Cerita Sedih Si Malas

| Minggu, 23 Juni 2013 | |

Sedih pulang membawa seonggok perasaan. Sedih berlari, tak sabar ingin menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas kasur. Knop pintu kamarnya menjadi pelampiasan pertama Sedih; ditekan, didorong dan dibanting tanpa belas kasihan. Hingga timbul bunyi nyaring dan keras memekak telinga tapi Sedih seolah tak peduli dan masa bodoh dengan apa yang ia lakukan barusan. Sedih menghamburkan perasaan, tubuhnya dan beban hati yang selama ini menjadi bunga tidurnya dalam malam yang tak pernah lupa mengikutsertakan Sedih ke sebuah pagelaran mimpi yang teramat kelam. Sedih tidak berusaha sedikit pun untuk menahan air mata yang terus menyembul dari pelupuk matanya. Pasrah, Sedih hanya dimampukan untuk menyerahkan kekecewaan batinnya dalam bulir-bulir air mata. Tidak ada lagi yang bisa Sedih tahan, tidak ada lagi hal yang bisa membuatnya kuat, hatinya rapuh, perasaannya melepuh.
Si Malas, kucing putih berbulu lebat itu terkaget-kaget, kelopak matanya sontak terbelalak ke arah Sedih mendaratkan tubuhnya. Si Malas yang meringkuk dalam balut kehangatan sebuah sofa di sudut ruang pun menatap Sedih dengan bingung. Mulutnya terbuka lebar, tubuhnya merenggang, matanya yang terkantuk-kantuk itu tidak lagi menyelubungi bulu-bulu Si Malas seperti beberapa detik yang lalu. Sedih menangis sesenggukkan, Si Malas masih sibuk mengumpulkan nyawa-nyawanya yang tadi sempat berhamburan. Tubuh Si Malas bertahan memanjang, walau dalam keadaan selonjoran kucing berhidung pesek itu melempar tatapan tajam pada majikannya. Mata hijaunya seolah berusaha keras mencari tahu gerangan apa yang terjadi.
Beberapa saat pun berlalu. Sedih membenamkan kepalanya ke bantal, tubuhnya meringkuk di atas kasur dan air matanya tak pernah berhenti sedari tadi. Si Malas khawatir, “meongan”-nya tak sekali pun digubris oleh Sedih. Erangan-erangan Si Malas diabaikan begitu saja, Sedih hanya fokus pada dirinya sendiri.
Si Malas memutuskan merubah posisi tubuh, ia memaksa bulu-bulunya untuk mengikuti intruksi. Dengan pantat masih menempel di sofa, setengah berdiri Si Malas sempat-sempatnya menguap besar. Gigi runcing, kerongkongan yang dalam menjadi pemandangan untuk beberapa saat. Kemudian ia menggerakkan kakinya, berlari dengan semangat, meloncat ke atas permukaan kasur lalu menghampiri majikan kesayangannya itu. Pandangannya menerawang, erangan Si Malas bergaung pelan seakan ingin memberitahu kepada Sedih bahwasanya ia berada disana untuk menemaninya.
Sedih masih bertahan memeluk tangis, ia tak langsung menyadari keberadaan kucing peliharaannya itu. Ia terus menangis, hatinya tak bisa diam, mulutnya tetap mengerang dan bergumam sesuatu yang tak dapat didengar jelas. Setelah kesekian kalinya, Si Malas merasa meongan-nya tak berpengaruh lagi ia pun menyundul halus kepalanya ke tubuh Sedih. Sedih terhenyak lalu mengangkat wajahnya dari bantal dan menarik tatapannya ke sosok kucing gempal itu.
Pandangan Sedih berangsur melembut, “Ah kamu! Kamu khawatir sama aku? I’m ok, honey!
Suaranya lirih lebih terdengar palsu bahkan Sedih pun tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan apalagi Si Malas. “Aku baik-baik saja. Sungguh, aku akan baik-baik saja.”
Si Malas mengeong. Sedih tak sedang berbicara pada kucing itu melainkan ia berbicara pada dirinya sendiri. Air matanya merosot lebih banyak tapi mulutnya terus mengatakan hal yang sama. Hati dan perasaannya saling berlomba ingin memenangkan kejuaraan kedukaan batin Sedih yang carut-marut. Ia tahu, ia paham, ia bersikeras meyakinkan dirinya dan kucing yang kini meringkuk di sampingnya untuk memercayai kebohongan itu. Sedih tidak dalam keadaan baik, fisiknya lemas, dan hatinya lunglai.
Tangan Sedih setengah merentang, jemarinya menggapai bulu-bulu halus kucing pemalas itu lalu mengelus-ngelusnya. Air mata Sedih mulai berhenti dan agak mengering. Si Malas merasa nyaman karena mendapat sentuhan lembut, perhatian majikannya sedikit teralih ke kucing itu. Hela demi hela nafas dihembuskan oleh Sedih dengan berat. Pikirannya berhamburan, terngiang-ngiang kejadian tadi yang meremukkan pertahanannya untuk merelakan seseorang.
Ikhlaslah! Ikhlaslah! gumamnya dalam hati. Siapapun orangnya, manusia semahir bagaimana pun cara bersandiwaranya takkan ada yang sanggup membohongi perasaan sendiri. Tidak akan ada.
Sedih menarik oksigen sebanyak-banyaknya dari udara lalu ia hembuskan dengan tenang. Ia ingin mengatakan sesuatu, ia ingin mengungkap sesuatu pada seseorang yang bisa ia percaya setidaknya untuk saat itu. Matanya bergerak lemah, sosok kucing pemalas yang hanya bergerak kala ada makanan saja adalah solusi yang memungkinkan. Si Malas menghampirinya, memasrahkan kelembutan, kehalusan dan kehangatan tubuhnya kepada Sedih menjadi tanda bahwa kucing itu memang ingin dilibatkan dalam persoalan hati majikannya itu. Ia siap mempergunakan kedua telingannya yang lebar dan runcing itu untuk mendengar apapun keluh kesah Sedih. Sedih sekilas tersenyum, kucing itu semakin mendekatkan bulu-bulunya ke tubuh Sedih, ekor Si Malas menari-nari kesana-kemari seakan-akan mendesak Sedih agar segera bicara.
“Aku... awalnya aku merasa baik-baik saja. Dia adalah temanku. Perempuan juga teman baikku,” Sedih diam sejenak. “Perempuan menyukai Dia dengan segenap hatinya, dan aku telah berjanji pada Perempuan untuk mempersatukan mereka. Lama semakin lama, hatiku mulai berubah. Sekarang, detik ini, aku menyayangi Dia. Sejak aku dan Dia dekat, sejak aku berniat menjadi alat penghubung Perempuan dan Dia, aku malah terperosok jatuh ke dalam hati Dia, janjiku pada Perempuan menjadi bumerangnya...”
Erangan Si Malas menghentikan ucapan Sedih. Hening sekejap lalu Sedih melanjutkan obrolannya. “Selama ini aku berusaha sekuat tenaga untuk melawan perasaan ini. Sikap yang kubuat setenang dan sebiasa-biasa mungkin di setiap harinya tapi, kini aku lelah harus tetap tertawa melihat mereka yang semakin yakin. Aku letih harus berpura-pura bahagia mendengar mereka yang saling memuji. Kini aku menyerah, aku pasrah dengan perasaanku sendiri. Aku... menyerah..” Air mata tak mungkin absen, ia hadir temani haru dan sesaknya dada Sedih yang menggila itu.
“Aku akan melepasnya, benar-benar melepasnya. Selama ini aku terlalu egois dengan kemauan diri sendiri tanpa ada tindakan sama sekali. Benar saja, apa yang bisa kulakukan? Aku telah berjanji dan kewajibanku adalah menepatinya,” Sedih menggeleng lemah, “Dia sudah menjadi milik orang lain. Perempuan berhak mendapatkan Dia.”
Sedih tak berhenti mengelus Si Malas. Tangisnya juga tak berhenti membanjiri pelupuk mata. Dalam hati, Sedih hanya mampu meratapi. Sedih memantapkan perasaannya untuk merelakan semuanya pada kenyataan. Sedih berjanji agar meluruhkan rasa cinta pada Dia secepat mungkin karena Perempuan lebih mencintai Dia dibanding dirinya. Sedih yakin, yakin sekali. Akan butuh waktu banyak untuk mengrealisasikan keinginan barunya itu tapi Sedih takkan gentar ia akan melakukannya.
“Ikhlas! Aku harus ikhlas,” ucap Sedih setengah bergumam.
Si Malas dan Sedih menghabiskan waktu berjam-jam berdua. Kucing itu menggeliat beberapa kali dan meringkuk kembali ke pelukan majikannya. Sedih merasa ditemani, ia tak sendiri di kala bersedih. Ia mensyukuri keberadaan kucing gempal itu, mengamini kehangatan tubuhnya yang merambat ke sel-sel tubuh Sedih terutama ke dalam hatinya yang tadi terluka.
Waktu bergelayutan, suasana memeluk keduanya dengan haru dan pilu. Sedih merasa beban hatinya sedikit meringan. Si Malas lega melihat majikannya yang berhenti menangis. Mereka berdua saling berbagi dan menukar pikiran dalam bisu yang mengerti. 

Waktu Tak Lagi Memungkinkan

| Minggu, 16 Juni 2013 | |

Usahaku seakan sia-sia. Perjuanganku seakan terbuang percuma. Aku mulai menyerah pada keputusasaan. Waktu-waktu yang kulalui untuk memiliki hatimu berjalan tanpa hasil. Nihil.

Caraku untuk menyayangi mungkin tak cukup kuat membawamu padaku. Berbagai hal kulakukan demi meluluhkan pendirianmu untuk menolakku menjadi pendampingmu.  Aku rela menjadi apapun  yang kauinginkan. Sungguh, sesuatu apapun, demimu. Kau berarti besar untukku. Tak ada yang menjadi alasan mengapa aku harus secinta ini pada manusia seperti dirimu, bukankah “cinta tulus” itu memang tak butuh alasan?

Selamat pagi. Selamat siang. Selamat sore. Selamat malam. Aku selalu mengucapkan itu sepanjang waktu padamu. Ya, hanya padamu saja.

Kau memang tangguh. Kau tak mudah diruntuhkan kekuatannya. Sulit diubah perasaanya. Hatiku karam oleh kesakitan yang tiba-tiba meluluhlantakkan nurani. Tapi aku sama tangguhnya denganmu, aku cinta dan aku siap bersabar dalam waktu yang memungkinkan.

Kau boleh menganggapku keras kepala, kupikir juga begitu. Kau yang kuinginkan kedatangnya, kau yang kuharapkan perhatian, kau yang kumimpikan setiap malamnya. Oh, bohong jika aku tak pernah putus asa namun ini hati yang rapuh dengan kekukuhan yang maha hebat.

Nafasku menjadi sakit kala udara yang kuhirup terasa tak bernyawa. Aku harus berhenti, aku harus melawan hati ini. Perasaanku akan sia-sia, cintamu mungkin takkan ada untukku; aku menyerah. Inilah maksudku, waktu tak lagi memungkinkan.  

Cinta Pasti Pulang

| Sabtu, 15 Juni 2013 | |

"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_Plotpoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."






Cinta itu pergi. Cinta meninggalkan luka untuk saya. Cinta menaruh luka dalam hati saya.  Entah kapan ia akan kembali untuk mengambilnya. Tapi yang saya tahu, dia pasti pulang mengambil apa yang ia tinggalkan walau tidak dalam waktu dekat.

Dalam kardus itu harusnya berisi berdumel-dumel hadiah. Mantan pacar dan gebetan, mereka sebenarnya pernah memberi saya hadiah. Tapi sayangnya, saat itu saya hanya ingin menerima dan tidak benar-benar ingin menjaganya. Hadiah mereka saya taruh di suatu tempat dan setelah itu saya tidak pernah lagi memikirkan bagaimana nasib selanjutnya. Makanya, kebanyakan dari hadiah-hadiah itu hilang dan rusak. Tapi ada satu peninggalan mantan yang sangat berarti dan benar-benar saya pelihara, jaga dan lindungi dengan baik. Sebenarnya bukan hadiah yang sengaja ia berikan, hanya saja saya menganggap benda itu adalah cenderamata dari kencan pertama dan terakhir saya dengannya. Sepasang tiket nonton film Habibie Ainun.

Pendekatan yang memakan waktu banyak tidak menjamin hubungan bisa berjalan mulus. Buktinya, umur hubungan saya dengannya lebih singkat dibanding umur pendekatannya. Bayangkan saja, pendekatan yang nyaris menyentuh bulan ke-5 tapi hubungan pacaran malah kandas tak sampai satu bulan. Ajaib, bukan?

Dia lelaki kaku, pemalu dan lugu. Dahulu saya mengira begitu tapi setelah kejadian ini saya ubah penilaian itu menjadi satu kata: sadis.

Setelah sekian lama, akhirnya ia pun mengajak saya kencan. Nonton ke bioskop berdua dan saat itu kami sepakat memilih film Habibie Ainun. Dia terlihat baik-baik saja dan sama bahagianya dengan saya. Dia menyuruh saya menyimpan tiket itu, tentu saja saya melakukannya. 

Tiket itu terasa lebih berarti setelah tiga hari berlalu dari acara kencan kami, tanpa tedeng aling-aling dia memutuskan hubungan itu secara sepihak yang kontan membuat saya shock. Kenapa? Ada apa? Salah apa saya? Mengapa dia melakukan hal itu pada saya? Bagaimana bisa dia memutuskan saya dengan cara seperti itu?

Pertanyaan demi pertanyaan saya lempar kepadanya, tapi dia hanya berkata, “Saya yang salah, saya tahu kamu baik tapi apa yang terjadi terhadap hubungan kita sepenuhnya salah saya.”

Itu bukan penjelasan. Dia benar-benar tidak memberi petunjuk apa-apa. Sejak saat itu saya merasa dibodohi, disakiti, di sia-siakan, dijatuhkan, dibuang, dihancur dan dibumihanguskan. Perasaan saya mati seketika, hati itu terluka, berdarah, menangis tanpa henti sampai beberapa bulan selanjutnya. Pikiran dan tubuh saya lemas, berbulan-bulan menangisi kesadisannya tapi cinta tetaplah cinta. Sehelai tiket nonton itu menjadi teman setia di kala rindu bertamu ke dalam hati saya. Saya pandangi dengan mata basah oleh air mata, pikiran pun menerawang lalu mengorek-ngorek ingatan dimana betapa harunya saya dan dia duduk berdampingan sembari menonton dengan saksama kisah cinta Pak Habibie dan Bu Ainun itu. Jemarinya mendekap jemari saya di tengah-tengah film, saya ingat kejadian itu, ingat sekali.

Move on bukan sekadar berpindah hati. Tapi sebelum itu terjadi, saya harus berjuang menjinakkan luka ini. Saya tidak memaksa hati agar segera sembuh lalu kembali mencari cinta lain karena hal itu akan membuat hati saya benar-benar patah. Biar air mata ini, saya hapus sendiri. Biar rindu ini, saya rasakan sendiri. Dia mungkin takkan kembali tapi setidaknya dia akan menyesali perbuatannya suatu saat nanti.

Cinta pasti pulang membawa pergi luka ini.

Hujan Itu

| Minggu, 09 Juni 2013 | |

Siang itu mendung. Awan tebal nan hitam menutupi keseleruhan tubuh langit. Terang matahari seakan ragu mencium tanah bumi. Siang tak cantik, pikir seorang perempuan yang baru saja meninggalkan kampus. Pandangannya menengadah ke atas, nafas berat keluar dari paru-parunya menandakan rasa kecewa terhadap apa yang ia lihat di langit; tidak cerah. Nara terus berjalan meninggalkan kampus dan tidak memperdulikan hujan yang mulai turun membasahi bumi, juga membasahi kepala hingga kakinya.
Hujan semakin liar menghantam bumi dengan titik-titik airnya. Serbuan pasukan air menyerang apapun yang berada di bawah termasuk tubuh Nara. Gemuruh yang bergema tak pernah malu menunjukan ledakan-ledakan kepayahannya. Nara akhirnya menyerah, ia berhenti sejenak sembari matanya mencari-cari tempat untuk berteduh. Tak pikir panjang Nara berlari menuju sebuah toko kecil yang memang sudah lama tak di pakai pemiliknya. Ia kemudian menghampiri toko itu dan berteduh di depannya.
Selain Nara, ada beberapa orang lainnya yang berteduh disana. Bisa di tebak dari penampilannya mereka juga adalah seorang mahasiswa layaknya Nara. Nara hanya menatap sekilas wajah-wajah mereka dan merasa yakin tidak ada seorang pun yang ia kenaL.
Hujan tak kunjung habis. Nara masih mematung di depan toko tak terpakai itu. Tubuhnya sedikit kedinginan. Ia pun memeluk diri sendiri dengan kedua tangannya. Jeans belel Nara terlihat basah di bagian bawahnya akibat pantulan air dari atap toko yang jatuh ke tanah. Ia kemudian merapatkan kedua kakinya dan berharap hujan cepat mereda.
Seorang pria berlari dari arah yang tak di sadari Nara yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya. Pria itu memiliki tinggi yang mengagumkan. Pangkal kepala Nara kira-kira lebih rendah tiga  puluh centimeter dari pangkal kepala pria itu. Padahal tinggi tubuh Nara terbilang ideal, tapi bersebelahan dengan orang yang tingginya luar biasa membuat Nara merasa kecil dan tidak terlihat. Nara tidak memastikan wajah pria di sebelahnya itu, ia hanya memerhatikan tas yang dibawa pria itu yang cukup merepotkan. Satu tas selempang tersampir di bahu kanannya dan dua tas lagi di jinjingnya dengan kedua tangan.
Nara masih terpaku dengan tinggi pria itu, ia memandangnya tanpa berkedip untuk beberapa saat. Tidak di sangka pria itu tiba-tiba menoleh ke arah Nara, entah karena ia tahu bahwa seseorang sedang memerhatikannya atau memang ketidaksengajaan. Nara terkesiap, wajahnya langsung menunduk. Sedetik setelah itu Nara merasa ingatan-ingatan samar berkelebat di otaknya. Pria ini, oh iya pria yang pernah menolongnya saat Nara terjatuh dari motor di depan kampusnya tempo hari. Pipi Nara langsung memerah seperti buah tomat kala ia mengingat kejadian memalukan itu. Ia tak kuasa memandang kembali pria itu, ia melempar pandangan ke arah lain untuk sedikit menenangkan hatinya yang kelewat malu.
Pria itu terdiam. Ia sebenarnya tahu bahwa perempuan di sebelahnya itu adalah perempuan yang ia tolong. Ia ingin sekali menanyakan keadaan perempuan itu walaupun kejadiannya sudah beberapa minggu yang lalu namun kekhawatiran yang terus meminta jawaban yang selama ini membuatnya tidak bisa tenang. Kemungkinan luka-luka di lengan dan kakinya sudah mengering atau malah sudah sembuh namun tetap saja rasa ingin tahu selalu menguasai hatinya. Mulut pria itu semakin rapat dan membeku dalam dinginnya hujan. Ia tak kuasa, ia benar-benar tak berani.
Pria itu mengeluarkan kertas-kertas sketsa yang ia simpan di tas jinjingnya. Dia mengecek ulang kertas – kertas itu. Seperti perkiraannya, ada beberapa air hujan yang menembus tas jinjingnya dan mengenai beberapa sketsa miliknya. Ia sedikit kesal melihat sketsanya luntur diterpa air hujan.
Nara maupun Adrian bersikukuh saling membisu. Padahal ada kalimat yang ingin di ungkap namun tak ada satu pun dari mereka yang berani mengucap. Waktu terus berlalu dan lama kelamaan hujan merasa tak berguna lagi untuk mempertemukan mereka. Hujan pun mereda. Orang-orang disana mulai meninggalkan tempat itu. Nara dan pria itu masih disana, hujan sudah mengalah, entah apalagi yang mereka tunggu.
Nara tetap bungkam. Padahal saat kecelakaan itu ia tak sempat mengucap terimakasih pada pria itu. Tapi saat ini, mereka saling berdekatan tidak ada sedikitpun keberanian untuk berkata terimakasih. Hati Nara melompat-lompat tak menentu, yang awalnya merasa malu ketahuan memerhatikan si pria dan sekarang ia diam tak berbahasa atau pun bergerak.
Tak berbeda dengan si pria. Ia menelan ludah yang tak berkesudahan. Suaranya seolah hilang tertelan ludah-ludah yang sedari tadi menyesakkannya. Hatinya bergetar, keinginan untuk bertanya hanyalah harapan. Ia pun memasukkan sketsanya secara asal ke tas jinjingnya kemudian pergi meninggalkan Nara di depan toko. Pria itu berlari tanpa menoleh lagi ke arah Nara, sedikit rasa kecewa dan menyumpahi diri sendiri bergemuruh di hati. 
Dia berlalu, Nara menatap getir memandangi punggungnya yang semakin menjauh dan kini sesal menjadi teman baru bagi Nara.
Bodoh sekali aku ini.
Ia terus menerus memarahi keberanian yang tak datang tepat waktu. Ia mengulum sesal di setiap tarikan nafasnya. Setelah beberapa menit berlalu, ia pun berniat meninggalkan kenangan konyol tadi disana, di depan toko tak terpakai itu. Sebelum Nara pergi, matanya terkunci ke sebuah kertas yang tergeletak malang di bawah kakinya. Kertas itu persis seperti kertas yang dikeluarkan pria itu. Nara kemudian membungkukkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil kertas itu.
Nara membalikkan kertas itu. Ternyata disana ada gambar sketsa wajah seorang perempuan. Perempuan dengan mata yang indah dan sesungging senyum manis tergores halus di kertas itu. Perempuan berkerudung memandang lurus ke depan, aura wajahnya memiliki pengaruh yang menenangkan, Nara bisa merasakannya dari tatapan tak langsung sketsa yang dibuat pria itu.
Siapa perempuan itu sedikit mengganggu pikiran Nara. Ia hanya memastikan perempuan ini pasti bukan perempuan biasa, perempuan ini mungkin seseorang yang berarti bagi pria itu. Pandangan Nara melompat ke arah dimana pria itu berlari, Nara pikir ia pasti akan mencari sketsa ini. Tapi pria itu sudah pergi sedari tadi. Nara menatap lekat setiap detail goresan pensil yang dibuat, ia terkagum-kagum dengan sketsa itu. Di sebelah kanan bawah gambar itu tertulis sebuah nama, Adrian Ramadhan. Nara mengira itulah panggilan dari pria itu. Nara tersenyum tipis kemudian melipat pelan kertas itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia lalu pergi meninggalkan tempat itu, hujan sudah selesai, namun perasaan Nara belumlah selesai.
***
Setelah berbulan-bulan tak ada lagi kesempatan yang sama seperti waktu itu. Nara selalu berdiri di tempat yang sama dimana ia bertemu pria itu setiap hujan melanda cuaca. Lama semakin lama membuatnya putus asa dan berpikir tidak akan ada keadaan semanis itu. Nara tak pernah bertemu pria itu sama sekali. Ia melangkah gontai sembari memboyong rasa sesal yang selalu menggodannya setiap saat. 
Sore yang masih muda. Harusnya matahari masih bertengger, namun mendung di sore itu tak sanggup ditolak keberadaannya. Saat ia memaksa diri untuk segera pergi, toko tak terpakai itu yang beberapa meter jauhnya dari tempat Nara berdiri seperti sedang memanggilnya. Hujan mengguyur sedari tadi siang hingga sore yang tak juga mereda. Nara pun mengasihani rasa sesal yang menguasainya lalu berlari menerobos hujan menuju tempat yang mengenalkannya pada penyesalan.
Seperti biasa, Nara berdiri disana. Menunggu hujan berhenti, dan menunggu Adrian datang. Sekarang ia tak lagi memanggilnya dengan sebutan “pria itu”. Adrian, Nara selalu mengucapkannya berulang-ulang setiap kali ia berada di depan toko tersebut untuk berharap mendapatkan kesempatan seperti kala itu.
Waktu bergulir, menit ke menit layaknya tahun ke tahun. Nara tak ingin beranjak dari tempat itu walau berkali-kali ia di kecewakan karena Adrian tak kunjung datang. Nara memerhatian rintik-rintik air yang menerpa atap toko lalu jatuh ke tanah. Air itu seperti takkan pernah habis, rintik-rintiknya sangat cantik, begitu bening dan dingin. Nara terus menghibur diri. Ia menunggu dan menunggu.
Nara menyanderkan punggungnya ke dinding toko, melipat kedua tangan seperti biasanya. Orang-orang yang berteduh disana sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan seorang pria tinggi menjulang berlari menuju toko itu. Ia menutup kepalanya dengan sebuah jaket. Ia melangkah, menerobos tirai hujan dan berhadapan langsung dengan Nara.
Nara terkesiap. Hatinya meloncat-loncat tak karuan. Kesempatan yang ditunggu pun akhirnya datang. Nara bergetar hebat, bukan karena suhu hujan yang amat dingin melainkan karena Adrian benar-benar ada di depannya. Adrian kemudian bergeser ke sebelah Nara lalu berbalik dan bersender ke dinding toko seperti yang Nara lakukan.
Nara bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Adrian menggerak-gerakkan jaketnya yang basah, lalu memeluknya dengan kedua tangan. Kepala Nara berpikir keras untuk memulai percakapannya dengan Adrian. Ia sedang memilih kalimat yang benar dan tepat agar Adrian tidak salah paham padanya. Nara masih berdebat dengan hatinya dan Adrian tiba-tiba menoleh ke arah Nara.
“Hmm, luka kamu udah sembuh?”
Kerongkongan Nara tercekat. Ternyata Adrian yang memulainya. Nara pun menengadahkan leher agar penglihatannya mampu menggapai wajah Andrian.
“Apa?” Nara merasa bodoh mempertanyakan hal itu tapi benar saja ia tak mengerti apa yang sebenarnya Adrian bicarakan.
“Kamu bukannya yang jatuh dari motor tempo hari kan?”
Ingatan Nara jatuh ke peristiwa itu. “Oh, iya. Kamu yang nolongin aku ‘kan?”
Adrian tersenyum tipis, ia mengulang pertanyaannya. “Luka kamu udah sembuh?”
“Udah sembuh kok. Makasih, ya? Maaf, baru ngomong sekarang.”
“Ga usah sungkan. It’s OK!”
Nara melepaskan punggungnya dari dinding yang sedari tadi menjadi tumpuan. Ia kemudian merogoh tasnya lalu mengeluarkan secarik kertas.
“Hmm, ini punya kamu ‘kan?” Nara menyerahkan kertas itu ke arah Adrian.
Adrian terlihat bingung lalu mengambil dan membuka lipatan kertas itu. Ia sedikit kaget dengan apa yang ia lihat. “Oh, aku kira hilang. Makasih banyak...?” selama beberapa detik kalimat Adrian menggantung di udara.  “Nama kamu siapa?”
“Nara. Sama-sama, Adrian!”
“Kamu tahu nama aku?”
“Kan tertulis nama kamu di sketsa itu.”
Nara merasa lega atas apa yang ia ucapkan. Ia benar-benar senang bisa mengatakan hal yang benar pada Adrian. Hujan masih buas melanda cuaca tapi Nara untuk pertama kalinya merasa bersyukur karena hujan tak cepat mereda. Setidaknya bisa menahan mereka berdua untuk tetap berada disana. Adrian diam-diam juga merasakan apa yang dirasakan Nara. Ia senang bisa bertemu kembali dengan Nara tanpa memegang kekecewaan seperti siang itu.
Percakapan mereka semakin tak bisa di hentikan. Saling mencari tahu satu sama lain.
“Ini sketsa ibuku, bagaimana menurutmu?”
Nara senang Adrian mengungkap sendiri siapa perempuan yang ia gambar itu tanpa harus ia yang menanyakan lebih dulu.
“Cantik. Ibumu memiliki senyum yang ayu.”
“Kamu benar.” Adrian pun tersenyum.
Selama hujan, selama mereka saling bicara, selama itu pula mereka merasa begitu lengkap. Hujan memiliki andil yang besar atas perkenalan mereka. Nara dan Adrian menikmati guyuran hujan, semenikmatinya mereka terhadap keberadaan satu sama lain. Adrian merasa beruntung sketsa ibunya bisa terjatuh dan tertinggal. Karena Nara-lah yang menemukannya sehingga dengan begitu ada alasan-alasan lain untuk memperpanjang obrolan mereka.
Hujan itu mengiring. Hujan itu menaungi. Hujan itu menemani keduanya.

Teh Manis yang Menangis

| Jumat, 07 Juni 2013 | |


Gerimis. Titik-titik hujan meluncur lembut ke atap kantin kampus. Suasana menjadi lebih sejuk dan agaknya sepi karena kini waktu menjelang sore hari. Aku duduk tertegun di sudut ruangan. Mataku mencuri pandang ke setiap orang yang berkeliaran di kantin. Mencari-cari wajah seseorang yang sedang kurindui selama ini. Tapi pahitnya, dari sekian banyak orang yang berada di kantin tidak ada “dia” yang kumaksud.
              Segelas teh manis berdiri anggun di depanku. Tidak ada bulir-bulir air yang menyelimuti tubuh gelas ini, dikarenakan teh manis yang kupesan bukan teh manis dingin yang biasanya. Cuaca sore hari yang begitu mendung, cahayanya redup serta hujan kecil yang menambah keengananku memesan teh manis dingin. Kupeluk erat gelas itu dengan kedua tanganku. Teh manis hangat ini memancarkan panas yang lemah lembut ke setiap buku-buku jariku. Kuamati air kecokelatan itu dengan seksama yang menjatuhkan ingatanku yang semakin mendalam kepada seseorang yang kutunggui sedari tadi.
               “Kemana aja sih? Aku nyari-nyari juga.”
               Aku menatap kaget ke arah seseorang yang berdiri tegap di depan wajahku. Ada rasa tak nyaman menyeruak di dalam hati. Orang ini bukanlah orang yang aku harapkan kehadirannya. Orang ini adalah lelaki yang menjadi kekasihku selama tiga bulan terakhir ini. Lelaki baik hati dan sabar yang sayangnya belum bisa kuterima cintanya dengan sepenuh hati.
“Dari dua jam yang lalu aku disini kok. Maaf, aku ga ngasih tahu kamu. Hp aku ketinggalan."
Wajah Bara yang tadinya terlihat khawatir akhirnya bisa melembut setelah aku memintanya duduk. Tanpa basa-basi Bara menuruti kemauanku.
“Mau pesen minuman ga?” tanyaku.
Bara menggeleng. Bibirnya mengatup. Aku tahu dia sedikit kesal padaku.
“Maaf ya! Kamu marah?”
“Tami, tami ... Kebiasaan banget sih kamu tu. Ga pernah ngabarin apapun sama aku. Aku kan pacar kamu seenggaknya kasih aku kabar sedikit aja biar aku ga khawatir.” Mendengar Bara berkata begitu tanganku pun bergerak menyentuh tangan Bara. Dalam hati aku menyumpahi diri sendiri. Ini salahku, kesalahan yang membuat segalanya semakin rumit. Aku salah untuk tidak memberinya kabar dan salah untuk tidak mencintainya dengan benar.
“Iya, kan aku udah bilang hp-nya ketinggalan.”
Bara terdiam sejenak. Sebenarnya tidak hanya sekali ini saja aku tak memberinya kabar tapi hampir setiap hari walaupun handphone kubawa tetap tak membuatku ingin melakukan hal itu.
“Baiklah.” Ia balik menyentuh tanganku. Aku tersenyum pahit dan tak berani menatap kedua bola matanya. Yang kurasakan saat bersorotan langsung dengan mata Bara selalu ada rasa bersalah yang menohok hati. Aku merasa menjadi orang jahat yang tega melukai lelaki baik seperti Bara. Tapi hanya Bara-lah lelaki yang mampu memberikan cinta kasih, pernyataan dan pengakuan cinta padaku yang teramat tulus yang tak kudapatkan dari “dia” yang kurindukan.
Kulempar pandanganku ke pintu kantin yang terbuka lebar. Hujan masih mengguyur dengan ritmen yang tak berubah. Masih santai, alot dan pelan.
Hatiku tiba-tiba terguncang. Bergetar hebat. Ketika orang yang sebenarnya aku tunggu telah datang. Dia berdiri di mulut pintu dengan tangan menggengam tas di kepalanya. Kukira ia telah menerobos hujan untuk sampai kesini. Bajunya terlihat agak basah, rambutnya pun tak ayal menjadi tempat pendaratan sang air hujan.
Aku memandangnya tak tenang. Bara masih menggenggam tanganku. Ingin rasanya sesegera mungkin melepaskan tangan Bara dari tanganku tapi semuanya terlambat. Dia sudah melihatnya. Dia langsung menatapku tajam dengan ekspresi yang tak mampu kubaca. Dia tersenyum sinis padaku, lalu berbalik kemudian berlari menerobos hujan lagi dan dia tak pernah kembali ke tempat ini. Aku hanya mampu menonton kejadian barusan tanpa bisa berbicara apapun. Hatiku campur aduk. Ingin sekali aku mengerjarnya namun nyaliku tak cukup besar untuk bisa melakukannya. Disini, disampingku ada Bara yang tersenyum penuh perhatian. Aku tak bisa, aku tak bisa mengejarnya, aku tak bisa mengerjar Radit.
Perasaaku bergumpal-gumpal. Gerimis ini terasa sadis. Bara masih bersamaku. Radit berlari tanpa berhenti.
***
Malam yang manja. Aku berdiri di teras rumah sembari memandang gelapnya langit. Angin berhembus sempoyangan dan lampu-lampu di sekitar rumahku lembut menyala. Udara kusesap sekuat-kuatnya hingga memenuhi paru-paru lalu kulepas lega lagi.
Hatiku kian kelu. Perasaanku tak menentu. Pikiranku semerawut. Ada Bara dan ada Radit di kepalaku ini. Dadaku terasa sesak jika kuingat keduanya. Kupangku segelas teh manis hangat yang sedari tadi menemaniku. Merasakan kembali hangatnya air teh manis diserap kulitku tanpa ampun. Sedikit demi sedikit kuminum dengan pelan dan tanpa sadar kenangan-kenangan bersama Radit berseliweran menguasai pikiran.
Radit adalah temanku. Empat belas tahun berlalu setelah perkenalanku dengannya di waktu Sekolah Dasar menjadi awal pertemanan kami. Radit bukan sekadar teman, tapi ia seperti bagian dalam diriku yang selama ini hilang dan ia melengkapi itu. Bersamanya aku jadi tahu apa itu “utuh” karena dengan bersamanya pula aku mengerti bahwa di dalam hidup ada hal-hal penting yang harus dipertahankan.
Satu pemahaman juga satu hati. Yang kurasakan adalah itu. Tapi entah sejak kapan ini semua dimulai aku pun tak menyadari. Saat aku merasa takut kehilangan Radit, mengakhawatirkanya dengan berlebihan dan menyemburui tiap-tiap perempuan yang dekat dengannya. Ini konyol, ya memang kupikir begitu pada awalnya tapi lama semakin lama aku sadar satu hal. Aku sadar tak pernah ada seorang pun yang kuanggap istimewa selain daripada Radit. Aku menunggunya selama bertahun-tahun yang kukira dia mungkin memiliki perasaan yang sama sepertiku namun ternyata waktu yang kutunggu itu tak kunjung datang.
Pandanganku buyar seketika. Mataku terkunci di satu titik. Radit berdiri di balik pagar rumahku. Ia melambaikan tangan sembari tersenyum lebar. Gelas yang kupangku ini nyaris saja kulepaskan. Radit datang, ia benar-benar datang.
Wajahku masih menatapnya tak percaya. Radit telah memasuki pagar dan menuju teras rumahku. Senyumnya melebar, senyum yang sangat kuhafal dan tanpa sadar bibirku mengembang untuk membalas senyumannya.
“Udah lama aku ga kesini.” Radit membuka cerita. Ia duduk di kursi kayu yang tepat berada di samping kananku.
“Tepatnya udah tiga bulan yang lalu. Kamu kemana aja sih?” Aku segera duduk di kursi sebelahnya.
“Aku ga kemana-kemana. Cuma lagi banyak tugas juga dan lagi sibuk ...”
Radit menggantungkan kalimatnya. Aku tak mengerti maksudnya. Mataku menajam sengaja kucondongkan badanku ke arah Radit. “Sibuk apaan, Dit? Sombong bener ga bilang-bilang sama aku.”
Radit menelan ludah. Tenggoraknnya seolah tersedak oleh segumpal pasir. Suara parau Radit semakin membuatku penasaran setengah mati.
“Sebenernya aku kesini mau ngasih kamu kabar keberangakatan aku ke kamu.”
Tatapanku memicing. “Keberangkatan? Maksud kamu apa, Radit?”
Radit merubah posisi tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku sembari menggenggam kedua tanganku dengan erat. “Ini rencana aku beberapa bulan belakangan ini. Aku mau pindah ke Bali, Tam!”
“APA?” kulepaskan tangan Radit. Tanpa sadar hatiku naik pitam.
“Tami, maafin aku baru ngasih tahu kamu sekarang. Aku...”
Kusergah mantap, “Radit, kenapa setiba-tiba ini? Kamu mau ninggalin aku gitu aja?”
“Bukan gitu, Tam! Aku udah rencanain semua ini dengan mateng. Dari dulu aku pengen banget ngasih tahu kamu tapi aku rasa kamu terlalu sibuk buat ngedengerin cerita aku.”

“Sibuk? Sibuk apa aku?”
“Kupikir kamu terlalu sibuk pacaran sama Bara.” Aneh sekali intonasi Radit saat menyebut nama Bara. Seperti ada amarah yang terbenam dan hal-hal lain yang tak kuketahui.
“Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Aku kira itu bukan masalah buat kita.”
Wajah Radit memerah. Aku tahu, dia sedang marah. Tapi kenapa dia harus semarah itu? Bukankah Radit tak peduli dengan hubunganku dan Bara?
“Ya, harusnya semua itu bukan masalah. Tapi kurasa kita sudah berubah. Kamu bahkan tak punya waktu buatku. Aku ini apa? Masihkah kamu anggap aku ini temanmu?”
Aku tak percaya Radit bisa berkata seperti itu. Dipelupuk mataku di penuhi bulir-bulir air mata yang siap membasahi pipi.
“Tak pantas kamu bertanya kaya gitu sama aku. Kamu jelas-jelas teman aku.”
Radit membisu seribu bahasa. Dia membenturkan punggungnya ke kursi. Sekilas ia menatapku dan menghembus pasrah udara dalam paru-parunya. Ia berdiri dan menghampiriku kemudian mengangkat wajahku. Air mata yang membanjiri pipiku pun hilang seketika setelah Radit menyekanya. Radit mendekapku erat. Sangat erat.
“Maafin aku, Tam!”
Mulutku tak mampu berbicara. Berada dalam dekapannya adalah hal terindah yang pernah kurasakan. Bisa merasakan bau tubuh dan hembusan nafas yang sangat kurindui selama ini.
Radit melepaskan pelukannya dengan perlahan dan tangannya merengkuh kedua pundakku dengan lembut. Wajahnya terlihat sangat serius tapi penuh berbeban. “Aku harus pergi. Aku tak ingin berjanji bisa kembali tapi aku pasti merindukanmu. Baik-baiklah disini. Aku harus merasa tenang bisa meninggalkanmu bersama orang yang tepat. Kuyakin Bara bisa menjagamu dengan baik.”
Nafas tersekat. Oksigen seolah enggan membantuku untuk bertahan. “Radit...” ucapku pelan. Namun ia telah berlalu. Bukan menerobos hujan lagi melainkan menerobos pekat malam. Dia menjauh dan menghilang di makan jarak.
Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku hancur tak bersisa. Aku seakan terjatuh lalu terjerebab dalam kesakitan yang amat dalam. Radit telah pergi, benar-benar meninggalkanku tanpa kepastian. Ini mimpi, kuyakin diri sebisanya tapi nyatanya inilah yang pasti.
Aku memangku gelas berisi setengah air teh yang tak lagi hangat itu. Ingatanku melayang antara kenangan-kenangan bersama Radit, air teh manis yang menjadi minuman kesukaan kami, hubunganku dengan Bara, dan Radit yang telah pergi. Aku menatap gelas itu dengan nanar. Bara, keberadaan hubungan itu hanya memperburuk segalanya. Aku kembali menangis dan bersedih hingga pagi menjelang. Tanpa berhenti di malam-malam selanjutnya.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -