Satu Nama

| Minggu, 27 Desember 2015 | |
Malam bisakah kau mendengarku?
Suara yang keluar dari hatiku tak jua berhenti
Merancau satu nama yang sama
Memekik telinga, tak tahan dibuatnya
Suara itu didengar olehku, apakah olehmu juga, malam?

Satu nama yang tak pernah asing
Seolah Tuhan mematrinya ke tiap lapisan kulitku
Malam, bisakah kau pahami ini?
Dimana aku harus letakan sejumput asa yang merana?
Angin membawa ilusi, dinginnya memelukku tanpa nafas
Sesak rasanya mendapati satu nama yang membuat pilu

Malam, tolong jawab ini
Di malam yang mana aku tidak mengharapkannya lagi?
Di malam yang mana aku benar-benar tak merindunya?

Aku berjalan menyusuri malam ke malam berikutnya
Ditemani lampu jalan yang malas-malas menerangi
Tidak jelas ada apa diujung sana
Suara langkah kukencangkan
Harapku mampu tenggelamkan suara hati yang semakin menggila
Ternyata tidak, itu hanya membuatku benar merindu
Ingin rasanya berlari meninggalkan malam seperti ini
Namun tenagaku takkan dimampukan lagi

Malam, kutitip saja salam padanya
Beritahu aku, apakah dia masih tersenyum dengan cara yang sama?
Apakah dia berbahagia sekarang?
Aku merindukan satu nama dengan sapanya memanggil namaku

Malam, selalu sertakan dia dalam lindungmu
Rindu ini menjadi pengantar doa-doa
Tidak ada yang bisa dilakukan
Biarkan dia seperti ini saja, bukan?
Melepaskan dia ke udara bersama rindu yang berkepanjangan

Merelakan malam berlalu tanpa jeda yang meracau namanya

Jika Nanti

| Jumat, 25 Desember 2015 | |
Jika nanti kau memandangku
Kemudian membuatmu merasa kecewa
Sebabnya aku tak seperti lukisan cantik dalam benakmu
Ingatlah ada setia paling tangguh yang tak pernah kaulihat setelah aku

Jika nanti kau menemuiku
Kemudian membuatmu merasa jengkel
Sebabnya aku punya setumpuk sifat yang tak sama denganmu
Ingatlah ada cinta yang tak pernah bisa kautemukan pada siapapun

Jika nanti kaumendatangiku
Kemudian membuatmu merasa menyesal
Sebabnya aku dilatarbelakangi dengan kehidupan yang kacau
Ingatlah ada sabar yang tak pernah kaudapati sejauh ini padamu

Jika nanti kau mengingatku
Kemudian membuatmu merasa bosan
Sebabnya aku terlalu biasa buatmu
Ingatlah ada rindu menunggu yang tak pernah kaurasakan dari siapapun

Dan kelak kau melangkah ke arahku
Teguhkan itu, aku takkan membuatmu berdiri lama di depan pintu
Tidak ada tanya kenapa baru sekarang
Tidak ada tanya hati mana saja yang telah kausinggahi
Kau hanya perlu pulang, ke pintu yang selalu aku jaga


Bandung, 25 Desember 2015

Untitle

| Rabu, 18 November 2015 | |

Untuk melupakan sesuatu terkadang seseorang berusaha berubah agar tidak menjadi siapa dirinya. Dan sekarang saya mengalami fase itu dimana saya tak ingin menjadi diri saya semula, mengabaikan apapun tentang diri saya dan bergerak menjadi orang lain.  

Awalnya tidak nyaman sama sekali. Untuk saat ini,  semua menyenangkan.  Entah apa yang terjadi selanjutnya, apakah akan berjalan lama kemudian menjadikan saya seperti itu untuk selamanya?  Atau ini hanya pelampiasan lalu saya kembali ke semula? entahlah...

Hati saya tak berbentuk. Perasaan saya tidak ada rasa sama sekali, hambar, datar, mengambang dan tak berwarna. Saya tidak berusaha membuat perubahan yang berarti, saya hanya berupaya membuat hati dan perasaan saya tetap hidup.  Itu saja.

Saya berjalan selangkah demi selangkah.  Mencari sesuatu yang entah apa itu. Tidak ada arah yang saya ikuti lagi, saya hanya bergerak  seperti angin di senja hari.  Senja yang mulai kehilangan terang dengan suhu yang nyaris merosot. Remang-remang dan agak dingin.

Nafas dihela seingatnya.  Harapan mengudara tak karuan di kepala saya.  Doa-doa berteriak keras hingga membuat telinga saya berdengung. Saya tak dimampukan untuk mengucap sepatah pun, kata-kata terbenam di kerongkongan. Saya harap seseorang bisa mengerti jika melihat kedua bola mata. Tapi saya memerintah dengan keras untuk tidak menunjukannya dengan air mata. Tidak lagi.

Jika saya bergerak menjadi orang lain adalah baik,  maka semoga akan membawa baik untuk seterusnya. Dan jika saya bergerak meninggalkan diri saya adalah buruk, maka semoga nanti kembali ke siapa saya. Betapa menyulitkannya menyaksikan hati dan perasaan sendiri terjun bebas ke tanah yang paling dasar. Sakitnya jangan ditanya.


Saya sedikit berjaga untuk menerima pertolongan dari seseorang. Karena siapa yang tau kalau mungkin seseorang itu yang akan melukai lebih-lebih dan membenci kekurangan saya. Mempercayai seseorang lagi adalah kerja keras. Dan jika memang ada, semoga Tuhan meletakkan hati dan perasaan saya pada orang yang benar dan mau membantu saya untuk memilih antara baik dan buruk. Bergerak menjadi sesuatu yang lain, mencari perubahan yang baru dan jangan menutup hati.

M A M A

| Minggu, 08 November 2015 | |
Mama...
Di dunia ini mungkin hanya kau yang sungguh-sungguh mengerti saya. Tidak akan meninggalkan walau saya menyebalkan, tidak akan membenci walau saya sering membantah, tidak akan melupakan walau saya selalu ceroboh.

Saya memang tidak memiliki keluarga yang lengkap seperti seharusnya. Rumit sekali jika saya ceritakan. Tapi saya tumbuh bersama perempuan yang kuat, mengajarkan banyak hal tentang bagaimana hidup bisa meremuk redamkan kemudian mengutuhkan segalanya kembali. Sepanjang perjalanan, kami jatuh bersama, bangun bersama, menangis sejadi-jadinya, tertawa lepas tanpa batas sampai akhirnya merenung dalam doa yang khusuk. Mama mengajarkan hal itu dimulai sejak saya mengerti keluarga saya tidak seharmonis dan serapi keluarga lain namun mama selalu mengingatkan bahwa saya bukanlah satu-satunya yang berada di posisi itu. Perceraian bukan akhir dari semuanya. Hidup harus berjalan, udara terus dihirup  dan saatnya iman diuji.

Hampir sepuluh tahun yang lalu, peristiwa itu terjadi. Mama masih tetap mama yang dulu. Sekeras kepalanya saya, semalasnya saya, secerobohnya saya, semenyebalkannya saya, mama selalu memaklumi. Segala cobaan tidak merubah sedikit pun kasih sayangnya pada saya. Tumpuan untuk saya berbagi rasa, cerita, suka dan duka hanya di bahunya. Mama ada.

Mama bukan sekadar perempuan yang melahirkan saya. Dia sahabat saya, seluruh hidup saya, penyemangat terbesar saya. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan perempuan ini untuk saya? Dia tak pernah lelah mengorbakan tenaga, harta, pikiran, air mata, senyum, keringat, bahkan sehatnya. Pedulinya mama, kekhawatirannya terhadap saya tidak dapat dihapuskan walau saya sering membuatnya kecewa.


Mama, doakan saya selalu. Suatu hari nanti saya ingin membuatmu bahagia melihat saya. Bangga dengan apa yang dapat saya raih. Jerih payahmu akan terbayar kelak. Terima kasih untuk tidak pergi, terima kasih untuk pengalaman hidup yang amat mendidik. 

Dia

| Jumat, 30 Oktober 2015 | |
Tidak mudah memulai kembali sesuatu yang sudah berjalan begitu jauh. Mengembalikan hal yang sudah dibangun sejak lama kemudian runtuh hanya dalam waktu singkat. Apa yang sudah dikorbankan, diperjuangkan dan dilalui bersama kini menjadi onggokan kenangan yang tak dapat dibedakan mana yang indah dan mana yang menyakitkan. Semua bercampur dalam satu tempat, menyatukan diri dan tersimpan dalam-dalam. Tidak dapat diuraikan seperti apa rasanya memendam perasaan yang entah bagaimana cara membaginya. Onggokan kenangan yang tak bisa bersuara hanya dimampukan untuk menyentuh titik-titik sensitif seorang manusia dalam diamnya.

Semua berawal dari dia. Dia yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Entah bagaimana tanpa direncanakan dia menjadi bagian terpenting dalam hidup saya. Perasaan itu mengalir rapi, menyesup inci demi inci, mengisi semua ruang kemudian diam sangat lama di pikiran.

Dia mampu melengkapi sesuatu yang selama ini hilang dari diri saya. Dia menawarkan banyak cinta. Cinta dia pada saya dan cinta sebuah keluarga. Belum pernah saya merasa benar-benar terobati seperti itu. Saya menatap lelaki itu, dia tersenyum pada saya dan keluarganya mengitari saya dengan cinta kasih.

Nyaris setahun hubungan saya dengannya melarung. Masalah demi masalah tak juga jera menghantam kami. Pertengkaran, selisih paham, terutama jarak yang memisahkan memberi celah besar untuk saya dan dia saling menukar duga. Memang itu yang menjadi tantangannya, tapi sejak saya berkata “iya” untuk pertama kali padanya, saya bertekad untuk serius dalam hubungan itu.

Tapi menyatukan dua orang manusia yang memiliki latar belakang, sikap, sifat dan kebiasaan berbeda tidaklah semudah melepaskan balon gas ke udara. Saya yang seperti ini dan dia yang seperti itu. Yang paling disesali adalah ternyata semua terlambat bahkan sebelum saya menyadarinya. Saya ingin bertahan dan memperbaiki apa yang rusak dalam hubungan kami tapi ternyata saya tertinggal puluhan langkah. Dia sudah berlari jauh sekali, memunggungi saya dan tak mau memelankan langkahnya apalagi berbalik untuk kembali menyamakan langkah kami. Bahkan untuk mengucap selamat tinggal dengan baik pun dia tak mau, apa saya semudah itu untuk tinggalkan?

Ternyata menjaga hubungan itu tidak cukup hanya dengan keseriusan tapi juga harus dibarengi kemauan untuk bertahan dan memperbaiki hal yang mampu memberi peluang untuk mengurai perpisahan. Dan akhirnya saya berada disuatu titik paling tinggi untuk menyayanginya sangat dalam dengan cara yang berbeda.

Membiarkan dia mencari sesuatu yang ingin ia cari, merelakan dia bergerak tanpa harus memegang tangan saya, melepas harapan yang terlanjur membumbung sampai ke langit-langit dan  mengikhlaskan hatinya dimiliki orang lain. Saya kesulitan untuk memahami perasaan dan menenangkan tangisan saya yang menggebu. Pikiran dan jiwa saya berlarian tak karuan, mencari tuan yang tak bertuah. Tak ada terang walau setitik, malah terperosok jatuh sampai ke dasar. Saya benar-benar tak menyadari jurang itu ada diantara kami. Saya memiliki kepercayaan terlalu tinggi, dan mengabaikan hal-hal penting yang bisa jadi memicunya untuk pergi lebih cepat. Tak terbayangkan kalau dia berlalu dengan cara pahit dan membuat pahang lidah hingga berminggu-minggu. Saya salah, saya tidak memiliki hal yang dia harapkan dan saya tak sempat merubahnya dengan benar. Tapi saya tetap harus   membiarkannya pergi. Harus.

Nyeri hati sampai ke ulunya. Saya memberikan semua mimpi, cita dan cinta saya. Itu kesalahan atau bukan, saya tak tau jawabannya. Waktu berlalu lamban, tidak segesit saat kami saling jatuh cinta. Harapan dan doa agar dia kembali kini mulai tertimbun waktu. Mungkin dia tidak akan kembali, mungkin dia tidak akan memilih saya untuk kedua kali dan mungkin dia akan jatuh cinta lebih dalam pada orang lain.

Tak ada kontak setelah dia memutuskan pergi. Dia menghapus, menghilangkan saya dengan cepat dan menggantinya dengan yang baru. Membiasakan diri agar menyabarkan hati, melapangkan dada, mengubur kenangan sedalam mungkin, dan mengabaikan rindu yang tak berkesudahan. Sungguh, sulit sekali berada di fase ini. Tidak ada pilihan selain terus berjalan dan menikmati setiap senti rasa yang tersia-siakan.

Dimampukan melihatnya dari kejauhan. Dia masih tersenyum dengan cara yang sama. Saya lega dia berbahagia dengan keadaannya yang sekarang. Dia menginginkan ketenangan dan dia mendapatkannya. Dia lebih baik tanpa saya. 

Keadaan mengantarkan saya ke pikiran seperti itu. Tidak lagi mengharapkan lebih dari apa yang telah saya dapat. Entah diwaktu yang mana saya bisa kembali merasa lengkap sekali pun tak bersama dia. Saya hanya berdoa, semoga Tuhan merangkul harapan saya satu persatu di waktu yang tepat. Saya berada di level yang berbeda, badai menghantam lebih kuat dan saya pantang untuk karam. Hati saya berkembang dewasa, rasa sakit memberi pelajaran yang melekat. Kini saya memasrahkan hati, menunggu hingga seseorang datang dan tinggal untuk selamanya. Saya tau, tidak cepat memulihkan perasaan dan menata hati yang terlanjur pecah. Tapi waktu masih memanjang jauh kedepan, dan saya tau akan banyak kejutan yang Tuhan siapkan untuk saya.

Miss Something From Him

| Jumat, 19 Juni 2015 | |
Saya  merasa kehilangan sesuatu. Yang sebelumnya ada dan sekarang mulai tiada. Karena malam ini saya merindukan sesuatu. Menginginkannya kembali seperti dulu tapi saya tidak dimampukan untuk meminta. Saya hanya diam, memikirkan sendiri.

Saya takut. Takut dia bosan, takut dia menyerah, takut dia berubah dan takut dia pergi. Sikapnya tak seantusias dulu, tak ada kejutan-kejutan kecil lagi, atau sekedar ucapan mesra. Ah, saya meminta terlalu padanya. Saya ingin mengatakannya tapi bisa diduga dengan mudah hal itu hanya mampu membuat luka baru dan pertengkaran seperti biasa. Satu sisi, saya ingin menjadi yang terbaik untuknya dan tidak mempersulit dia dengan segala sikap saya ini. Dan saya tidak ingin membuatnya tidak nyaman dan malah menambah daftar minus tentang saya. Terlalu banyak hal negatif dari kehidupan saya, dia tahu dan sejauh ini dia menerima. Seharusnya itu cukup, dan saya tak semestinya meminta banyak hal lagi. Di sisi lain, saya merindukannya. Dia ada tapi seolah tak ada. Dia seseorang yang sama tapi tak lagi sama. Mungkin karena waktu segalanya memudar, baik itu memori maupun perasaan. Rasanya hambar, mengalir begitu saja, segala serba ditahan dan disimpan. Entahlah, jika dia tau tentang ini pasti dia akan berpikir kalau saya kekanak-kanakan, kurang kerjaan, terlalu sensitif, cengeng dan menyebalkan. Saya akan membuatnya marah.

Dia sibuk. Sibuk dengan kuliahnya, dengan rutinitasnya, dengan hobinya dan pikiran lainnya. Terkadang saya memahami keadaan yang seperti itu tapi saya tak suka diabaikan. Mengontrol suasana hati pun saya tak jarang kewalahan. Saya marah dan dia lebih marah.

Saat rindu sekali saya sering menonton video yang ia berikan di hari ulang tahun saya waktu itu. Sudah lama itu berlalu tapi saya merasa baru kemarin ia membuat saya tersenyum sangat lebar untuk hadiah istimewa itu. Capture chat kami yang berisi percakapan yang menghibur, membacanya berulang-ulang, menarik ingatan itu ke waktu sekarang dan saya larut kedalamnya. Saya tak ingin membuat kesalahan lagi, membuatnya kecewa terlalu sering. Ya, saya tak perlu mengeluh tentang ini lagi padanya karena takkan berguna.

Setidaknya saya membutuh sesuatu lain yang mampu merubah suasana hati saya menjadi lebih baik. Saya membicara sendiri dalam hati hanya menumpuk masalah gila ini menjadi lebih runyam (dilihat dari kacamata saya saja). Blog ini pun tak banyak yang tau, saya ingin bercerita lagi. Yaah, saya menulis ketika saya merasa tidak terhibur. Hal-hal yang tadi saya pikirkan menghambat kesenangan-kesenangan saya yang lain. Sungguh saya membutuhkan ini.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -