Bandung, 25 Desember 2022.
Hari dimana untuk pertama kalinya kami bertemu.
Sepulang kerja, menerobos
kemacetan di sore hari mana kala di tanggal merah semua orang sedang merayakan
hari libur. Menuju satu coffee shop yang belum pernah aku kunjungi. Kopitagram,
disana tepatnya.
Tidak ada persiapan yang berlebih
karena kupikir tidak akan begitu sulit. Kukira tidak jauh berbeda seperti
pertemuan-pertemuanku sebelumnya dengan beberapa orang dari dating apps.
Ternyata tak disangka akan menjadi begitu rumit mana kala aku berada dalam
situasi “terpukau”.
Kembali sekitar 10 hari sebelum pertemuan
itu.
Dalam bio di profile dating apps
aku menuliskan sepenggal lirik lagu dari Stacey Ryan berjudul Fall In Love
Alone.
“If we never try. How
will we know?”
Dari sekian banyak orang yang
match, dia satu-satunya yang berkomentar soal bio yang kukutip. Begitu banyak
orang yang tidak peduli dengan apa yang kutulis tapi dia orang yang membuka
obrolan kami dengan memastikan kutipan itu benar dari lirik lagu. Dan obrolan
itu berlanjut, dimana dia pun merekomendasikan satu lagu dari Adam Levine
berjudul Go now. Menurutnya, lirik di lagu itu menarik dan aku setuju. Sampai
saat ini, sesekali aku masih mendengarkan lagu itu.
Berhari-hari kami bertukar
cerita. Hal-hal ringan saja karena kami pun baru saling mengenal. Tapi perlu
aku akui, ada rasa ketertarikan yang berbeda khususnya untuk orang itu. Aku
bahkan baru mengobrol dengannya dalam hitungan hari tapi entah kenapa aku
merasa begitu dekat dan kadang-kadang aku merasa sedang “dejavu”. Apakah aku
pernah mengenalnya? Mungkin di kehidupan sebelum ini? Hehehe…
Aku sangat antusias. Saat chatting,
saat berbalas sticker dan saat telponan. Aku menikmati waktu dimana komunikasi
itu masih terjalin. Apalagi saat aku tau kami punya sedikit kesamaan dalam hal
keluarga. Kami sama-sama dari keluarga broken home, dimana orang tua kami
berpisah sejak kami masih Sekolah Dasar dan tepat di kelas 5. Eitsss, ada hal
lainnya juga, kami sama-sama terakhir berpacaran di tahun 2015. Kebetulan yang
sangat kebetulan.
Dan tiba saatnya dimana hari itu datang. Ya, kami pun bertemu di Coffee shop daerah Kacapiring, Bandung. Dia
datang lebih dulu, bodohnya aku terlambat sekitar 30 menit. Rute yang
kuikuti via Google Maps terlalu berbebelit padahal saat tiba disana ternyata
jalanannya sering sekali aku lewati.
Aku masih ingat, seberapa
gugupnya. Pertama kali aku melihat dia secara langsung, aku tau kalau aku
menyukainya. Entah apa yang ada dalam otakku, yang jelas aku merasa sangat
bodoh. Obrolan kami tidak berjalan dengan lancar. Diluar ekspektasiku bahkan tidak
dalam perkiraan paling burukpun. Dia sangat tidak nyaman dan pertemuan kami
hanya berjalan kurang dari 1 jam. Diluar hujan begitu deras. Sangat deras
bahkan. Tapi dia pamit pulang lebih dulu, memaksakan diri. Akhirnya, aku juga
pulang menerobos hujan. Dan di dalam hujan itu aku menangis sejadi-jadinya. Aku
merasa jadi orang paling tolol sedunia. Apa yang terjadi tadi? Apa yang
sebenarnya aku lakukan? Sebegitu anehnya malam itu.
Tepat setelah pertemuan itu
semuanya menjadi canggung. Kami tidak lagi seintens sebelumnya. Aku mencoba
menghubunginya lebih dulu walaupun dengan nyali sekecil biji anggur. Tapi aku
menciut. Aku tidak benar-benar punya keberanian. Hingga suatu hari, dia
memberikan sedikit penjelasan bahwa apa yang aku cari tidak ada dalam dirinya.
Dia tidak mengingingkan hubungan, mungkin lebih tepatnya dia hanya membutuhkan
teman mengobrol saja, tidak lebih. Sejak saat itu semua menjadi asing.
Tahun demi tahun berlalu tapi aku
masih memikirkannya. Seperti malam ini, aku sangat merindukan orang itu. Aku menggunakan
lagi datting apps berharap bisa bertemu kembali. Tapi aku sadar bahkan jika dia
sedekat urat nadi pun kalau memang tidak ada kesempatan dari Tuhan maka kami
tidak akan pernah bertemu lagi. Aku sering bertanya-tanya apakah aku bisa
merasakan antusias yang sama? Apakah aku bisa merasakan euphoria yang sama?
Apakah aku bisa merasakan hati yang menggebu-gebu? Dan apakah aku masih bisa
jatuh cinta?