Cinta Pasti Pulang
|
Sabtu, 15 Juni 2013
|
[Kompetisi Menulis] Cinta Dalam Kardus
|
"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_Plotpoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."
Cinta itu pergi. Cinta meninggalkan luka untuk saya. Cinta
menaruh luka dalam hati saya. Entah
kapan ia akan kembali untuk mengambilnya. Tapi yang saya tahu, dia pasti pulang
mengambil apa yang ia tinggalkan walau tidak dalam waktu dekat.
Dalam kardus itu harusnya berisi berdumel-dumel hadiah.
Mantan pacar dan gebetan, mereka sebenarnya pernah memberi saya hadiah. Tapi
sayangnya, saat itu saya hanya ingin menerima dan tidak benar-benar ingin
menjaganya. Hadiah mereka saya taruh di suatu tempat dan setelah itu saya tidak
pernah lagi memikirkan bagaimana nasib selanjutnya. Makanya, kebanyakan dari hadiah-hadiah
itu hilang dan rusak. Tapi ada satu peninggalan mantan yang sangat berarti dan
benar-benar saya pelihara, jaga dan lindungi dengan baik. Sebenarnya bukan
hadiah yang sengaja ia berikan, hanya saja saya menganggap benda itu adalah
cenderamata dari kencan pertama dan terakhir saya dengannya. Sepasang tiket
nonton film Habibie Ainun.
Pendekatan yang memakan waktu banyak tidak menjamin hubungan
bisa berjalan mulus. Buktinya, umur hubungan saya dengannya lebih singkat
dibanding umur pendekatannya. Bayangkan saja, pendekatan yang nyaris menyentuh
bulan ke-5 tapi hubungan pacaran malah kandas tak sampai satu bulan. Ajaib,
bukan?
Dia lelaki kaku, pemalu dan lugu. Dahulu saya mengira begitu tapi setelah kejadian ini saya ubah
penilaian itu menjadi satu kata: sadis.
Setelah sekian lama, akhirnya ia pun mengajak saya kencan. Nonton
ke bioskop berdua dan saat itu kami sepakat memilih film Habibie Ainun. Dia
terlihat baik-baik saja dan sama bahagianya dengan saya. Dia menyuruh saya
menyimpan tiket itu, tentu saja saya melakukannya.
Tiket itu terasa lebih berarti setelah tiga hari berlalu dari
acara kencan kami, tanpa tedeng aling-aling dia memutuskan hubungan itu secara
sepihak yang kontan membuat saya shock.
Kenapa? Ada apa? Salah apa saya? Mengapa dia melakukan hal itu pada saya? Bagaimana
bisa dia memutuskan saya dengan cara seperti itu?
Pertanyaan demi pertanyaan saya lempar kepadanya, tapi dia
hanya berkata, “Saya yang salah, saya tahu kamu baik tapi apa yang terjadi
terhadap hubungan kita sepenuhnya salah saya.”
Itu bukan penjelasan. Dia benar-benar tidak memberi petunjuk
apa-apa. Sejak saat itu saya merasa dibodohi, disakiti, di sia-siakan,
dijatuhkan, dibuang, dihancur dan dibumihanguskan. Perasaan saya mati seketika,
hati itu terluka, berdarah, menangis tanpa henti sampai beberapa bulan
selanjutnya. Pikiran dan tubuh saya lemas, berbulan-bulan menangisi
kesadisannya tapi cinta tetaplah cinta. Sehelai tiket nonton itu menjadi teman
setia di kala rindu bertamu ke dalam hati saya. Saya pandangi dengan mata basah
oleh air mata, pikiran pun menerawang lalu mengorek-ngorek ingatan dimana
betapa harunya saya dan dia duduk berdampingan sembari menonton dengan saksama
kisah cinta Pak Habibie dan Bu Ainun itu. Jemarinya mendekap jemari saya di
tengah-tengah film, saya ingat kejadian itu, ingat sekali.
Move on bukan
sekadar berpindah hati. Tapi sebelum itu terjadi, saya harus berjuang
menjinakkan luka ini. Saya tidak memaksa hati agar segera sembuh lalu kembali
mencari cinta lain karena hal itu akan membuat hati saya benar-benar patah.
Biar air mata ini, saya hapus sendiri. Biar rindu ini, saya rasakan sendiri.
Dia mungkin takkan kembali tapi setidaknya dia akan menyesali perbuatannya
suatu saat nanti.
Cinta pasti pulang membawa pergi luka ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar