Cerita Sedih Si Malas
|
Minggu, 23 Juni 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Sedih pulang membawa seonggok
perasaan. Sedih berlari, tak sabar ingin menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas
kasur. Knop pintu kamarnya menjadi pelampiasan pertama Sedih; ditekan, didorong
dan dibanting tanpa belas kasihan. Hingga timbul bunyi nyaring dan keras
memekak telinga tapi Sedih seolah tak peduli dan masa bodoh dengan apa yang ia
lakukan barusan. Sedih menghamburkan perasaan, tubuhnya dan beban hati yang
selama ini menjadi bunga tidurnya dalam malam yang tak pernah lupa mengikutsertakan
Sedih ke sebuah pagelaran mimpi yang teramat kelam. Sedih tidak berusaha
sedikit pun untuk menahan air mata yang terus menyembul dari pelupuk matanya. Pasrah,
Sedih hanya dimampukan untuk menyerahkan kekecewaan batinnya dalam bulir-bulir
air mata. Tidak ada lagi yang bisa Sedih tahan, tidak ada lagi hal yang bisa
membuatnya kuat, hatinya rapuh, perasaannya melepuh.
Si
Malas, kucing putih berbulu lebat itu terkaget-kaget, kelopak matanya sontak
terbelalak ke arah Sedih mendaratkan tubuhnya. Si Malas yang meringkuk dalam
balut kehangatan sebuah sofa di sudut ruang pun menatap Sedih dengan bingung.
Mulutnya terbuka lebar, tubuhnya merenggang, matanya yang terkantuk-kantuk itu
tidak lagi menyelubungi bulu-bulu Si Malas seperti beberapa detik yang lalu. Sedih
menangis sesenggukkan, Si Malas masih sibuk mengumpulkan nyawa-nyawanya yang
tadi sempat berhamburan. Tubuh Si Malas bertahan memanjang, walau dalam keadaan
selonjoran kucing berhidung pesek itu melempar tatapan tajam pada majikannya.
Mata hijaunya seolah berusaha keras mencari tahu gerangan apa yang terjadi.
Beberapa
saat pun berlalu. Sedih membenamkan kepalanya ke bantal, tubuhnya meringkuk di
atas kasur dan air matanya tak pernah berhenti sedari tadi. Si Malas khawatir,
“meongan”-nya tak sekali pun digubris oleh Sedih. Erangan-erangan Si Malas
diabaikan begitu saja, Sedih hanya fokus pada dirinya sendiri.
Si
Malas memutuskan merubah posisi tubuh, ia memaksa bulu-bulunya untuk mengikuti
intruksi. Dengan pantat masih menempel di sofa, setengah berdiri Si Malas
sempat-sempatnya menguap besar. Gigi runcing, kerongkongan yang dalam menjadi
pemandangan untuk beberapa saat. Kemudian ia menggerakkan kakinya, berlari
dengan semangat, meloncat ke atas permukaan kasur lalu menghampiri majikan
kesayangannya itu. Pandangannya menerawang, erangan Si Malas bergaung pelan seakan
ingin memberitahu kepada Sedih bahwasanya ia berada disana untuk menemaninya.
Sedih masih
bertahan memeluk tangis, ia tak langsung menyadari keberadaan kucing peliharaannya
itu. Ia terus menangis, hatinya tak bisa diam, mulutnya tetap mengerang dan
bergumam sesuatu yang tak dapat didengar jelas. Setelah kesekian kalinya, Si
Malas merasa meongan-nya tak berpengaruh lagi ia pun menyundul halus kepalanya
ke tubuh Sedih. Sedih terhenyak lalu mengangkat wajahnya dari bantal dan
menarik tatapannya ke sosok kucing gempal itu.
Pandangan
Sedih berangsur melembut, “Ah kamu! Kamu khawatir sama aku? I’m ok, honey!”
Suaranya
lirih lebih terdengar palsu bahkan Sedih pun tidak percaya dengan apa yang ia
ucapkan apalagi Si Malas. “Aku baik-baik saja. Sungguh, aku akan baik-baik
saja.”
Si
Malas mengeong. Sedih tak sedang berbicara pada kucing itu melainkan ia
berbicara pada dirinya sendiri. Air matanya merosot lebih banyak tapi mulutnya
terus mengatakan hal yang sama. Hati dan perasaannya saling berlomba ingin
memenangkan kejuaraan kedukaan batin Sedih yang carut-marut. Ia tahu, ia paham,
ia bersikeras meyakinkan dirinya dan kucing yang kini meringkuk di sampingnya
untuk memercayai kebohongan itu. Sedih tidak dalam keadaan baik, fisiknya
lemas, dan hatinya lunglai.
Tangan
Sedih setengah merentang, jemarinya menggapai bulu-bulu halus kucing pemalas itu
lalu mengelus-ngelusnya. Air mata Sedih mulai berhenti dan agak mengering. Si
Malas merasa nyaman karena mendapat sentuhan lembut, perhatian majikannya sedikit
teralih ke kucing itu. Hela demi hela nafas dihembuskan oleh Sedih dengan berat.
Pikirannya berhamburan, terngiang-ngiang kejadian tadi yang meremukkan pertahanannya
untuk merelakan seseorang.
Ikhlaslah! Ikhlaslah! gumamnya dalam hati. Siapapun orangnya, manusia
semahir bagaimana pun cara bersandiwaranya takkan ada yang sanggup membohongi
perasaan sendiri. Tidak akan ada.
Sedih
menarik oksigen sebanyak-banyaknya dari udara lalu ia hembuskan dengan tenang.
Ia ingin mengatakan sesuatu, ia ingin mengungkap sesuatu pada seseorang yang
bisa ia percaya setidaknya untuk saat itu. Matanya bergerak lemah, sosok kucing
pemalas yang hanya bergerak kala ada makanan saja adalah solusi yang
memungkinkan. Si Malas menghampirinya, memasrahkan kelembutan, kehalusan dan kehangatan
tubuhnya kepada Sedih menjadi tanda bahwa kucing itu memang ingin dilibatkan
dalam persoalan hati majikannya itu. Ia siap mempergunakan kedua telingannya
yang lebar dan runcing itu untuk mendengar apapun keluh kesah Sedih. Sedih
sekilas tersenyum, kucing itu semakin mendekatkan bulu-bulunya ke tubuh Sedih,
ekor Si Malas menari-nari kesana-kemari seakan-akan mendesak Sedih agar segera
bicara.
“Aku...
awalnya aku merasa baik-baik saja. Dia adalah temanku. Perempuan juga teman
baikku,” Sedih diam sejenak. “Perempuan menyukai Dia dengan segenap hatinya, dan
aku telah berjanji pada Perempuan untuk mempersatukan mereka. Lama semakin
lama, hatiku mulai berubah. Sekarang, detik ini, aku menyayangi Dia. Sejak aku
dan Dia dekat, sejak aku berniat menjadi alat penghubung Perempuan dan Dia, aku
malah terperosok jatuh ke dalam hati Dia, janjiku pada Perempuan menjadi
bumerangnya...”
Erangan Si Malas menghentikan ucapan Sedih. Hening sekejap lalu Sedih melanjutkan obrolannya. “Selama ini aku berusaha sekuat tenaga untuk melawan perasaan ini. Sikap yang kubuat setenang dan sebiasa-biasa mungkin di setiap harinya tapi, kini aku lelah harus tetap tertawa melihat mereka yang semakin yakin. Aku letih harus berpura-pura bahagia mendengar mereka yang saling memuji. Kini aku menyerah, aku pasrah dengan perasaanku sendiri. Aku... menyerah..” Air mata tak mungkin absen, ia hadir temani haru dan sesaknya dada Sedih yang menggila itu.
Erangan Si Malas menghentikan ucapan Sedih. Hening sekejap lalu Sedih melanjutkan obrolannya. “Selama ini aku berusaha sekuat tenaga untuk melawan perasaan ini. Sikap yang kubuat setenang dan sebiasa-biasa mungkin di setiap harinya tapi, kini aku lelah harus tetap tertawa melihat mereka yang semakin yakin. Aku letih harus berpura-pura bahagia mendengar mereka yang saling memuji. Kini aku menyerah, aku pasrah dengan perasaanku sendiri. Aku... menyerah..” Air mata tak mungkin absen, ia hadir temani haru dan sesaknya dada Sedih yang menggila itu.
“Aku
akan melepasnya, benar-benar melepasnya. Selama ini aku terlalu egois dengan
kemauan diri sendiri tanpa ada tindakan sama sekali. Benar saja, apa yang bisa
kulakukan? Aku telah berjanji dan kewajibanku adalah menepatinya,” Sedih menggeleng
lemah, “Dia sudah menjadi milik orang lain. Perempuan berhak mendapatkan Dia.”
Sedih
tak berhenti mengelus Si Malas. Tangisnya juga tak berhenti membanjiri pelupuk
mata. Dalam hati, Sedih hanya mampu meratapi. Sedih memantapkan perasaannya
untuk merelakan semuanya pada kenyataan. Sedih berjanji agar meluruhkan rasa
cinta pada Dia secepat mungkin karena Perempuan lebih mencintai Dia dibanding
dirinya. Sedih yakin, yakin sekali. Akan butuh waktu banyak untuk
mengrealisasikan keinginan barunya itu tapi Sedih takkan gentar ia akan
melakukannya.
“Ikhlas!
Aku harus ikhlas,” ucap Sedih setengah bergumam.
Si
Malas dan Sedih menghabiskan waktu berjam-jam berdua. Kucing itu menggeliat
beberapa kali dan meringkuk kembali ke pelukan majikannya. Sedih merasa
ditemani, ia tak sendiri di kala bersedih. Ia mensyukuri keberadaan kucing gempal
itu, mengamini kehangatan tubuhnya yang merambat ke sel-sel tubuh Sedih
terutama ke dalam hatinya yang tadi terluka.
Waktu
bergelayutan, suasana memeluk keduanya dengan haru dan pilu. Sedih merasa beban
hatinya sedikit meringan. Si Malas lega melihat majikannya yang berhenti
menangis. Mereka berdua saling berbagi dan menukar pikiran dalam bisu yang
mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar