Teh Manis yang Menangis
|
Jumat, 07 Juni 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Gerimis. Titik-titik hujan meluncur lembut ke
atap kantin kampus. Suasana menjadi lebih sejuk dan agaknya sepi karena kini
waktu menjelang sore hari. Aku duduk tertegun di sudut ruangan. Mataku mencuri
pandang ke setiap orang yang berkeliaran di kantin. Mencari-cari wajah
seseorang yang sedang kurindui selama ini. Tapi pahitnya, dari sekian banyak
orang yang berada di kantin tidak ada “dia” yang kumaksud.
Segelas teh manis berdiri anggun di depanku.
Tidak ada bulir-bulir air yang menyelimuti tubuh gelas ini, dikarenakan teh
manis yang kupesan bukan teh manis dingin yang biasanya. Cuaca sore hari yang
begitu mendung, cahayanya redup serta hujan kecil yang menambah keengananku
memesan teh manis dingin. Kupeluk erat gelas itu dengan kedua tanganku. Teh
manis hangat ini memancarkan panas yang lemah lembut ke setiap buku-buku
jariku. Kuamati air kecokelatan itu dengan seksama yang menjatuhkan ingatanku
yang semakin mendalam kepada seseorang yang kutunggui sedari tadi.
“Kemana aja sih? Aku nyari-nyari juga.”
Aku menatap
kaget ke arah seseorang yang berdiri tegap di depan wajahku. Ada rasa tak
nyaman menyeruak di dalam hati. Orang ini bukanlah orang yang aku harapkan
kehadirannya. Orang ini adalah lelaki yang menjadi kekasihku selama tiga bulan
terakhir ini. Lelaki baik hati dan sabar yang sayangnya belum bisa kuterima
cintanya dengan sepenuh hati.
“Dari dua jam yang lalu aku
disini kok. Maaf, aku ga ngasih tahu kamu. Hp aku ketinggalan."
Wajah Bara yang tadinya terlihat khawatir
akhirnya bisa melembut setelah aku memintanya duduk. Tanpa basa-basi Bara
menuruti kemauanku.
“Mau pesen minuman ga?” tanyaku.
Bara menggeleng. Bibirnya mengatup. Aku tahu dia
sedikit kesal padaku.
“Maaf ya! Kamu marah?”
“Tami, tami ... Kebiasaan banget sih kamu tu. Ga
pernah ngabarin apapun sama aku. Aku kan pacar kamu seenggaknya kasih aku kabar
sedikit aja biar aku ga khawatir.” Mendengar Bara berkata begitu tanganku pun
bergerak menyentuh tangan Bara. Dalam hati aku menyumpahi diri sendiri. Ini
salahku, kesalahan yang membuat segalanya semakin rumit. Aku salah untuk tidak
memberinya kabar dan salah untuk tidak mencintainya dengan benar.
“Iya, kan aku udah bilang hp-nya ketinggalan.”
Bara terdiam
sejenak. Sebenarnya tidak hanya sekali ini saja aku tak memberinya kabar tapi
hampir setiap hari walaupun handphone
kubawa tetap tak membuatku ingin melakukan hal itu.
“Baiklah.” Ia balik menyentuh tanganku. Aku
tersenyum pahit dan tak berani menatap kedua bola matanya. Yang kurasakan saat
bersorotan langsung dengan mata Bara selalu ada rasa bersalah yang menohok
hati. Aku merasa menjadi orang jahat yang tega melukai lelaki baik seperti
Bara. Tapi hanya Bara-lah lelaki yang mampu memberikan cinta kasih, pernyataan
dan pengakuan cinta padaku yang teramat tulus yang tak kudapatkan dari “dia”
yang kurindukan.
Kulempar pandanganku ke pintu kantin yang
terbuka lebar. Hujan masih mengguyur dengan ritmen yang tak berubah. Masih
santai, alot dan pelan.
Hatiku tiba-tiba terguncang. Bergetar hebat.
Ketika orang yang sebenarnya aku tunggu telah datang. Dia berdiri di mulut
pintu dengan tangan menggengam tas di kepalanya. Kukira ia telah menerobos
hujan untuk sampai kesini. Bajunya terlihat agak basah, rambutnya pun tak ayal menjadi
tempat pendaratan sang air hujan.
Aku memandangnya tak tenang. Bara masih
menggenggam tanganku. Ingin rasanya sesegera mungkin melepaskan tangan Bara
dari tanganku tapi semuanya terlambat. Dia sudah melihatnya. Dia langsung menatapku
tajam dengan ekspresi yang tak mampu kubaca. Dia tersenyum sinis padaku, lalu
berbalik kemudian berlari menerobos hujan lagi dan dia tak pernah kembali ke
tempat ini. Aku hanya mampu menonton kejadian barusan tanpa bisa berbicara
apapun. Hatiku campur aduk. Ingin sekali aku mengerjarnya namun nyaliku tak
cukup besar untuk bisa melakukannya. Disini, disampingku ada Bara yang
tersenyum penuh perhatian. Aku tak bisa, aku tak bisa mengejarnya, aku tak bisa
mengerjar Radit.
Perasaaku
bergumpal-gumpal. Gerimis ini terasa sadis. Bara masih bersamaku. Radit berlari
tanpa berhenti.
***
Malam yang manja. Aku berdiri di teras rumah
sembari memandang gelapnya langit. Angin berhembus sempoyangan dan lampu-lampu
di sekitar rumahku lembut menyala. Udara kusesap sekuat-kuatnya hingga memenuhi
paru-paru lalu kulepas lega lagi.
Hatiku kian kelu. Perasaanku tak menentu.
Pikiranku semerawut. Ada Bara dan ada Radit di kepalaku ini. Dadaku terasa
sesak jika kuingat keduanya. Kupangku segelas teh manis hangat yang sedari tadi
menemaniku. Merasakan kembali hangatnya air teh manis diserap kulitku tanpa
ampun. Sedikit demi sedikit kuminum dengan pelan dan tanpa sadar kenangan-kenangan
bersama Radit berseliweran menguasai pikiran.
Radit adalah temanku. Empat belas tahun berlalu setelah
perkenalanku dengannya di waktu Sekolah Dasar menjadi awal pertemanan kami. Radit
bukan sekadar teman, tapi ia seperti bagian dalam diriku yang selama ini hilang
dan ia melengkapi itu. Bersamanya aku jadi tahu apa itu “utuh” karena dengan
bersamanya pula aku mengerti bahwa di dalam hidup ada hal-hal penting yang
harus dipertahankan.
Satu pemahaman juga satu hati. Yang kurasakan
adalah itu. Tapi entah sejak kapan ini semua dimulai aku pun tak menyadari.
Saat aku merasa takut kehilangan Radit, mengakhawatirkanya dengan berlebihan
dan menyemburui tiap-tiap perempuan yang dekat dengannya. Ini konyol, ya memang
kupikir begitu pada awalnya tapi lama semakin lama aku sadar satu hal. Aku
sadar tak pernah ada seorang pun yang kuanggap istimewa selain daripada Radit.
Aku menunggunya selama bertahun-tahun yang kukira dia mungkin memiliki perasaan
yang sama sepertiku namun ternyata waktu yang kutunggu itu tak kunjung datang.
Pandanganku buyar seketika. Mataku terkunci di
satu titik. Radit berdiri di balik pagar rumahku. Ia melambaikan tangan sembari
tersenyum lebar. Gelas yang kupangku ini nyaris saja kulepaskan. Radit datang,
ia benar-benar datang.
Wajahku masih
menatapnya tak percaya. Radit telah memasuki pagar dan menuju teras rumahku.
Senyumnya melebar, senyum yang sangat kuhafal dan tanpa sadar bibirku
mengembang untuk membalas senyumannya.
“Udah lama aku ga kesini.” Radit membuka cerita.
Ia duduk di kursi kayu yang tepat berada di samping kananku.
“Tepatnya udah tiga bulan yang
lalu. Kamu kemana aja sih?” Aku segera duduk di kursi sebelahnya.
“Aku ga kemana-kemana. Cuma lagi banyak tugas
juga dan lagi sibuk ...”
Radit menggantungkan kalimatnya. Aku tak
mengerti maksudnya. Mataku menajam sengaja kucondongkan badanku ke arah Radit.
“Sibuk apaan, Dit? Sombong bener ga bilang-bilang sama aku.”
Radit menelan
ludah. Tenggoraknnya seolah tersedak oleh segumpal pasir. Suara parau Radit
semakin membuatku penasaran setengah mati.
“Sebenernya aku kesini mau ngasih kamu kabar
keberangakatan aku ke kamu.”
Tatapanku memicing. “Keberangkatan? Maksud kamu
apa, Radit?”
Radit merubah
posisi tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku sembari menggenggam kedua
tanganku dengan erat. “Ini rencana aku beberapa bulan belakangan ini. Aku mau
pindah ke Bali, Tam!”
“APA?”
kulepaskan tangan Radit. Tanpa sadar hatiku naik pitam.
“Tami, maafin
aku baru ngasih tahu kamu sekarang. Aku...”
Kusergah
mantap, “Radit, kenapa setiba-tiba ini? Kamu mau ninggalin aku gitu aja?”
“Bukan gitu,
Tam! Aku udah rencanain semua ini dengan mateng. Dari dulu aku pengen banget
ngasih tahu kamu tapi aku rasa kamu terlalu sibuk buat ngedengerin cerita aku.”
“Sibuk? Sibuk apa aku?”
“Kupikir kamu terlalu sibuk pacaran sama Bara.”
Aneh sekali intonasi Radit saat menyebut nama Bara. Seperti ada amarah yang
terbenam dan hal-hal lain yang tak kuketahui.
“Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Aku kira itu bukan
masalah buat kita.”
Wajah Radit memerah. Aku tahu, dia sedang marah.
Tapi kenapa dia harus semarah itu? Bukankah Radit tak peduli dengan hubunganku
dan Bara?
“Ya, harusnya semua itu bukan masalah. Tapi
kurasa kita sudah berubah. Kamu bahkan tak punya waktu buatku. Aku ini apa?
Masihkah kamu anggap aku ini temanmu?”
Aku tak percaya Radit bisa berkata seperti itu.
Dipelupuk mataku di penuhi bulir-bulir air mata yang siap membasahi pipi.
“Tak pantas kamu bertanya kaya gitu sama aku.
Kamu jelas-jelas teman aku.”
Radit membisu seribu bahasa. Dia membenturkan
punggungnya ke kursi. Sekilas ia menatapku dan menghembus pasrah udara dalam
paru-parunya. Ia berdiri dan menghampiriku kemudian mengangkat wajahku. Air
mata yang membanjiri pipiku pun hilang seketika setelah Radit menyekanya. Radit
mendekapku erat. Sangat erat.
“Maafin aku,
Tam!”
Mulutku tak mampu berbicara. Berada dalam
dekapannya adalah hal terindah yang pernah kurasakan. Bisa merasakan bau tubuh
dan hembusan nafas yang sangat kurindui selama ini.
Radit melepaskan pelukannya dengan perlahan dan
tangannya merengkuh kedua pundakku dengan lembut. Wajahnya terlihat sangat
serius tapi penuh berbeban. “Aku harus pergi. Aku tak ingin berjanji bisa
kembali tapi aku pasti merindukanmu. Baik-baiklah disini. Aku harus merasa
tenang bisa meninggalkanmu bersama orang yang tepat. Kuyakin Bara bisa
menjagamu dengan baik.”
Nafas tersekat. Oksigen seolah enggan membantuku
untuk bertahan. “Radit...” ucapku pelan. Namun ia telah berlalu. Bukan
menerobos hujan lagi melainkan menerobos pekat malam. Dia menjauh dan
menghilang di makan jarak.
Aku menangis sejadi-jadinya. Hatiku hancur tak
bersisa. Aku seakan terjatuh lalu terjerebab dalam kesakitan yang amat dalam.
Radit telah pergi, benar-benar meninggalkanku tanpa kepastian. Ini mimpi,
kuyakin diri sebisanya tapi nyatanya inilah yang pasti.
Aku memangku
gelas berisi setengah air teh yang tak lagi hangat itu. Ingatanku melayang
antara kenangan-kenangan bersama Radit, air teh manis yang menjadi minuman
kesukaan kami, hubunganku dengan Bara, dan Radit yang telah pergi. Aku menatap
gelas itu dengan nanar. Bara, keberadaan hubungan itu hanya memperburuk
segalanya. Aku kembali menangis dan bersedih hingga pagi menjelang. Tanpa
berhenti di malam-malam selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar