Kakak Dari Negeri Melayu

| Kamis, 28 Februari 2013 | |

 #AnisaBuerahoh

Hai. Apa kabar Teh Nisa? Padahal baru beberapa hari yang lalu aku bertemu denganmu. Tapi rasanya aku sudah merindukanmu bahkan lebih dari itu aku merasa kehilanganmu. Aku menulis ini terkhusus untukmu, kakakku. Tulisan yang kubuat ini sebagai tanda perpisahan sementara kita. Sebelumnya aku pernah membuatkanmu tulisan seperti ini juga namun isinya kupadukan kisah antara kita dan mereka di kost-an 57. Dengan ini aku istimewakan tulisanku untukmu, untuk kepergianmu ke negeri Gajah Putih.

Hanya enam bulan. Menurutku itu bukan waktu yang lama namun memberi kita kesempatan yang amat mungkin agar bisa mengenal satu sama lain. Teteh adalah orang pertama yang aku kenal di jantung kota Bandung. Ingat sekali, di awal pertemuan kita teteh-lah yang pertama menyapa, mengajak berkenalan dan akhirnya mengakrabkan diri. Aku memang bukan orang yang mudah menjalin pertemanan, bukan tipe orang yang luluh begitu saja pada lingkungan baru, bukan karakter orang yang gampang membaur diri dengan siapa-siapa yang belum tentu aku kenal, ya itulah aku. Manusia yang agak sulit beradaptasi dengan waktu singkat. Aku kadang menyesali kekuranganku dalam hal itu tapi dengan adanya seseorang yang menolongku menyatukan serta menemaniku sesabarnya aku merasa lebih hidup berada disini dan dia adalah kau, Anisa Buerahoh.

Aku selalu bermimpi memiliki seorang kakak. Dalam mimpiku itu adanya seorang kakak rasanya akan menyenangkan; ada yang menemani, melindungi, memerhatikan, menasehati dan menjaga. Walau dalam keinginanku wujud seorang kakak itu adalah seorang pria. Tak apa, dengan adanya teteh selama berbulan-bulan belakangan ini aku merasa memilikinya. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk merasakan bagaimana memiliki seorang kakak. Kakak terbaik dan paling tulus sejagat raya ini.

Setiap aku merasa sendiri, sedih, kecewa, bingung dan menangis selalu ada teteh di sampingku. Iya aku merasakannya, merasa begitu dekat denganmu. Teteh selalu berusaha membantuku bagaimanapun caranya, aku akan selalu menjaga ingatan itu. 

Kesungguhan paling kuat dan paling keras adalah ketika teteh berusaha menyelesaikan skripsi. Bagaimana tidak, status teteh sebagai Warga Negara Asing dengan beraninya mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Perjuang demi perjuangan teteh lakukan di bantu orang-orang di sekeliling namun akhirnya segala pengorbanan itu berbuah manis. Teteh mendapat IPK tertinggi ke-3 dan siapa sangka mahasiswi berdarah melayu bisa mengalahkan mahasiswa asli Indonesia. Bukankah itu prestasi? Aku bangga padamu.

Hal lucu dan menarik tentangmu. Terkadang di tiap percakapan, teteh sering melakukan kesalahan dalam pengucapan. Banyak, ya sangat banyak. Itu lucu, tentu saja itu lucu. Cara berbicaramu yang kental sekali dengan aksen Melayu itu menjadi kenangan tersendiri untukku. Dengan waktu hampir 5 tahun berada di Indonesia sepertinya teteh pantas sekali  mendapat sepuluh jempol atas apresiasi kelancaran serta pemahaman terhadap bahasa nasional negaraku. Aneh dan paling anehnya adalah teteh tidak mahir berbahasa Thailand, ah aku bingung mengapa begitu. Kemelayu-melayuan lebih tepatnya cara mengobrol teteh selama ini. Pengalamanmu cukup banyak pernah tinggal di Malaysia dan Indonesia namun yang paling aku sesalkan adalah teteh harus kembali ke negeri asalmu, Thailand. Aku sedih tak bisa mendengar lagi suaramu, tak bisa lagi melihat senyummu, tak bisa lagi bercerita segala hal tentang kita seperti dahulu. Aku pasti akan merindukanmu. Pasti.

Perlu teteh tau, ketika teteh mengajakku berkunjung ke tempat Persatuan Thailand di bilangan Cibiru adalah pengalaman unik menurut versiku. Semua orang disana berbicara bahasa melayu yang tentu saja tak bisa kupahami. Aku ibarat tersesat di negara antah berantah dengan dikelilingi orang-orang yang berbahasa ‘aneh’. Maaf menurutku itu aneh : ). Atau ibarat menonton film luar negeri tanpa ada sedikitpun terjemahannya. Air mukaku hanya bisa tersenyum, melongo, bingung dan mungkin terlihat bodoh jikalau memerhatikan percakapan teteh dan kawan-kawan. Mereka sangat baik, ramah, bersahabat dan ‘welcome’ padaku. Semua itu terasa menarik dan unik. Benar kata teman teteh dengan berkawan serta berkenalan dengan orang yang berbeda negara itu memberi pengalaman, wawasan serta pengetahuan yang lebih luas dan besar. Aku setuju. Terimakasih telah memberiku pengalaman baru yang mungkin tak bisa kudapat dimanapun.

Alpukat. Buah yang teteh sukai. Di negeri  Gajah Putih jarang sekali di temukan buat alpukat, itu katamu. Cuaca yang amat panas membuat buah tersebut tak bisa tumbuh bahkan untuk hidup saja sulit. Sampai-sampai beberapa hari sebelum keberangkatanmu kita sengaja membeli banyak alpukat sebagai salam rindu dan salam perpisahan pada buah berkulit hijau dan cokelat itu. Lahap sekali jika kuingat cara makan teteh membabat habis buah berbiji besar itu.

Qodar? Ingatkah teteh pada satu nama itu? Ya kucing kampung kesayangan teteh. Qodar adalah sebutan bagi kucing berbulu orange dengan corak saling silang putih tak beraturan. Kucing itu sangat dimanjakan dan di beri kasih sayang penuh olehmu. Hampir setiap hari Qodar di beri jatah makan bahkan kadang teteh memberinya semangkuk kecil susu putih. Saking sayangnya aku menganggap teteh adalah ibunya, Ibu Qodar tercinta. Pesan terakhir untukmu padaku, bukannya pesan agar aku jaga kesehatan, jaga diri, atau apalah tentangku teteh malah berpesan ‘Jaga Qodar!’. Tak heran, memang tak usah heran lagi teteh adalah ibu terbaik untuknya. Siapa-siapa yang berani memarahi, menendang apalagi memukulnya maka teteh siap siaga membantai amarah pada mereka. Uh, kecerewetan teteh pasti membahana seisi kost-an jika itu terjadi. Resiko besar dan hal tercerdik yang aku dan yang lain lakukan sebaiknya menghindari hal itu.

Terlalu banyak. Sangat banyak. Cerita kita di enam bulan terakhir ini dan sayangnya aku tak bisa memaparkan setiap jengkal kisah kita disini. Detail-detail keceriaan dan kebersamaan kita begitu berarti dan aku sedih jika meyakini diri bahwa teteh telah pulang kesana. Nun jauh di negeri Thailand bagian selatan yang tak bisa kubayangkan wujudnya. Aku yakin teteh akan bahagia berada di tanah sendiri bersama keluarga besar. 

Satu bulan ke depan mungkin kita akan berjumpa lagi. Teteh akan kembali bersama keluarga untuk mengunjungi Indonesia. Di saat itulah mungkin perasaanku akan bercampur tidak karuan. Aku bisa saja merasa senang sekaligus sedih. Senang bisa berjumpa lagi denganmu dan sedih karena teteh hanya sementara berada di negeri pertiwi. Namun aku tak menganggapnya sebagai dorongan untuk membuatku kehilangan sosok kakak sepertimu lantaran teteh akan tetap, kekal dan terkenang seabadinya di hatiku. Semoga perjalananmu bisa dilalui dengan baik dan lancar. Doa terbaik dan terhebat selalu menyertaimu. Aku Rida Farida menyayangimu sebesar-besarnya tanpa batas. Selamat jalan.

#Pemimpi Meyakini

| Kamis, 21 Februari 2013 | |
Kebenaran, keberuntungan, takdir, jawaban, hasil, dan kenyataan. 
 Semuanya ingin kutemukan. Arah yang membawaku menujunya. Setiap niat, harapan, dan keinginan yang terpatri di dalam jiwa mencoba kuuraikan senyatanya di kehidupan. Aku ingin mendapatkan mereka dengan peluh serta kerja kerasku sematinya. Hingga nanti diakhirnya aku bisa menyuguhkan bukti yang berwujud kepada mereka yang aku cintai, keluargaku.

Mimpiku indah. Mimpiku belum terjadi. Aku bukan orang yang hanya hidup dalam mimpi tapi aku adalah pemimpi yang bisa mewujudkannya. Bukan sekedar membuat deretan daftar cita-cita tanpa berusaha seoptimalnya. Bukan aku yang putus asa kemudian terjebak dalam keterpurukan serta kekecewaan. Bukan aku yang berterimakasih pada kegagalan sesaat lalu tidak mencoba lagi, lagi, dan lagi. Bukan, ya aku meyakininya.

Mimpiku tak banyak. Sedikit tapi menjanjikan. Keringat, kebingungan, kejatuhan, lelah dan bosan terkadang datang menghampiriku yang sedang lengah. Selalu kutanamkan rasa percaya diri setinggi-tingginya yang kadang kala sering membuatku tak berdaya juga jika rasa percaya diri itu hilang sepersekian waktu. Tanpa percaya diri mungkin aku bisa mati.

Yakin, meyakini, diyakini adalah titik temu antara aku dan mimpi. Menyusuri jalanan nasib yang berlalu kemudian takdir menungguku dengan kakunya. Menyemangati diri, itulah yang kupunya. Mereka yang belum mengetahui adalah sekelompok orang yang nantinya akan kuat mendukungku. Entah siapapun ’mereka’ itu aku selalu menjadikannya doa di setiap sujud. Menjadi diri sendiri seapa-adanya tanpa harus bertopeng atau menjadi parasit akan membantuku menemukan segalanya. Ya perjuangan, ya kesempatan, ya peluangan. Mimpi hanyalah awal dan kenyataan segera membuktikan. Pemimpi yang bekerja keras tidak akan jatuh pada dunia mimpinya sendiri yang kelam dan majemuk bahkan aku yang akan menghidupkan mimpi itu. Aku yakin, aku pasti bisa.

#Dua Hal. Hubungan Kita

| Rabu, 20 Februari 2013 | |
Sedang apa kamu? Bisa kutebak, kamu sedang berkutat teliti pada tugas kuliahmu yang banyak bukan main. Kamu memprioritaskan hal tersebut dengan ketekunan yang sangat tinggi. Pencarian, perancangan dan pengembangan tambang adalah hal yang kamu cintai. Mineral, berlian, batu bara dan sebagainya menjadi teman akrabmu di kala siang dan malam. Jikalau kamu sedang berbagi pengetahuan bersama mereka aku pun disini tak lagi berpeluang mengganggumu. Aku anggap semuanya wajar dan aku menghargainya.

Sedang dimana kamu? Setelah mineral, berlian dan batu bara kini ada mereka di sampingmu. Kamu berada bersama teman-temanmu. Disana, di beberapa tempat yang biasa kamu kunjungi setiap waktu senggang. Asyik dan ramai, dua hal yang kamu sukai. Dan jika bersama mereka (teman-temanmu) dua hal itu selalu datang tanpa diundang. Tanpa kamu sadari ada aku disini menunggu kabarmu sesabarnya. Kuhubungi secara berkala takut dirimu terganggu dengan SMS serta teleponku yang berdering di handphonemu namun seringnya kamu tak menggubris. Lupa, bukanlah alasan baru yang kamu buat. Khawatir, cemas dan gelisah, apa itu rasa yang salah? Selalu tiga rasa itu yang menghantuiku sepanjang waktu jika aku kamu lupakan. Mungkin dengan satu SMS atau sekedar menelepon 30 detik saja bisa membuatku lega dan tenang, itu yang sering kuungkapkan padamu. Teman-temanmu adalah teman-temanku juga, aku tau dan mengerti. Tidak ada niat membatasi hanya ingatlah aku disini dalam kecemasan yang membuncah.

Kedewasaanmu yang membuatku jatuh cinta. Pengertian dan rasa percaya menjadikanku kukuh luar biasa padamu. Kamu bukan yang pertama untukku dan kamu pun tau itu. Tapi aku bagimu adalah yang pertama walau bukan yang utama. Kita masih muda dan masa depan belum terang menerangi kenyataan. Perjalanan jauh dan rintangan menghadang adalah ujian bagi aku dan kamu. 

Terkadang aku merasa kamu lebih memahamiku dibanding aku memahamimu. Kamu tak pernah lupa hal detail tentangku walau senjata jitu untuk lupa membalas SMS dan menjawab teleponku sering membuatmu tak bisa menjelaskan. Menurutmu hal itu membuatnya sulit dan kamu lebih menyukai memberi kabar secara langsung dengan datang ke rumahku setiap saat. Aku marah, ya untuk sejenak. Tapi kamu selalu memahami, mempercayai, dan meyakiniku  dengan kesungguhan. Sebagai contoh jika ada orang lain yang mencoba menghasut, menjelek-jelekanku di depanmu, bahkan berniat menghancurkan hubungan kita, kamu dengan murahnya memaafkan orang itu dan tetap yakin padaku  lantaran pikirmu kamulah yang lebih tau siapa aku. Senang, bersyukur dan tenang itulah yang membuatku yakin aku ada di hatimu. Kamu menaruh kepercayaan besar dan aku tidak akan menyia-nyiakannya dengan alasan apapun bahkan rasa egois yang sering mendatangiku.

Sudah kujalani segalanya dengan suka cita, canda tawa, dan duka lara. Aku menikmatinya, mencintainya, dan mempertahankannya. Seiring berjalannya waktu yakinlah kita akan segera mendapatkan jawaban keteguhan hubungan ini.

#Aku Dan Mereka - Kost 57

| Senin, 18 Februari 2013 | |

Ini tentang aku dan mereka. Mereka adalah Anisa, Ani, Susi, Hana dan Hani. Dengan segala latar belakang, cerita masa lalu, pengalaman, perbedaan umur, hobi dan banyaknya perbedaan sekaligus persamaan ingin sedikit membagi kisah. Menurutku mereka menarik bahkan lebih dari sekedar istimewa.

Kost 57. Itulah sebutan untuk tempat kost-an kami. Semuanya berawal dari sana. Pengenalan yang membuahkan keakraban yang luar biasa sehingga membuatku merasa ‘hidup’ berada jauh dari tempat asal. Mereka membuatku merasa tidak sendiri. Itulah yang berharga.

·         Anisa. Aku biasa memanggilnya ‘Teh Ica’. ‘Teh’ itu berasal dari rumpun bahasa Sunda yang berarti ‘kakak’. Dia adalah orang pertama yang kukenal di kost-an 57. Dia baik, murah senyum, supel, cerewet, parno-an, dan terkadang aneh. Thailand, itulah negara asalnya. Masih dalam naungan universitas yang sama ia fokus memilih Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP). Walaupun ia seorang warga negara asing dengan percikan kental budaya Thailand Melayunya ia dengan beraninya mengambil jurusan bahasa Indonesia. Wow! Bukankah itu menakjubkan?
Tidur dengan memeluk benda aneh adalah kebiasaannya. ‘Apa benda aneh itu?’.  Gulungan handuk kecil yang sudah tak terpakai di bungkus sarung bantal merah bermotif hello kitty. Terkadang dia tak bisa tidur bahkan uring-uringan sendiri jikalau benda itu tak ada di sampingnya. Katanya sih, kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak kecil karena sudah merasa hal itu adalah kewajiban maka benda tersebut tidak boleh hilang apalagi sampai disembunyikan (bisa-bisa nangis darah tuh!) :p

·         Ani.  Dia masih satu angkatan denganku. Kamar kami berdekatan hanya terhalang satu ruang saja. Menurutku selain baik dia pun memiliki sifat lain yang kusuka; humoris dan ceria walaupun sedikit di bumbui sifat ngasalnya itu. Tak apalah menurutku itu bukan masalah besar. Tak berbeda dengan Teh Icha ia pun sama mengambil jurusan bahasa Indonesia. Dia asli orang Bekasi. Bahasa Sunda melekat kuat dalam dirinya lantaran itulah bahasa yang ia bawa dari tempat ia berasal. Karena kesibukannya menekuni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus khususnya Kopma atau Koperasi Mahasiswa kami sering menyebutnya Ibu Kopma. Kurasa ia memang pantas mendapatkan julukan tersebut.
Selain itu diantara kami, dia adalah orang yang sering terserang penyakit serius anak zaman sekarang atau familiar disebut  ‘Demam Galau’. Beberapa kali ia kepergok menagis lantaran penyakit tersebut  mencapai kronisnya. Ah, sayang sekali kupikir. Tapi akhirnya setelah lama dia pun sembuh dari penyakit itu walaupun kadang-kadang kumat jikalau tidak di ingatkan malah makin parah. Untungnya, kami di kosat-an 57 selalu sigap jika kalau-kalau penyakit itu kambuh. Jadi, siap-siap saja :p

·         Susi. Tak berbeda dengan Ani ia pun satu angkatan denganku. Kamar kami bersebelahan dan sama-sama menghadap barat. Dia memiliki karakter yang unik; baik dan cerewet. Walau agak ceroboh dan keras namun ia memiliki keteguhan serta pendirian yang kuat. Memilih fakultas yang sama dengan Teh Icha dan Ani yaitu Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) tetapi bukan jurusan bahasa Indonesia melainkan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Indramayu adalah kota asal berikut tempat kelahirannya. Bahasa Sunda dan Jawa kental sekali dalam setiap percakapannya. Namun ia lebih fasih menggunakan bahasa Jawa. Terkadang kami sering menertawakan kata-kata yang menurut kami aneh atau bahasa yang hanya ia mengerti sendiri. Seperti contoh kata ‘Blenak’. Entah apa maksudnya namun kami sering menjadikan hal itu lelucon ringan sebagai penghibur lara di sela-sela waktu kebersamaan.
Ada alasan mengapa aku menyebutnya ‘unik’. Unik merupakan kata yang diperhalus dan jika kupertegas mungkin lebih tepatnya ‘keanehan’ yang tak pernah kutemukan sepanjang hidup adalah kebiasaan ketika ia merasa sedih. Biasanya mayoritas orang jika merasa sedih ia akan merenung sendiri kemudian menangis atau lari ke makanan dan melahap banyak hidangan atau mendengarkan lagu galau agar semakin dramatis atau tidur sepanjang hari untuk sejenak melupakan. Berbeda dengan Susi ia akan segera menghampiri, mengacak dan mengenakan make up semenor-menornya. Yaaah, tampilannya tak beda jauh seperti ibu-ibu arisan. Untuk mempertajam dandannya ia sering menggunakan lipstik merah terang untuk membalut bibirnya. Bagusnya ia memang menyempatkan diri untuk menangis yah kupikir itulah yang memberi tanda kenormalan untuknya. Tak sampai dua menit ia akan segera memoles wajahnya dengan riasan yang super ‘aduhai’. Kami sering menjulukinya  ‘Susi Si Janda’. Menurutku sangatlah cocok ia mendapatkan julukan itu dan jika boleh ditambahkan akan lebih lengkap ia dijukuki ‘Susi Si Janda Kost-an 57’. Perfekto! :p

·         Hana. Dia adalah saudara kandung Hani. Bukan saudara kandung pada biasanya bahkan mereka memiliki ikatan lebih dari itu. Kembar identik, kupikir. Hana sebagai kakaknya sedangkan Hani adalah adiknya. Untuk menghormati tingkatan senioritas diantara kami aku sering memanggilnya dengan ‘Teh Hana’. Dia berasal dari kota kecil bernama Cilegon, sebelah barat kota Jakarta. Dia baik, rajin, tomboy, simpel dan terlebih cerewet bukan main. Fakultas  Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi pilihannya. Akuntansi adalah jurusan yang menurutnya sesuai  dengan dirinya.
Memiliki jeritan yang amat keras apalagi saat tertawa. Seisi kost-an sepertinya sudah terbiasa dengan ledakan tawa Teh Hana. Yang menarik ia memiliki logat bicara yang beda  daripada yang lain. Itulah yang menjadi kekhasan dalam dirinya.

·         Hani. Tak berbeda dengan kakaknya aku pun biasa memanggil ia dengan sebutan ‘Teh Hani’. Sifat umumnya yang hampir sama dengan Teh Hana mungkin disebabkan ikatan kembar identik membuat sifat mereka tak berbeda jauh. Dibalik persamaan fisik dan sifat umum mereka pun memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Teh Hani lebih feminim, memerhatikan fashion, dan kalem dibanding kakaknya. Mungkin di kost-an 57 Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) sangatlah populer sehingga diantara kami kecuali aku yang mengambil Fakultas Ekonomi (FE). Ia memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas kami.
Dikarenakan pengaruh jurusan yang ia ambil makanya tugas kampusnya pun terbilang bukan ‘biasa’. Pernah ia diberi tugas menggambar batik bahkan bila di ingat itu adalah tugas kesenianku di masa SMA. Tidak habis pikir memang namun mungkin itulah proses pembelajaran di jurusan PGSD.

·         Rida. Ya aku sendiri. Menurut sisi pandangku sosok si ‘aku’ ini tak lebih hanyalah seseorang yang pendiam. Menulis adalah kebiasaan rutinku selama ini anggap saja itu hobi dan obsesi terpendam. Tasikmalaya, tempat pertamaku menjejakan kaki di dunia. Seperti yang telah kuungkap tadi Fakultas Ekonomi (FE) adalah keputusannku. Dan jurusan manajemen merupakan alasan mengapa aku memilih fakultas tersebut.

 Uno Game. Permainan kartu yang sedang asik-asiknya kami mainkan hampir setiap malam. Bahkan kami rela bergadang untuk terus-menerus mengocok, mengambil dan menjatuhkan kartu. Sekali-kali kami menggunakan bedak yang dicampur air sebagai tanda kekalahan yang di corengkan ke area wajah. Menyenangkan memang, permainan itu lebih menegaskan akan kesempatan dan keberuntungan dari masing-masing pemainnya.
Sedikit cerita tentang aku dan mereka. Aku  merasa bangga bisa mengenal sosok baru disini, di atas tanah kota Bandung. Tak hanya menemukan persamaan kami pun menemukan perbedaan. Itu yang menjadkani alasan jitu mengapa kami bisa saling menghormati, menghargai, menjaga, memahami, membantu dan mengingatkan satu sama lain. Atas nama penghuni kost-an 57 kami bersorak ‘Cuet-cuet 57’!!!

#Hilang Kehilangan Dan Meninggal

| Minggu, 17 Februari 2013 | |
Hilang. Aku merasa kehilangan. Rasa mendalam yang musnah, lenyap, binasa dan tiada lagi. Kamu yang dulu ada dan kini tiada. Tidak berada di sampingku lagi, tidak ada di kehidupanku lagi, tidak ada di duniaku lagi. Lebih dari itu aku tidak akan bertemu kamu dimana pun itu. Tidak di kampus, tidak di kafe, tidak di lapangan, tidak di rumah, tidak di jalan bahkan tidak akan lagi bertemu. Kamu pergi jauh, sangat jauh, lebih jauh lagi. Aku akan merindumu sehabisnya dalam waktu yang mungkin sulit terbayarkan. 

Bagaimana kamu sekarang? Baik-baik sajakah? Siapa yang menemanimu saat ini?

Aku khawatir jika kamu tak memberiku kabar. Aku gelisah jika kamu tak berada di sampingku. Aku tak tenang jika kamu mengabaikan kecemasanku. Tapi kini kuilhamni sendiri kegundahan hati yang membawaku jauh ke dalam kesedihanku. Seyakin-yakinnya aku ingin menyulap tangisan dengan keikhlasanku padamu.

Tempatmu disana. Tempatku disini. Kita saling sendiri. Kenangan antara aku dan kamu bukanlah dongeng melainkan kenyataan yang telah berlalu. Semua tentangmu; senyum, cemberut, senang, marah, melamun, sedih, dan segalanya hilir mudik dalam pikiranku. Ingin kuputar kembali kisah-kisah antara kita. Gambaran-gambarannya seperti nyata lagi. Potongan setiap nasihatmu padaku yang seringnya kuacuhkan begitu saja. Candamu yang kepayahan membuat tawaku meledak sehabisnya. Marahmu yang terbenam di dalam keterdiaman yang memberi teguran halus yang membekas sesal dan janji untuk tidak melakukan hal yang sama. Kejutan romantis yang selalu kamu suguhkan tanpa aku bisa menebaknya. Kejailanmu luar biasa menjengkelkan bahkan hobimu itu yang membuatku tak mengerti semakin aku membencimu semakin aku menghiburmu. Kamu selalu tertawa segilanya tanpa memberiku kesempatan untuk membalas. 

Kamu menyukai segala aliran musik. Karena alasan itulah aku sering memasukan lagu-lagu dengan genre apapun. Dari pop, jazz, country, rock, hiphop, R&B tak ketinggalan genre keroncong pun aku selipkan secara diam-diam ke MP4-mu. Kamu hanya tersenyum pasrah padaku dan tidak berani menghapus pilihan laguku itu karena aku tak segan-segan mencubitmu sekuat-kuatnya jika aku tau lagu pilihanku kamu hapuskan begitu saja.
Terakhir kali aku mendengar suaramu yaitu kemarin siang. Tak bisa kupercaya bahkan tak bisa kuduga ternyata itulah telpon terakhirmu. Ingin rasanya kukembali ke siang itu mungkin aku akan berlama-lama mengobrol denganmu. Yang paling kuingat di detik ke 45 ketika akan menutup telponmu  dengan halusnya dirimu berkata “aku cinta kamu”. Aku tersenyum senang mendengarnya.

Dan beberapa jam kemudian seseorang memberitahuku akan berita duka menyedihkan. Berita mengundang tangis yang tak tertahan lagi. Sesegera mungkin aku pergi menuju Rumah Sakit tempatmu di rawat. Bukan kamu yang kulihat melainkan jasadmu yang tergeletak tak berdaya di tutup kain putih. Bercak-bercak darah terlukis acak di kain putih itu bukan keindahan yang tersirat melainkan kepedihan mendalam. Luka besar serta pilu yang menganga hebat dalam hatiku. Jasadmu terkulai lemah di atas ranjang dengan kakunya. Aku menangis sejadinya-jadinya. Pedih.

Aku kehilanganmu. Kamu meninggalkan kenangan yang sangat kuat kuingat. Kuratapi dan kutatap lekat foto-foto kebersamaan kita. Sangat indah, menyenangkan sekaligus menanam energi kuat yang memengapkan kehidupan. Kamu tak sepenuhnya pergi, kurasa begitu. Setidaknya aku tak kehilanganmu sepenuhnya. Kamu selalu berada di dalam diriku tepatnya dalam hatiku.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -