Jika Kau Menginginkanku

| Minggu, 29 Juni 2014 | |

Jika kau menginginkanku
Suatu saat kau akan menyadarinya
Entah belum atau mungkin sudah terlambat
Jika kau menginginkanku
Tak peduli siapapun yang kini bersamamu
Kau akan meninggalkannya
Jika kau menginginkanku
Selama apapun kita tak saling memberi kabar
Kau akan menghubungiku kelak
Jika kau menginginkanku
Seberapa jauhnya jarak membatasi kita
Kau akan berusaha mendekat
Jika kau menginginkanku
Seburuk apa hubungan kita di masa dulu
Kau akan memperbaikinya
Jika kau menginginkanku
Segala tanya dan salah paham dalam hati
Kau akan mencari penjelasannya padaku
Jika kau menginginkanku
Apa yang tak mungkin
Kau akan membuatnya menjadi mungkin
Jika kau menginginkanku
Jujurlah pada hatimu
Kau akan mengerti betapa kita terlalu egois pada keadaan
Jika kau menginginkanku
Sekecil apapun peluangmu kembali
Kau akan tetap mencoba mencapaiku
Jika kau menginginkanku
Seindah apapun kisahmu dengan dia kini
Kau akan mudah melupakannya
Jika kau menginginkanku
Jangan pernah katakan cinta jika kau masih bersamanya
Kau akan tahu itu

Bermimpi

| Minggu, 29 Juni 2014 | |

Aku bermimpi
Bisa bertemu denganmu beserta senyum itu
Bibirmu melengkung manis
Bertengger dua mata juga tatap yang meneduhkan
Nafasmu teratur begitu alot
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Aku bermimpi
Bisa memadu tawa denganmu
Suara yang kurindui tiap malam
Candamu lucu dengan nada tawa yang khas
Kata yang kaumuntahkan
Ucap yang kaulafalkan
Kusimpan mentah di dalam hati
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Aku bermimpi
Bisa duduk berdua denganmu
Memusnahkan ruang diantara kita
Jemari-jemari saling bertautan
Tersentuh kulitmu serasa menyenangkan
Hangatmu merambat hingga ke batin
Bahu itu bisa kusandari
Sampai akhirnya aku tertidur dalam nyaman
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Aku bermimpi
Bisa bersamamu menunggu hujan berlalu
Nikmati anak-anak air yang menatap kita penasaran
Angin berselancar sembari mengulum tanya
Menyapu dasar kulit tuk mencari tahu
Disuguhi suara rintik yang maha merdu
Bau tanah basah menyesap ke paru-paru
Aku dan kamu hanya ingin diam
Menghabiskan waktu sembari menunggu hujan berhenti
Kita diguyur cinta yang diungkap diam-diam
Kau dengan kau yang tetap seperti itu
Aku suka

Dan kali ini aku masih bermimpi
Kunanti kau disini
Banyak hati yang bisa kaulewati tuk sampai kembali
Ini tujuan kita, aku tetap berada di tempat yang sama
Menanti kau pulang dengan langkah pasti
Gapai aku, bangunkan aku dari tidur panjang
Kau adalah mimpi yang menjadi nyata

KUKIRA

| Sabtu, 28 Juni 2014 | |

Kukira selama ini benar
Kukira akan mudah berpaling
Kukira telah salah menilai hati
Kukira aku menyayangimu

Ternyata tak sepraktis berpindah hati
Jalani kisah denganmu
Dan pikiranku masih tertinggal disana
Tak seharusnya kupaksakan
Tak seharusnya jadikanmu pelampiasan

Tergopoh mengikuti inginmu
Namun rasaku tak pernah sampai
Balasku hanya pada orang itu
Setega ini, tak kukira malah menyakiti

Usaha ini tak juga berbuah manis
Usaha membuatmu menjadi yang terpilih
Usaha menjadikanmu penetap mimpi
Apa yang bisa kulakukan lagi?
Kau terbaik, kau jelas bukan hiburan
Kau lebih daripadanya
Tapi tak mampu lukaimu lebih dari ini

Aku hanya sibuk meredam rasa
Tak ingatkanmu yang benar-benar ada
Hati ini keras sekali dipecahkan
Sekarang kupasrahkan tuk tidak mencinta
Tak mencari-cari tempat sementara
Aku hanya ingin menjalani sampai akhirnya aku menemukan
Maaf, kusinggahi hatimu
Kutinggalkan luka dan benci disana

Untukmu, kutitip sejuta maaf
Memanfaatkan perasaan semahal itu
Tapi sungguh, aku tak bisa, aku tak bisa lagi
Biarkan aku pergi, biarkan diri ini berlalu
Kini, aku hanya ingin berhenti berpura-pura menginginkanmu
Kini, aku hanya ingin jujur pada kisah kita
Kini, aku hanya ingin berjalan sendiri kemudian menetapkan hati
Kini, aku hanya ingin menemukan sisi nyaman yang Tuhan siapkan

Kukira ini benar
Kukira sanggup berdiri sendiri
Kukira lebih mudah dibanding menggunakanmu
Kukira aku bisa mengikhlaskan orang itu setelah kau ikhlaskan aku

Hujan di Hari Jumat

| Sabtu, 28 Juni 2014 | |

Sepanjang hari langit bertirai
Jumat yang basah
Awan menggumpal semrawut
Bergulung-gulung tak karuan
Jumat sedang teduh

Hujan di hari jumat
Menyelami ingatan tentangmu
Ingatkah kau?
Rintik jatuh, ingatan beringsut
Mata terpejam, pikiran menerawang lebih jauh
Di waktu itu hari begitu lugu
Hujan tak hentinya merapatkan temu
Aku dan kamu menyesap dinginnya hingga ke tulang
Namun kuingat senyum terkulum dibalik wajahmu yang setengah basah
Rambut terkulai menetes air hujan yang mendarat tak sengaja disana
Entah apa yang kuinginkan, tapi kau terlihat mengesankan
Hujan mengguyur, tatap punyamu dan tatap punyaku saling mencari tahu

Jumat yang memayungi hari kita
Sungguh kuingin kembali ke hari itu
Menikmati hujan sepanjang masa
Menghentikan peristiwa kemudian mengikat selama-lamanya
Ingin hati kukisahkan ini padamu
Apa yang kurasa saat aku, kamu dan hujan menyatukan diri
Namun mana bisa lagi
Mungkin tak ada kesempatan tuk ungkap yang sedang kupendam
Hingga kutulis saja dibanding diam dalam bayang-bayang
Dibanding tak mampu kuucap langsung padamu lebih baik kuurai dalam kata

Senyata hujan di jumat itu
Senyata rasa di temu itu

Tak bisa Sabar

| Jumat, 27 Juni 2014 | |

Rasanya tak bisa sabar
Menunggu hati jatuh pada siapapun selain dia
Rasanya tak bisa sabar
Yang disebut waktu kan menyembuhkan namun belum juga kurasa
Rasanya tak bisa sabar
Saat perasaan ini kebal memandangnya bersama yang lain
Rasanya tak bisa sabar
Harapan yang tertanam ini segera mati bunuh diri
Rasanya tak bisa sabar
Menanti sang ikhlas hidup di dalam dada
Rasanya tak bisa sabar
Menemukan hati yang bisa kutinggali selamanya
Rasanya tak bisa sabar
Merasa lengkap seperti dia dengan seseorang di sampingnya
Rasanya tak bisa sabar
Ketika datang tangan yang mampu menyeka air mata
Rasanya tak bisa sabar
Memukul pikiran yang ada dan mengganti dengan tokoh baru
Rasanya tak bisa sabar
Untuk aku tidak selalu merasa pilu

Waktunya Telah Tiba

| Minggu, 22 Juni 2014 | |

Waktunya telah tiba. Saya harus melepaskan, membiarkan dan mengikhlaskan sesuatu yang bukan untuk saya. Apa yang dimau, apa yang diharapkan ternyata tak pernah kunjung datang. Waktu yang telah saya habiskan selama ini untuk menunggu orang itu ternyata hanya sia-sia. Sedih memang, sulit sekali untuk sekedar terlihat biasa saja. Menutupi perasaan yang begitu menyedihkan dan ngilu sampai ke ulu hati. Saya selalu ingin menyerah karena lelah menunggu namun pada kenyataannya tak pernah benar-benar bisa saya lakukan. Untuk kali ini, saya harus melakukannya, demi siapa? Demi diri saya sendiri.
Orang itu telah menemukan kebahagiaannya bersama perempuan lain. Orang itu telah jatuh cinta pada perempuan lain. Orang itu telah benar-benar pergi. Semoga orang itu bisa menemukan apa yang ia cari.
Saya tidak bisa berkata kalau saya baik-baik saat ini. Saya hanya terluka, namun berusaha mengobatinya dengan segera. Tidak mudah, memang. Ketika rasa ingin tahu begitu menguasai, ketika itu pula rasa pilu mendera lebih kejam. Saya sudah tak ingin tahu, tak ingin peduli. Biarlah, biarkan saja berlalu tanpa saya tahu. Dan terlebih ketika rindu itu datang, apa daya diri ini. Saya selalu duduk di tempat yang sama, menunggunya. Tapi kali ini tidak, tidak akan lagi.
Waktunya telah tiba untuk saya menyadari seberapa penting diri saya di masa depan. Terakhir untuk orang itu, beruntunglah kau pernah ditunggui sesetia ini, sefrustasi ini, selama ini oleh perempuan ini. Tapi kini saya harus berhenti untuk menginginkan, mengharapkan dan memimpikannya. Harus!

| Sabtu, 14 Juni 2014

Pernahkah kau merasa seperti aku?
Pernahkah kau berpikir bagaimana menjadi aku?
Pernahkah kau memahami betapa lelahnya aku menunggu?

Aku tahu, aku ingin menyerah
Aku tahu, aku muak
Aku tahu, aku merindu
Aku tahu, aku tak dipedulikan
Aku tahu, aku tidak bisa pergi
Aku tahu, aku memendam ini terlalu lama
Aku tahu, aku hanya menginginkanmu saja
Aku tahu, aku begitu tulus mengharapkanmu
Tidak cukupkah itu semua?
Tak bisakah kau kembali lagi?
Tak bisakah kau maafkan aku?
Tak bisakah kau pergi darinya?
Tak bisakah kau hanya setia padaku?
Tak bisakah kau mencintaiku?

Tak rela, hatimu terbagi perempuan lain
Tak rela, bahumu disandari perempuan lain
Tak rela, senyum itu kaulempar pada perempuan lain
Tak rela, tanganmu merangkul perempuan lain
Tak rela, kau jatuh cinta pada perempuan lain

Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -