Bahagia

| Kamis, 29 Mei 2014

Saat ini aku bahagia
Bahagia karena aku tahu tentang sesuatu yang ingin kutemukan, ingin kucapai. Mimpi itu terasa dekat, terasa ada dan terasa begitu nyata. Aku bermimpi bisa menulis setiap saat. Bisa berbagi cerita pada mereka yang merasa kehilangan cerita, disini ada, aku ada. Menghibur mereka yang membaca, memberi sebongkah fiksi yang mampu menarik bibir mereka hingga terbentuk senyum puas.
Saat ini aku bahagia
Bahagia karena aku tahu kamu ada. Memberi semangat, menuangkan perhatian pada tulisan-tulisanku. Ceritaku, puisiku terasa bernyawa. Karena kamu yang menghembuskan roh pada kata-kata yang terurai. Karena kamu, aku terbiasa menarik ulur perasaan. Karena kamu juga, aku menghabis waktu lebih banyak bersama hati dan kalimat.
Saat ini aku bahagia
Mimpi ini sudah lama kuinginkan. Mimpi ini sudah lama kudambakan kenyataannya. Berkat kamu, aku tidak takut menjadi pemimpi. Berkat kamu, aku tidak menyerah menjadi penulis. 

Tak Perlu

| Kamis, 29 Mei 2014 | |

Tak perlu kau kembali
Karena aku telah pergi
Tak perlu kau kembali
Karena aku tak sama lagi
Tak perlu kau kembali
Karena aku lelah menanti
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah menyerah
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah muak bersabar
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah berhenti bertahan
Tak perlu kau kembali
Karena aku tak ingin dimainkan
Tak perlu kau kembali
Karena aku telah kecewa
Tak perlu kau kembali
Karena aku lelah diberi ketidakpastian
Tak perlu kau kembali
Karena aku tak bisa memaksa takdir

Untitle

| Selasa, 27 Mei 2014 | |

Ini hebat. Saya tak pernah benar-benar berhenti menangis selama 4 bulan belakangan ini. Ingatan itu, kenangan itu selalu membuat hati saya sendu. Pilu rasanya, ketika rindu datang namun orang yang saya rindukan tak pernah sekali pun peduli. Kelu rasanya, ketika mimpi menerkam namun orang yang saya impikan tak pernah ingin tahu. Entah apa ini namanya, mencinta atau menyakiti, yang saya alami sekarang hanyalah kesendirian.
Saat saya terbangun hingga saya tertidur kembali hanya ada satu nama yang saya pedulikan. Dia yang selalu membuat saya menangis pasca kejadian itu. Baru kali ini saya setidakpercayadiri ini, saya tidak merasa berharga sama sekali, saya tidak punya sisi cantik sedikit pun.
Kenapa saya harus mengenalnya? Kenapa saya sesakit hati ini? Kenapa saya begitu mengharapkannya? Kenapa saya yang disia-siakan? Kenapa harus saya? Kenapa???
Sulit sekali mengembalikan mental yang terlanjur jatuh bahkan hancur. Setiap malam, saya selalu berdoa yang terbaik untuknya, semoga ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Tapi, di satu sisi saya tidak bisa mengontrol pikiran saya yang brutal, pikiran bahwa ia mungkin bersama orang lain, menghubungi perempuan lain, mendekati seseorang yang tidak saya ketahui. Apa jadinya perasaan ini? Saya tidak bisa mengatur hati saya agar tetap baik-baik saja, saya selalu menangis, selalu. Saya kesulitan dengan semua ini, 4 bulan bukan waktu yang normal untuk selalu bersedih. Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi saya tidak mampu mengatur perasaan saya, ingatan saya untuk tidak menghiraukan kemungkinan dia kembali. Harapan yang mustahil, harapan yang menjatuhkan, harapan yang selalu membuat saya bertahan untuk menyakiti diri sendiri. Ingin saya tukar perasaan ini dengannya, saya pun ingin merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Hati pergi semudah itu, mencampakkan segampang itu, menemukan yang lebih baik tanpa memerlukan waktu yang panjang. Ternyata hidup seorang manusia bisa sedatar itu, semulus itu, sebaik-baik itu.
Saya marah terlebih kecewa. Saya tak percaya bisa mengalami fase sedramatis ini: saya menyukai seseorang, orang itu seolah-olah memberi harapan namun pada kenyataannya dia pergi memilih orang lain tanpa sedikit pun penjelasan.
Hingga hari ini, saya masih memerhatikannya. Dia terlihat baik-baik saja, terlihat begitu ceria. Senangnya jadi dia bisa mendapatkan apapun maunya hanya dengan sedikit perjuangan  saja.
Saya bodoh, saya tahu itu. Bahkan saya terlalu malu untuk mencurahkan hati pada teman-teman saya tentang semua ini. Mereka menganggap perasaan ini enteng tapi saya sedang mengalaminya. Saya sedang membangun sesuatu yang telah runtuh, saya tidak percaya diri sama sekali, kau tahu??? Terpaksa saya pendam sendiri, saya lumat sendiri, saya obati sendiri.
Tidak sekarang, tidak esok, tidak juga lusa. Saya tidak mungkin berhenti menangis di hari-hari mendatang. Melewati semuanya dengan susah payah. Rindu selalu ada, harapan ini masih duduk nyaman dan sedih itu akan selalu hadir. Saya tahu, saya lelah. Saya tahu, saya muak. Tapi apa daya, pada akhirnya saya tetap menangis.

Di Waktu Itu

| Senin, 19 Mei 2014 | |

Di waktu itu, aku merasa berada di titik terendah, paling rendah. Aku putus asa, kecewa, marah dan patah arang. Aku tak yakin dengan apa yang kumiliki. Aku tak yakin dengan apa yang harus kujalani. Rasanya sulit tuk temukan jalan keluar. Berjuang sendirian, tersesat dalam masalah-masalah ini terlalu lama. Aku ingin menyerah.

Di waktu itu, aku menangis sesenggukan di dalam kamar. Hanya sedikit cahaya yang menerobos dari sela ventilasi. Gelap dan tidak ada orang yang tahu. Sungguh, aku telah bersabar. Benar, aku telah berusaha tegar. Tapi kini aku lelah, capek dengan masalah-masalah ini. Aku muak.

Di waktu itu, aku ingin menjadi sosok yang lain. Menukar nasib menjadi orang lain. Bahagia, layaknya sebuah hati selalu berharap seperti itu, begitu juga hatiku. Tapi, hidupku tak semerdu dawai, tak seindah Tanah Lot, aku benci ini. Aku lelah mengeluh, aku lelah melihat diriku selalu kesulitan.

Di waktu itu, aku ingin menumpahkan cerita pada seseorang. Bahkan orang yang kubutuhkan pun tak pernah ada. Aku memikul ini sendiri, siapa pun sibuk dengan maunya masing-masing. Tak ada yang peduli, mereka hanya tahu kalau aku terlihat baik-baik saja. Masa bodoh, bagaimana dan seperti apa aku memendam dan meredam perasaan. Mengharapkan sosok pendewasa di waktu itu sangat mustahil.

Di waktu itu, impianku runtuh. Harapan yang selama ini menjadi tonggak pun ambruk seketika. Kesempatan, peluang, bertahan hidup, aku tak butuh itu. Aku hanya ingin dimengerti, dipahami dan berhentilah menawariku hal-hal yang tak pasti. Aku selalu berusaha, tapi mengapa mereka yang mendapatkan segalanya?

Di waktu itu, aku hanya menunggu. Menunggu hatiku lebih sedih lagi, lebih pilu lagi bahkan lebih perih lagi. Aku menunggu segelas air putih dari seseorang. Kupikir hanya dengan segelas air putih dari orang yang betul-betul mengerti keadaanku, sudah sangat cukup. Tapi, hal itu tak pernah ada, tak pernah datang. Mereka semua menutup mata, menutup telinga. Hingga akhirnya aku merasa tak layak untuk hidup. Lalu tanpa sadar aku tertidur karena terlalu lelah menerima, terlalu lelah menunggu, terlalu lelah menangis. Dan kini aku pasrah, benar-benar pasrah dengan semuanya.

Kepada Kamu Sayang

| Sabtu, 17 Mei 2014 | |

Kepada kamu, sayang
Salahkah bila aku terlalu perasa?
Salahkah bila aku terlalu peka?

Entah mengapa, kurasa ada yang tak sama lagi denganmu
Kau lebih diam, lebih menutup diri
Menyahutimu dengan perhatian namun nol besar
Bahkan aku punya banyak tanda tanya
Tak juga dapati jawaban
Walau begitu aku tak jengah, sayang

Kau ada tapi tak benar-benar ada
Kau bicara padaku namun sorot matamu keluyuran ke arah lain
Kau temani aku namun pikiranmu berlayar ke bagian yang tak kukenali
Peralihan sikapmu buatku terus bertanya
Walau mulutmu selalu terkatup
Bahkan senyum itu hambar sekali
Tertera di matamu, kau tak baik-baik saja
Ada sekelumit atau seonggok kata yang masih kausimpan
Jujurmu tersendat ditenggorokan, aku tahu itu

Kepada kamu sayang,
Tak mampu kuberpura-pura tak peduli
Tak tenang 'tuk abaikan apa yang nampak
Haruskah aku menerka-nerka lagi?
Haruskah aku mengira-ngira lagi?
Sayang, taruhlah jujurmu di telapak tanganku
Diammu menyulitkan
Tak menuntut apalagi memaksa
Hanya usaikanlah tanya ini, kuingin yang benar menggelontor dari bibirmu

Kepada kamu sayang,
Salahkah bila aku begitu perasa?
Salahkah bila aku begitu peka?

Itu Dia

| Jumat, 16 Mei 2014 | |

Itu dia wajah yang selalu terngiang
Itu dia rupa yang selalu memikat hati
Itu dia paras yang membuntuti mimpi
Itu dia orang yang memantri angan

Ada dia, jiwa berdesir
Dan angin ikut mendesis
Meraungkan isyarat padanya
Perasaanku tersampaikan dengan lugu

Suatu waktu, ancang-ancang kuteguhkan diri
Tekad ini memang sembrono
Cuma karena desakkan rasa
Tak lihat-lihat yang sedang terjadi
Sela yang renggang telah terisi
Sisi yang patah telah menyatu
Itu dia orangnya, menggandeng sahabatku

Kenyataan membentur wajahku
Lirih membaur di udara
Ingin kubersembunyi di dalam kotak sereal
Memahami keadaan ini sendiri
Aku terdepak oleh wujud yang tak asing

Sejak kapan, tak pernah kusadari
Tahu-tahu aku tersingkir olehnya
Tapi mengapa oleh sahabatku?
Apa itu suatu keharusan?
Sudahlah, lebih baik kuberbalik
Niatan yang harus kuurung lebih dalam
Disibukkan meladeni hati yang terapung
Nanti-nanti, aku masih terlalu limbung

Tersungkur jatuh hingga ke dasar
Tak ada upaya tuk selamatkan diri
Biarlah seperti ini sekarang
Pahami jarak yang kubuat
Kumohon, cerita ini tak ingin kubagi denganmu lagi

Malam Beringas

| Kamis, 15 Mei 2014 | |

Malam ini terbelit kamu
Malam ini terkepung kamu
Malam ini terengkuh kamu

Kilasan tentangmu tak pernah rontok
Gambaran tentangmu tak juga memudar
Bayangan tentangmu tak pula menghilang
Apa-apa tentangmu tak bisa lupa

Malam yang beringas
Malam yang liar
Malam bagai di ring tinju
Kupukulimu membabi buta
Kukerahkan tenaga tuk hancurkanmu
Sial saja, selalu aku yang kalah
Aku yang sakit, hatiku yang penuh lebam
Batin memar disana-sini

Di malam yang mana aku jadi pelupa?
Di malam yang mana aku tak jadi pemimpi?
Lelah merasa patah arang
Tak disanggupkan lagi tuk terus putus asa
Lengkung bibirmu menaruh luka disini
Ingat itu, sama saja menohok ulu hati

Memapah mimpi yang tak pernah selesai
Melangkahkan kenangan yang kian memberi perih
Mimpi ini lemas bekerja
Malamku selalu larut diantara kedua lenganmu yang tak nyata

Selamat Malam Esok

| Kamis, 15 Mei 2014 | |

Selamat malam kamu,
Ada cerita yang ingin kututurkan. Takkan lama, dua hingga tiga menit saja waktu yang bisa kaurelakan untuk merampungkan bacaan ini sampai ke titik terakhir. Apa kau tak keberatan, aku meminta waktumu membaca tulisan remeh temeh ini? Sungguh, terimakasih jika tidak.
Selamat malam kamu,
Sebetulnya cerita ini sederhana. Saat pertama kali kauajak aku jalan berdua: rasa dag-dig-dugnya seperti mendapat pengumuman kelulusan. Senang bukan kepalang, nyaris saja aku berteriak di depan wajahmu. Kau tentukan tempat dan waktunya, dan tidak ada gelengan kepala yang kaudapati, jelas aku mengangguk mau. Caramu memulai percakapan sungguh sederhana, aku suka. Tidak rumit, tidak berlebihan, obrolan ringan dan berani. Jika saja kamu tahu, setelah kau berlalu sembari mengantongi janji temu kita, perasaan ini sama halnya balon yang diisi udara terus-menerus hingga sesak, hingga tak muat dan meledak seketika. Jika hatiku punya kaki, mungkin ia akan berjingkrak-jikrak. Jika otakku punya mulut, mungkin ia akan berteriak-teriak. Aku girang, aku tahu, aku menyukaimu.
Selamat malam kamu,
Esok adalah waktu yang kausebut. Esok adalah hari-hari kemarin yang kutunggu. Esok adalah kesempatan paling ramah untukku dan mungkin kamu. Itu dia, esok.
Selamat malam kamu,
Malam ini sungguh panjang. Gelap masih tak kunjung usai. Tak sabar, rasanya.  Oh, esok seolah menyorakiku. Ingin kutarik matahari, jika mampu. Disini, di dalam pikiranku tertoreh ribuan kamu. Aku rela dilumat mimpi-mimpimu. Tidurku kali ini berbeda, tidur ini tak tenang, tidur ini melelahkan, tidur ini berlari menujumu, mencapai bayangmu.
Yah, selamat malam kamu
Yah, selamat datang esok
Yah, selamatkan aku dari malam ini...

Surat Kepada Teman Hidup

| Rabu, 14 Mei 2014 | |

Hai, teman hidup
Surat ini kutitip pada waktu, semoga di masa depan surat ini bisa sampai di tanganmu. Seumpama saat itu datang, mungkin kita telah dipertemukan, telah saling mengikat janji atau bahkan hidup bersama. Seumpama saat itu datang, di tiap pagimu akan selalu ada aku. Aku yang berbaring di tempat tidur denganmu, menyiapkan kopi hangat tuk membangunkan tidurmu, menyediakan sarapan kesukaanmu, merapikan pakaianmu sampai membetulkan simpul dasi yang bertengger di kerah bajumu. Aku telah ada di waktu itu.
Surat ini akan kauterima di masa yang tepat. Saat kau jatuh cinta padaku, begitu pula sebaliknya. Saat masa sekarang habis lalu aku dan kamu dirapatkan dalam satu jumpa. Mungkin surat ini bisa kaupahami, kala setelah kita berdua duduk di pelaminan menyalami setiap tamu yang datang. Tidak sampai disitu, barulah setelah aku dan kamu lengkap dengan dia, dia atau mereka yang menjadi anak kita hidup diantara kisah ini, kau akan benar-benar paham. Aku menyuapi, kau mengajaknya bermain, aku mengantarkannya pergi ke sekolah, kau membacakannya dongeng sebelum tidur, aku memasakkannya makanan, kau menggendongnya, aku menciumnya, kau memeluknya: kita menyayangi buah cinta kita. Dan surat ini diperuntukan bagi masa depan, kala waktu itu datang.
Perlu kautahu, aku bukan manusia romantis. Tapi berkatmu, kini aku 'kan berupaya mempersiapkan diri menjadi teman hidupmu yang paling romantis. Dimulai dari surat yang kubuat ini.
Hai teman hidup
Rupanya sedang apa kau sekarang? Duduk bersama perempuan itu? Tak apa, jangan khawatirkan aku. Bahkan kuingin kau belajar mencintainya dengan tulus. Karena ketika surat ini sampai di tanganmu, akan ada aku yang harus kau cintai dengan sangat tulus melebihi dia, dia, dia, atau mereka yang pernah kaucintai sebelumnya.
Rupanya sedang apa kau sekarang? Membagi bahumu untuk perempuan itu?
Tak masalah, jangan risaukan aku. Bahkan kuingin kau belajar menghargai bagaimana dicintai. Karena ketika surat ini kauterima, akan ada aku yang sangat mencintaimu melebihi dia, dia, dia atau mereka yang pernah kucintai sebelumnya.
Saat surat ini kaubaca, mungkin kau sedang duduk di pekarangan rumah sembari minum teh hangat di senja hari, ada aku di sampingmu: kita sedang memerhatikan anak-anak kita yang bersenda gurau.
Tenanglah teman hidup, surat ini pasti sampai padamu.
Aku telah menitipkannya pada yang lebih tahu di waktu mana kita berjodoh: itu waktu. Surat ini akan dijaga baik-baik olehnya. Percayalah!
Hai teman hidup, sampai bertemu di batas sayang.
Aku akan mencintaimu dan selalu mencintaimu.

Selama Hujan

| Selasa, 13 Mei 2014 | |

Mulanya pelataran langit menggelap
Awan bergumpal-gumpal tak karuan
Kukira mendung tak berarti menghujan
Tapi logika selalu mengantarkan yang benar
Air melepaskan diri dengan pasrah
Rintik demi rintik melahirkan ingatan
Bumi ini basah, suhu pun jatuh seketika
Udara berselancar dengan santai
Melewati ekor mataku yang juga membasah
Kupunguti potongan memori itu
Memori bergelayutan diantara air yang pecah

Tirai air yang indah sekaligus hebat
Aku merenunginya dengan seksama
Dibalik jendela, kuulur tangan
Menyampaikan jemariku kepada sang hujan
Sekadar mengilhami, sekadar mengingat-ngingat
Oh, dulu aku dengannya pernah seperti di waktu ini
Sembari menunggu hujan, sembari saling memadu cerita
Dia pernah disampingku
Dia pernah membagi bahunya untukku
Sungguh hujan yang manis

Deras hujan tanpa petir
Hanya ada udara dingin, hujan dan kita
Percikan air yang cantik
Satu, dua rintik menempel tak sengaja di rambutmu
Oh, hujan pun mencoba menarik perhatian itu
Tapi apalah arti hujan jika bukan karena kita berdua
Menunggu berakhir atau menunggu lebih lama
Akhirnya di waktu sekarang aku pun sampai
Hinggap harapan jika hujan waktu itu juga hujan waktu ini sama
Aku dan hujan, dia dan hujan
Kita diantara air yang berkilauan lagi, jika bisa

Mendekat

| Selasa, 13 Mei 2014 | |

Kemarilah
Mendekat padaku
Kuingin  rasakan aroma tubuhmu
Kuingin nikmati hembusan nafasmu mengenai kulitku
Kuingin dijatuhi tatapan itu

Ruas-ruas jarak memanjang diantara kita
Apa salahnya kita lucuti jarak itu?
Mendekatlah
Berbisiklah di telingaku
Tiap kata yang kauucap akan menenangkan
Suara yang terlantun pun bersemayam lama
Mendekatlah
Tetapkan pandangan itu untuk satu arah
Sorot mata yang menjadi candu
Menjatuhkan aku ke dalam rindu
Mendekatlah
Rengkuh jemariku dengan jemarimu
Merambat hangatnya hingga ke ulu

Ada kamu, hati ini teduh
Maka, kemarilah!
Biarkan batasnya luluh
Biarkan jaraknya runtuh

Baiknya Aku Diam

| Senin, 12 Mei 2014 | |


Baiknya aku diam
Mengubur hidup-hidup kembang kata
Puisi bertaburan disana-sini
Dimampukan berani dalam bait
Segala asa telah kuterjemahkan
Terurai sederhana terangkai kalimat, "saya cinta kamu"

Baiknya aku diam
Saat kamu telah memilih
Perempuan itu sungguh elok
Senyumnya patut dipuja
Bahkan aku belum berucap apalagi bertindak
Kamu begitu bersikukuh tuk mencintanya

Baiknya aku diam
Dalam diam kurasakan hening lebih dalam
Menjamah sepi yang kian meronta
Yang tak pernah terucap pun berbaring disana
Mencokol sunyi hingga terluka
Merampung ucap dalam bisu
Tangis itu pecah, selalu pecah
Terasa begitu ngilu saat lelah tuk bersuara
Mulut ini kelu, sesak oleh amarah
Hati beranjak muram lalu kecewa mengundang
Baiknya ku tetap diam, terus, terus dan terus diam

Seumpama

| Senin, 12 Mei 2014 | |

Sebenarnya banyak kata yang kusimpan
Sebenarnya banyak cerita yang kupendam

Seumpama masa lalu sudah terbuang
Tak apa tuk dikenang
Seumpama masa sekarang tak kunjung kau datang
Kubersabar dalam penantian
Seumpama masa depan bisa menjanjikan
Sungguh hati ini tenang

Mencintaimu saat ini adalah kenyataan
Sayang ini nyata, hanya kau yang semu
Rindu ini nyata, hanya kau yang berlalu
Gelisah ini nyata, hanya kau yang tak tahu
Perasaan ini nyata, sungguh dirimu yang menjauh

Mungkin waktu kelak membantu
Mengikis jiwa hingga tiada
Menanam yang baru melupakan yang lalu
Tapi itu soal waktu
Berbulan-bulan, bertahun-tahun belum tentu mampu

Seandainya

| Senin, 12 Mei 2014 | |

Seandainya kau kembali
tak perlu khawatir aku masih disini
Seandainya kau kembali
akan kubukakan pintu untukmu
Seandainya kau kembali
secangkir teh hangat kusediakan untukmu
Seandainya kau kembali
jadikan aku rumah tempat kau berpulang
Seandainya kau kembali
berjanjilah untuk tinggal selamanya
Seandainya kau kembali
sedihku sirna seolah tak pernah ada
Seandainya kau kembali
tak ada lagi pertanyaan "kenapa"
Seandainya kau kembali
tak perlu bicarakan siapa yang kaupilih dulu
Seandainya kau kembali
kekeliruanmu takkan kuingat
Seandainya kau kembali
apapun alasannya aku terima
Seandainya kau kembali
bersumpahlah untuk jatuh cinta padaku setiap hari
Seandainya kau kembali
maafku selalu bersikap ramah padamu
Seandainya kau kembali
nyaman ini selalu ada diantara kita
Seandainya kau kembali
Penantian ini terbayar impas
Seandainya kau kembali
aku utuh

Sia-Sia Merindu

| Minggu, 11 Mei 2014 | |

Dia disini
Itu rindu, itu rasa

Sepenggal waktu kupikir bisa menyentuh keberadaanmu
Ternyata tidak, aku hanya berharap
Rindu itu sedang bersamaku
Sunyi yang lebih sunyi
Tidak ada cerita, habis sudah

Dalam tidur kuingin kau tinggal
Namun yang tertinggal bukan itu
Bahkan untuk sekadar mimpi pun tidak
Hanya rindu, hanya aku yang rasa

Kau ini entah dimana, sedang duduk dengan siapa
Melempar senyum pada siapa
Menunggu kabar dari siapa
Atau siapa yang kaupikirkan detik ini?
Sungguh, aku ingin tahu
Sungguh, aku siap patah hati

Dihukumi perasaan sendiri
Menulis segala remeh temeh
Rindu-rindu yang tersia-siakan
Apalah sedih
Dia tak pernah tahu
Atau dia mungkin tak ingin tahu

Tak guna aku merindu
Tak guna aku menunggu
Tapi tetap saja aku tak pergi
Disini saja, disini kuberusaha mencarimu dalam tidurku

Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -