Sendiri
Aku harus memperlakukan diriku lebih tegas lagi. Bahkan jika perlu aku harus memaksa diri terus bergerak, terus bekerja, dan terus disibukan. Melatih hati dan tak memandang rasa walau sampai mati rasa.
Rindu ini setiap detik hidup, setiap detik mati. Kala rindu itu menjejakkan diri dalam hati, segera saja kutikam tanpa belas kasihan hingga mati. Tapi sayang, rindu ini cepat sekali bangkit. Aku belajar lebih gesit membunuh rindu sekalinya ia muncul memporakporandakan seluruh ruang jiwa. Itu artinya, aku akan selalu membunuh karena rindu akan selalu kembali.
Sungguh, ini adalah kesekian kalinya aku merasa dibunuh lebih dulu. Saat terjadi, satu menit saja terasa terulur menjadi satu tahun. Rasa sakitnya terurai menjadi bagian-bagian yang menyedihkan. Aku merasakan setiap detailnya, begitu pahit di tenggorokan, begitu membakar sampai menyentuh lambung.
Pikiran ini tak juga melepas diri dari ingatan tentang dia, seolah dipantri sedemikian rupa hingga aku dipaksa menikmati ingatan itu tanpa bisa menolak.
Aku rindu, sungguh-sungguh rindu pada sosok yang kunjung tak berlalu. Sulit sekali melumpuhkan perasaan sendiri. Menangis sendiri, marah sendiri, berjuang sendiri dan merasakan sakit sendiri. Rindu ini hanya milikku sendiri.
Menjahati diri, merusak cerita yang kubangun saat dia disini. Memperjuangkan sesuatu yang tak pernah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar