#Terbiasa

| Sabtu, 16 Februari 2013 | |

                Mungkin aku hanya terbiasa. Selalu memerhatikan setiap gerak-gerikmu, mencari garis senyummu yang menawan, menemukan suaramu memasuki telingaku yang kian merindu, mencuri pandang di saat kamu tak menyadari, mengharapmu hadir di tiap mimpi malamku, menantimu menyuguhkan obrolan ringan membuat kembang kempis hatiku dan pada akhirnya aku bergumam sendiri dalam diri ‘aku terbiasa’. 

Hal gila tentang diriku. Aku tak pernah berniat untuk berhenti. Berhenti mencintai, memaafkan, memaklumi, membiarkan, memahami, dan takkan pernah. Kamu adalah kamu yang kutau selalu tidak menyadari. Kamu selalu memandang lurus akan segala hal. Tak pernah mencoba membelokan sedikit saja otot matamu untuk sekedar melihat saja. Tak harus melihat aku tapi lihat sekelilingmu yang memerhatikan. Senyuman termahal itu kamu bagikan dengan cuma-cuma ke setiap orang. Itu istimewa namun lama semakin lama aku merasa menjadi sangat biasa.

Tidak ada yang bisa kubosankan tentangmu. Cara berpakaianmu, cara berjalanmu, cara berbicaramu, cara berpalingmu, cara dudukmu bahkan caramu terbingung, tertawa, terkantuk, termangu dan hal yang tak bisa ku bacapun tetap membuatmu menarik. Kamu tidak istimewa lagi hanya saja membuatku tak bisa lupa. Menurutku istimewa itu jika kamu duduk di sampingku dan berkata-kata yang membuat segalanya berbeda seperti kemarin siang. Istimewa itu sederhana. Yang membuatku terbiasa tidak menjadikanmu istimewa hanya merubah semuanya lebih menarik dan dramatis. Waktu, waktu dan waktu yang bisa menyulap keadaan ini menjadi lebih baik. Cukup dengan dirimu yang tak istimewa itu di tempat sana tanpa kamu tau bagaimana perasaanku. Biarlah aku menghargainya! Dibanding kamu menjadi menarik ketika berada di sampingku. Aku sangat terbiasa dengan caraku menyendiri tanpa ikatan. Ya aku akan selalu terbiasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -