Selamat Tinggal

| Rabu, 24 Desember 2025 | |

 

20 Desember 2025

Aku datang lagi ke tempat itu. Tempat pertama kali kita bertemu. Tidak bisa dipungkiri dalam hati paling dalam pun aku berharap kamu juga kembali kesana. Entah, itu kemungkinannya kamu masih mengenaliku atau bahkan sebaliknya: apakah aku bisa mengenalimu?

Bahkan saat ini di coffe shop itu punya banyak menu baru. Aku harap setidaknya ada satu menu yang bisa kujadikan favorit agar aku bisa datang dengan alasan lain. Ya, selain hanya mengenang tempat duduk dekat jendela besar itu. Tempat dimana kita pertama kali bertemu. Tapi tidak ada, tidak dengan menunya dan tidak dengan keberadaanmu.

Aku tetap datang walau aku tidak suka ice chocolatenya, jelas tidak suka ramennya. Aku tetap datang untuk melihat tempat duduk itu walau untuk sedetik saja. Hatiku rasanya mengering, dan ada sakit yang tak hilang.

Dan aku sudah bertekad. Ini adalah kunjungan terakhirku. Aku tidak akan datang lagi. Ini adalah Desember terakhirku untuk mengenangmu dengan cara seperti ini.

 Saatnya ucapkan selamat tinggal untuk egoku yang tak ada tandinganya ~~~~

Selamat tinggal, di kehidupan lain. Mungkin aku bisa lebih beruntung.

I Want To Disappear

| Jumat, 12 Desember 2025 | |

 

2025 adalah tahun paling kesepian yang pernah kulalui. Di pengunjung tahun 2025, bulan Desember yang terasa begitu basah, sayu dan muram. Tidak ada masa depan yang bisa kuintip, karena semua terlihat begitu mengabur. Setiap hari aku berupaya membalut diri dalam pekerjaan dan rasa lelah. Sepi diantara hidup manusia-manusia lain yang ramai. Tidak tersisa, bahkan tidak ada bagian yang membuatku yakin akan apa itu kehidupan yang membaik. Semua terasa datar, tidak bercahaya, hambar, lurus, abu-abu, suram, kosong dan tidak ada makna.

Saat ini, aku ingin sekali menghilang. Hilang dari situasi yang membuatku tidak bersemangat. Hilang dari sini, meninggalkan siapa aku sekarang. Berganti menjadi orang lain, yang tidak dikenal oleh siapapun. Aku ingin mengenyahkan pikiran gelisah yang tentu tidak beralasan. Di dalam otakku begitu berisik dan bising tapi aku tidak dimampukan untuk bicara apa yang terjadi. Orang-orang pun sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang benar-benar peduli dengan bagaimana aku menyelaraskan kesempatan tetap hidup dengan keengganan diri untuk terus terlihat seolah baik-baik saja.

 

"DL"

| Senin, 06 Oktober 2025 | |

Bandung, 25 Desember 2022.

Hari dimana untuk pertama kalinya kami bertemu.

Sepulang kerja, menerobos kemacetan di sore hari mana kala di tanggal merah semua orang sedang merayakan hari libur. Menuju satu coffee shop yang belum pernah aku kunjungi. Kopitagram, disana tepatnya.

Tidak ada persiapan yang berlebih karena kupikir tidak akan begitu sulit. Kukira tidak jauh berbeda seperti pertemuan-pertemuanku sebelumnya dengan beberapa orang dari dating apps. Ternyata tak disangka akan menjadi begitu rumit mana kala aku berada dalam situasi “terpukau”.

Kembali sekitar 10 hari sebelum pertemuan itu.

Dalam bio di profile dating apps aku menuliskan sepenggal lirik lagu dari Stacey Ryan berjudul Fall In Love Alone.

“If we never try. How will we know?”

Dari sekian banyak orang yang match, dia satu-satunya yang berkomentar soal bio yang kukutip. Begitu banyak orang yang tidak peduli dengan apa yang kutulis tapi dia orang yang membuka obrolan kami dengan memastikan kutipan itu benar dari lirik lagu. Dan obrolan itu berlanjut, dimana dia pun merekomendasikan satu lagu dari Adam Levine berjudul Go now. Menurutnya, lirik di lagu itu menarik dan aku setuju. Sampai saat ini, sesekali aku masih mendengarkan lagu itu.

Berhari-hari kami bertukar cerita. Hal-hal ringan saja karena kami pun baru saling mengenal. Tapi perlu aku akui, ada rasa ketertarikan yang berbeda khususnya untuk orang itu. Aku bahkan baru mengobrol dengannya dalam hitungan hari tapi entah kenapa aku merasa begitu dekat dan kadang-kadang aku merasa sedang “dejavu”. Apakah aku pernah mengenalnya? Mungkin di kehidupan sebelum ini? Hehehe…

Aku sangat antusias. Saat chatting, saat berbalas sticker dan saat telponan. Aku menikmati waktu dimana komunikasi itu masih terjalin. Apalagi saat aku tau kami punya sedikit kesamaan dalam hal keluarga. Kami sama-sama dari keluarga broken home, dimana orang tua kami berpisah sejak kami masih Sekolah Dasar dan tepat di kelas 5. Eitsss, ada hal lainnya juga, kami sama-sama terakhir berpacaran di tahun 2015. Kebetulan yang sangat kebetulan.

Dan tiba saatnya dimana hari itu datang. Ya, kami pun bertemu di Coffee shop daerah Kacapiring, Bandung. Dia datang lebih dulu, bodohnya aku terlambat sekitar 30 menit. Rute yang kuikuti via Google Maps terlalu berbebelit padahal saat tiba disana ternyata jalanannya sering sekali aku lewati.

Aku masih ingat, seberapa gugupnya. Pertama kali aku melihat dia secara langsung, aku tau kalau aku menyukainya. Entah apa yang ada dalam otakku, yang jelas aku merasa sangat bodoh. Obrolan kami tidak berjalan dengan lancar. Diluar ekspektasiku bahkan tidak dalam perkiraan paling burukpun. Dia sangat tidak nyaman dan pertemuan kami hanya berjalan kurang dari 1 jam. Diluar hujan begitu deras. Sangat deras bahkan. Tapi dia pamit pulang lebih dulu, memaksakan diri. Akhirnya, aku juga pulang menerobos hujan. Dan di dalam hujan itu aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa jadi orang paling tolol sedunia. Apa yang terjadi tadi? Apa yang sebenarnya aku lakukan? Sebegitu anehnya malam itu.

Tepat setelah pertemuan itu semuanya menjadi canggung. Kami tidak lagi seintens sebelumnya. Aku mencoba menghubunginya lebih dulu walaupun dengan nyali sekecil biji anggur. Tapi aku menciut. Aku tidak benar-benar punya keberanian. Hingga suatu hari, dia memberikan sedikit penjelasan bahwa apa yang aku cari tidak ada dalam dirinya. Dia tidak mengingingkan hubungan, mungkin lebih tepatnya dia hanya membutuhkan teman mengobrol saja, tidak lebih. Sejak saat itu semua menjadi asing.

Tahun demi tahun berlalu tapi aku masih memikirkannya. Seperti malam ini, aku sangat merindukan orang itu. Aku menggunakan lagi datting apps berharap bisa bertemu kembali. Tapi aku sadar bahkan jika dia sedekat urat nadi pun kalau memang tidak ada kesempatan dari Tuhan maka kami tidak akan pernah bertemu lagi. Aku sering bertanya-tanya apakah aku bisa merasakan antusias yang sama? Apakah aku bisa merasakan euphoria yang sama? Apakah aku bisa merasakan hati yang menggebu-gebu? Dan apakah aku masih bisa jatuh cinta?


Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -