Itu Dia

| Jumat, 16 Mei 2014 | |

Itu dia wajah yang selalu terngiang
Itu dia rupa yang selalu memikat hati
Itu dia paras yang membuntuti mimpi
Itu dia orang yang memantri angan

Ada dia, jiwa berdesir
Dan angin ikut mendesis
Meraungkan isyarat padanya
Perasaanku tersampaikan dengan lugu

Suatu waktu, ancang-ancang kuteguhkan diri
Tekad ini memang sembrono
Cuma karena desakkan rasa
Tak lihat-lihat yang sedang terjadi
Sela yang renggang telah terisi
Sisi yang patah telah menyatu
Itu dia orangnya, menggandeng sahabatku

Kenyataan membentur wajahku
Lirih membaur di udara
Ingin kubersembunyi di dalam kotak sereal
Memahami keadaan ini sendiri
Aku terdepak oleh wujud yang tak asing

Sejak kapan, tak pernah kusadari
Tahu-tahu aku tersingkir olehnya
Tapi mengapa oleh sahabatku?
Apa itu suatu keharusan?
Sudahlah, lebih baik kuberbalik
Niatan yang harus kuurung lebih dalam
Disibukkan meladeni hati yang terapung
Nanti-nanti, aku masih terlalu limbung

Tersungkur jatuh hingga ke dasar
Tak ada upaya tuk selamatkan diri
Biarlah seperti ini sekarang
Pahami jarak yang kubuat
Kumohon, cerita ini tak ingin kubagi denganmu lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -