Kausebut Bidadari

| Sabtu, 19 Oktober 2013 | |

Diantara kalimat bertudung sajak aku berpuisi
Untuk seseorang yang kausebut bidadari

Satu detik terpaku waktu
Dua detik meraba panas yang liar
Tiga detik kau masih memandang lurus
Detik yang entah keberapa lagi, kau merasa terbakar dan tak sadar

Inginmu mampu memantri setiap inci gurat bibirnya
Indah itu menyebar hingga ke bayang-bayang
Kini kau semakin tergoda untuk tidak mengabaikan rasa

Katamu, dia selalu punya pesona
Katamu, dia bahkan tak mampu mengurai noda

Dan di saat kau melangkah hanya dalam harap
Dia berlalu tanpa sempat membagi tatap
Senyumnya luput dan sirna

Kutahu, kausebut dia bidadari
Sajakku mengamini, sajakku mencintai

Hai, malam!

| Selasa, 15 Oktober 2013 | |

Hai, malam! Aku disini
Dibawah kakimu yang maha luas
Dibawah naungan cahaya rembulan yang membeku
Aku ingin terlelap bersama kasihmu

Hai, malam! Aku disini
Berbagi rasa dengan teman baru
Kupikir kau akan menyukainya
Perkenalkan, namanya Angin Malam

Hai, malam! Aku disini
Berbaring di bumi, menatapmu yang tak menatapku
Tak usah khawatir, kutahu kau sibuk dengan urusan lain
Terlalu banyak yang ingin mencuri perhatianmu

Hai, malam! Aku disini
Menyapamu adalah kebiasaan
Di bawah kuasa waktumu aku merasa punya harapan
Dalam gelap yang sangat, tak perlu lagi merasa takut

Hai, malam! Aku disini
Jika kau ingin ditemani, datanglah padaku
Diantara benda bumi yang kautahu bisakah kau memilihku?
Disini, dimana kau selalu menemaniku disini pula aku akan menemanimu

Kesalahan Lagi

| Selasa, 08 Oktober 2013 | |
Remi masih bertahan dalam satu cerita. Ia tak juga beranjak dari permasalahan hatinya yang semakin runyam. Pikirannya sambung menyambung, saling melilit satu sama lain hingga semua solusi pun tersesat bahkan sebelum dia berusaha mendapatkannya. Remi putus asa, ia mengerang sekali-kali kemudian bergumam sesuatu yang tak jelas dan kembali kepada renungannya. Remi merasa otaknya terlalu padat dan penuh, seolah-olah apa yang ada di dalam sana akan segera meledak tanpa ia sadari. Sebagian diri Remi berharap demikian, ia ingin terlepas atau setidaknya melepas semrawut pikiran yang kini dirasa. Meledakkan jeritan terdiamnya, menghancurkan kekecewaan jiwa yang semakin hari semakin menyakitkan.
Di loteng tempat kostnya, Remi termenung. Menyandarkan beban tubuhnya ke kursi plastik yang goyah, kaki ditekuk ke atas kursi dengan posisi miring. Sambil menghadap senja, mata Remi berkeliaran memandang langit yang mulai surut sinarnya. Senja yang biasa, semburat jingga terlukis semu di bawah naungan angkasa. Berat-berat Remi bernafas, pandangannya menerawang ke balik awan yang bergumpal. Ia berusaha mencari sesuatu yang tak bisa dipahami. Ingatannya selalu berlari ke tempat yang sama, walau senja segera berakhir tak berarti renungannya ikut berakhir.
 Samar-samar telinga Remi terpancing teriakan yang memanggil namanya. Sedetik ia berniat menoleh ke balik barisan jemuran yang memisahkan dirinya dengan tangga namun sedetik kemudian Remi mengurungkannya. Kali ini ia tak ingin peduli. Remi tahu, dia pasti datang dan akan berteriak-teriak padanya.
 Rahne terengah-engah mencapai puncak tangga. Sembari menahan kesal ia kembali berteriak, “Remi!!! Elo masih aja nongkrong disini?”
 Remi tetap bergeming. Rahne kemudian menyingkirkan pakaian-pakaian yang menghalangi pandangannya. Dengan wajah merah padam sekaligus nafas yang tersenggal-senggal Rahne berupaya memarkir kalimat-kalimat jitu di waktu yang tepat.  Sayangnya sudah ia kira, saat ini bukanlah waktunya ia berteriak ria di depan Remi.
 “Oke. Anggap aja elo ga pernah nyuruh gue nunggu elo di depan kampus. Anggap aja gue ga pernah mangut-mangut saking ngantuknya nungguin lo kayak baliho yang mau runtuh. Anggap aja gue ga pernah sekesel ini kay-....”
 “Sori,” tukas Remi tanpa sedikit pun melirik Rahne.
 Rahne sontak terdiam. Ia tergelak tak percaya lalu tanpa pikir lagi ia pun menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas kursi plastik yang berderit nyaring disebelah Remi. “Ada apa... lagi?”
 Bukan cerita baru. Remi tahu, Rahne juga tahu, cikal bakal dari permasalahan yang akan ia ungkapkan. Kata ‘lagi’ menjadi tanda bahwa Rahne sudah mengerti karena siapa Remi menyendiri disana. Hati, otak dan mulutnya terasa bosan selalu menceritakan hal yang sama bahkan ia juga mulai mengira Rahne pun terlalu jemu mendengar hal yang berulang-ulang darinya. Apa daya, Remi tetap melakukannya: memikirkan dan mengucapkannya terus-menerus. Rahne juga tetap melakukannya: berusaha terlihat bersemangat mendengar cerita Remi yang tak berubah. Bisa dibilang mereka mengalami de javu yang disengaja.
 Rahne menghela nafas cepat. “Kenapa? Ada apa dengan dia? Apalagi yang mereka sampein sama elo?”
 Remi mengigit bibirnya. Ia membisu cukup lama hingga Rahne harus mendengus keras kepada Remi agar digubris.  “Seperti biasa, Gita ga pernah serius sama gue. Dan tadi siang gue mergokin dia jalan sama cowok lain, lagi.”
Sekuat tenaga Rahne menahan tawanya. Setidaknya dia harus berupaya terlihat bersimpati dengan keadaan Remi. Semacam pengalihan perhatian Rahne melempar pandangannya ke hamparan genteng-genteng rumah di sekitar tempat kost Remi. 
“Dan elo ga pernah kapok ‘kan baikan lagi sama Gita? Ya, gampang kok buat ditebak!” ucap Rahne acuh tak acuh tanpa harus merasa berhati-hati.
Remi menyilang kedua tangannya di dada. “Bego, ya gue emang bego. Semua orang juga bilang gitu, termasuk elo, Ne! Gue terlalu sayang sama Gita, semua orang berusaha ngasih tahu gue kalo selama ini Gita cuma mainin gue aja. Omongan mereka ga pernah cukup bu....” 
“Jelas aja omongan mereka ga pernah cukup, bahkan kenyataan yang udah elo liat dengan mata kepala sendiri pun ga pernah terasa cukup buat engga lagi balikan sama Gita. Dan sekarang apa? Menurut gue ga ada bedanya, sekarang elo ritual sedih-sedihan disini terus besok Gita minta maaf, elo bakal maafin dia dengan mudah, ga lama Gita kepergok jalan sama cowok lain lagi, dan terus? Siklusnya gitu-gitu aja, Rem!” sergah Rahne menjaga setiap kata yang meluncur dari bibirnya dengan nada yang tak berlebihan namun nyatanya tak begitu berhasil.
“Kalo diitung-itung putus nyambungnya hubungan gue sama Gita dalam setahun ini pasti masuk rekor dunia,” suara Remi terdengar seperti sedang berkumur-kumur.
Rahne menatap sekilas ke arah Remi namun tak ada sedikit pun garis canda tergurat di wajahnya. Tapi Rahne tetap ingin memastikan, “Lagi ngelawak, Rem?”  
Remi membenamkan wajah ke telapak tangannya. Senja sudah berpulang tapi Remi merasa tak pernah bisa pulang ke keadaan sebelum ia bertemu Gita.   
Lampu-lampu rumah mulai mengambil alih. Matahari beserta cahayanya sudah meninggalkan bumi, kini lampu-lampu itu menjadi hiasan cantik yang terhampar luas dinikmati oleh sepasang sahabat itu dari loteng sana. Oh tapi tidak, Remi berusaha mengabaikannya. Ia masih sibuk dengan perasaannya sendiri dan tidak memerdulikan hiburan kecil di depan matanya.
“Gue sayang Gita, Ne. Gue rela ngelakuin apa aja buat dia, gue pokoknya mau dia tetap jadi milik gue.”
 “Gue ga pernah tahu kalo yang namanya jatuh cinta bisa separah ini. Elo harus sadar yang terbaik itu ga berarti sesuatu yang kita harepin.”
 “Dan gue harus apa? Ngelupain? Ninggalin dia gitu aja? Ga segampang itu, Ne!”
 “Gita udah nyakitin elo berkali-kali, Rem! Apa itu belum cukup? Elo kira sekali jatuh cinta bisa langsung dapet yang bener? Elo cowok, masa karena masalah satu cewek aja elo lembek banget! Rem, banyak hal yang bisa elo lakuin sekarang selain mikirin masalah ini. Inget, hidup tu ga cuma ngurusin soal hati sama perasaan aja!”
 Selama ini Remi selalu mengeluh tentang hubungannya dengan Gita. Nyaris semua orang berusaha memberitahu Remi agar segera menjauhi Gita tapi ia tetap bersikukuh mempercayai perasaannya. Rahne tak tahan melihat Remi selalu dipermainkan oleh Gita. Setelah kebenaran terungkap, Gita berselingkuh berkali-kali dan tertangkap basah jalan dengan cowok lain yang ternyata tidak membuat Remi kapok merajut lagi kisah cintanya membuat Rahne tak habis pikir, entah apa yang ada dalam otak sahabatnya itu. Rahne tidak bermaksud memarahi atau menyalahkan Remi dalam situasi ini hanya saja dia kesal karena Remi selalu mengeluh padanya di saat genting seperti ini namun pada akhirnya ia selalu mengulang kesalahan yang sama yaitu kembali ke pelukan Gita.
 “Dan sekarang elo mau gue kayak gimana?” tanya Rahne.
 Remi diam lagi. Ia berpikir lama sekali. Angin malam berhembus lembut ke kulit lalu bergerak menerobos pori-pori hingga sampai ke tulangnya. Angin malam dirasa ganas oleh Remi. Hatinya mengigil. Pertanyaan Rahne menambah perih segalanya, ia tidak menemukan celah untuk menjawab. 
Rahne mengangkat satu kaki kemudian menggunakan sebelah tangannya sebagai penyangga kepala. Pergelangan tangan Rahne ditekuk sedikit, beban kepalanya disimpan disana dan mengarahkan wajahnya ke posisi Remi berada. “OK. Jadi mau kamu apa, Rem? Saran gue,  elo harus tegas kali ini. Dan gue sebagai sahabat bakal mendukung apapun yang jadi keputusan elo. Gue bersumpah! Cuma itu yang bisa gue lakuin. Semuanya tergantung sama elo sekarang!”
 “Bahkan kalo gue masih tetep mertahanin Gita?” Remi menoleh ke arah Rahne takut-takut.
 “Yes, Sir! Yang artinya gue ga bakalan bosen buat terus jadi pendengar setia kisah cinta elo yang... yah, begitulah!” sebagian bibir Rahne terangkat menampakan senyuman.
 “Sumpah?” kini Remi benar-benar menggeser tubuhnya menghadap Rahne.
 Rahne menghela nafas lalu mengacungkan dua jarinya dengan mantap. “Sumpah! Suer deh!”
 Lampu neon di loteng kost-an Remi yang berada tepat dimulut tangga pun sayup-sayup menaungi Remi dan Rahne. Remi mencari-cari keseriusan di balik ekspresi Rahne yang super menyakinkan. Dan Rahne berusaha tak ingin mengecewakan sahabatnya itu.
“Seenggaknya gue bakal pura-pura dengerin elo, Rem!” celetuk Rahne.
 Remi melongo. “Sialan!”
“Becanda kali! Mau gimana pun elo pasti cerita sama gue. Apa sih yang elo rahasiain dari gue? Ga ada ‘kan?” Rahne cekikikan.
Langit malam menggelap sempurna. Tumpah ruah bintang tak kentara malam itu. Tak ada apapun diatas sana yang bisa dilihat. Segalanya terlalu padam.
Remi mengacak-ngacak rambutnya tak karuan. Dia harus memutuskan. Hubungannya dengan Gita memang terbilang rumit. Banyak permasalahan yang menghantui selama setahun ini tapi Remi bagaimana pun tetap menginginkan Gita. Remi selalu berharap Gita akan sadar bahwa tidak ada yang bisa menerima Gita seperti Remi menerima setiap jengkal sifat dan karakter Gita.
Walau Remi selalu menjadi korban, walau ia harus tetap menjaga hatinya agar terselamatkan dari patah hati yang berulang-ulang, walau ia berupaya memaafkan kesalahan Gita, Remi tetaplah Remi. Perasaannya memang selalu carut marut namun juga selalu keras kepala.
“Gue bertahan,” kata Remi sembari menghadap lautan lampu rumah.
“Udah gue duga,” balas Rahne santai.
“Yang penting ada elo. Berapa kali pun gue sakit hati, elo pasti ada ‘kan buat gue?” Remi nyengir.
“Kok tiba-tiba gue ngerasa jadi orang paling bego di muka bumi ini ,ya?” Rahne menghela nafas sejenak, “tapi ya, gue emang sahabat yang ga ada tandingannya. Orang bego selalu ada buat orang yang lebih bego, iya ‘kan?”
“Bener banget!” seiring berkata, Remi pun berdiri.
 Rahne mendongkak. “Mau kemana lo?”
“Daripada gue mati keabisan darah gara-gara disedotin terus sama nyamuk-nyamuk sialan ini mending gue pergi makan ke warung sebelah!”
“Eh, eh, eh, gue juga mau kali!” Rahne juga melepas dudukannya dari kursi plastik reyot yang kembali menjerit.
“Kemon!” Remi pun melangkah menuju mulut tangga.
“Rem, elo ga mau nelepon Gita dulu?” suara Rahne setengah berteriak.
“Entar aja! Pokoknya elo cuma tau pas gue lagi galau, itu artinya gue ada masalah sama Gita dan sisanya gue tanganin sendiri,” Remi setengah mati mengulum tawa.
Rahne kontak memukul bahu Remi cukup keras. “Kampret! Ga enaknya aja ke gue!” 
“Becanda.”
Remi dan Rahne pun menuruni tangga menuju warung makan di sebelah kost-an Remi. Walau Remi masih bergulat dengan perasaannya, ia merasa beban hati tidak lebih baik jika dialami sendirian. Adanya Rahne sebagai sahabat yang selalu mengerti dan ada di setiap waktu membuat Remi merasa memiliki alasan untuk menemukan dan menentukan pilihan walaupun selalu saja Remi memilih sesuatu yang salah lagi, lagi dan lagi.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -