Jenuh. Bagi Orang-Orang yang Tidak Semestinya Mengerti
|
Jumat, 15 Maret 2013
|
Cerita Hati
|
Jenuh. Benar-benar hati dan perasaan ini tak mengenal suasana lain
selain jenuh. Saking setianya ia tak pernah beranjak sedetik pun dari
pikiranku. Teramat kering, gersang dan tak bersuhu. Entah dalam dingin atau
panas aku masih tersesat di labirin kejenuhan. Lorong ke lorongnya begitu
misterius, gelap, pengap terlebih semu oleh waktu. Tiap langkah yang tak
kuhafal dan kaki bergerak limbung di atas tanah. Tak benar-benar memijak hanya
melayang satu inci di udara. Aku terlalu risau pada keadaan, aku terlalu
khawatir pada kejadian dan aku terlalu peduli pada kesempatan. Hingga aku baru
menyadari disini, ketika hujan memperingatkanku akan sesuatu hal. Suasana di hentakan
tiada belas kasih dan kenyataan hadir tanpa salam padaku. Saat ini aku merasa
teramat jenuh hingga tak memperdulikan segala perhatian alam. Egois, ya aku
terlalu egois bahkan pada diriku sendiri. Jenuh, berawal dari situlah kecaman
terpahit aku dapatkan. Dan hujan menjatuhkan diri tanpa ragu lagi. Melepaskan kasih
sayang dari gumpalan awan gemawan yang mencintainya begitu manis untuk aku yang
masih mementingkan perasaan. Butuh ribuan air hujan yang pecah di labirin ini
barulah aku bisa memahami kesakitannya, kepiluannya dan keputusasaannya. Aku
pun semakin hilang di makan pertanyaan dan pada akhirnya aku kehabisan waktu untuk
menemukan jalan yang benar agar sampai di pintu kebebasan.
Jenuh. Jenuh. Jenuh. Hanya itu yang kupikirkan selama ini. Padahal
terhampar luas hal-hal yang perlu perhatianku, perlu sentuhanku dan perlu tindakanku.
Dengan begitu saja aku mengabaikan hal yang berharap besar pada tiap gerakan
tubuh. Egoisnya, aku terus mengulik teka-teki hidup yang tak ada gunanya. Omong
kosong, itulah yang kusebut teka-teki. Bodoh sekali aku ini melenyapkan
tanggungjawabnya untuk si ‘omong kosong’ itu.
Maaf aku harus meninggalmu, jenuh! Oh ya, bukan itu maksudku.
Memaksamu pergi. Ya menurutku semestinya aku melakukannya dari dulu. Enyahlah
dari segala tentangku. Sejauh-jauhnya sepanjang aku tak mengharapkanmu kembali.
“Tulisan
ini aku buat untuk orang-orang yang tak harus memahami. Tak semestinya memahami.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar