Hujan Itu
|
Minggu, 09 Juni 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Siang itu mendung. Awan tebal nan
hitam menutupi keseleruhan tubuh langit. Terang matahari seakan ragu mencium
tanah bumi. Siang tak cantik, pikir seorang perempuan yang baru saja
meninggalkan kampus. Pandangannya menengadah ke atas, nafas berat keluar dari
paru-parunya menandakan rasa kecewa terhadap apa yang ia lihat di langit; tidak
cerah. Nara terus berjalan meninggalkan kampus dan tidak memperdulikan hujan
yang mulai turun membasahi bumi, juga membasahi kepala hingga kakinya.
Hujan semakin liar menghantam
bumi dengan titik-titik airnya. Serbuan pasukan air menyerang apapun yang
berada di bawah termasuk tubuh Nara. Gemuruh yang bergema tak pernah malu
menunjukan ledakan-ledakan kepayahannya. Nara akhirnya menyerah, ia berhenti
sejenak sembari matanya mencari-cari tempat untuk berteduh. Tak pikir panjang
Nara berlari menuju sebuah toko kecil yang memang sudah lama tak di pakai
pemiliknya. Ia kemudian menghampiri toko itu dan berteduh di depannya.
Selain
Nara, ada beberapa orang lainnya yang berteduh disana. Bisa di tebak dari
penampilannya mereka juga adalah seorang mahasiswa layaknya Nara. Nara hanya
menatap sekilas wajah-wajah mereka dan merasa yakin tidak ada seorang pun yang
ia kenaL.
Hujan
tak kunjung habis. Nara masih mematung di depan toko tak terpakai itu. Tubuhnya
sedikit kedinginan. Ia pun memeluk diri sendiri dengan kedua tangannya. Jeans
belel Nara terlihat basah di bagian bawahnya akibat pantulan air dari atap toko
yang jatuh ke tanah. Ia kemudian merapatkan kedua kakinya dan berharap hujan
cepat mereda.
Seorang
pria berlari dari arah yang tak di sadari Nara yang tiba-tiba berdiri di
sebelahnya. Pria itu memiliki tinggi yang mengagumkan. Pangkal kepala Nara
kira-kira lebih rendah tiga puluh
centimeter dari pangkal kepala pria itu. Padahal tinggi tubuh Nara terbilang
ideal, tapi bersebelahan dengan orang yang tingginya luar biasa membuat Nara
merasa kecil dan tidak terlihat. Nara tidak memastikan wajah pria di sebelahnya
itu, ia hanya memerhatikan tas yang dibawa pria itu yang cukup merepotkan. Satu
tas selempang tersampir di bahu kanannya dan dua tas lagi di jinjingnya dengan
kedua tangan.
Nara
masih terpaku dengan tinggi pria itu, ia memandangnya tanpa berkedip untuk
beberapa saat. Tidak di sangka pria itu tiba-tiba menoleh ke arah Nara, entah
karena ia tahu bahwa seseorang sedang memerhatikannya atau memang ketidaksengajaan.
Nara terkesiap, wajahnya langsung menunduk. Sedetik setelah itu Nara merasa
ingatan-ingatan samar berkelebat di otaknya. Pria ini, oh iya pria yang pernah
menolongnya saat Nara terjatuh dari motor di depan kampusnya tempo hari. Pipi
Nara langsung memerah seperti buah tomat kala ia mengingat kejadian memalukan
itu. Ia tak kuasa memandang kembali pria itu, ia melempar pandangan ke arah
lain untuk sedikit menenangkan hatinya yang kelewat malu.
Pria
itu terdiam. Ia sebenarnya tahu bahwa perempuan di sebelahnya itu adalah
perempuan yang ia tolong. Ia ingin sekali menanyakan keadaan perempuan itu
walaupun kejadiannya sudah beberapa minggu yang lalu namun kekhawatiran yang
terus meminta jawaban yang selama ini membuatnya tidak bisa tenang. Kemungkinan
luka-luka di lengan dan kakinya sudah mengering atau malah sudah sembuh namun
tetap saja rasa ingin tahu selalu menguasai hatinya. Mulut pria itu semakin
rapat dan membeku dalam dinginnya hujan. Ia tak kuasa, ia benar-benar tak
berani.
Pria
itu mengeluarkan kertas-kertas sketsa yang ia simpan di tas jinjingnya. Dia
mengecek ulang kertas – kertas itu. Seperti perkiraannya, ada beberapa air
hujan yang menembus tas jinjingnya dan mengenai beberapa sketsa miliknya. Ia
sedikit kesal melihat sketsanya luntur diterpa air hujan.
Nara maupun Adrian bersikukuh
saling membisu. Padahal ada kalimat yang ingin di ungkap namun tak ada satu pun
dari mereka yang berani mengucap. Waktu terus berlalu dan lama kelamaan hujan
merasa tak berguna lagi untuk mempertemukan mereka. Hujan pun mereda.
Orang-orang disana mulai meninggalkan tempat itu. Nara dan pria itu masih
disana, hujan sudah mengalah, entah apalagi yang mereka tunggu.
Nara
tetap bungkam. Padahal saat kecelakaan itu ia tak sempat mengucap terimakasih
pada pria itu. Tapi saat ini, mereka saling berdekatan tidak ada sedikitpun
keberanian untuk berkata terimakasih. Hati Nara melompat-lompat tak menentu,
yang awalnya merasa malu ketahuan memerhatikan si pria dan sekarang ia diam tak
berbahasa atau pun bergerak.
Tak
berbeda dengan si pria. Ia menelan ludah yang tak berkesudahan. Suaranya seolah
hilang tertelan ludah-ludah yang sedari tadi menyesakkannya. Hatinya bergetar,
keinginan untuk bertanya hanyalah harapan. Ia pun memasukkan sketsanya secara
asal ke tas jinjingnya kemudian pergi meninggalkan Nara di depan toko. Pria itu
berlari tanpa menoleh lagi ke arah Nara, sedikit rasa kecewa dan menyumpahi
diri sendiri bergemuruh di hati.
Dia berlalu, Nara menatap getir
memandangi punggungnya yang semakin menjauh dan kini sesal menjadi teman baru
bagi Nara.
Bodoh sekali aku ini.
Ia
terus menerus memarahi keberanian yang tak datang tepat waktu. Ia mengulum
sesal di setiap tarikan nafasnya. Setelah beberapa menit berlalu, ia pun berniat
meninggalkan kenangan konyol tadi disana, di depan toko tak terpakai itu. Sebelum
Nara pergi, matanya terkunci ke sebuah kertas yang tergeletak malang di bawah
kakinya. Kertas itu persis seperti kertas yang dikeluarkan pria itu. Nara
kemudian membungkukkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil
kertas itu.
Nara
membalikkan kertas itu. Ternyata disana ada gambar sketsa wajah seorang
perempuan. Perempuan dengan mata yang indah dan sesungging senyum manis
tergores halus di kertas itu. Perempuan berkerudung memandang lurus ke depan,
aura wajahnya memiliki pengaruh yang menenangkan, Nara bisa merasakannya dari
tatapan tak langsung sketsa yang dibuat pria itu.
Siapa
perempuan itu sedikit mengganggu pikiran Nara. Ia hanya memastikan perempuan
ini pasti bukan perempuan biasa, perempuan ini mungkin seseorang yang berarti
bagi pria itu. Pandangan Nara melompat ke arah dimana pria itu berlari, Nara
pikir ia pasti akan mencari sketsa ini. Tapi pria itu sudah pergi sedari tadi.
Nara menatap lekat setiap detail goresan pensil yang dibuat, ia terkagum-kagum
dengan sketsa itu. Di sebelah kanan bawah gambar itu tertulis sebuah nama,
Adrian Ramadhan. Nara mengira itulah panggilan dari pria itu. Nara tersenyum tipis
kemudian melipat pelan kertas itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia lalu
pergi meninggalkan tempat itu, hujan sudah selesai, namun perasaan Nara
belumlah selesai.
***
Setelah berbulan-bulan tak ada
lagi kesempatan yang sama seperti waktu itu. Nara selalu berdiri di tempat yang
sama dimana ia bertemu pria itu setiap hujan melanda cuaca. Lama semakin lama
membuatnya putus asa dan berpikir tidak akan ada keadaan semanis itu. Nara tak
pernah bertemu pria itu sama sekali. Ia melangkah gontai sembari memboyong rasa
sesal yang selalu menggodannya setiap saat.
Sore
yang masih muda. Harusnya matahari masih bertengger, namun mendung di sore itu
tak sanggup ditolak keberadaannya. Saat ia memaksa diri untuk segera pergi,
toko tak terpakai itu yang beberapa meter jauhnya dari tempat Nara berdiri
seperti sedang memanggilnya. Hujan mengguyur sedari tadi siang hingga sore yang
tak juga mereda. Nara pun mengasihani rasa sesal yang menguasainya lalu berlari
menerobos hujan menuju tempat yang mengenalkannya pada penyesalan.
Seperti
biasa, Nara berdiri disana. Menunggu hujan berhenti, dan menunggu Adrian
datang. Sekarang ia tak lagi memanggilnya dengan sebutan “pria itu”. Adrian,
Nara selalu mengucapkannya berulang-ulang setiap kali ia berada di depan toko tersebut
untuk berharap mendapatkan kesempatan seperti kala itu.
Waktu
bergulir, menit ke menit layaknya tahun ke tahun. Nara tak ingin beranjak dari
tempat itu walau berkali-kali ia di kecewakan karena Adrian tak kunjung datang.
Nara memerhatian rintik-rintik air yang menerpa atap toko lalu jatuh ke tanah.
Air itu seperti takkan pernah habis, rintik-rintiknya sangat cantik, begitu
bening dan dingin. Nara terus menghibur diri. Ia menunggu dan menunggu.
Nara
menyanderkan punggungnya ke dinding toko, melipat kedua tangan seperti
biasanya. Orang-orang yang berteduh disana sibuk dengan pikiran masing-masing.
Dan seorang pria tinggi menjulang berlari menuju toko itu. Ia menutup kepalanya
dengan sebuah jaket. Ia melangkah, menerobos tirai hujan dan berhadapan
langsung dengan Nara.
Nara
terkesiap. Hatinya meloncat-loncat tak karuan. Kesempatan yang ditunggu pun akhirnya
datang. Nara bergetar hebat, bukan karena suhu hujan yang amat dingin melainkan
karena Adrian benar-benar ada di depannya. Adrian kemudian bergeser ke sebelah
Nara lalu berbalik dan bersender ke dinding toko seperti yang Nara lakukan.
Nara
bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Adrian menggerak-gerakkan jaketnya
yang basah, lalu memeluknya dengan kedua tangan. Kepala Nara berpikir keras
untuk memulai percakapannya dengan Adrian. Ia sedang memilih kalimat yang benar
dan tepat agar Adrian tidak salah paham padanya. Nara masih berdebat dengan
hatinya dan Adrian tiba-tiba menoleh ke arah Nara.
“Hmm,
luka kamu udah sembuh?”
Kerongkongan
Nara tercekat. Ternyata Adrian yang memulainya. Nara pun menengadahkan leher
agar penglihatannya mampu menggapai wajah Andrian.
“Apa?”
Nara merasa bodoh mempertanyakan hal itu tapi benar saja ia tak mengerti apa
yang sebenarnya Adrian bicarakan.
“Kamu
bukannya yang jatuh dari motor tempo hari kan?”
Ingatan
Nara jatuh ke peristiwa itu. “Oh, iya. Kamu yang nolongin aku ‘kan?”
Adrian
tersenyum tipis, ia mengulang pertanyaannya. “Luka kamu udah sembuh?”
“Udah
sembuh kok. Makasih, ya? Maaf, baru ngomong sekarang.”
“Ga
usah sungkan. It’s OK!”
Nara melepaskan punggungnya dari
dinding yang sedari tadi menjadi tumpuan. Ia kemudian merogoh tasnya lalu
mengeluarkan secarik kertas.
“Hmm, ini punya kamu ‘kan?” Nara
menyerahkan kertas itu ke arah Adrian.
Adrian terlihat bingung lalu
mengambil dan membuka lipatan kertas itu. Ia sedikit kaget dengan apa yang ia
lihat. “Oh, aku kira hilang. Makasih banyak...?” selama beberapa detik kalimat
Adrian menggantung di udara. “Nama kamu
siapa?”
“Nara. Sama-sama, Adrian!”
“Kamu tahu nama aku?”
“Kan tertulis nama kamu di sketsa
itu.”
Nara merasa lega atas apa yang ia
ucapkan. Ia benar-benar senang bisa mengatakan hal yang benar pada Adrian.
Hujan masih buas melanda cuaca tapi Nara untuk pertama kalinya merasa bersyukur
karena hujan tak cepat mereda. Setidaknya bisa menahan mereka berdua untuk
tetap berada disana. Adrian diam-diam juga merasakan apa yang dirasakan Nara.
Ia senang bisa bertemu kembali dengan Nara tanpa memegang kekecewaan seperti
siang itu.
Percakapan mereka semakin tak
bisa di hentikan. Saling mencari tahu satu sama lain.
“Ini sketsa ibuku, bagaimana
menurutmu?”
Nara senang Adrian mengungkap
sendiri siapa perempuan yang ia gambar itu tanpa harus ia yang menanyakan lebih
dulu.
“Cantik. Ibumu memiliki senyum
yang ayu.”
“Kamu benar.” Adrian pun
tersenyum.
Selama hujan, selama mereka
saling bicara, selama itu pula mereka merasa begitu lengkap. Hujan memiliki
andil yang besar atas perkenalan mereka. Nara dan Adrian menikmati guyuran
hujan, semenikmatinya mereka terhadap keberadaan satu sama lain. Adrian merasa
beruntung sketsa ibunya bisa terjatuh dan tertinggal. Karena Nara-lah yang
menemukannya sehingga dengan begitu ada alasan-alasan lain untuk memperpanjang
obrolan mereka.
Hujan itu mengiring. Hujan itu
menaungi. Hujan itu menemani keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar