Cinta Butuh Waktu

| Rabu, 05 Juni 2013 | , |


Matahari berteriak. Panasnya menusuk-nusuk kulit dengan kejam. Suhu kali ini seakan-akan sedang memarahiku. Udara terbakar bersama mendidihnya suasana. Aku melangkah limbung menyusuri jalan menuju gerbang kampus. Pohon-pohon rindang di sisi kananku kepayahan melindungiku dari sorotan matahari. Kufokuskan mata ke depan dan bergerak cepat meninggalkan wilayah kampus.
Langkahku baru saja menggapai mulut gerbang tiba-tiba seseorang memanggil namaku, “Dira!”
Kucari si punya suara. Leherku berputar sedikit ke sebelah kanan untuk memastikan keberadaannya dan ternyata yang bisa kudapati dari penglihatanku adalah lelaki itu. Dia berdiri di samping gerbang dan melempar senyum padaku. Dia menatapku lembut sembari membetulkan letak tas yang tersampir di bahunya. Kuberjalan mendekati lelaki itu. Ada perasaan ragu yang menyeruak ke dalam hati.
Jarak pandangku semakin dekat ketika ia juga melangkah menghampiriku. Wajah lelaki itu sungguh menarik. Rambut pelontos dan tinggi badan yang menjulang tak merubah kharisma yang ia miliki.
“Baru pulang ngampus, Dir?”
Dengan susah payah kutengadahkan kepalaku agar mampu memandangi wajahnya, “Iya.”
“Kok sendirian?” ucapnya sembari memastikan tidak ada seorang pun bersamaku.
“Iya nih. Ada apa, Raka?”
Raka terdiam. Ia menunduk sejenak lalu kembali memandang wajahku. Keningku mengerut karena pertanyaanku tak kunjung ia jawab. Raka mengigiti bibir bawahnya dan terus menerus membetulkan letak tas gandongnya yang sama sekali tidak mengganggu. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih tepatnya, sedang berdebat dengan diri sendiri.
“Raka....,” kuulangi sampai dua kali untuk mendapatkan penjelasannya.
“Aku... Aku...”
“Iya, kamu kenapa? Ada apa, Ka?”
Ia menarik nafas panjang lalu berkata, “Kamu masih inget kan omonganku yang semalem?”
Aku mengangguk pelan. Jelas saja aku masih ingat. “Aku suka sama kamu. Itulah inti dari teleponku semalem itu. Dan sekarang aku pengen tahu jawaban kamu.”
Deg. Udara semakin memanas. Dadaku kembang kempis. Sekonyong-konyong panas matahari semakin membuat segalanya dramatis. Hatiku bergetar.
“Oh itu, sebenarnya aku juga masing bingung mau jawab apa. Aku masih butuh waktu.”
Aku dan Raka baru benar-benar saling mengenal satu minggu yang lalu. Walau ya, sudah satu tahun belakangan ini aku mengenal Raka tapi itu pun hanya sebatas teman biasa. Menurutku satu minggu itu waktu yang masih muda untuk memastikan perasaan. Sungguh, aku belum merasa yakin untuk menerima atau menolak Raka.
Raka tersenyum tipis. Kuamati pergerakan air mukanya. Tidak ada yang bisa kusimpulkan dari apa yang bisa kulihat. Bola matanya hitam kelam, baru kali ini aku menatap mata Raka sedalam ini.
Suasana kampus memang agak ramai. Maklum, jam-jamnya kelas bubar. Orang-orang yang berlalu lalang pun setidaknya memandangi wajah kami dengan penuh tanda tanya. Beberapa orang malah tak segan menatap tajam ke arahku. Memang sedikit membuatku tak nyaman tapi aku tak ingin memperdulikan hal itu.
“Sebenarnya aku juga sadar, kamu ga akan secepat itu percaya sama aku. Tapi, aku mesti memastikannya secara langsung sama kamu.”
“Kita kenal udah lama tapi ‘kan deketnya baru-baru ini. Ya, aku cuma minta waktu aja biar kita saling yakin.” 
“Aku ngerti kok. Aku terlalu cepet ngungkapin semuanya. Seharusnya aku harus lebih sabar lagi.”
Kini akulah yang tak mampu berbicara. Mulutku terkunci. Bingung, bagaimana aku menanggapi perkataan Raka. Yang menjadi nilai lebih dari seorang Raka adalah ia telah mencari tahu semua tentang aku. Dari mulai tempat tinggal, hari ulang tahun, nama orang tua, warna kesukaan, hobi, kebiasaan, siapa-siapa yang pernah dekatku hingga nama-nama kucing peliharaanku. Bisakah kau percaya? Entah dari mana ia dapatkan informasi-informasi itu.Dia tidak dengan cepat bisa mengumpulkan informasi sebanyak itu, aku yakin. Kemungkinan terbesarnya adalah ia telah menyukaiku cukup lama lantas Raka bisa seniat itu mencari tahu segalanya.
Ini membingungkan. Pernyataan cinta yang terlalu dini. Tapi keputusanku telah bulat aku dan Raka harus mengenal proses pendekatan. Itu saja syaratnya untuk meyakinkan perasaan satu sama lain.
“Aku pasti akan memberikanmu waktu. Apapun jawabannya kelak aku terima.”
Perkataannya barusan membuatku lega. Sebenarnya ada rasa ketakutan jika Raka tak ingin menunggu lama atas jawabanku. Benar saja, aku khawatir dia akan segera berpaling ke perempuan lain sebelum aku menegaskan perasaanku. Tapi ini sungguh melegakan.
“Baiklah, kamu sepertinya mengerti keinginanku.”
“Tentu saja, Dira. Perasaan itu ga mudah di paksa dan kadangkala hal-hal tak terduga bisa datang dengan sendirinya.”
Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumku dengan cepat.
“Raka, aku harus pulang.”
“Oh iya. Mau aku antar?”
“Bukannya kamu ada jadwal kuliah sekarang?”
Air muka Raka berubah. Ia menarik lengannya sejajar dengan dada dan mengamati angka-angka di jam tangannya.
“Dira, kayaknya aku keasyikan ngobrol sama kamu. Aku udah telat masuk nih, ga apa-apa aku tinggalin?”
Aku tertawa geli melihat ekspresi Raka. “Ga apa-apa kok. Ya udah, cepetan masuk kelas!”
Raka pun memegang bahuku lembut. “Aku pergi dulu, Dira. Maaf ya? Sampai jumpa lagi.”
Ia melewatiku kemudian memasuki gerbang kampus. Setelah beberapa detik Raka memanggil namaku dan aku pun menoleh. Raka melambaikan tangannya lalu menghilang ke dalam mulut koridor.
Perasaan yang benar-benar lega. Tenang rasanya Raka mau menunggu sampai aku bisa yakin terhadapnya. Walau sebenarnya di hatiku telah bersemayam rasa cinta padanya tapi aku tak ingin gegabah memutuskan hal itu dengan waktu secepat ini. Aku percaya jika Raka sabar menunggu itu berarti dia benar-benar mencintaiku.
Kusisir pandangan. Masih dalam keadaan ramai aku pun berjalan meninggalkan kampus tanpa menyisakan keragu-raguan lagi. Tidak untuk Raka, tidak untuk apapun. Panas yang menyengat ini seolah-olah seketika berubah lembut mengusap kulit. Tanpa sungkan kuterobos sinar matahari dan berlalu pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -