| Minggu, 28 Desember 2014
Jika pilihan lain ada, saya akan memilihnya. Tidak ada yang tersisa dari apa yang sudah hancur hingga ke keping-kepingnya. Sebenarnya tidak ada pilihan yang lebih baik, dua-duanya menyedihkan.
Satu sisi, ada saat dimana kasih sayang adalah pormalitas. Cukup ada, hidup dan patuh akan aturan. Ada hal lain yang bersebrangan, tak pernah akur, tak mau tahu. Nyaman itu harga yang sangat mahal. Saya harus membayarnya dengan berpura-pura biasa saja.
Satu sisi lain, ada seonggok amarah yang menyedihkan. Berkoar-koar sebab lelah dengan takdir yang ada. Dari mulutnya selalu bergelontor kata-kata kasar. Siapa pun tak ingin mendengarnya, saya yakin. Kata-kata yang menyusup bukan ke telingamu, melainkan melalui hatimu. Bersedih karena mengapa mulutnya begitu mudah berkata-kata seperti itu. Dan untuk mendapatkan kenyamanan itu saya harus membayarnya dengan mendengar dan menerima.
Saya selalu malu dengan apa yang terjadi. Malu dengan bagaimana sebuah keluarga dihancurkan. Sungguh, jika ada pilihan lain, saya pasti sudah pergi. Meninggalkan yang ada, melepaskan sedih dan mencari rasa nyaman dengan cara saya sendiri.
Menyedihkan, jika sebuah keluarga bukan lagi dijadikan pilihan untuk tinggal.

Ada Saat

| Selasa, 26 Agustus 2014 | |
Ada saat dimana seseorang menginginkan kita, kita menginginkan dia, dan dia menginginkan orang lain.
Ada saat dimana seseorang menunggu kita, kita menunggu dia, dan dia menunggu orang lain.
Ada saat dimana seseorang tetap bertahan, kita mengabaikan, dan dia tak pernah sekalipun menggubris perasaan kita
Ada saat dimana seseorang berjuang menarik perhatian kita, kita sibuk mencari  peluang untuk diperhatikan oleh dia, dan dia sama sekali tak mengharapkan itu dari kita
Ada saat dimana seseorang selalu tersakiti oleh kita, kita merasa disia-siakan oleh dia, dan dia bersama orang lain untuk menyakiti kita.
Ada saat dimana seseorang, kita, dia dan orang lain itu selalu saling menyakiti. Menganggap paling menderita, tidak dihargai usahanya, diabaikan perasaannya. 


Tak Sepertimu

| Jumat, 08 Agustus 2014
Dia ada didepanku. Tepat disana. Aku menatapnya, begitu pula dia. Dia ada tapi tak benar-benar ada. 
Aku memikirkan orang lain. Bukan orang ini. Dia berbeda. Tidak seperti yang kuharapkan dari seseorang. Dia tidak sepertimu.
Apa yang biasa kau lakukan padaku, tak pernah sekali pun ia lakukan. Memang tak adil membandingkan dia denganmu. Tapi, dia begitu berbeda. Begitu acuh, tidak berusaha memahami, dia tidak sepertimu.
Mungkin dia baik, sama halnya denganmu. Dia selalu membuatku tertawa, terkadang mengingatku padamu. Tapi dia tetap bukan kamu. Dia tidak sepertimu.
Dia tampak lebih baik, pada awalnya. Entah perasaanku saja atau ini benar, mungkin dia juga memikirkan orang lain. Dia tak seperti siapa-siapa. Dia bergerak tanpa bisa kumengerti. Datang dan pergi begitu saja. Sungguh, dia tak sepertimu.
| Jumat, 25 Juli 2014

Seandainya kau memutuskan untuk tetap berada di sampingku, jangan pernah kau pergi. Sekarang atau tidak sama sekali.
Hanya ini yang bisa kujanjikan untukmu. Apa yang menjadi kurangmu bisa kuterima dan apa yang menjadi kurangku bisa kuperbaiki. Jangan pergi karena alasan murahan seperti merasa tak sanggup lagi menyesuaikan kurangku. Jangan pergi, sampai aku bisa memperbaiki. Kau harus menunggu dan mendampingiku. Hanya bersamamu, aku ingin melakukannya.
Seandainya kau memutuskan untuk yakin bahwa bukan aku orangnya, jangan pernah kau kembali. Sekarang atau tidak sama sekali.
Hanya ini yang bisa kusampaikan untukmu. Temukan seseorang yang bisa melengkapimu. Harga bahagiamu adalah senyum darinya. Kau akan tahu setelah merasakannya. Jangan pedulikan aku. Aku tentu merelakanmu seandainya kau bahagia.

Bertanya Padaku

| Kamis, 24 Juli 2014 | |

Tentang kita yang tidak juga usai. Ini permohonan atau mungkin perintah: bertanyalah padaku!
Ada banyak penjelasan yang kusimpan. Bukan disini, tentu saja. Entah apa yang kau duga selama ini. Entah apa yang kau pikirkan tentangku selama ini. Apa yang kau ketahui, apa yang kau kira, yakinlah tidak sepenuhnya benar. Jangan terlalu percaya terhadap apa yang kau lihat apalagi terhadap apa yang kutulis sebelumnya. Satu hal, percayalah pada hal yang akan aku jelaskan padamu setelah kau bertanya. Bagaimana semua terjadi, bagaimana segalanya seterlambat ini.
Aku jenuh, bercerita pada seseorang ini, seseorang itu, bahkan pada Tuhan sekali pun. Aku hanya ingin bercerita padamu. Jika tulisan ini terlalu rumit kaupahami, aku berani bertaruh lebih rumit lagi saat aku menerjemahkan perasaanku pada kata demi kata.
Tak peduli seperti apa kau sekarang. Karena aku hanya ingin menaruh kejujuran di telapak tanganmu saat ini juga. Kemudian menyingkirkan salah paham diantara kita. Aku selalu membenci keadaan dimana kita pergi sendiri-sendiri tanpa pernah mengucap selamat tinggal atau sesederhana "aku tak menyukaimu". Rasanya itu lebih tenang.
Aku tak cukup dalam mengenalmu, kau pun tak cukup lama mengenalku. Kau mungkin takkan pernah bisa menduga tentang apa yang aku lakukan dan rasakan. Benar, kau takkan bisa menduga itu. Karena setelah kau tahu, kau ingin tetap disini atau bahkan pergi lagi, tak jadi masalah. Kau bertanya, aku lega.
Terakhir, jangan pernah percaya terhadap apa yang kutulis. Aku akan memberi kejujuran setelah kau bertanya. Aku bersumpah.

Untukmu

| Kamis, 10 Juli 2014

Saya tahu, kamu laki-laki yang seperti apa. Apa yang saya mau, semuanya ada pada kamu. Seandainya kamu tahu, saya menginginkan kamu. Saya menyukai kamu. Saya tak bisa berpaling pada laki-laki lain.
Saya tahu, dia perempuan yang pantas. Pantas bersamamu, pantas berada di sampingmu, pantas menjadi kekasihmu. Dia sempurna untukmu, sungguh. Dia perempuan yang cantik, siapapun akan jatuh cinta padanya dengan mudah. Wajar sekali jika kamu memilihnya. Saya paham, untuk apa kamu menyia-nyiakan perempuan  seperti dia. Kamu pasti bangga memilikinya.
Saya tahu, saya bukan siapa-siapa. Saya hanya perempuan yang datang dan menghilang tanpa disadari. Mudah sekali dilupakan. Saya tidak secantik dia.  Saya bahkan tak punya separuh pun kelebihan seperti dia. Saya tidak ada apa-apanya. Yang saya pahami adalah saya selalu memikirkanmu. Itu saja.
Tentu, tidak mungkin saya bersaing dengan perempuan itu. Apa yang saya punya? Tidak ada. Saya hanya perempuan biasa-biasa.
Kamu dan dia. Semoga berbahagia. Saya selalu berdoa semoga tercapai apa yang selama ini kamu cita-citakan. Termasuk kehadiran perempuan itu. Semoga kamu bisa merasa lengkap bersamanya.
Dan saya, entahlah dengan saya. Saya tidak akan berbuat apa-apa. Saya hanya akan menyembuhkan rasa sakit ini saja. Hanya itu.

Pergi

| Selasa, 08 Juli 2014 | |

Resa diam. Berjam-jam terbunuh percuma dan Resa masih termenung di tempat yang sama. Bibirnya terkatup, sangat rapat. Resa sedang merangkul perasaannya yang terlanjur pecah tak karuan. Memunguti tanda tanya yang memenuhi bilik-bilik hatinya yang kian suram. Tak ubahnya nafas dihempas tanpa rasa ke udara. Kemudian disesap kembali ke paru-paru yang tidak juga membuat batin Resa membaik.
          Di balkon kamarnya, dibawah naungan malam yang juga tak baik, Resa beringsut di kursi kayu. Hujan mengguyur begitu lemah. Yang terasa hanya suhu merosot sangat rendah, lebih rendah dari biasanya. Gerimis yang manja, angin terbang santai melewati rambut Resa.
          Di tangan Resa terselip sebuah foto. Sesekali ia menengadahkan foto itu ke wajahnya, sesekali juga ia menjauhkannya. Tapi kali ini, Resa merasa sangat kacau dan ia menatap lekat-lekat setiap detail foto itu. Disana terpotret dua orang sedang duduk berdua yang diantara keduanya nyaris tak ada jarak. Mata dan senyum mereka tertuju pada kamera yang memotret mereka. Mereka terlihat begitu bahagia, begitu menikmati moment itu. Seseorang di sebelah kanan, dengan senyum terkulum, garis wajah yang sangat dikenal oleh Resa setahun belakangan ini. Dia adalah Garin, pacar Resa. Dan seseorang di sebelah kiri yang menyandarkan kepalanya ke bahu Garin sembari tersenyum manja, lesung pipi yang manis bertengger di sisi kiri dan kanan. Tapi itu bukan Resa, perempuan disebelah Garin bukanlah dirinya.
          Resa semakin diam. Semakin berpikir. Sebetulnya tak sulit untuk bisa menebak bagaimana kini perasaan Resa. Hatinya lelah, lelah berpura-pura tak peduli dengan sesuatu yang jelas ia tahu. Lelah untuk mengabaikan kebenaran yang cepat atau lambat harus ia hadapi sendiri. Lelah menjadi terlihat biasa saja padahal dalam hati Resa memahami bagaimana rasanya dipaksa mencintai. Namun Resa bersikeras mencoba, menunggu hati orang itu benar-benar diberikan padanya. Dan kali ini, segalanya pecah. Tenaganya telah habis untuk terus berusaha, terus menunggu dan terus mengemis. Resa tahu, selama ini ia begitu sangat egois pada hatinya terutama pada Garin.  
          Di malam itu Resa terus berpikir. Mengikhlaskan lebih dini sesuatu yang seharusnya ia biarkan pergi dari dulu. Dadanya semakin sesak, ia pun menyerah untuk menangis.
                                                               ***

          “Hei, sayang!” sapa Garin keesokan harinya.
          Resa tersenyum tipis dan menatap sekilas ke wajah Garin. “Hei juga.”
          Garin langsung duduk didepan Resa. Suasana kafe di siang itu terasa lebih lengang. Hanya ada tiga meja yang terisi. Panorama langit yang mendung, terlihat jelas dari balik jendela samping meja mereka. Udara yang lesu mengiringi keduanya.  
          “Tumben ngajak makan disini? Udah gajian ya, yang?” celetuk Garin.
          Resa tersenyum cepat. “Ga.”
          “Terus? Bukannya anniversary kita masih dua minggu lagi kan, sayang?”
          “Aku tahu,” Resa menghela nafas, “Garin, ada hal yang pengen aku omongin sama kamu.”  
          Kening Garin mengerut. Tak biasanya Resa memanggilnya dengan nama seperti itu. “Ada apa, sayang? Lagi ada masalah?”  
          “Aku pikir bukan aku yang punya masalah. Tapi kita,” ucap Resa parau.
          Air muka Garin berangsur serius. Alisnya terangkat dan matanya menajam penuh tanda tanya. “Kita? Ada apa sebenernya? Tell me!”
          Resa menelan ludah. Ia sedikit ragu, namun ia berusaha membuang jauh-jauh rasa itu. Ia bersikukuh untuk melakukannya, mengungkapnya dan mengatakannya sekarang juga.
          Resa merogoh tasnya. “Ini,” ia menaruh foto itu di atas meja dan mengesernya lebih dekat ke arah Garin. Garin terkesiap.
          Keduanya diam beberapa saat. Saling menunggu siapa diantara mereka yang mampu memulai lebih dulu. Resa membisu. Garin merasa hatinya tersambar petir secara tiba-tiba. Detik-detik berlalu, Resa enggan bicara dan Garin pun terpaksa memecah suasana.
         “Sayang, kamu kan tau kalo foto itu udah lama banget. Aku sama Laras udah putus dan sekarang udah ga ada apa-apa lagi. Kenapa tiba-tiba kamu ngebahas foto ini?” tanya Garin.  
          Resa membetulkan posisi duduknya dan menyondongkan tubuhnya ke arah Garin. “Aku bukan mau ngebahas foto itu. Tapi ini tentang aku, kamu dan dia. Aku tau, kamu sama Laras udah putus bahkan sebelum kita kenal. Tapi gimana sama perasaan kamu sama dia? Belum tentu hilang ‘kan?”
          “A..apa sebenernya maksud dari omongan kamu?” Garin tak percaya dengan apa yang Resa ucapkan. Bagaimana bisa Resa menelanjanginya dengan perkataan seperti itu.
          “Selama ini aku nunggu dua hal dari kamu. Pertama, aku nunggu kamu bener-bener sayang sama aku. Kedua, aku nunggu kamu jujur sama aku, kalo kamu ga pernah bisa sayang sama aku. Tapi apa? Kamu ga ngelakuin dua-duanya. Kamu pura-pura bahagia, kamu pura-pura sayang sama aku. Nyaris setahun kita pacaran, tapi yang sebenernya terjadi adalah aku ga pernah bisa nyentuh hati kamu, aku ga pernah bener-bener jadi orang yang kamu sayangin. Ayolah Garin, aku udah capek pura-pura ga peduli sama apa yang sebenernya kamu rasain,” Resa kepayahan, suaranya sedikit gentar.
          Garin menelan ludah. Jantungnya seolah ditohok tongkat es hingga menancap begitu dalam. Selama ini ia kira telah berhasil menyimpan rapat kenangan dan keinginannya kembali pada Laras. Garin selalu berusaha menyayangi Resa sepenuh hati namun apa boleh buat, semakin ia berusaha malah semakin membuat hatinya rumit. Tak ada sedikit pun niat untuk menyakiti Resa, apalagi berpura-pura menyayanginya. Tapi pikiran dan hatinya masih milik seseorang di masa lalu dan tertinggal sangat lama disana.  
          “Dengerin Res, aku mau jelasin semuanya. Aku...”
          “Udahlah, Rin! Sekarang kamu yang harus dengerin aku. Emang kamu kira aku ga tau kalo selama ini kamu sering nemuin dia, hubungin dia, nyari tau segala hal tentang dia? Apa kamu pikir aku ga tau?” sergah Resa.  
          “Res, a.. aku..,” Garin tergagap.  
          Mata Resa memanas namun ia berusaha terlihat tegar. Ia menekan semua perasaan yang nyaris meledak. “Aku sayang sama kamu, sangat. Mungkin lebih dari yang kamu tau. Aku bertahan, menyimpan segalanya sendiri. Dan nunggu kamu buat nerima aku,” lalu Resa merendahkan suaranya, “tapi hati itu ga bisa dipaksain. Kamu ngarepin orang lain, dan bukan aku orangnya. ”  
          Jemari Garin bergerak dan menggengam tangan Resa erat. Garin menunduk sejenak, menutup mata sembari berpikir dan merasakan hatinya. Ada rasa bersalah menyeruak, terlebih dia terdorong untuk mengatakan sejujur-jujurnya.
          Garin membuka mata, menghela nafas dalam dan menatap Resa dengan berani. “Aku.., aku minta maaf, Res. Maaf kalau selama ini aku ga bisa jadi apa yang kamu mau. Aku ga bisa jadi orang yang bener-bener tulus sayang sama kamu. Aku akui, aku masih ngarepin Laras. Posisi aku sulit banget. Tapi jujur, aku selalu berusaha buat sayang sama kamu. Ini...,”
          Resa balik menggengam tangan Garin. “Ini sulit. Aku tau. Kamu masih sayang sama dia tapi kamu juga ga mau nyakitin aku. Egoisnya aku adalah aku nutupin itu semua supaya kamu ga pergi. Aku terus diam, ga berusaha nanya karena aku ga mau kehilangan kamu. Tapi semakin lama, semuanya semakin buruk. Aku kira dengan berjalannya waktu kamu mau nerima aku tapi ternyata, engga. Kamu tetep sayang sama Laras. Hampir setahun kita pacaran tapi aku ngerasa baru kemarin kita saling kenal,” Resa tak mampu menahan air mata lagi, “sekarang aku lepasin kamu, Rin.”  
          Garin terkesiap lagi. “A.. apa? Maksud kamu?”
          “Aku pengen kamu bahagia. Kalo kamu terus bareng sama aku, kamu ga akan bisa bahagia. Kejar dia, Rin! Kejar dia! Aku tahu, kamu bakal ngelakuin apapun demi balikan lagi sama Laras,” Resa pun melepaskan genggamannya, “dan aku mau berkorban. Ngebiarin kamu pergi dan mengakhiri hubungan kita.”
          Kursi berderak. Garin menghempaskan punggungnya ke kursi. Nafasnya bergerak tak teratur. Bingung dengan apa yang barusan terjadi. Menimbang-nimbang hal yang sebetulnya telah ingin dia lakukan sedari dulu.  
          “Aku ga tau, aku harus ngomong apa.”
          “Kamu ga harus ngomong apa-apa. Kamu cukup pergi dari aku dan kejar Laras. Aku ga mau bohong kalo aku bakal baik-baik aja, tapi inilah yang terbaik buat kita,” suara Resa terdengar lembut sekaligus serak.
          Setelah beberapa lama Garin kembali menggenggam tangan Resa. “Aku minta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat. Kamu perempuan yang luar biasa. Aku juga mau berterimakasih atas pengorbanan ini. Aku berhutang budi sama kamu. Dan aku mau ngelakuin apapun buat ngebayar semua itu.”
          “Sebenernya ada satu hal. Apa kamu mau ngelakuinnya demi aku?”  
          “Apapun,” jawab Garin cepat.
          Hati Resa bergetar. Inilah yang selama ini ia inginkan. “Jangan pernah lupain aku.”  
          Wajah Garin mengeras. Sorot matanya tajam. “Tidak akan pernah.”
                                                               ***
“Lega. Sangat. Membiarkannya pergi dan memutuskan tuk melepaskannya ketika sudah sejauh ini. Pernah bersamanya adalah garis hidup yang sangat aku syukuri walau hanya berjalan sementara. Ketika begitu sulit memahami kebenaran bahwa dia tidak pernah menginginkanku, bahwa bukan aku yang dia mau. Aku tidak baik-baik saja, tentu. Walau sulit, aku harus melakukannya.”

          Tulis Resa dalam sebuah kertas. Kemudian dia melipatnya dengan apik. Dan menaruhnya ke dalam kardus bersama segala benda yang menjadi kenangan bersama Garin. Resa tersenyum sejenak, merasakan perubahan hatinya. Tak ada beban walau masih ada luka. Resa yakin atas keputusannya. Lalu dia berdiri, mengangkat kardus itu dengan kedua tangannya dan berniat menaruhnya di tempat yang jauh dari jangkauannya. 

Dia Saja

| Jumat, 04 Juli 2014 | |

Kalau bisa aku memilih
Kumau dia yang kucintai
Dia yang menungguku begitu setia
Dia yang selalu ada
Dia yang temani waktu-waktu ini

Kalau bisa aku berencana
Kuingin berpaling pada dia saja
Dia yang sampai kini sabar
Dia yang tak usang senyumnya
Dia yang menyayangiku

Apa boleh buat, hati ini tak kunjung beranjak
Perasaan mengepul satu nama
Tak juga bisa kuubah semaunya
Tak mampu kuganti seenaknya
Batin ini menetapkan satu cinta
Sebenarnya kuingin bagi dengan dia yang lain
Cerita sekelumit namun bisa serumit ini
Oh hati, kalau bisa kuarahkan pada dia saja
Oh hati, kalau bisa kututunkan pada dia saja
Oh hati, kalau bisa kupaksakan pada dia saja

Menghilang

| Rabu, 02 Juli 2014 | |

Saya akan menghilang. Saya tak ingin dicari. Saya tak ingin ditemui. Saya tak mau membuat repot siapapun yang selama ini berpura-pura peduli. Saya lebih tenang kalau memang iya adanya, abaikan saja saya.
Saya akan menghilang. Menghilang dari zona menginginkan. Menghilang dari zona mengharapkan. Menghilang dari zona menunggu. Dan menghilang dari apa artinya mencintai. Saya akan berhenti dari hal-hal seperti itu.
Saya akan menghilangkan. Menghilangkan segalanya dalam hati. Sekarang saya hanya ingin menghilangkan rasa sakit dan jika perlu melupakan hal indah yang membuat saya lebih terpuruk kalau saya mengingatnya kembali. Bukan saya merasa lebih bisa dari orang lain, hanya saja saya tidak akan meminta siapapun untuk peduli pada saya. Kalau pun ada yang tulus datang berarti Tuhan telah menghendaki itu.
Saya tidak akan bersembunyi. Namun saya akan menghindar dari apapun yang bisa membuat saya terjatuh lebih dalam lagi. Saya sudah lelah. Biar saya urusi masalah saya dengan tenang, diluar itu saya tak ingin tahu. Biar orang berkata apa, toh tak ada gunanya kalau hanya ingin menjatuhkan.
Saya tak butuh basa-basi. Terlebih saya terlalu sering berpikir positif sehingga terlalu cepat menganggap serius sesuatu yang belum jelas. Saya baru menyadari bahwa sebagian besar orang hanya berbasa-basi karena merasa tak enak hati. Dan bukan berarti benar-benar perhatian dengan masalah saya.

Saya menghilang...

Jika Kau Menginginkanku

| Minggu, 29 Juni 2014 | |

Jika kau menginginkanku
Suatu saat kau akan menyadarinya
Entah belum atau mungkin sudah terlambat
Jika kau menginginkanku
Tak peduli siapapun yang kini bersamamu
Kau akan meninggalkannya
Jika kau menginginkanku
Selama apapun kita tak saling memberi kabar
Kau akan menghubungiku kelak
Jika kau menginginkanku
Seberapa jauhnya jarak membatasi kita
Kau akan berusaha mendekat
Jika kau menginginkanku
Seburuk apa hubungan kita di masa dulu
Kau akan memperbaikinya
Jika kau menginginkanku
Segala tanya dan salah paham dalam hati
Kau akan mencari penjelasannya padaku
Jika kau menginginkanku
Apa yang tak mungkin
Kau akan membuatnya menjadi mungkin
Jika kau menginginkanku
Jujurlah pada hatimu
Kau akan mengerti betapa kita terlalu egois pada keadaan
Jika kau menginginkanku
Sekecil apapun peluangmu kembali
Kau akan tetap mencoba mencapaiku
Jika kau menginginkanku
Seindah apapun kisahmu dengan dia kini
Kau akan mudah melupakannya
Jika kau menginginkanku
Jangan pernah katakan cinta jika kau masih bersamanya
Kau akan tahu itu

Bermimpi

| Minggu, 29 Juni 2014 | |

Aku bermimpi
Bisa bertemu denganmu beserta senyum itu
Bibirmu melengkung manis
Bertengger dua mata juga tatap yang meneduhkan
Nafasmu teratur begitu alot
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Aku bermimpi
Bisa memadu tawa denganmu
Suara yang kurindui tiap malam
Candamu lucu dengan nada tawa yang khas
Kata yang kaumuntahkan
Ucap yang kaulafalkan
Kusimpan mentah di dalam hati
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Aku bermimpi
Bisa duduk berdua denganmu
Memusnahkan ruang diantara kita
Jemari-jemari saling bertautan
Tersentuh kulitmu serasa menyenangkan
Hangatmu merambat hingga ke batin
Bahu itu bisa kusandari
Sampai akhirnya aku tertidur dalam nyaman
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Aku bermimpi
Bisa bersamamu menunggu hujan berlalu
Nikmati anak-anak air yang menatap kita penasaran
Angin berselancar sembari mengulum tanya
Menyapu dasar kulit tuk mencari tahu
Disuguhi suara rintik yang maha merdu
Bau tanah basah menyesap ke paru-paru
Aku dan kamu hanya ingin diam
Menghabiskan waktu sembari menunggu hujan berhenti
Kita diguyur cinta yang diungkap diam-diam
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Dan kali ini aku masih bermimpi
Kunanti kau disini
Banyak hati yang bisa kaulewati tuk sampai kembali
Ini tujuan kita, aku tetap berada di tempat yang sama
Menanti kau pulang dengan langkah pasti
Gapai aku, bangunkan aku dari tidur panjang
Kau adalah mimpi yang menjadi nyata

KUKIRA

| Sabtu, 28 Juni 2014 | |

Kukira selama ini benar
Kukira akan mudah berpaling
Kukira telah salah menilai hati
Kukira aku menyayangimu

Ternyata tak sepraktis berpindah hati
Jalani kisah denganmu
Dan pikiranku masih tertinggal disana
Tak seharusnya kupaksakan
Tak seharusnya jadikanmu pelampiasan

Tergopoh mengikuti inginmu
Namun rasaku tak pernah sampai
Balasku hanya pada orang itu
Setega ini, tak kukira malah menyakiti

Usaha ini tak juga berbuah manis
Usaha membuatmu menjadi yang terpilih
Usaha menjadikanmu penetap mimpi
Apa yang bisa kulakukan lagi?
Kau terbaik, kau jelas bukan hiburan
Kau lebih daripadanya
Tapi tak mampu lukaimu lebih dari ini

Aku hanya sibuk meredam rasa
Tak ingatkanmu yang benar-benar ada
Hati ini keras sekali dipecahkan
Sekarang kupasrahkan tuk tidak mencinta
Tak mencari-cari tempat sementara
Aku hanya ingin menjalani sampai akhirnya aku menemukan
Maaf, kusinggahi hatimu
Kutinggalkan luka dan benci disana

Untukmu, kutitip sejuta maaf
Memanfaatkan perasaan semahal itu
Tapi sungguh, aku tak bisa, aku tak bisa lagi
Biarkan aku pergi, biarkan diri ini berlalu
Kini, aku hanya ingin berhenti berpura-pura menginginkanmu
Kini, aku hanya ingin jujur pada kisah kita
Kini, aku hanya ingin berjalan sendiri kemudian menetapkan hati
Kini, aku hanya ingin menemukan sisi nyaman yang Tuhan siapkan

Kukira ini benar
Kukira sanggup berdiri sendiri
Kukira lebih mudah dibanding menggunakanmu
Kukira aku bisa mengikhlaskan orang itu setelah kau ikhlaskan aku

Hujan di Hari Jumat

| Sabtu, 28 Juni 2014 | |

Sepanjang hari langit bertirai
Jumat yang basah
Awan menggumpal semrawut
Bergulung-gulung tak karuan
Jumat sedang teduh

Hujan di hari jumat
Menyelami ingatan tentangmu
Ingatkah kau?
Rintik jatuh, ingatan beringsut
Mata terpejam, pikiran menerawang lebih jauh
Di waktu itu hari begitu lugu
Hujan tak hentinya merapatkan temu
Aku dan kamu menyesap dinginnya hingga ke tulang
Namun kuingat senyum terkulum dibalik wajahmu yang setengah basah
Rambut terkulai menetes air hujan yang mendarat tak sengaja disana
Entah apa yang kuinginkan, tapi kau terlihat mengesankan
Hujan mengguyur, tatap punyamu dan tatap punyaku saling mencari tahu

Jumat yang memayungi hari kita
Sungguh kuingin kembali ke hari itu
Menikmati hujan sepanjang masa
Menghentikan peristiwa kemudian mengikat selama-lamanya
Ingin hati kukisahkan ini padamu
Apa yang kurasa saat aku, kamu dan hujan menyatukan diri
Namun mana bisa lagi
Mungkin tak ada kesempatan tuk ungkap yang sedang kupendam
Hingga kutulis saja dibanding diam dalam bayang-bayang
Dibanding tak mampu kuucap langsung padamu lebih baik kuurai dalam kata

Senyata hujan di jumat itu
Senyata rasa di temu itu

Tak bisa Sabar

| Jumat, 27 Juni 2014 | |

Rasanya tak bisa sabar
Menunggu hati jatuh pada siapapun selain dia
Rasanya tak bisa sabar
Yang disebut waktu kan menyembuhkan namun belum juga kurasa
Rasanya tak bisa sabar
Saat perasaan ini kebal memandangnya bersama yang lain
Rasanya tak bisa sabar
Harapan yang tertanam ini segera mati bunuh diri
Rasanya tak bisa sabar
Menanti sang ikhlas hidup di dalam dada
Rasanya tak bisa sabar
Menemukan hati yang bisa kutinggali selamanya
Rasanya tak bisa sabar
Merasa lengkap seperti dia dengan seseorang di sampingnya
Rasanya tak bisa sabar
Ketika datang tangan yang mampu menyeka air mata
Rasanya tak bisa sabar
Memukul pikiran yang ada dan mengganti dengan tokoh baru
Rasanya tak bisa sabar
Untuk aku tidak selalu merasa pilu

Waktunya Telah Tiba

| Minggu, 22 Juni 2014 | |

Waktunya telah tiba. Saya harus melepaskan, membiarkan dan mengikhlaskan sesuatu yang bukan untuk saya. Apa yang dimau, apa yang diharapkan ternyata tak pernah kunjung datang. Waktu yang telah saya habiskan selama ini untuk menunggu orang itu ternyata hanya sia-sia. Sedih memang, sulit sekali untuk sekedar terlihat biasa saja. Menutupi perasaan yang begitu menyedihkan dan ngilu sampai ke ulu hati. Saya selalu ingin menyerah karena lelah menunggu namun pada kenyataannya tak pernah benar-benar bisa saya lakukan. Untuk kali ini, saya harus melakukannya, demi siapa? Demi diri saya sendiri.
Orang itu telah menemukan kebahagiaannya bersama perempuan lain. Orang itu telah jatuh cinta pada perempuan lain. Orang itu telah benar-benar pergi. Semoga orang itu bisa menemukan apa yang ia cari.
Saya tidak bisa berkata kalau saya baik-baik saat ini. Saya hanya terluka, namun berusaha mengobatinya dengan segera. Tidak mudah, memang. Ketika rasa ingin tahu begitu menguasai, ketika itu pula rasa pilu mendera lebih kejam. Saya sudah tak ingin tahu, tak ingin peduli. Biarlah, biarkan saja berlalu tanpa saya tahu. Dan terlebih ketika rindu itu datang, apa daya diri ini. Saya selalu duduk di tempat yang sama, menunggunya. Tapi kali ini tidak, tidak akan lagi.
Waktunya telah tiba untuk saya menyadari seberapa penting diri saya di masa depan. Terakhir untuk orang itu, beruntunglah kau pernah ditunggui sesetia ini, sefrustasi ini, selama ini oleh perempuan ini. Tapi kini saya harus berhenti untuk menginginkan, mengharapkan dan memimpikannya. Harus!

| Sabtu, 14 Juni 2014

Pernahkah kau merasa seperti aku?
Pernahkah kau berpikir bagaimana menjadi aku?
Pernahkah kau memahami betapa lelahnya aku menunggu?

Aku tahu, aku ingin menyerah
Aku tahu, aku muak
Aku tahu, aku merindu
Aku tahu, aku tak dipedulikan
Aku tahu, aku tidak bisa pergi
Aku tahu, aku memendam ini terlalu lama
Aku tahu, aku hanya menginginkanmu saja
Aku tahu, aku begitu tulus mengharapkanmu
Tidak cukupkah itu semua?
Tak bisakah kau kembali lagi?
Tak bisakah kau maafkan aku?
Tak bisakah kau pergi darinya?
Tak bisakah kau hanya setia padaku?
Tak bisakah kau mencintaiku?

Tak rela, hatimu terbagi perempuan lain
Tak rela, bahumu disandari perempuan lain
Tak rela, senyum itu kaulempar pada perempuan lain
Tak rela, tanganmu merangkul perempuan lain
Tak rela, kau jatuh cinta pada perempuan lain

Bahagia

| Kamis, 29 Mei 2014

Saat ini aku bahagia
Bahagia karena aku tahu tentang sesuatu yang ingin kutemukan, ingin kucapai. Mimpi itu terasa dekat, terasa ada dan terasa begitu nyata. Aku bermimpi bisa menulis setiap saat. Bisa berbagi cerita pada mereka yang merasa kehilangan cerita, disini ada, aku ada. Menghibur mereka yang membaca, memberi sebongkah fiksi yang mampu menarik bibir mereka hingga terbentuk senyum puas.
Saat ini aku bahagia
Bahagia karena aku tahu kamu ada. Memberi semangat, menuangkan perhatian pada tulisan-tulisanku. Ceritaku, puisiku terasa bernyawa. Karena kamu yang menghembuskan roh pada kata-kata yang terurai. Karena kamu, aku terbiasa menarik ulur perasaan. Karena kamu juga, aku menghabis waktu lebih banyak bersama hati dan kalimat.
Saat ini aku bahagia
Mimpi ini sudah lama kuinginkan. Mimpi ini sudah lama kudambakan kenyataannya. Berkat kamu, aku tidak takut menjadi pemimpi. Berkat kamu, aku tidak menyerah menjadi penulis. 

Tak Perlu

| Kamis, 29 Mei 2014 | |

Tak perlu kau kembali
Karena aku telah pergi
Tak perlu kau kembali
Karena aku tak sama lagi
Tak perlu kau kembali
Karena aku lelah menanti
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah menyerah
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah muak bersabar
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah berhenti bertahan
Tak perlu kau kembali
Karena aku tak ingin dimainkan
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah kecewa
Tak perlu kau kembali
Karena aku lelah diberi ketidakpastian
Tak perlu kau kembali
Karena aku tak bisa memaksa takdir

Untitle

| Selasa, 27 Mei 2014 | |

Ini hebat. Saya tak pernah benar-benar berhenti menangis selama 4 bulan belakangan ini. Ingatan itu, kenangan itu selalu membuat hati saya sendu. Pilu rasanya, ketika rindu datang namun orang yang saya rindukan tak pernah sekali pun peduli. Kelu rasanya, ketika mimpi menerkam namun orang yang saya impikan tak pernah ingin tahu. Entah apa ini namanya, mencinta atau menyakiti, yang saya alami sekarang hanyalah kesendirian.
Saat saya terbangun hingga saya tertidur kembali hanya ada satu nama yang saya pedulikan. Dia yang selalu membuat saya menangis pasca kejadian itu. Baru kali ini saya setidakpercayadiri ini, saya tidak merasa berharga sama sekali, saya tidak punya sisi cantik sedikit pun.
Kenapa saya harus mengenalnya? Kenapa saya sesakit hati ini? Kenapa saya begitu mengharapkannya? Kenapa saya yang disia-siakan? Kenapa harus saya? Kenapa???
Sulit sekali mengembalikan mental yang terlanjur jatuh bahkan hancur. Setiap malam, saya selalu berdoa yang terbaik untuknya, semoga ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi, di satu sisi saya tidak bisa mengontrol pikiran saya yang brutal, pikiran bahwa ia mungkin bersama orang lain, menghubungi perempuan lain, mendekati seseorang yang tidak saya ketahui. Apa jadinya perasaan ini? Saya tidak bisa mengatur hati saya agar tetap baik-baik saja, saya selalu menangis, selalu. Saya kesulitan dengan semua ini, 4 bulan bukan waktu yang normal untuk selalu bersedih. Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi saya tidak mampu mengatur perasaan saya, ingatan saya untuk tidak menghiraukan kemungkinan dia kembali. Harapan yang mustahil, harapan yang menjatuhkan, harapan yang selalu membuat saya bertahan untuk menyakiti diri sendiri. Ingin saya tukar perasaan ini dengannya, saya pun ingin merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Hati pergi semudah itu, mencampakkan segampang itu, menemukan yang lebih baik tanpa memerlukan waktu yang panjang. Ternyata hidup seorang manusia bisa sedatar itu, semulus itu, sebaik-baik itu.
Saya marah terlebih kecewa. Saya tak percaya bisa mengalami fase sedramatis ini: saya menyukai seseorang, orang itu seolah-olah memberi harapan namun pada kenyataannya dia pergi memilih orang lain tanpa sedikit pun penjelasan.
Hingga hari ini, saya masih memerhatikannya. Dia terlihat baik-baik saja, terlihat begitu ceria. Senangnya jadi dia bisa mendapatkan apapun maunya hanya dengan sedikit perjuangan  saja.
Saya bodoh, saya tahu itu. Bahkan saya terlalu malu untuk mencurahkan hati pada teman-teman saya tentang semua ini. Mereka menganggap perasaan ini enteng tapi saya sedang mengalaminya. Saya sedang membangun sesuatu yang telah runtuh, saya tidak percaya diri sama sekali, kau tahu??? Terpaksa saya pendam sendiri, saya lumat sendiri, saya obati sendiri.
Tidak sekarang, tidak esok, tidak juga lusa. Saya tidak mungkin berhenti menangis di hari-hari mendatang. Melewati semuanya dengan susah payah. Rindu selalu ada, harapan ini masih duduk nyaman dan sedih itu akan selalu hadir. Saya tahu, saya lelah. Saya tahu, saya muak. Tapi apa daya, pada akhirnya saya tetap menangis.

Di Waktu Itu

| Senin, 19 Mei 2014 | |

Di waktu itu, aku merasa berada di titik terendah, paling rendah. Aku putus asa, kecewa, marah dan patah arang. Aku tak yakin dengan apa yang kumiliki. Aku tak yakin dengan apa yang harus kujalani. Rasanya sulit tuk temukan jalan keluar. Berjuang sendirian, tersesat dalam masalah-masalah ini terlalu lama. Aku ingin menyerah.

Di waktu itu, aku menangis sesenggukan di dalam kamar. Hanya sedikit cahaya yang menerobos dari sela ventilasi. Gelap dan tidak ada orang yang tahu. Sungguh, aku telah bersabar. Benar, aku telah berusaha tegar. Tapi kini aku lelah, capek dengan masalah-masalah ini. Aku muak.

Di waktu itu, aku ingin menjadi sosok yang lain. Menukar nasib menjadi orang lain. Bahagia, layaknya sebuah hati selalu berharap seperti itu, begitu juga hatiku. Tapi, hidupku tak semerdu dawai, tak seindah Tanah Lot, aku benci ini. Aku lelah mengeluh, aku lelah melihat diriku selalu kesulitan.

Di waktu itu, aku ingin menumpahkan cerita pada seseorang. Bahkan orang yang kubutuhkan pun tak pernah ada. Aku memikul ini sendiri, siapa pun sibuk dengan maunya masing-masing. Tak ada yang peduli, mereka hanya tahu kalau aku terlihat baik-baik saja. Masa bodoh, bagaimana dan seperti apa aku memendam dan meredam perasaan. Mengharapkan sosok pendewasa di waktu itu sangat mustahil.

Di waktu itu, impianku runtuh. Harapan yang selama ini menjadi tonggak pun ambruk seketika. Kesempatan, peluang, bertahan hidup, aku tak butuh itu. Aku hanya ingin dimengerti, dipahami dan berhentilah menawariku hal-hal yang tak pasti. Aku selalu berusaha, tapi mengapa mereka yang mendapatkan segalanya?

Di waktu itu, aku hanya menunggu. Menunggu hatiku lebih sedih lagi, lebih pilu lagi bahkan lebih perih lagi. Aku menunggu segelas air putih dari seseorang. Kupikir hanya dengan segelas air putih dari orang yang betul-betul mengerti keadaanku, sudah sangat cukup. Tapi, hal itu tak pernah ada, tak pernah datang. Mereka semua menutup mata, menutup telinga. Hingga akhirnya aku merasa tak layak untuk hidup. Lalu tanpa sadar aku tertidur karena terlalu lelah menerima, terlalu lelah menunggu, terlalu lelah menangis. Dan kini aku pasrah, benar-benar pasrah dengan semuanya.

Kepada Kamu Sayang

| Sabtu, 17 Mei 2014 | |

Kepada kamu, sayang
Salahkah bila aku terlalu perasa?
Salahkah bila aku terlalu peka?

Entah mengapa, kurasa ada yang tak sama lagi denganmu
Kau lebih diam, lebih menutup diri
Menyahutimu dengan perhatian namun nol besar
Bahkan aku punya banyak tanda tanya
Tak juga dapati jawaban
Walau begitu aku tak jengah, sayang

Kau ada tapi tak benar-benar ada
Kau bicara padaku namun sorot matamu keluyuran ke arah lain
Kau temani aku namun pikiranmu berlayar ke bagian yang tak kukenali
Peralihan sikapmu buatku terus bertanya
Walau mulutmu selalu terkatup
Bahkan senyum itu hambar sekali
Tertera di matamu, kau tak baik-baik saja
Ada sekelumit atau seonggok kata yang masih kausimpan
Jujurmu tersendat ditenggorokan, aku tahu itu

Kepada kamu sayang,
Tak mampu kuberpura-pura tak peduli
Tak tenang 'tuk abaikan apa yang nampak
Haruskah aku menerka-nerka lagi?
Haruskah aku mengira-ngira lagi?
Sayang, taruhlah jujurmu di telapak tanganku
Diammu menyulitkan
Tak menuntut apalagi memaksa
Hanya usaikanlah tanya ini, kuingin yang benar menggelontor dari bibirmu

Kepada kamu sayang,
Salahkah bila aku begitu perasa?
Salahkah bila aku begitu peka?

Itu Dia

| Jumat, 16 Mei 2014 | |

Itu dia wajah yang selalu terngiang
Itu dia rupa yang selalu memikat hati
Itu dia paras yang membuntuti mimpi
Itu dia orang yang memantri angan

Ada dia, jiwa berdesir
Dan angin ikut mendesis
Meraungkan isyarat padanya
Perasaanku tersampaikan dengan lugu

Suatu waktu, ancang-ancang kuteguhkan diri
Tekad ini memang sembrono
Cuma karena desakkan rasa
Tak lihat-lihat yang sedang terjadi
Sela yang renggang telah terisi
Sisi yang patah telah menyatu
Itu dia orangnya, menggandeng sahabatku

Kenyataan membentur wajahku
Lirih membaur di udara
Ingin kubersembunyi di dalam kotak sereal
Memahami keadaan ini sendiri
Aku terdepak oleh wujud yang tak asing

Sejak kapan, tak pernah kusadari
Tahu-tahu aku tersingkir olehnya
Tapi mengapa oleh sahabatku?
Apa itu suatu keharusan?
Sudahlah, lebih baik kuberbalik
Niatan yang harus kuurung lebih dalam
Disibukkan meladeni hati yang terapung
Nanti-nanti, aku masih terlalu limbung

Tersungkur jatuh hingga ke dasar
Tak ada upaya tuk selamatkan diri
Biarlah seperti ini sekarang
Pahami jarak yang kubuat
Kumohon, cerita ini tak ingin kubagi denganmu lagi

Malam Beringas

| Kamis, 15 Mei 2014 | |

Malam ini terbelit kamu
Malam ini terkepung kamu
Malam ini terengkuh kamu

Kilasan tentangmu tak pernah rontok
Gambaran tentangmu tak juga memudar
Bayangan tentangmu tak pula menghilang
Apa-apa tentangmu tak bisa lupa

Malam yang beringas
Malam yang liar
Malam bagai di ring tinju
Kupukulimu membabi buta
Kukerahkan tenaga tuk hancurkanmu
Sial saja, selalu aku yang kalah
Aku yang sakit, hatiku yang penuh lebam
Batin memar disana-sini

Di malam yang mana aku jadi pelupa?
Di malam yang mana aku tak jadi pemimpi?
Lelah merasa patah arang
Tak disanggupkan lagi tuk terus putus asa
Lengkung bibirmu menaruh luka disini
Ingat itu, sama saja menohok ulu hati

Memapah mimpi yang tak pernah selesai
Melangkahkan kenangan yang kian memberi perih
Mimpi ini lemas bekerja
Malamku selalu larut diantara kedua lenganmu yang tak nyata

Selamat Malam Esok

| Kamis, 15 Mei 2014 | |

Selamat malam kamu,
Ada cerita yang ingin kututurkan. Takkan lama, dua hingga tiga menit saja waktu yang bisa kaurelakan untuk merampungkan bacaan ini sampai ke titik terakhir. Apa kau tak keberatan, aku meminta waktumu membaca tulisan remeh temeh ini? Sungguh, terimakasih jika tidak.
Selamat malam kamu,
Sebetulnya cerita ini sederhana. Saat pertama kali kauajak aku jalan berdua: rasa dag-dig-dugnya seperti mendapat pengumuman kelulusan. Senang bukan kepalang, nyaris saja aku berteriak di depan wajahmu. Kau tentukan tempat dan waktunya, dan tidak ada gelengan kepala yang kaudapati, jelas aku mengangguk mau. Caramu memulai percakapan sungguh sederhana, aku suka. Tidak rumit, tidak berlebihan, obrolan ringan dan berani. Jika saja kamu tahu, setelah kau berlalu sembari mengantongi janji temu kita, perasaan ini sama halnya balon yang diisi udara terus-menerus hingga sesak, hingga tak muat dan meledak seketika. Jika hatiku punya kaki, mungkin ia akan berjingkrak-jikrak. Jika otakku punya mulut, mungkin ia akan berteriak-teriak. Aku girang, aku tahu, aku menyukaimu.
Selamat malam kamu,
Esok adalah waktu yang kausebut. Esok adalah hari-hari kemarin yang kutunggu. Esok adalah kesempatan paling ramah untukku dan mungkin kamu. Itu dia, esok.
Selamat malam kamu,
Malam ini sungguh panjang. Gelap masih tak kunjung usai. Tak sabar, rasanya.  Oh, esok seolah menyorakiku. Ingin kutarik matahari, jika mampu. Disini, di dalam pikiranku tertoreh ribuan kamu. Aku rela dilumat mimpi-mimpimu. Tidurku kali ini berbeda, tidur ini tak tenang, tidur ini melelahkan, tidur ini berlari menujumu, mencapai bayangmu.
Yah, selamat malam kamu
Yah, selamat datang esok
Yah, selamatkan aku dari malam ini...

Surat Kepada Teman Hidup

| Rabu, 14 Mei 2014 | |

Hai, teman hidup
Surat ini kutitip pada waktu, semoga di masa depan surat ini bisa sampai di tanganmu. Seumpama saat itu datang, mungkin kita telah dipertemukan, telah saling mengikat janji atau bahkan hidup bersama. Seumpama saat itu datang, di tiap pagimu akan selalu ada aku. Aku yang berbaring di tempat tidur denganmu, menyiapkan kopi hangat tuk membangunkan tidurmu, menyediakan sarapan kesukaanmu, merapikan pakaianmu sampai membetulkan simpul dasi yang bertengger di kerah bajumu. Aku telah ada di waktu itu.
Surat ini akan kauterima di masa yang tepat. Saat kau jatuh cinta padaku, begitu pula sebaliknya. Saat masa sekarang habis lalu aku dan kamu dirapatkan dalam satu jumpa. Mungkin surat ini bisa kaupahami, kala setelah kita berdua duduk di pelaminan menyalami setiap tamu yang datang. Tidak sampai disitu, barulah setelah aku dan kamu lengkap dengan dia, dia atau mereka yang menjadi anak kita hidup diantara kisah ini, kau akan benar-benar paham. Aku menyuapi, kau mengajaknya bermain, aku mengantarkannya pergi ke sekolah, kau membacakannya dongeng sebelum tidur, aku memasakkannya makanan, kau menggendongnya, aku menciumnya, kau memeluknya: kita menyayangi buah cinta kita. Dan surat ini diperuntukan bagi masa depan, kala waktu itu datang.
Perlu kautahu, aku bukan manusia romantis. Tapi berkatmu, kini aku 'kan berupaya mempersiapkan diri menjadi teman hidupmu yang paling romantis. Dimulai dari surat yang kubuat ini.
Hai teman hidup
Rupanya sedang apa kau sekarang? Duduk bersama perempuan itu? Tak apa, jangan khawatirkan aku. Bahkan kuingin kau belajar mencintainya dengan tulus. Karena ketika surat ini sampai di tanganmu, akan ada aku yang harus kau cintai dengan sangat tulus melebihi dia, dia, dia, atau mereka yang pernah kaucintai sebelumnya.
Rupanya sedang apa kau sekarang? Membagi bahumu untuk perempuan itu?
Tak masalah, jangan risaukan aku. Bahkan kuingin kau belajar menghargai bagaimana dicintai. Karena ketika surat ini kauterima, akan ada aku yang sangat mencintaimu melebihi dia, dia, dia atau mereka yang pernah kucintai sebelumnya.
Saat surat ini kaubaca, mungkin kau sedang duduk di pekarangan rumah sembari minum teh hangat di senja hari, ada aku di sampingmu: kita sedang memerhatikan anak-anak kita yang bersenda gurau.
Tenanglah teman hidup, surat ini pasti sampai padamu.
Aku telah menitipkannya pada yang lebih tahu di waktu mana kita berjodoh: itu waktu. Surat ini akan dijaga baik-baik olehnya. Percayalah!
Hai teman hidup, sampai bertemu di batas sayang.
Aku akan mencintaimu dan selalu mencintaimu.

Selama Hujan

| Selasa, 13 Mei 2014 | |

Mulanya pelataran langit menggelap
Awan bergumpal-gumpal tak karuan
Kukira mendung tak berarti menghujan
Tapi logika selalu mengantarkan yang benar
Air melepaskan diri dengan pasrah
Rintik demi rintik melahirkan ingatan
Bumi ini basah, suhu pun jatuh seketika
Udara berselancar dengan santai
Melewati ekor mataku yang juga membasah
Kupunguti potongan memori itu
Memori bergelayutan diantara air yang pecah

Tirai air yang indah sekaligus hebat
Aku merenunginya dengan seksama
Dibalik jendela, kuulur tangan
Menyampaikan jemariku kepada sang hujan
Sekadar mengilhami, sekadar mengingat-ngingat
Oh, dulu aku dengannya pernah seperti di waktu ini
Sembari menunggu hujan, sembari saling memadu cerita
Dia pernah disampingku
Dia pernah membagi bahunya untukku
Sungguh hujan yang manis

Deras hujan tanpa petir
Hanya ada udara dingin, hujan dan kita
Percikan air yang cantik
Satu, dua rintik menempel tak sengaja di rambutmu
Oh, hujan pun mencoba menarik perhatian itu
Tapi apalah arti hujan jika bukan karena kita berdua
Menunggu berakhir atau menunggu lebih lama
Akhirnya di waktu sekarang aku pun sampai
Hinggap harapan jika hujan waktu itu juga hujan waktu ini sama
Aku dan hujan, dia dan hujan
Kita diantara air yang berkilauan lagi, jika bisa

Mendekat

| Selasa, 13 Mei 2014 | |

Kemarilah
Mendekat padaku
Kuingin  rasakan aroma tubuhmu
Kuingin nikmati hembusan nafasmu mengenai kulitku
Kuingin dijatuhi tatapan itu

Ruas-ruas jarak memanjang diantara kita
Apa salahnya kita lucuti jarak itu?
Mendekatlah
Berbisiklah di telingaku
Tiap kata yang kauucap akan menenangkan
Suara yang terlantun pun bersemayam lama
Mendekatlah
Tetapkan pandangan itu untuk satu arah
Sorot mata yang menjadi candu
Menjatuhkan aku ke dalam rindu
Mendekatlah
Rengkuh jemariku dengan jemarimu
Merambat hangatnya hingga ke ulu

Ada kamu, hati ini teduh
Maka, kemarilah!
Biarkan batasnya luluh
Biarkan jaraknya runtuh

Baiknya Aku Diam

| Senin, 12 Mei 2014 | |


Baiknya aku diam
Mengubur hidup-hidup kembang kata
Puisi bertaburan disana-sini
Dimampukan berani dalam bait
Segala asa telah kuterjemahkan
Terurai sederhana terangkai kalimat, "saya cinta kamu"

Baiknya aku diam
Saat kamu telah memilih
Perempuan itu sungguh elok
Senyumnya patut dipuja
Bahkan aku belum berucap apalagi bertindak
Kamu begitu bersikukuh tuk mencintanya

Baiknya aku diam
Dalam diam kurasakan hening lebih dalam
Menjamah sepi yang kian meronta
Yang tak pernah terucap pun berbaring disana
Mencokol sunyi hingga terluka
Merampung ucap dalam bisu
Tangis itu pecah, selalu pecah
Terasa begitu ngilu saat lelah tuk bersuara
Mulut ini kelu, sesak oleh amarah
Hati beranjak muram lalu kecewa mengundang
Baiknya ku tetap diam, terus, terus dan terus diam

Seumpama

| Senin, 12 Mei 2014 | |

Sebenarnya banyak kata yang kusimpan
Sebenarnya banyak cerita yang kupendam

Seumpama masa lalu sudah terbuang
Tak apa tuk dikenang
Seumpama masa sekarang tak kunjung kau datang
Kubersabar dalam penantian
Seumpama masa depan bisa menjanjikan
Sungguh hati ini tenang

Mencintaimu saat ini adalah kenyataan
Sayang ini nyata, hanya kau yang semu
Rindu ini nyata, hanya kau yang berlalu
Gelisah ini nyata, hanya kau yang tak tahu
Perasaan ini nyata, sungguh dirimu yang menjauh

Mungkin waktu kelak membantu
Mengikis jiwa hingga tiada
Menanam yang baru melupakan yang lalu
Tapi itu soal waktu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun belum tentu mampu

Seandainya

| Senin, 12 Mei 2014 | |

Seandainya kau kembali
tak perlu khawatir aku masih disini
Seandainya kau kembali
akan kubukakan pintu untukmu
Seandainya kau kembali
secangkir teh hangat kusediakan untukmu
Seandainya kau kembali
jadikan aku rumah tempat kau berpulang
Seandainya kau kembali
berjanjilah untuk tinggal selamanya
Seandainya kau kembali
sedihku sirna seolah tak pernah ada
Seandainya kau kembali
tak ada lagi pertanyaan "kenapa"
Seandainya kau kembali
tak perlu bicarakan siapa yang kaupilih dulu
Seandainya kau kembali
kekeliruanmu takkan kuingat
Seandainya kau kembali
apapun alasannya aku terima
Seandainya kau kembali
bersumpahlah untuk jatuh cinta padaku setiap hari
Seandainya kau kembali
maafku selalu bersikap ramah padamu
Seandainya kau kembali
nyaman ini selalu ada diantara kita
Seandainya kau kembali
Penantian ini terbayar impas
Seandainya kau kembali
aku utuh

Sia-Sia Merindu

| Minggu, 11 Mei 2014 | |

Dia disini
Itu rindu, itu rasa

Sepenggal waktu kupikir bisa menyentuh keberadaanmu
Ternyata tidak, aku hanya berharap
Rindu itu sedang bersamaku
Sunyi yang lebih sunyi
Tidak ada cerita, habis sudah

Dalam tidur kuingin kau tinggal
Namun yang tertinggal bukan itu
Bahkan untuk sekadar mimpi pun tidak
Hanya rindu, hanya aku yang rasa

Kau ini entah dimana, sedang duduk dengan siapa
Melempar senyum pada siapa
Menunggu kabar dari siapa
Atau siapa yang kaupikirkan detik ini?
Sungguh, aku ingin tahu
Sungguh, aku siap patah hati

Dihukumi perasaan sendiri
Menulis segala remeh temeh
Rindu-rindu yang tersia-siakan
Apalah sedih
Dia tak pernah tahu
Atau dia mungkin tak ingin tahu

Tak guna aku merindu
Tak guna aku menunggu
Tapi tetap saja aku tak pergi
Disini saja, disini kuberusaha mencarimu dalam tidurku

Tahu Diri

| Rabu, 30 April 2014 | |

Saat takdir mempertemukan kita, aku merasa waktu begitu baik padaku. Perkenalan yang manis, bahagia yang tak diduga-duga olehku sebelumnya. Suka hanya sebatas suka, pada awalnya. Rasa ingin tahu, memberi banyak harapan. Tumbuh dan mengembang lebih besar lagi, semakin jauh dan semakin tahu.
Mengenalmu lebih dari yang seharusnya adalah kesalahan pertamaku. Terlampau jauh, terlanjur perasaan itu jatuh di tempat yang salah. Kamu dengan segala keindahan yang Tuhan beri: sikap seramah angin di senja hari, paras seindah rembulan dipertengahan bulan dan satu hal yang paling kusuka: tawamu semerdu alunan saxofone. Ah, luar biasa. Mengagumimu semudah mengedipkan mata. Ya, terlalu sulit melawan rasa yang tak terkendali dari kagum menjadi suka. Waktu mulai menguji saat kita tak dalam jumpa: rindu itu menjadi candu.
Lalu semakin kumendekat, semakin banyak yang kutahu. Lebih dari itu, aku menyadari setiap nilai diantara kita. Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menarik perhatianmu? Sungguh kacau! Aku tidak sepertimu yang hanya dengan usaha kecil apapun dan siapapun bisa kamu dapat. Semakin lama, semakin aku tahu diri.
Saat kupahami, kuputuskan untuk menyerah. Menyerah terhadap harapan yang terlampau tinggi. Menyerah terhadap angan-angan kosong yang menyedihkan. Kamu berhak untuk tidak mengetahui ini. Karena perasaan ini hanya akan menjadi urusanku saja. Aku begitu biasa, senyumku tak seberapa dibanding satu senyummu kuhargai banyak puisi.
Pada akhirnya, aku yang bersedih. Betapa bodohnya aku menyukai orang semahal kamu. Pernah mengenalmu kurasa sudah cukup beruntung. Ku bergegas pergi sebelum kenyataan menghantamku lebih keras lagi dibanding sebelumnya. Aku ini apa, orang biasa yang mudah diabaikan.
Saat aku mulai menangis, terlintas di kepalaku tuk menyalahkan takdir Tuhan. Ah, aku semakin bodoh saja.
Antara kita akan selalu ada jarak. Ini akan menjadi sedihku yang terakhir. Sekarang aku berjanji untuk tidak berharap, tidak menginginkan sesuatu diluar porsiku. Walau sulit, hati ini akan kujaga baik-baik dalam diam untuk menunggu seseorang yang biasa saja. Seseorang yang seimbang dan sanggup menerima aku apa adanya.
Iya, lihat-lihat jika menyukai seseorang. Jangan memimpikan yang tidak-tidak karena pada akhirnya yang baik untuk yang baik, yang indah hanya untuk yang indah saja. Pergi sebelum disuruh pergi karena tahu diri itu sanggup menyelamatkan apa yang tersisa.

Pupus (1)

| Sabtu, 26 April 2014 | |
“... aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku...”

Lagu Dewa 19 itu mengalun tanpa jeda. Suara merdu Once terkurung ruang, menyesap diantara siluet kenangan lalu menyelusup mulus ke dalam hati. Intan tak pernah bosan memperdengarkan lagu itu. Merenungi liriknya, merasakan setiap nada yang dituturkan, dan membawanya terbang tinggi kemudian jatuh mengikuti aliran perasaan. Diulang lagi, lagi kemudian lagi tanpa mengindahkan daftar lagu yang sedari tadi menunggu untuk diputar. Sembari berbaring memandang langit-langit kamarnya dengan putus asa, Intan pun mengurai perasaannya dengan air mata. Tangisnya pecah, sedih tak terasa sederhana. Di salah satu tempat, di dalam diri Intan ada bagian yang tak rapi lagi. Sulit untuknya menata kembali seperti semula karena segala yang ada disana telah hancur lebur. Nyaris setiap malam Intan menyetel lagu itu, mengubah lantunan ninabobo menjadi nyanyian sendu Dewa 19. Sampai ia merasa lelah untuk bersedih, sampai ia menyerah saja untuk bermimpi hingga iringan lagu Pupus itu terngiang-ngiang di telinga Intan, barulah ia bisa tertidur. Dalam pejamnya, hanya satu nama yang ia temukan. Dia adalah dia dalam lagu itu.

Satu tahun kemudian...

Intan kepayahan menaiki tangga demi tangga lalu meliuk-liuk menyusuri lorong-lorong kampus yang lengang. Lantas hari sabtu, jarang ada mahasiswa yang berlalu-lalang di area kampus. Kuliah tambahan, hal itulah yang membuat Intan memaksa diri beranjak dari tidur agungnya. Lima menit lagi kelas dimulai, Intan tergopoh-gopoh mencari ruang yang bertuliskan C.21. Setelah merasa lega ternyata dosennya belum datang Intan pun beringsut di kursi sebelah teman baiknya, Dewi.
kursi sebelah teman baiknya, Dewi.
          “Abis maraton lo?” sembur Dewi.
           Intan masih sibuk mengatur ulang nafasnya yang tersenggal-senggal.
Alih-alih tak sabar Dewi menodongnya dengan pertanyaan, “Kemaren si Redi bbm gue, nanyain elo gitu! Kalian berdua kenapa lagi sih?”
“Eh, nanti malem ke Braga yuk?” jawab Intan acuh tak acuh, tak menggubris pertanyaan Dewi.
“Braga? Nah, pasti ada apa-apa! si Redi uring-uringan banget, Tan! Elo itu kenapa sih? Ada masalah?”
Dengan malasnya Intan pun menoleh ke arah Dewi. “Jadi elo ga mau?”
“Bukannya ga mau. Kenapa ga ngajak Redi malah ngajak gue?”
"Senyum tipis tergambar di bibir Intan walau terkesan dipaksakan ia berkata dengan lembut dan pelan. “Gue udah putus sama Redi.”
“KAPAN, ONTAAA?” suara Dewi hampir membuat retak dinding kelas. Seisi kelas menoleh ke arah mereka berdua selama sesaat.
“Ih, lebay deh lo! Tadi pagi gue putusin dia.”
Bola mata Dewi bisa saja melonjak keluar jika tidak ada otot-otot yang mengingkatnya. “Astaga naga, give me a reason! Padahal baru dua minggu, Tan!”
Intan menarik nafas dalam-dalam. “Ga kenapa-napa sih. Guenya aja yang pengen putus.”
“Ah, sarap! Redi itu udah baik, pinter, cakep lagi. Coba terangin, kurangnya dia sebelah mana sih?”
Sejenak mengingat, Intan berkata, “ga ada.”
“Lah, terus? Elo tiap jadian ga pernah lama mutusin tiba-tiba kayak gitu. Elo ga mikir perasaan mereka gimana? Gue rasa Redi udah yang paling cocok buat lo, gue kira elo bakal awet sama dia.”
"Ya, gue emang salah. Selama ini gue nyari comfort zone-nya! Dan gue ga nemu itu dari Redi atau bahkan dari mantan-mantan gue sebelumnya. Wi, gue bukan cewek yang banyak nuntut, atau cewek yang minta diperhatiin ini itu, gue cuma pengen ketemu sama orang yang bisa bikin gue nyaman! Gitu doang, tapi ya susah! Dan masalah nyaman, ga nyaman gue sendiri yang rasain. Redi itu sempurna buat ukuran gue, tapi gue ga bisa maksain hati gue buat nyaman bareng sama dia!” tutur Intan.
Dewi tersentak. Untuk sesaat Dewi tak mampu berkata-kata. Intan menahan gejolak perasaan yang tadi nyaris terpancing. Dosen yang ditunggu telah memasuki kelas. Intan dan Dewi pun sontak membetulkan posisi duduk mereka.
Sembari menyondongkan tubuh ke arah Intan, Dewi berbisik, “Sorri, Tan! Gue cuma heran sama lo, dan yaaa, ga habis pikir juga sih bisa-bisanya elo mutusin Redi,” Dewi terdiam beberapa detik, “tapi gue ngerti kok sekarang.  Yaudah, nanti malem nge-Braganya jadi ‘kan?”
Intan tersenyum lalu mengacungkan kedua jempolnya. Dan kontan suasana kelas berubah menjadi begitu khidmat. Dosen baru akan memberi materi perkuliahan tapi pikiran Intan sudah lari entah kemana.
                                          
***

Pukul 23.00, Intan sampai di rumahnya. Kantuk telah bersemayam di pundak Intan, ia tak sabar untuk segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Baru setelah kulitnya menyentuh seprai, Intan beringsut menarik tubuh mencapai bantal. Matanya terpejam lalu kontan terkaget mendengar handphonenya berdering. Intan mengeluarkan handphone itu dengan sembrono dan menatap layarnya dengan malas: hanya terpampang nomor tanpa nama. Intan pun membenamkan handphone itu ke bawah selimut dan tak berniat menjawab panggilan itu. Tapi sayang, telepon terus berdering, seolah tak memerdulikan Intan yang tak ingin diganggu. Walau sedikit kesal bercampur penasaran ia pun menekan tombol hijau.
             Awalnya tidak ada suara yang terdengar. Intan tak berbicara sepatah kata pun, ia hanya menunggu. Lalu akhirnya si penelepon pun menyapa Intan dengan hati-hati.
             “Hallo?"
 Intan berupaya mengingat-ngingat suara itu. Sebenarnya tak perlu usaha besar untuk menebak suara si penelepon. Tapi Intan tak percaya dan masih meragu luar biasa.
“Ya, hallo! Siapa?”
“Nomor kamu masih sama ya? Aku kira udah ganti, eh ternyata masih aktif,” si penelpon tak lantas langsung menjawab pertanyaan Intan.
 Hati Intan seolah-olah jatuh ke bawah kakinya. Kaget bukan main. Ia sangat mengenal suara itu. Tak salah lagi, tak salah lagi!
“Oh ya, ini Akbar. Masih inget ga?”
 Saking tak menyangka hal itu akan terjadi, Intan tak sanggup berkata apapun. Ia kebingungan. Pontang-panting mencari jawaban untuk pertanyaan sesederhana itu.
“Akbar? I-iyalah masih inget. Hmm, apa kabar ka-mu?” walau agak terbata-bata, Intan memberi syukur untuk dirinya sendiri.
“Baik. Kamu sendiri?”
Intan menelan ludah, “baik juga, Bar!"
Selama berjam-jam Akbar dan Intan saling menukar cerita. Saling mencari tahu kegiatan masing-masing. Satu tahun berlalu tak membuat mereka mati cerita. Walau awalnya Intan masih canggung bahkan kaku dan menganggap semua itu hanya halusinasi tapi akhirnya ia sadar bahwa Intan benar-benar mendengar suara itu. Cara tertawa yang selalu Intan ingat, kini terdengar lagi.
Setelah telepon itu berakhir, Intan tak sanggup memejamkan matanya. Intan khawatir setelah ia bangun di pagi hari memberinya fakta bahwa kejadian tadi hanyalah  mimpi semata. Sepanjang sisa malam, ia berpikir dan bertanya. Sembari tersenyum-senyum, mengatur perasaan yang meloncat-loncat tak karuan dan merenungkan seonggok kebahagiaan yang sempat ia rasakan.
Untuk apa dia kembali? Kenapa dia kembali di saat hati gue udah tenang? Kenapa perasaan gue begitu senang sekaligus sedih? Kenapa gue ga sedikit pun marah sama dia? Buat apa dia datang seolah memberi harapan lalu pergi memilih orang lain lagi?

***
“Dewi!!!!” teriak Intan.
Ngampus pagi adalah hal yang paling membetekan buat Dewi, untuk sekedar menoleh ke arah suara yang sangat dikenalnya pun Dewi malas bukan kepalang.
Intan berlari mencapai tubuh Dewi yang gempal itu lalu menggoyang-goyang, mengoyak-ngoyaknya seperti kesetanan. “Aduh Intan! Apaan sih? Gue masih ngantuk, jalan aja sempoyongan. Kalo bukan gara-gara mau kuis, ogah banget gue bangun pagi!” protes Dewi sambil manyun.
“Eh, coba tebak siapa yang nelepon gue tadi malem?” tanya Intan sumringah.
Mata Dewi menyipit, “mereketehe! Siapa gitu?”
“Akbar!” ucap Intan semangat.
What? Akbar? Si Akbar? Serius? Sumpah? Demi apa?”
Tanpa menghentikan langkah mereka menuju kelas, Intan menceritakan semua yang dibicarakannya dengan Akbar. Dari mulai nanya kabar, cerita soal hobi satu sama lain yang ga berubah, ngomongin perkuliahan masing-masing dan hal-hal bertele-tele lainnya.
“Oh jadi sekarang Akbar tinggal di Jakarta. Sejak kapan dia pindah kesana?”
“Katanya sih baru 10 bulanan.”
“Lo ga nanya, sekarang dia pacaran sama siapa?”
Intan mengerut kening, “belum saatnya deh gue nanya begituan. Yang jelas dengan dia nelepon gue aja udah bikin seneng banget. Dari dulu gue sama Akbar kan temenan dan ga menutup kemungkinan sekarang juga tetep temenan.”
“Yakin? Sok tegar banget deh! Tapi kalo caranya kayak gini, dia tiba-tiba nelepon elo  jujur gue khawatir! Hati-hati sama perasaan lo! Jangan kebawa suasana! Selama ini elo berusaha moving on, nyari pengganti dia dan elo udah 99% berhasil tapi kayaknya sekarang udah turun jadi 20%. Gue tau kok, comfort zone elo ada di Akbar, iya ‘kan?” kelakar Dewi.
Hati Intan seakan melepuh mendengar omongan Dewi. Iya, Dewi benar tentang semuanya. Perasaan Intan cuma buat Akbar walau bagaimana pun ia mencari cara agar berpaling tetap saja ia bakal kembali menoleh ke arah semula. Dengan atau tanpa ada kabar dari Akbar sekali pun, di hati Intan selalu ada tempat untuk Akbar.
“Iya, Wi!” jawab Intan singkat.
“Gue bukan mau halang-halangin lo! Bukan iri, tapi khawatir, iya! Gue ga mau elo cuma dimaen-maenin aja! Di PHP-in kayak dulu, terus dia dengan santainya jadian sama cewek lain.  Ngasih harapan kosong doang dan pergi tanpa ada penjelasan. Elo terlalu berharga buat digituin, nyaman itu emang mahal tapi rasa sedih yang lo alamain itu lebih mahal lagi. Gue ga mau sampe elo sakit lagi gara-gara Akbar!”
Pintu kelas di depan mata. Mereka pun masuk, ternyata dosen sudah sampai lebih dulu.  Pembicaraan terpotong sampai disitu saja, hati Intan terombang ambing. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri tak mengindahkan jam-jam bergulir di dalam kelas.
***
Sejak malam itu, tak ada malam tanpa telepon dari Akbar. Intan selalu menunggu, harap-harap cemas jika Akbar telat menghubunginya. Seperti biasa, ada saja obrolan-obrolan ringan yang menyenangan diantara mereka. Segala hal, semua topik dari yang remeh-temeh hingga politik menjadi santapan mereka. Itu dia, itu yang dicari Intan selama ini. Bukan persoalan ada dan tidak ada, dekat atau jauh, tapi ini tentang hati yang memilih. Untuk sekadar mengobrol saja perasaan Intan sudah senyaman dan sebahagia ini. Namun, sejujurnya di sisi tergelap Intan, rasa takut itu ada: takut kehilangan lagi.
“Minggu depan aku ke Bandung. Ketemu yuk?”
Intan terhenyak, “serius kamu, Bar?”
“Yaaa, itu juga kalo kamunya mau. Kalo engga, ga jadi deh ke Bandungnya,” celoteh Akbar.
Mau apa lagi? Intan mengiyakannya dengan penuh pertimbangan.  Pertahanan hatinya akan runtuh seketika, Intan yakin itu. Apalagi pertemuan mereka akan menghancurkan usahanya selama ini. Semua sia-sia.
Kenapa gue ga nolak? Kenapa gue begitu berharap dia selalu ngehubungin gue? Kenapa gue ga ngerasa kapok?Kenapa gue ga bisa ngontrol diri?
To be continued
*** 

Hati Tanpa Nama

| Jumat, 18 April 2014 | |

Bicara soal hati, aku bodoh
Bicara soal hati, kusampaikan disini

Jatuh cinta. Kini hatiku telah sampai pada tahap itu. Merasa bahagia untuk hanya berpapasan. Merasa malu untuk tertangkap lebih sering saat mencuri pandang. Merasa sedih untuk merindu tanpa bisa mencari alasan agar bertemu. Merasa hampa untuk selalu menunggu sapanya dalam sesingkat pesan.
Seseorang itu tanpa nama. Perasaan ini tak pernah bisa tenang, tak ingin diam, tak mampu bersabar, tak sanggup bertingkah biasa jika seseorang itu berada dalam tangkapan penglihatan, ya, walau hanya sekedar perasaan bukan tindakan. Perasaan ini berteriak-teriak, mengoceh segala macam, berkoar sekerasnya, berpuisi kata indah, ah sayang walau dalam hati, aku dimampukan begitu saja. Seseorang itu berada disana kemudian aku melipat senyum dan berlalu tanpa ada pertanyaan: "sekarang bagaimana?".
Bayangan orang itu selalu jatuh diantara ingatan dan hati. Hadir sekelebat namun teringat selamanya. Susah bertemu juga susah melupa, itu dia seseorang yang seolah-olah membawaku ke bagian cerita Jatuh Cinta. Padahal sebenarnya bukan salah orang itu, aku saja yang berjalan sendiri, mengantarkan diri ini ke dalam cerita yang sengaja dibuat tanpa akhir.
Lenyapnya lebih cepat dibanding bunga sakura yang bermekaran di musim semi. Perginya lebih gesit dibanding burung elang yang kelaparan mencari mangsa. Hilangnya lebih mudah dibanding asap rokok yang mengepul di udara. Orang itu tak sekali pun menengok ke arah dimana aku berdiri memandangnya. Tidak pernah.
Aku tak pernah mencoba mengubah tempatku agar setidaknya ada dalam jangkauan perhatiannya. Aku diam, tak pernah berpindah atau bergerak. Orang yang membuatku tahu rasanya mencinta, tak pernah tahu bahwa dirinya juga dicinta. Hal paling berani yang bisa kulakukan adalah membisikkan sapa yang hanya bisa didengar oleh debu-debu malang yang bertebaran di udara. Isyarat selembut sutra, sehalus sinar matahari di pagi hari yang tak sanggup disadari.
Di belakang punggung orang itu aku menumpuk rasa dan kata. Menyimpan dan berharap mengirimkannya pada..... entahlah hatiku tak setangguh itu. 
Orang itu tak lebih seperti cahaya bintang yang jatuh mengenai wajahku. Menemani sesaat sepiku, lalu meluncur begitu pelan melalui rongga malam yang mulai tua. Dan setelah gelap memusnahkan diri, cahaya bintang juga lenyap dibawanya.
Mengejarnya, aku lelah.
Mendoakannya, aku lakukan.
Dalam jumpa yang terisi harap, dalam waktu yang terisi resah, dalam jarak yang terisi rindu, dalam diam yang terisi cinta; kuurai hati tanpa nama.

Sendiri

| Minggu, 13 April 2014 | |

Aku harus memperlakukan diriku lebih tegas lagi. Bahkan jika perlu aku harus memaksa diri terus bergerak, terus bekerja, dan terus disibukan. Melatih hati dan tak memandang rasa walau sampai mati rasa.
Rindu ini setiap detik hidup, setiap detik mati. Kala rindu itu menjejakkan diri dalam hati, segera saja kutikam tanpa belas kasihan hingga mati. Tapi sayang, rindu ini cepat sekali bangkit. Aku belajar lebih gesit membunuh rindu sekalinya ia muncul memporakporandakan seluruh ruang jiwa. Itu artinya, aku akan selalu membunuh karena rindu akan selalu kembali.
Sungguh, ini adalah kesekian kalinya aku merasa dibunuh lebih dulu. Saat terjadi, satu menit saja terasa terulur menjadi satu tahun. Rasa sakitnya terurai menjadi bagian-bagian yang menyedihkan. Aku merasakan setiap detailnya, begitu pahit di tenggorokan, begitu membakar sampai menyentuh lambung.
Pikiran ini tak juga melepas diri dari ingatan tentang dia, seolah dipantri sedemikian rupa hingga aku dipaksa menikmati ingatan itu tanpa bisa menolak.
Aku rindu, sungguh-sungguh rindu pada sosok yang kunjung tak berlalu. Sulit sekali melumpuhkan perasaan sendiri. Menangis sendiri, marah sendiri, berjuang sendiri dan merasakan sakit sendiri. Rindu ini hanya milikku sendiri.
Menjahati diri, merusak cerita yang kubangun saat dia disini. Memperjuangkan sesuatu yang tak pernah ada.

Malam Sayang

| Senin, 07 April 2014 | |

Hiraukan gemirisik yang mengusik
Hiraukan dingin yang mengigit
Hiraukan mereka yang menerka

Sayang, malamku juga malammu adalah puisi
Penggalan kata pun tercipta
Merangkai, merantai kalimat menjadi elok
Sembari mengingat, aku mengadu
Kala malamku datang, kala malammu datang
Beruntai-untai kata menyatukan diri
Mengamini kita yang menghiraukan masa

Sayang, malamku juga malammu adalah lagu
Senandung nada pun mengalun
Memeluk not-not musik menjadi syahdu
Sembari mengenang, aku merayu
Kala malamku pergi, kala malammu pergi
Berjejal-jejal lirik merangkul diri
Memohon kita yang menghiraukan masa

Sayang, malamku juga malammu adalah cerita
Cerita bagi kita, cerita bagi mereka yang tahu

Hiraukan kisah yang berlalu
Hiraukan sedih yang bertalu
Ada malam yang selalu beradu
Itulah kita, pencinta waktu

Akhirnya Aku Berkisah

| Senin, 07 April 2014 | |

Akhirnya aku berkisah
Tentang hati yang mengembara
Singgah disana beberapa waktu
Untuk membunuh lelah dalam kesendirian
Mengecap kasih 'tuk sejenak
Satu, dua hati pernah tinggal di tempat kumembaringkan rasa
Aku ini entah orang keberapa
Ah, kala disana tak perlu kupeduli

Akhirnya aku berkisah
Mencintai bukan lagi tentang memiliki
Dicintai bukan lagi tentang dirindui
Perkara menerima barulah cinta
Meletakkan harapan pada pilihan
Pilihan untuk bertahan bahkan mengabaikan

Berjauh-jauh perasaan pergi
Berjauh-jauh perasaan mencari
Berjauh-jauh perasaan mengembara
Berlama-lama perasaan tinggal
Berlama-lama perasaan menunggu
Berlama-lama perasaan bertahan
Pada akhirnya aku berkisah,
Cinta selalu pulang ke tempat yang benar
Sampai hati lelah berganti
Sampai hati lelah menanti

Hati

| Minggu, 02 Maret 2014 | |

Sudah kuketahui sejak saat itu. Hatinya tidak lagi disini. Hatinya tak lagi berada di tempat yang sama. Hatinya sudah lari entah kemana. Hatinya takkan pernah kembali kesini.

Tapi, hatiku tak pernah beranjak. Hatiku tetap disini. Hatiku tak ingin lari. Hatiku bertahan di tempat yang salah. Hatiku bergeming walau pedih.

Cerita ini sebenarnya sederhana. Tentang seseorang yang kuberi nama "Aku" dan seseorang lagi yang biasa dipanggil "Dia". Mereka memiliki cerita yang terlalu pendek bahkan untuk sebuah memo. Tidak ada yang istimewa, seharusnya. Namun bagi Aku, hari-hari singkat yang dilaluinya untuk berceloteh hal yang menggembirakan bersama Dia menjadi daftar baru dalam kenangan yang sulit dilupakan. Itu hanya kenangan, yang seharusnya sekali-kali saja diingat tapi Aku melakukannya dengan berlebihan. Aku tak pernah berani menaruh kenangan itu jauh-jauh dari pikirannya. Aku selalu memainkan kenangan itu setiap malam sembari menumpuk harapan kosong hingga memenuhi langit-langit kamarnya. Tragisnya, tangis pun kadang diundang ke ruang hatinya. Haru, pilu dan layu.
Dan bagaimana dengan Dia? Oh, jangan harap Dia berperilaku hal yang sama dengan Aku. Dia bahkan mencintai peran yang Tuhan berikan padanya. Dia bisa menaruh hati pada siapa saja dan mengambilnya kapan saja. Tertawa, menikmati leluconnya sendiri dan berperilaku sesuka hati. Tak perlu mengingat apapun yang telah Dia katakan, karena semuanya hanyalah omong kosong. Dia suka bersenang-senang dengan cara itu.

Akhirnya, Aku tetap bersedih. Dia tetap tertawa.

Semayam Alam

| Rabu, 22 Januari 2014 | |

Telah bersemayam lama sekali
Cinta Tuhan terulur bagi bumi ini

Inilah apa yang orang sebut indah
Dan selalu kujumpai setiap hari
Awan beriak, langit membiru dan alam dalam naungannya
Anak-anak pohon bergerumul memeluk tanah menjulang
Itulah pegunungan tempat kedatangan sang fajar

Inilah apa yg orang sebut anugerah
Dan selalu kujumpai setiap hari
Air menari, angin mengalir bagai suara seruling
Ikan dan karang membagi hidup didalam tubuhnya
Itulah lautan tempat sang fajar berpulang

Timur dan barat hanya tempat baginya
Dan aku menjadi penikmat alam diantara keduanya

Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -