Itu Dia
Itu dia wajah yang selalu terngiang
Itu dia rupa yang selalu memikat hati
Itu dia paras yang membuntuti mimpi
Itu dia orang yang memantri angan
Ada dia, jiwa berdesir
Dan angin ikut mendesis
Meraungkan isyarat padanya
Perasaanku tersampaikan dengan lugu
Suatu waktu, ancang-ancang kuteguhkan diri
Tekad ini memang sembrono
Cuma karena desakkan rasa
Tak lihat-lihat yang sedang terjadi
Sela yang renggang telah terisi
Sisi yang patah telah menyatu
Itu dia orangnya, menggandeng sahabatku
Kenyataan membentur wajahku
Lirih membaur di udara
Ingin kubersembunyi di dalam kotak sereal
Memahami keadaan ini sendiri
Aku terdepak oleh wujud yang tak asing
Sejak kapan, tak pernah kusadari
Tahu-tahu aku tersingkir olehnya
Tapi mengapa oleh sahabatku?
Apa itu suatu keharusan?
Sudahlah, lebih baik kuberbalik
Niatan yang harus kuurung lebih dalam
Disibukkan meladeni hati yang terapung
Nanti-nanti, aku masih terlalu limbung
Tersungkur jatuh hingga ke dasar
Tak ada upaya tuk selamatkan diri
Biarlah seperti ini sekarang
Pahami jarak yang kubuat
Kumohon, cerita ini tak ingin kubagi denganmu lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar