Tidak
mudah memulai kembali sesuatu yang sudah berjalan begitu jauh. Mengembalikan
hal yang sudah dibangun sejak lama kemudian runtuh hanya dalam waktu singkat. Apa
yang sudah dikorbankan, diperjuangkan dan dilalui bersama kini menjadi onggokan
kenangan yang tak dapat dibedakan mana yang indah dan mana yang menyakitkan.
Semua bercampur dalam satu tempat, menyatukan diri dan tersimpan dalam-dalam.
Tidak dapat diuraikan seperti apa rasanya memendam perasaan yang entah
bagaimana cara membaginya. Onggokan kenangan yang tak bisa bersuara hanya
dimampukan untuk menyentuh titik-titik sensitif seorang manusia dalam diamnya.
Semua
berawal dari dia. Dia yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Entah bagaimana
tanpa direncanakan dia menjadi bagian terpenting dalam hidup saya. Perasaan itu
mengalir rapi, menyesup inci demi inci, mengisi semua ruang kemudian diam
sangat lama di pikiran.
Dia
mampu melengkapi sesuatu yang selama ini hilang dari diri saya. Dia menawarkan
banyak cinta. Cinta dia pada saya dan cinta sebuah keluarga. Belum pernah saya
merasa benar-benar terobati seperti itu. Saya menatap lelaki itu, dia tersenyum
pada saya dan keluarganya mengitari saya dengan cinta kasih.
Nyaris
setahun hubungan saya dengannya melarung. Masalah demi masalah tak juga jera
menghantam kami. Pertengkaran, selisih paham, terutama jarak yang memisahkan
memberi celah besar untuk saya dan dia saling menukar duga. Memang itu yang
menjadi tantangannya, tapi sejak saya berkata “iya” untuk pertama kali padanya,
saya bertekad untuk serius dalam hubungan itu.
Tapi
menyatukan dua orang manusia yang memiliki latar belakang, sikap, sifat dan
kebiasaan berbeda tidaklah semudah melepaskan balon gas ke udara. Saya yang
seperti ini dan dia yang seperti itu. Yang paling disesali adalah ternyata semua
terlambat bahkan sebelum saya menyadarinya. Saya ingin bertahan dan memperbaiki
apa yang rusak dalam hubungan kami tapi ternyata saya tertinggal puluhan
langkah. Dia sudah berlari jauh sekali, memunggungi saya dan tak mau memelankan
langkahnya apalagi berbalik untuk kembali menyamakan langkah kami. Bahkan untuk
mengucap selamat tinggal dengan baik pun dia tak mau, apa saya semudah itu untuk
tinggalkan?
Ternyata
menjaga hubungan itu tidak cukup hanya dengan keseriusan tapi juga harus dibarengi
kemauan untuk bertahan dan memperbaiki hal yang mampu memberi peluang untuk
mengurai perpisahan. Dan akhirnya saya berada disuatu titik paling tinggi untuk
menyayanginya sangat dalam dengan cara yang berbeda.
Membiarkan
dia mencari sesuatu yang ingin ia cari, merelakan dia bergerak tanpa harus
memegang tangan saya, melepas harapan yang terlanjur membumbung sampai ke
langit-langit dan mengikhlaskan hatinya
dimiliki orang lain. Saya kesulitan untuk memahami perasaan dan menenangkan
tangisan saya yang menggebu. Pikiran dan jiwa saya berlarian tak karuan, mencari
tuan yang tak bertuah. Tak ada terang walau setitik, malah terperosok jatuh
sampai ke dasar. Saya benar-benar tak menyadari jurang itu ada diantara kami.
Saya memiliki kepercayaan terlalu tinggi, dan mengabaikan hal-hal penting yang
bisa jadi memicunya untuk pergi lebih cepat. Tak terbayangkan kalau dia berlalu
dengan cara pahit dan membuat pahang lidah hingga berminggu-minggu. Saya salah,
saya tidak memiliki hal yang dia harapkan dan saya tak sempat merubahnya dengan
benar. Tapi saya tetap harus membiarkannya pergi. Harus.
Nyeri
hati sampai ke ulunya. Saya memberikan semua mimpi, cita dan cinta saya. Itu
kesalahan atau bukan, saya tak tau jawabannya. Waktu berlalu lamban, tidak
segesit saat kami saling jatuh cinta. Harapan dan doa agar dia kembali kini
mulai tertimbun waktu. Mungkin dia tidak akan kembali, mungkin dia tidak akan
memilih saya untuk kedua kali dan mungkin dia akan jatuh cinta lebih dalam pada
orang lain.
Tak
ada kontak setelah dia memutuskan pergi. Dia menghapus, menghilangkan saya
dengan cepat dan menggantinya dengan yang baru. Membiasakan diri agar menyabarkan
hati, melapangkan dada, mengubur kenangan sedalam mungkin, dan mengabaikan
rindu yang tak berkesudahan. Sungguh, sulit sekali berada di fase ini. Tidak
ada pilihan selain terus berjalan dan menikmati setiap senti rasa yang
tersia-siakan.
Dimampukan
melihatnya dari kejauhan. Dia masih tersenyum dengan cara yang sama. Saya lega
dia berbahagia dengan keadaannya yang sekarang. Dia menginginkan ketenangan dan dia mendapatkannya. Dia lebih baik tanpa saya.
Keadaan mengantarkan saya ke pikiran seperti itu. Tidak lagi mengharapkan lebih
dari apa yang telah saya dapat. Entah diwaktu yang mana saya bisa kembali
merasa lengkap sekali pun tak bersama dia. Saya hanya berdoa, semoga Tuhan
merangkul harapan saya satu persatu di waktu yang tepat. Saya berada di level
yang berbeda, badai menghantam lebih kuat dan saya pantang untuk karam. Hati
saya berkembang dewasa, rasa sakit memberi pelajaran yang melekat. Kini saya
memasrahkan hati, menunggu hingga seseorang datang dan tinggal untuk selamanya. Saya tau, tidak cepat memulihkan perasaan dan menata hati yang terlanjur pecah. Tapi waktu masih memanjang jauh kedepan, dan saya tau akan banyak kejutan yang Tuhan siapkan untuk saya.