M A M A
|
Minggu, 08 November 2015
|
Cerita Hati
|
Mama...
Di dunia ini mungkin hanya kau
yang sungguh-sungguh mengerti saya. Tidak akan meninggalkan walau saya
menyebalkan, tidak akan membenci walau saya sering membantah, tidak akan melupakan
walau saya selalu ceroboh.
Saya memang tidak memiliki
keluarga yang lengkap seperti seharusnya. Rumit sekali jika saya ceritakan.
Tapi saya tumbuh bersama perempuan yang kuat, mengajarkan banyak hal tentang
bagaimana hidup bisa meremuk redamkan kemudian mengutuhkan segalanya kembali.
Sepanjang perjalanan, kami jatuh bersama, bangun bersama, menangis
sejadi-jadinya, tertawa lepas tanpa batas sampai akhirnya merenung dalam doa
yang khusuk. Mama mengajarkan hal itu dimulai sejak saya mengerti keluarga saya
tidak seharmonis dan serapi keluarga lain namun mama selalu mengingatkan bahwa
saya bukanlah satu-satunya yang berada di posisi itu. Perceraian bukan akhir
dari semuanya. Hidup harus berjalan, udara terus dihirup dan saatnya iman diuji.
Hampir sepuluh tahun yang lalu,
peristiwa itu terjadi. Mama masih tetap mama yang dulu. Sekeras kepalanya saya,
semalasnya saya, secerobohnya saya, semenyebalkannya saya, mama selalu
memaklumi. Segala cobaan tidak merubah sedikit pun kasih sayangnya pada saya. Tumpuan
untuk saya berbagi rasa, cerita, suka dan duka hanya di bahunya. Mama ada.
Mama bukan sekadar perempuan yang
melahirkan saya. Dia sahabat saya, seluruh hidup saya, penyemangat terbesar
saya. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan perempuan ini untuk saya? Dia tak
pernah lelah mengorbakan tenaga, harta, pikiran, air mata, senyum, keringat,
bahkan sehatnya. Pedulinya mama, kekhawatirannya terhadap saya tidak dapat
dihapuskan walau saya sering membuatnya kecewa.
Mama, doakan saya selalu. Suatu
hari nanti saya ingin membuatmu bahagia melihat saya. Bangga dengan apa yang
dapat saya raih. Jerih payahmu akan terbayar kelak. Terima kasih untuk tidak
pergi, terima kasih untuk pengalaman hidup yang amat mendidik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar