PART 1: Truth Or Dare
|
Rabu, 24 Juli 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Kelas bergemuruh. Jam pelajaran
kosong membuat sebagian besar murid-murid merasa termerdekakan dari molekul,
senyawa, karbon, zat dan segala hal berbau kimia. Pelajaran kimia, bukanlah
pelajaran yang terfavoritkan di kelas itu. Untuk pertama kalinya, setelah satu
semester berlalu mereka tidak meng-“aduh”kan keberadaan jam pelajaran kimia, Bu
Desi tidak masuk kelas dan hal itu menjadi kabar baik bagi kebanyakan murid.
Rangga,
si maskot kelas menyumbang ide “cemerlang” bagi teman-temannya. Sikapnya yang
nyeleneh, asal-asalan, super jail dengan gaya rambut yang maha amburadul
menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mengisi kekosongan, Rangga menghasut
teman-temannya untuk memainkan sebuah game
menantang nyali yang tak biasa. Permainan yang disanggupi oleh delapan orang
termasuk dirinya: truth or dare.
Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando menerjunkan diri dalam
permainan tersebut. Yang enggan mengikuti permainan terutama yang berkeinginan
namun tidak punya nyali untuk bergabung hanya bertugas menjadi penonton saja.
Satu
pulpen diletakan di tengah-tengah meja dan para pemain pun berkumpul mengitarinya.
Rangga berdehem. “Aturannya tetep sama. Siapa yang nanti ke pilih, harus rela ngeberesin
tantangan dari pemain lainnya. Ga boleh nolak, ga boleh protes dan ga boleh dendam-dendaman.
Ini cuma permainan, remember?! Gue
udah nyiapin sepuluh gulungan kertas, isinya lima pilihan buat truth dan lima pilihan juga buat dare. Ga pake pertanyaan: truth or dare ya, biar lebih adil, seru
dan gokil.”
Atmosfer
kelas mulai memanas. “Let’s play!”
sahut Jery.
Sebagai
pengusung ide, Rangga ditanggungjawabi untuk memutar pulpen pertama kali. Saat
pulpen itu menemukan porosnya, berpasang-pasang mata memusatkan diri di satu
titik. Seiring melemahnya kecepatan pulpen, selama itu pula tidak ada satu
orang pun yang bisa tenang baik itu pemain maupun penonton. Semua menarik nafas
dalam-dalam dan pemain pertama yang terpilih adalah: Vina.
“Gue?
Mesti ya, gue duluan? Rangga, elo sengaja? Pulpennya lo mantra-mantrain dulu,
ya?” cetus Vina.
“Emangnya
gue dukun? Liat dong setelan gue!” ucap Rangga sembari menaikan kerahnya.
“Rambut
tuh urus! Setelan tikus kecemplung got juga!” timpal Nando.
“Bukan,
tauk! Itu setelan masa kini majalah perkebunbinatangan!” menyusul Desta.
“Wah,
wah, wah, rambut gue emang keren. Setelan Edward Cullen lagi sakit gigi, tapi
ga usah di omong-omongin juga kali! Udah Vin, cepet lo pilih kertasnya!”
Nando
menatap iba pada Rangga. Permainan tetap berlanjut. Walau enggan, Vina pun
merentangkan tangannya untuk mengambil satu gulungan kertas. Setelah Vina
memutuskan, ia membuka gulungan itu. Dare adalah takdir Vina. Semua
pemain kecuali Vina, mulai berdiskusi. Cekikikan demi cekikikan pun terdengar
menghantui sejalannya pendiskusian. Hati Vina sedikit gelisah, ia
bertanya-tanta pada dirinya sendiri: apa ia memang bodoh karena telah mengikuti
permainan ini? Vina bingung bahkan terlalu bingung.
Reno nampak
serius. “Oke, Vin! Anggap aja ini hari yang kurang bersahabat buat lo. Lo harus
tabah dan pasrah aja, ya? Kita semua udah mutusin tantangan dare yang harus lo beresin adalah,” Reno
diam sebentar, “nyanyi Iwak Peyek di depan kelas lengkap dengan gaya Trio Macan.”
Vina
melongo sementara teman-teman lainnya berupaya mengulum tawa. Bahkan Vina belum
melakukan apapun tapi mereka semua sudah mulai melempari Vina dengan tatapan “menertawakan”.
“Ayo,
Vina! Vina! Vina! Vina!” layaknya suporter bola, mereka meneriaki penuh
semangat menggebu-gebu.
Wajah
Vina merah padam. Tidak ada lagi, Vina si jaim. Karena sebentar lagi Vina akan
mematahkan anggapan teman-temannya itu. Ini akan buruk, pikirnya.
Vina
beranjak dari kursinya menuju ke depan kelas. Nafasnya berburu, ia tak percaya
akan melakukannya di hadapan mereka. Vina berdiri disana, sorak sorai
teman-temannya memenuhi ruangan. “Ayo,
Vin! Ga pake gengsi! Putusin urat malu lo!” ujar Nando.
Vina gugup. Ia harus bernyanyi,
benar-benar bernyanyi. Ia harus berjoged, benar-benar berjoged. Suara Vina
mulai menggelosor dari kerongkongan, jarinya di kepal kecuali jempolnya yang
diacungkan.
Ooooo oooo oooo oooo
Ooooo oooo oooo oooo
Iwak peyek, iwak peyek, iwak peyek nasi jagung
Sampek tuwek, sampek nenek, trio macam tetap disanjung
Iwak peyek, iwak peyek, iwak peyek nasi gule
Sampe tuwek, sampek nenek, trio macan tetep oke
“STOP!
STOP! Mana gaya Trio Macannya? Lo kira kita lagi nonton dangdutan komplek?
Duplikasinya dong, Vin!” sahut Jery.
Sambil
terkekeh, Desta menimpali. “Iya, Vin! Kepala lo puter-puter, kalo lo mau gue bawain
satu kursi buat lo. Biar nambah properti aja!”
Vina berkacak
pinggang. “Kalian nantangin gue? Lo jual, gue beli. Ayo, siniin tu kursi!”
Desta
dengan sigap mengangkat kursi di sampingnya lalu menaruhnya di depan kelas. Suasana
kelas menegang, mereka serempak menelan ludah.
Kemudian
Vina bernyanyi, jelas lagu dangdut itu keluar dari mulutnya. Tubuh Vina
berjoged, talu-taluan gendang buatan Rangga, Jery, Nando, Reno dan Desta
mengiringinya hingga akhir. Satu kaki diangkat lalu kursi itu dijadikan
pijakan, Vina memutar-mutar lehernya. Vina tak malu lagi, ia benar-benar sudah
gila. Ada yang bersorak tak karuan, ada yang tertawa terbahak-bahak dan lebih
banyak lagi yang melongo tak percaya. Vina sungguh melakukannya: nyanyi lagu
Iwak peyek lengkap dengan gaya Trio Macan. Sempurna.
Vina
megap-megap saking kelelahan. “Hore!!! Vina!!” tepuk tangan disusul
sahut-sahutan seluruh penghuni kelas.
“Kayaknya
Vina ‘Trio Macan’ butuh minum nih!” teriak Rangga.
“Kurang
ajar! Gue pengen minum dong!!” rengek Vina.
Vina
pun kembali duduk. Seseorang memberinya satu botol air yang langsung ia teguk
hingga habis. Para pemain truth or dare
merecokinya dengan berbagai komentar yang menggelikan, Vina tak tahan lagi. “Permainan
masih panjang, kita mainkan lagi!”
Delapan
pemain truth or dare pun berkumpul
mengerubuni pulpen itu. Tidak hanya Vina yang merasa capek, mereka yang
menonton pun kecapekan karena lelah menertawai. Tapi suasana kembali teratur, semua
orang fokus pada pulpen itu terutama ke tujuh pemain yang tersisa. Vina memutar
pulpen dengan semangat, ia tak sabar mendapati korban kedua dari permainan itu.
Salah-salah Rangga memelopori truth or
dare dan kini dia-lah yang terpilih.
“Gue?
Ohoho, kembaran Nicholas Hoult ga takut sama yang beginian!” Rangga nampak
percaya diri.
Semua
orang yang melihatnya hanya dimampukan mengernyit kening.
Rangga
memilih kemudian membaca isi gulungan kertas itu. “Oh Neptunus, truth.”
Aura
kecewa menopengi wajah para pemain. Tak dapat dipungkiri, semua orang
menginginkan Rangga dijatuhi dengan dare.
Ya, mau bagaimana lagi mereka harus menerima bahwa Rangga sedang beruntung
kali ini atau mungkin tidak. Elsa,
Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando pun berunding. Memikirkan pertanyaan
jitu untuk seorang Rangga yang tak pernah punya malu. Jelas bukan tugas yang
mudah, sekuat tenaga mereka mencari-cari hal yang mungkin cocok, sesuatu yang
sulit dan di rahasiakan oleh Rangga. Inilah waktunya, dimana Rangga harus jujur.
“Setelah gue pikir-pikir, tantangan truth emang pas banget buat lo. Karena dare menurut gue, terlalu gampang untuk ukuran manusia aneh kayak lo. Siap-siap, Ga! Ini bumerang!” Karin menatap Rangga seolah ia adalah makanan.
“Setelah gue pikir-pikir, tantangan truth emang pas banget buat lo. Karena dare menurut gue, terlalu gampang untuk ukuran manusia aneh kayak lo. Siap-siap, Ga! Ini bumerang!” Karin menatap Rangga seolah ia adalah makanan.
“Bener
juga, Rin! Gue setuju!” senyum Elsa semakin yakin.
Rangga
merasa sedikit goyah. Hal baik yang dipikirkannya kini mulai sirna. “Apaan sih?
Cepetan apa pertanyaannya? Jangan ngasih pertanyaan pake soal essai, ribet
gue!”
Reno
menggosok-gosok telapak tangannya. Reno sangat serius. “Bener lo pernah pacaran
sama Bu Siska?”
Setelah pertanyaan diluncurkan,
Rangga pun mematung. Banyak telinga yang menunggu perjelasan Rangga karena
gosip tentangnya dengan Bu Siska sudah menyebar ke penjuru sekolah. Sebenarnya bukan
hal yang menarik jika Bu Siska itu bukan guru (yang kini mantan guru) di
sekolah itu dan tidak berumur 5 tahun lebih tua dibanding Rangga. Setelah kabar
itu mencuat, Rangga tak pernah sekali pun membahas permasalah itu dengan
teman-temannya. Ia selalu bertingkah biasa-biasa saja alias jail bukan main
sehingga menumbuhkan anggapan bahwa kabar itu hanyalah gosip belaka. Tapi semua
orang belum yakin dan belum benar-benar memastikan. Kini Rangga tetap
bersikukuh dalam diam. Lama. Lama sekali.
"Kata
nyokap, gue bukan anak yang sabaran!” sindir Desta.
Karin pun mengambil suara, “apalagi
gue, sabar itu ga ada dalam kamus hidup gue!”
Tak
ingin ketinggalan Vina juga berkomentar. “Gue terlalu sibuk buat sabar mulu.
Rangga, cepetan jawab! Lagian lo ga perlu ngitung pake kalkulator kok buat
jawab pertanyaan tadi!”
Rangga
menarik punggungnya lalu mencondongkan tubuh ke depan. Ia menghela nafas
panjang. Ini adalah pengakuan paling gila yang pernah ia lakukan. Kemungkinan
terburuk setelah pengakuan itu adalah: runtuhnya image super jail dari seorang Rangga.
“Iya,
gue pernah,” ucapnya dengan nada sangat pelan. Untungnya, daya dengar
teman-temannya lebih tajam daripada yang bisa ia kira.
"Serius?
Sekarang masih pacaran? Kok bisa? Oh Tuhan, gue kira cuma gosip!” cerocos Elsa.
“Yang
jelas dong kalo ngomong! Masa iya, lo harus pake mike kayak mau pidato!” timpal Nando.
Rangga
mengacak-ngacak rambutnya. Ia frustasi. “Lo pada gila, ya? Udah deh ga usah
kepo!”
“Idih,
jawab ya jawab aja. Sesuai aturannya, jangan banyak protes!” ujar Karin.
“Salah
ya, kalo gue pacaran sama cewek yang lebih tua? Menurut gue, itu hak semua orang kok
mau pacaran sama siapa pun. Gue sama Siska dulu pernah pacaran dan baik-baik
aja, tapi karena Siska dijodohin sama orang tuanya, ya, gue harus ngalah. Gue
sadar, gue harus berhenti. Gue masih sekolah sementara Siska butuh cowok yang
siap nikahin dia di waktu dekat. Posisi gue saat itu juga saat ini belum bisa
janjiin apapun buat dia. Lagian, gue kenal dia sebelum dia ngajar di sekolah ini.
Hubungan kita semakin deket, lama-lama kita saling jatuh cinta lalu jadian dan
setelah ia dijodohin, dia mutusin gue dan pindah ke Blitar. Setelah dia pergi,
kabar itu menyebar dan gue males buat cerita lagi. Puas?” kelakar Rangga.
Semua orang
terbengong-bengong. Pengakuan Rangga mampu mematahkan anggapan bahwa ia
bukanlah cowok hetero yang bisanya merecoki dan mengganggu teman-temannya.
Mereka tak percaya, Rangga bisa punya perjalanan cinta se-drama itu. Rangga
sekilas tersenyum memerhatikan air muka teman-temannya. Roman-roman jailnya
kembali muncul.
“Ga usah dianggap serius.
Gini-gini juga gue keren walau gue ga ganteng. Buktinya, Siska mau pacaran sama
gue. Vina, Elsa, Karin juga diem-diem jatuh cinta ‘kan sama gue? Ngaku aja, ga
usah gengsi!” seloroh Rangga.
“Lo emang bukan cowok melankolis!
Lo aneh bin ajaib! Walau lo punya sisi “normal”, tapi gue langsung nyesel
pernah mikir gitu kayak barusan!” ucap Vina.
“Nyaris gue ketipu sama tampang lo
yang tadi! Sumpah! Tapi bro, untuk pertama kalinya gue salut sama lo!” tangan
Jery menepuk-nepuk punggung Rangga pelan.
“Gue lebih demen lo yang ini. Yang
tadi bikin gue kayak kehipnotis. Sejail-jailnya lo, seperkasa-perkasanya lo
ngelepasin Bu Siska, gue tetap suka gaya lo!” kata Nando mantap.
“Lo
suka sama gue, Nan? Sejak kapan? Mau jadi pacar gue? So sweet banget!”
Mata
Reno menyipit, “nyesel kan lo, Nan?”
Nando
pun angkat tangan sembari melambai. “Gue nyerah!”
“Keparat!
Berani-berani lo nolak gue di depan orang, gue ga terima! DEMI TUHAAAAN!” Rangga
pun menggeprak meja. Tingkahnya kali ini menduplikasi seorang selebriti si
jargon “Demi Tuhan”: Arya Wiguna yang kepalang mantap. Nyaris mirip saking
menjiwainya.
Jery
mesem-mesem ingin menambahi. “WAKTUMU SUDAH HABIS! WAKTUMU SUDAH HABIS, SUBUUUR!
BUR! CEPET PUTER PULPENNYA, SUBUUUUR!”
Ucapan
Jery memancing tawa seisi kelas yang memantul ke setiap dinding. Mereka semua
larut dalam canda tawa itu.
“Siap, Subuuuur!” sahut Rangga
sembari menggerakkan pulpen itu hingga berputar.
Semakin cepat, cepat, kemudian melambat, lebih melambat dan lama-lama tenaganya
menipis. Ujung pulpen itu pun menunjuk satu orang diantara delapan pemain
lainnya. Dan Nando harus siap menjadi target berikutnya.
“Ihiii!
Si Muka Boyband kepilih juga!” Desta kegirangan.
“Ah,
elo bisa aja! Gue jadi malu!” celetuk Nando asal. Jemarinya merayap menggapai
satu gulungan kertas. Nando mendapat: dare.
Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina,
Jery dan Reno langsung berdiskusi. Nando berupaya mencuri dengar kemungkinan
apa yang bisa ia dapat dari tantangan itu. Namun semua tidak berhasil, upayanya
hanya menambah sigap ke tujuh pemain itu.
Setelah beberapa saat, mereka pun melepas diskusi. “Berhubung bentar lagi Pak Hikmat mau masuk kelas buat sementara permainan ini ditunda. Gue, Desta, Karin, Jery sama Reno bakal ngeberesin tantangan di lain waktu. Kita janji kok! Dan elo, Nan, tetep wajib nuntasin tantangan yang udah kita sediain spesial buat lo!” tutur Elsa.
Setelah beberapa saat, mereka pun melepas diskusi. “Berhubung bentar lagi Pak Hikmat mau masuk kelas buat sementara permainan ini ditunda. Gue, Desta, Karin, Jery sama Reno bakal ngeberesin tantangan di lain waktu. Kita janji kok! Dan elo, Nan, tetep wajib nuntasin tantangan yang udah kita sediain spesial buat lo!” tutur Elsa.
“Biar surprice, sini gue bisikin tantangannya
apa,” Reno nampak semangat sekali. Nando
pun mendengar penuh khidmat bisikan Reno yang sangat pelan itu. Setelah
beberapa detik berlalu mata Nando terbelalak. “Syukur-syukur Pak Hikmat ga
nenteng bukunya yang super tebel itu. Nah kalo bawa? Ya, kena gaplok lah gue! Yang
kayak gini nih macem-macem sama guru killer!! Kasihani gue dong!”
“Udah pasrah aja, Nan! Masih mending lo ga disuruh joged-joged Iwak Peyek kayak gue,” sindir Vina cemberut.
“Udah pasrah aja, Nan! Masih mending lo ga disuruh joged-joged Iwak Peyek kayak gue,” sindir Vina cemberut.
"Pak
Hikmat dateng!!” teriak seseorang di ambang pintu.
Nando pun meregang ototnya
sebentar kemudian ia berdiri tepat di mulut pintu. Siluet Pak Hikmat dari kejauhan
mulai menampakkan diri. Dari koridor menuju kelasnya yang kini sedang melewati
tiga kelas lainnya. Pak Hikmat semakin dekat, wajahnya yang mampu membuat murid-muridnya
lupa bagaimana cara menguap. Nando sekuat hati memberanikan diri. Pak Hikmat yang
kini berada di ambang pintu menatap aneh pada Nando. Alih-alih
Nando mengulurkan satu tangan, mengajak bersalaman. Pak Hikmat terlihat agak
bingung namun ia menyambut uluran tangan itu.
“Selamat datang, di acara Bukan
Empat Mata!” sekonyong-konyong kalimat itu meluncur mulus dari bibir Nando. Teman-teman
sekelasnya setengah mati menahan tawa. Namun mereka tak berani meledakkan tawa
karena takut tertawa di saat yang salah.
Tanpa
tersenyum Pak Hikmat berkata, “Sejak kapan Tukul Arwana sekolah disini?”
Nando ternganga. Pak Hikmat kembali berkomentar, “Bukankah ini lucu? Kenapa kalian tidak tertawa?”
Bisa dibayangkan semua penghuni kelas tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang menjerit kegirangan, ada yang sampai keluar air mata saking tak bisa lagi menahan amukan humor dalam dirinya, ada yang mengebrak-gebrak meja dengan keras, ada juga yang nyaris buang air kecil di celana.
Nando pun duduk dengan pipi tomatnya. Si Muka Boyband yang disandangnya akan segera hangus setelah komentar Pak Hikmat itu membombardirnya. Wajah oriental Nando terasa tak berguna lagi saat Pak Hikmat menyebutnya Tukul Arwana. Itu adalah tuduhan yang tidak berprikemanusiaan, pikir Nando.
Benar saja Pak Hikmat menenteng buku tebal itu. Ia menggebrak meja dengan buku itu, memberi kode bahwa lelucon itu sudah habis masanya. Sontak murid-murid pun mengatupkan bibirnya, sekarang mereka harus siap disuapi materi-materi. Truth or dare berakhir sampai disitu walau untuk sementara.
Nando ternganga. Pak Hikmat kembali berkomentar, “Bukankah ini lucu? Kenapa kalian tidak tertawa?”
Bisa dibayangkan semua penghuni kelas tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang menjerit kegirangan, ada yang sampai keluar air mata saking tak bisa lagi menahan amukan humor dalam dirinya, ada yang mengebrak-gebrak meja dengan keras, ada juga yang nyaris buang air kecil di celana.
Nando pun duduk dengan pipi tomatnya. Si Muka Boyband yang disandangnya akan segera hangus setelah komentar Pak Hikmat itu membombardirnya. Wajah oriental Nando terasa tak berguna lagi saat Pak Hikmat menyebutnya Tukul Arwana. Itu adalah tuduhan yang tidak berprikemanusiaan, pikir Nando.
Benar saja Pak Hikmat menenteng buku tebal itu. Ia menggebrak meja dengan buku itu, memberi kode bahwa lelucon itu sudah habis masanya. Sontak murid-murid pun mengatupkan bibirnya, sekarang mereka harus siap disuapi materi-materi. Truth or dare berakhir sampai disitu walau untuk sementara.