandingin sama konser apapun yang ada di dunia ini. Apalagi parahnya suasana se-spekta ini ga lepas dari keberadaan kamu,” ucap Isal mantap.
Mata Isal tetap memandang objek yang sama. Raut wajah Rasti berubah kikuk. Pipinya berangsur merona, walau kebersamaan mereka sudah berjalan satu tahun namun  Rasti tetap saja selalu tergetar hatinya bila Isal mengatakan hal-hal indah seperti itu padanya. Rasti pun   menyembunyikan rasa malunya, ia beringsut membaringkan punggungnya ke atas genting. Tubuh Rasti sedikit demi sedikit bergeser mendekat ke arah Isal. Angin malam berhembus lembut menerpa kulit keduanya. Isal dan Rasti bukan berarti tidak merasakan rasa dingin yang menggigit itu, mereka hanya berupaya mengabaikannya agar bisa menikmati suasana malam itu tanpa gangguan.
Pandangan Rasti berpedar, bintang-bintang mungil itu seolah terus berkedip pada mereka, bak tanda bahwa bintang-bintang sangat menyukai kebersamaan Isal dan Rasti. Dari sekian banyak bintang yang bergantung di langit ada satu bintang yang memiliki cahaya paling terang. Bola mata Rasti sontak berbinar seakan ia telah menemukan sesuatu yang berharga.
“Liat deh, bintang yang itu sinarnya paling kuat. Pemimpinnya kali, ya?” ucap Rasti sambil terkekeh. Tangan Rasti merentang, telujuknya berayun ke posisi bintang yang dimaksudkannya.
“Itu namanya bintang sirius, bintang yang paling terang dari kebanyakan bintang lainnya.”
“Bintang yang menarik. Cahayanya tegas seolah memperjelas bahwa dia adalah bintang yang sangat tangguh dan tak mudah dikalahkan.”
Isal terdiam sejenak lalu ia pun berkata, “Kamu tahu, kalau bintang itu adalah teman baik untuk semua makhluk ya, termasuk kita. Dia bisa menjadi teman dalam segala situasi, tempat curhat yang bisa dipercaya. Ajaibnya, dia juga selalu punya solusi dan jawaban sendiri walau caranya menyampaikan penuh dengan bumbu konotasi yang rumit.”
“Gimana caranya bintang itu bisa nyampein solusi dan jawabannya ke kita?” Rasti membisu sebentar, otaknya dipaksa bekerja, “jangan bilang kalau kamu suka curhat sama bintang?” sekilas Rasti menoleh ke wajah Isal. Mencuatlah rasa penasaraan dalam hatinya.
Isal tersenyum untuk beberapa detik. “Ya, tapi itu dulu. Saat aku masih kecil. Ada dong caranya, tapi ga langsung dapet jawaban. Gitu-gitu juga bintang perlu waktu buat mikir.”
“Bintang bisa mikir? Astaga...” Rasti mendongkak, sikut kanannya kini menjadi tumpuan separuh beban tubuhnya yang mengarah ke Isal. Mata Rasti terbelalak tak sabar ingin secepatnya mendapat penjelasan serius dari Isal.
Isal tertawa terpingkal-pingkal melihat respon pacarnya itu. Sontak Rasti terbengong-bengong karena ditertawakan sehebat itu.
“Ssst.. jangan keras-keras ketawanya! Nanti orang rumah pada gehger!” kata Rasti setengah berbisik.
“Iya, iya, sayang! Maaf! Hmm, bintang bisa bicara,” kalimat Isal menggantung. Rasti mengerut kening kode bahwa ia belum mengerti tentang apa yang Isal ucapkan.
“Biar lebih jelas, gimana kalo kita ajak ngobrol dulu bintangnya?”
“Kamu ga ngajak gila bareng ‘kan?” celetuk Rasti sambil tertawa kecil. Setelah itu, tawaran Isal disambut semangat ’45 olehnya.
“Dulu, perbincangan aku sama bintang berkisar tentang harapan-harapan di masa depan. Aku berangan-angan harapan itu bisa tercapai di kemudian hari. Dan malam ini, perbincangan itu sama aja, tentang harapan terbesarku. Kamu mau tahu?”
Rasti mengangguk.  “Harapan terbesarku saat ini adalah bisa terus bareng sama kamu, kurasa dengan bersamamu tidak ada lagi ukuran waktu buat kita,” suara Isal terdengar begitu yakin dan tulus.
Hati Rasti tergugah. Kontan perasaan Rasti terasa lebih haru pasca ucapan Isal selesai.
Rasti menghela nafas dalam-dalam. “Bintang, kau dengar apa yang Isal ucapkan? Aku tak percaya dia bisa berkata seperti itu, tapi dari semua kata-katanya ada satu hal yang bisa aku pahami bahwa kami memiliki harapan yang sama. Bagaimana menurutmu, Bintang?”
Kini Isal-lah yang terkejut. Jemarinya bergerak, mencari jemari Rasti untuk digenggam. Setelah jemari mereka bertemu, Isal berucap lagi. “Mungkin harapan yang satu ini terdengar begitu mengawang-ngawang. Tapi Bintang, aku ingin dia mendengar harapan itu,” Isal memperat genggaman tangannya, “suatu saat nanti aku ingin menikah dengannya, memiliki anak-anak yang hebat darinya dan menikmati pementasaan bintang bersamanya setiap malam hingga ajal mendatangi kami berdua.”
Rasti mengigit lembut bibir bawahnya. Ia diam seribu bahasa saking terkejutnya. Lalu Isal mengangkat genggaman tangan mereka dan mendaratkan punggung tangan Rasti ke bibirnya. Isal pun mengecupnya dengan lemah lembut.
Saat itu Rasti mengamininya dengan sunguh-sungguh.  Kejadian itu telah berselang dua tahun yang lalu. Harapan-harapan melepuh seiring berjalannya waktu yang tak pernah mengenal perhentian. Batin Rasti pilu, bintang-bintang tak jua memberinya solusi dan jawaban.
Rasti tak ingin menangis. Ia berupaya agar air mata itu tetap terjaga. Kepalanya menengadah, mata Rasti memandangi rasi-rasi bintang yang terlukis tegas di atas sana yang tentu saja tak dapat dimengertinya.  Hati Rasti terhakimi.
"Bintang, bicaralah padaku! Bicaralah!” gumam Rasti dengan putus asa.
Dalam suasana malam yang terlampau dingin, Rasti kembali merenung. Saat itu, Isal dan Rasti berbicara tentang masa depan yang seolah-olah mereka tahu betul arti dari semua itu. Tapi dalam kenyataannya mereka hanya berharap dan tak betul-betul tahu makna dari masa depan itu sendiri. Hal itu mencuat dalam benak Rasti secara tiba-tiba. Masa depan terlalu rumit untuk di pastikan, sebanyak apapun harapan itu nantinya hanya menjadi bumbu dalam segala kemungkinan yang mungkin benar terjadi atau pun tidak sama sekali.
Rasti berpikir, waktu itu ia dan Isal tak sedikit pun memikirkan bahwa mereka mungkin akan berpisah sebelum harapan itu terwujud. Mereka hanya menikmati kebahagiaan kala itu saja, tidak terbesit secuil pun bahwa mereka akan saling menghilang dan meninggalkan. Isal dan Rasti terlalu yakin dengan kebersamaan mereka.
Batin Rasti tergugah. “Apa ini jawabanmu?” tanyanya pada bintang.
Bibirnya kaku, namun ia tak tahan lagi. “Apa solusimu? Apa aku harus mengikhlaskannya? Haruskah aku bersabar?” lanjut Rasti dengan suara yang teramat lirih.
Bintang paling terang, ya, bintang sirius itu berkelap-kelip dengan cepat. Kemudian satu bintang jatuh pun tertangkap oleh mata Rasti. Ia tentu tak melewatkannya, Rasti merasa telah mendapat solusi dan jawaban itu. Dia yakin, yakin sekali.
Rasti menelan ludah. Tanpa ragu ia berkata, “Saat kita terlalu yakin akan sesuatu hal sesungguhnya akan ada banyak kemungkinan baik dan buruknya di depan kita. Takdir lebih memahami. Waktu terus berputar, dan semua akan terbuktikan kebenarannya. Harapan adalah pemicu, walau belum tentu bisa berhasil. Aku harus sabar serta ikhlas, karena aku maupun Isal tidak pernah berencana saling memisahkan diri. Bukan begitu?”
Segurat senyum paling tulus, Rasti lontarkan pada bintang-bintang. Beban hatinya meringan dan perasaannya melega. Rasti merasa angin malam mampu menyegarkan batinnya. Setelah perpisahan terjadi ia merasa telah bersikap egois bahkan pada dirinya sendiri. Rasti sadar segala sesuatu tidaklah abadi, baik pertemuan atapun perpisahan.
“Terimakasih, Bintang! Karena kau sudah bersedia berbicara denganku,” kalimat terakhir yang Rasti sampaikan sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan tempat dengan segala kenangan itu.
Kini Rasti mengerti maksud dari ucapan Isal bahwa bintang menyampaikan solusi dan jawabannya dengan konotasi yang rumit. Rasti bahagia, karena ia telah mendapatkan dan memahaminya dengan baik. Biar masa depan Rasti dan Isal menjadi salah satu kejutan di masa depan keduanya, Rasti harus menerima semua itu. Rasti maupun Isal selalu memiliki harapan yang sama namun belum tentu dibarengi takdir yang sama pula.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -