#45 Untukmu Tulisan ini
|
Senin, 11 Februari 2013
|
Seuntai Surat
|
#SaniHermaAryani
Hai. Apa kabar kamu? Baik-baik sajakah? Aku harap begitu. Tulisan
ini kubuat khusus untukmu sebagai lambang pertemanan antara kita. Aku selalu
mengingatmu, bagaimana denganmu? tak apa, apapun jawabannya tidak akan mengubah
keinginanku untuk menulis catatan ini. Semoga kamu menyukainya.
Dua tahun setengah bulan yang lalu kiranya kita saling
mengenal satu sama lain. Ingatkah? Aku tidak bisa memastikan bagaimana alur
cerita kenapa aku tiba-tiba bisa akrab denganmu. Tapi, salah satu alasan
kongkritnya adalah kita diesakan dalam kelas yang sama. Menurutku kamu baik,
ramah, seperti pendiam padahal cerewet luar biasa dan yang paling aku suka dari
kamu adalah aku bisa beradu obrolan tentang apapun itu denganmu. Rasanya segala
hal menjadi terasa menarik bila diobrolkan dengan seseorang sepertimu. Selain
itu, kamu pandai sekali mengatur pengeluaran. Bisa tahan dengan bau makanan
dari jajanan yang dibawa teman lain ke
kelas. Tidak seperti aku yang selalu tergoda oleh baunya sehingga rela
menghabiskan kocek jatah bekalku semuanya! Ya semuanya :o . Dan kebiasaanmu
yang sering membawa bekal ke sekolah menurutku itu trik hebat untuk mengatasi
pengeluaran bekal yang berlebih. Dan aku
pernah beberapa kali mengikuti kebiasaanmu itu namun tak berhasil. Malah semuanya
terasa aneh dan mengherankan. Aku membawa bekal lalu memakannya sampai habis
namun tetap saja uang sakuku lenyap ditukar jajanan sekolah yang menggiurkan. Payah sekali aku ini! Kamu sering
menertawakan jajananku bukan karena apa
yang aku beli melainkan jumlah jajanan
super jumbo yang aku bawa. Ah, heran
sekali kenapa aku seboros itu? Kadang aku iri dengan sifat penghematanmu yang
canggih itu. Kapan aku bisa hemat sepertimu? Hahaha.
Sudah lama aku tak bertemu denganmu. Mengobrol bersama di
sela-sela waktu kosong pelajaran adalah kebiasaan rutin kita. Karena tempat
duduk aku dan kamu sangatlah dekat bisa dibilang kamu berada tepat dibelakang
punggungku makanya kita mudah sekali untuk memposisikan diri agar bisa mengadu
opini bersama. Aku merindukan saat-saat itu. Sungguh.
Inilah akhir dari tulisan yang kubuat. Dimana dan bagaimana
pun kamu aku selalu berharap yang terbaik untukmu. Semoga cita-citamu bisa
tercapai sesuai harapan dan aku sebagai teman selalu mendukungnya. Aku Rida
Farida, menciptakan catatan ini tiada lain untuk teman baikku, kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar