Bertahan Ketika Segalanya Begitu Nyata
Dari #DellaPutriPratiwi Teruntuknya
Sebuah perjalanan, sebuah kisah, sebuah kenangan dan sebuah
cerita. Ini aku mewakili hatinya untuk kusampaikan sebisa mungkin agar terlukis
jelas dan nyata di atas kanvas kata di balut warna rasa.
Kamu. Pria tak bernama, atau lebih tepatnya pria yang tidak
kuketahui panggilannya adalah seseorang yang membekaskan kesan manis padaku.
Beberapa tahun lalu, pertama kujumpa denganmu di setiap perjalananku menuju
rumah ilmu. Aku yang masih berseragam putih-abu dan kamu yang bisa kutebak
memiliki tahun usia yang lebih tinggi dibanding aku. Kamu duduk disana, di
tempat yang sama dimana aku bisa menatapmu untuk sebentar saja. Pembalut rasa
di waktu kapan saja aku bisa merasa rindu jikalau aku mengingatmu, mengingat
wajahmu, mengingat senyummu, mengingat caramu duduk dan mengingat segalanya
yang bisa kulihat.
Tentangmu, dari teman dekatku akhirnya satu namapun bisa
kudapat. Sekedar tau, sayangnya tidak benar-benar mengenal. Walau begitu,
setidaknya aku bisa mengucap namamu di kala malam saat kutertidur. Memang tak
merubah apapun diantara kita namun aku menerima semua itu. Ternyata kabar demi
kabar berhembus begitu saja padaku. Tentangmu yang membuatku menyerah dan patah
hati saat kutau kamu telah memiliki kekasih hati. Di titik itulah aku merasa
harus berhenti. Benar-benar harus menghapus pengharapanku selama itu.
Waktu berjalan begitu lurus, mulus, dan tanpa belas kasih.
Tahun ke tahun pun berlalu begitu saja. Tuhan memberi rencana baru untukku. Tak
bisa kupercaya, ini terasa sangat mustahil. Kamu dan aku berada pada satu
kumpulan yang sama. Di tempat tongkrongan yang sama pula awal kita benar-benar
saling mengenal satu sama lain. Aku masih menjaga rasa, memelihara angan dan
tetap menyukaimu.
Sayangnya disaat itu pula aku harus pergi. Bukan
meninggalmu, bukan melupakanmu melainkan menepati keinginanku untuk melanjutkan
studi di kota lain. Bagusnya, ternyata kita tak saling menghilangkan komunikasi.
Bisa dikatakan aku dan kamu di saat itu hanyalah teman biasa yang mungkin
memiliki keterikatan namun tak memiliki status. Dan lama semakin lama tak dapat
kuyakini tiba-tiba kamu mengatakan suatu hal. Hal yang kunanti setiap malam,
hal yang kuharap setiap hari, hal yang kuingini setiap waktu. Akhirnya, kamu
mengatakannya. Mengatakan bahwa kamu menyayangiku. Ah , bisa kaubayangkan
betapa aku bahagia tiada tara saat pertama kumendengarnya? Bisakah kau mengerti
betapa aku benar-benar menginginkanmu?
Namun ada sesuatu yang membuatku dilema saat itu dan tak
langsung menanggapi pengakuanmu. Tentangmu yang kata berita di luar sana tak
begitu baik bagiku. Ada banyak perempuan di hatimu, cinta terbagi-bagi dan tak
memiliki keyakinan ‘tuk memilih. Sebenarnya aku tau, namun sesaat saja aku
memikirnya dan tak sampai lama aku segera menerjang sisi hatiku itu lalu
mengiyakan hubungan kita.
Satu bulan berlalu, waktu terasa manis. Cinta begitu hangat.
Perhatian masih terjaga. Aku dan kamu menjalaninya tanpa hambatan berarti.
Hanya saja disitulah segalanya benar-benar dimulai. Saat tiada lagi komunikasi,
menghilangnya jalinan kasih, menghitamnya cerita kita. Kamu entah dimana keberadaannya,
dengan siapa menghabiskan waktu, dan bagaimana cara yang bisa kulakukan untuk dirimu
tak lagi kutau. Apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan dan apa yang kuharapkan
padamu kini begitu terasa menyakitkan. Banyak diantara orang-orang di sekitarku
menyampaikan kabar pahit tentangmu. Perempuan-perempuan yang menjadi temanmu
adalah penyebab kerenggangan hubungan kita. Bukan hal baru lagi untukku
lantaran sebelum hubungan kita terjalin pun aku telah memutuskan dengan
kesungguhan yang amat kuat bahwasanya aku menerimamu seapa adanya. Hei kamu, apa
keputusan itu salah?
Tiada kabar darimu selama berminggu-minggu. Telah kulakukan
berbagai cara agar bisa mengembalikamu seperti dahulu. Sayangnya, semua itu
sia-sia. Tidak ada yang bisa kuperbuat lagi untuk mempertahankan hubungan kita.
Ketika aku ingin memperjelas hubungan ini, tak adakah kemauanmu untuk
mendefenisikan aku untukmu lagi? Apa aku hanyalah udara yang kemudian menguap
begitu saja di hadapanmu?
Lelah, memang lelah mempertahan ini semua. Entah mengapa
tetap saja di saat cerca dan caci maki juga peringatan dari orang-orang di
sekitarku tak mampu merubah perasaan. Cinta, aku tetap cinta padamu. Dikala
hubungan kita berakhir tanpa tanggapan nyata darimu aku merasa tidak bisa
melupakannya. Enggan melepaskan kenangan lalu diantara kita.
Selalu kuingat katamu bahwasanya hanya aku perempuan yang
kau anggap serius. Mereka hanya pelampiasan. Mereka hanya angin lalu. Tapi hal
itu tak cukup untuk meyakinkanku. Beri aku pembuktian yang mutlak! Apa semua
itu terlalu sulit untukmu? Apa cinta itu tak benar-benar kau rasakan?
Aku selalu berkata iya padamu. Iya untuk bertahan. Iya untuk
memaafkan. Iya untuk menunggu. Iya untuk menerima. Iya untuk menangisi. Iya
untuk di sakiti. Iya untuk hubungan kita lagi. Namun waktu tak begitu saja
membantu. Kini aku masih terpuruk dalam-dalam di antara kepedihan hati. Risau,
pilu, kecewa saat kudengar dirimu bersama dia. Dia adalah mereka. Deretan
perempuan yang kaudekati. Menurutku tetap saja itu bukan alasan kuat yang bisa
merubah pendirianku saat ini. Aku ingin dan terus ingin menunggumu karena
kuyakin kamu akan kembali.
Akhir dari tulisan ini, aku atas nama teman selalu
mengharapkan yang terbaik untukmu. Tidak ada kesempatan yang bisa ditemukan
jika kita tak mencarinya. Tak ada kesabaran yang tak terbayarkan. Hati,
kenyataan dan keyakinan yang bisa membantumu menemukan yang terbaik.
Rida Farida, salam cinta kasih.