Untitle

| Rabu, 18 November 2015 | |

Untuk melupakan sesuatu terkadang seseorang berusaha berubah agar tidak menjadi siapa dirinya. Dan sekarang saya mengalami fase itu dimana saya tak ingin menjadi diri saya semula, mengabaikan apapun tentang diri saya dan bergerak menjadi orang lain.  

Awalnya tidak nyaman sama sekali. Untuk saat ini,  semua menyenangkan.  Entah apa yang terjadi selanjutnya, apakah akan berjalan lama kemudian menjadikan saya seperti itu untuk selamanya?  Atau ini hanya pelampiasan lalu saya kembali ke semula? entahlah...

Hati saya tak berbentuk. Perasaan saya tidak ada rasa sama sekali, hambar, datar, mengambang dan tak berwarna. Saya tidak berusaha membuat perubahan yang berarti, saya hanya berupaya membuat hati dan perasaan saya tetap hidup.  Itu saja.

Saya berjalan selangkah demi selangkah.  Mencari sesuatu yang entah apa itu. Tidak ada arah yang saya ikuti lagi, saya hanya bergerak  seperti angin di senja hari.  Senja yang mulai kehilangan terang dengan suhu yang nyaris merosot. Remang-remang dan agak dingin.

Nafas dihela seingatnya.  Harapan mengudara tak karuan di kepala saya.  Doa-doa berteriak keras hingga membuat telinga saya berdengung. Saya tak dimampukan untuk mengucap sepatah pun, kata-kata terbenam di kerongkongan. Saya harap seseorang bisa mengerti jika melihat kedua bola mata. Tapi saya memerintah dengan keras untuk tidak menunjukannya dengan air mata. Tidak lagi.

Jika saya bergerak menjadi orang lain adalah baik,  maka semoga akan membawa baik untuk seterusnya. Dan jika saya bergerak meninggalkan diri saya adalah buruk, maka semoga nanti kembali ke siapa saya. Betapa menyulitkannya menyaksikan hati dan perasaan sendiri terjun bebas ke tanah yang paling dasar. Sakitnya jangan ditanya.


Saya sedikit berjaga untuk menerima pertolongan dari seseorang. Karena siapa yang tau kalau mungkin seseorang itu yang akan melukai lebih-lebih dan membenci kekurangan saya. Mempercayai seseorang lagi adalah kerja keras. Dan jika memang ada, semoga Tuhan meletakkan hati dan perasaan saya pada orang yang benar dan mau membantu saya untuk memilih antara baik dan buruk. Bergerak menjadi sesuatu yang lain, mencari perubahan yang baru dan jangan menutup hati.

M A M A

| Minggu, 08 November 2015 | |
Mama...
Di dunia ini mungkin hanya kau yang sungguh-sungguh mengerti saya. Tidak akan meninggalkan walau saya menyebalkan, tidak akan membenci walau saya sering membantah, tidak akan melupakan walau saya selalu ceroboh.

Saya memang tidak memiliki keluarga yang lengkap seperti seharusnya. Rumit sekali jika saya ceritakan. Tapi saya tumbuh bersama perempuan yang kuat, mengajarkan banyak hal tentang bagaimana hidup bisa meremuk redamkan kemudian mengutuhkan segalanya kembali. Sepanjang perjalanan, kami jatuh bersama, bangun bersama, menangis sejadi-jadinya, tertawa lepas tanpa batas sampai akhirnya merenung dalam doa yang khusuk. Mama mengajarkan hal itu dimulai sejak saya mengerti keluarga saya tidak seharmonis dan serapi keluarga lain namun mama selalu mengingatkan bahwa saya bukanlah satu-satunya yang berada di posisi itu. Perceraian bukan akhir dari semuanya. Hidup harus berjalan, udara terus dihirup  dan saatnya iman diuji.

Hampir sepuluh tahun yang lalu, peristiwa itu terjadi. Mama masih tetap mama yang dulu. Sekeras kepalanya saya, semalasnya saya, secerobohnya saya, semenyebalkannya saya, mama selalu memaklumi. Segala cobaan tidak merubah sedikit pun kasih sayangnya pada saya. Tumpuan untuk saya berbagi rasa, cerita, suka dan duka hanya di bahunya. Mama ada.

Mama bukan sekadar perempuan yang melahirkan saya. Dia sahabat saya, seluruh hidup saya, penyemangat terbesar saya. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan perempuan ini untuk saya? Dia tak pernah lelah mengorbakan tenaga, harta, pikiran, air mata, senyum, keringat, bahkan sehatnya. Pedulinya mama, kekhawatirannya terhadap saya tidak dapat dihapuskan walau saya sering membuatnya kecewa.


Mama, doakan saya selalu. Suatu hari nanti saya ingin membuatmu bahagia melihat saya. Bangga dengan apa yang dapat saya raih. Jerih payahmu akan terbayar kelak. Terima kasih untuk tidak pergi, terima kasih untuk pengalaman hidup yang amat mendidik. 
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -