All i ask

| Jumat, 26 Februari 2016 | , |
Let this our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don’t wanna be cruel or vicious
And i ain’t asking for forgiveness
All i ask is....
If this is my last night with you
Hold me like i’m more than just a friend
Give me a memory i can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if i never love again?”

Lagu itu mengalun ke nada-nada terakhir. Sampailah ke lirik penutup, Adel merendahkan suaranya. Tertegun sejenak, ia masih memegang tangan laki-laki itu dengan erat. Senyum semu-semu, diantara cahaya redup di ruang karaoke. Kelap-kelip berbagai warna memenuhi ruang, cahaya dari layar televisi pun tak mampu menyembunyikan betapa senangnya wajah Adel. Ia menyanyikan lagu itu untuk kedua kalinya, namun untuk kali ini senyumnya ditarik samar, seolah ada hal lain yang ia tahan dalam benaknya.
Diantara sayup-sayup suara Adel mengalun dengan apik. Ia memerhatikan dengan seksama, ia tau maksud dari lagu yang dinyanyikan Adel. Adam tak berkata sepatah kata pun, yang ia perlu lakukan adalah jangan lepas tangannya, sekalipun untuk malam itu saja. Lirik demi lirik, kemudian ke not-not berikutnya mengalir bagai air, suara Adel menyelusup seumpama angin di senja hari.
Hari itu begitu panjang. Mereka lewati berdua saja, melakukan hal yang mereka suka. Adel dan Adam seolah masih berpacaran, terutama Adel yang merasa tak pernah melewati perpisahan. Hal yang ia tunggu telah tiba, untuk hari itu doa-doanya teramini. Kehadiran Adam di pagi itu, permohonannya diiyakan, betapa bersyukurnya Adel.
Adam melakukan hal-hal yang Adel minta. Hari itu, mata Adel tak lepas dari Adam. Ia tak membiarkan pautan jemarinya menjauh dari Adam, ia menggenggam jemarinya, merangkul tangannya, bersandar di bahunya, Adel merasa de javu berkali-kali.
“Udah jam 11 malem. Kita pulang yuk?” ajak Adel sembari menaruh mike-nya diatas meja.
Adam mengangguk pelan. “Siap, Nona!”
Adel dan Adam pun bersiap meninggalkan ruang karaoke lalu melaju ke arah lobi. Adam menghampiri mobilnya, ia membuka pintu dan duduk di kursi kemudi. Adel pun melakukan hal yang sama, ia duduk berdampingan di kursi depan.
Mobil melaju. Adam merogoh ponselnya, terlihat ada beberapa notif masuk ke ponselnya. Namun Adam tak membuka notifnya, ia hanya memeriksa dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Adel pun sibuk melihat-lihat foto mereka berdua tadi siang di ponselnya, tak disadari ia tersenyum begitu banyak hari itu.
“Coba liat ini, kamu tu difoto kok manyun-manyun gitu?” goda Adel sambil menyodorkan layar ponselnya.
“Kan kamu yang nyuruh,” sontak Adam geli.
Setengah perjalanan mereka habiskan dengan bergelut di pikiran masing-masing. Adel mengingat saat pertama kalinya ia menghubungi Adam, menanyainya kabar, sampai akhirnya ia meminta untuk satu hari saja bersamanya. Adam awalnya menolak, tapi Adel bersikukuh membujuknya terus menerus, hingga Adam pun akhirnya luluh dan mau melakukan hal yang Adel minta. Setelah tahun-tahun berlalu, Adel masih menyanyangi Adam dengan cara yang sama, ia tak melupakan hal sekecil apapun tentang Adam. Maka saat Adam datang di pagi itu, Adel girang bukan main. Ia merasa hampir gila saking senangnya.
Adam pun disuatu malam tak menyangka, Adel tiba-tiba menghubunginya lagi. Padahal sudah lama sekali ia tak berhubungan dengannya setelah kejadian itu. Adam memendam sesal yang amat dalam padanya, bahkan untuk meminta maaf pun Adam tak dimampukan melakukannya, ia tak punya nyali untuk itu. Betapa malunya ia pada Adel, ia mengkhianati sendiri janjinya. Tapi semua sudah berlalu, nasi sudah menjadi bubur, Adam masih bersama perempuan yang ia pilih waktu itu. Adam merasa sangat bersalah, dan di hari itu ia membayar semuanya. Setidaknya ia akan meminta maaf yang sebenar-benarnya kepada Adel.
Selang bermenit-menit terbunuh begitu saja dalam bisu, Adam pun membentikan mobilnya tepat di depan rumah Adel.
“Del, aku...,” Adam memecah hening dengan ragu.
“Makasih ya buat malam ini, aku seneng banget,” cepat-cepat Adel menyergah Adam.
Adam agak terkaget, ia menoleh ke arah Adel, “yang jelas, aku mau minta maaf sama kamu. Aku ga pernah ngucapinnya langsung, aku malu sama apa yang udah aku lakuin.”
“Udahlah, kan aku sendiri yang hubungi kamu duluan itu artinya aku udah maafin kamu,” Adel tertegun sejenak, “mulai besok kamu hapus aja semua kontak aku.”
Adam terkaget lagi, “kenapa aku harus hapus kontak kamu?”
Nafas dihela dalam-dalam, Adel melanjutkan ucapannya, “Dam, aku mohon sama kamu! Aku takut ga bisa nahan diri buat ngehubungin kamu. Aku kan udah janji, ini kali terakhir kita ketemu, aku ga akan ganggu kamu lagi.”
Kata-kata Adel menohok hati Adam. Bagaimana bisa Adel mengatakan hal itu padanya, padahal yang bersalah dalam hal ini adalah dirinya. Pikirannya kalut, ia kehilangan kata-kata. Mulutnya terbungkam begitu saja. Ia hanya dimampukan menatap Adel dengan iba. Adel menunduk menyembunyikan pelupuk matanya yang nyaris basah oleh air mata.
“Makasih banget buat hari ini, kamu ga akan pernah tau betapa bersyukurnya aku,” ucap Adel sembari membuka pintu mobil, “dan satu lagi, aku selalu berharap yang terbaik buat kamu dalam segala hal. Selamat tinggal, Adam!”
Adel berlalu memunggungi Adam. Ia tak mau memperlihatkan betapa sedihnya ia. Adam memanggilnya berkali-kali tapi Adel hanya melambatkan langkahnya dan tidak berhenti atau berbalik pada Adam. Ia tau ini akan sulit, tapi Adel merasa sudah lebih dari cukup.
Adam hendak keluar dari mobil, tapi ponselnya berdering. Ia melihat satu nama di layar ponselnya, ia tak menjawab telpon darinya. Adam termangu. Terlebih Adam masih belum mengerti dengan apa yang ia rasakan. Apakah perasaannya hanya sebatas rasa bersalah? Mana yang lebih besar, rasa bersalah ataukah sesalnya? Apakah ia benar-benar mencintai perempuan yang bersamanya sekarang? Apa yang sebenarnya ia inginkan?
Tak pernah ia mempertanyakan hal itu pada dirinya. Ia belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul begitu saja dalam benaknya.
Pikirannya seolah memakunya untuk tetap duduk di dalam mobil. Ia menoleh Adel yang berlalu, ia menatap lekat-lekat dari kejauhan. Untuk apa ia mengejar Adel, bahkan ia tak punya sepatah katapun untuk diucapkan. Adam semakin dimakan oleh kebingungnya sendiri. Ia tak ingin menyakiti Adel lagi.
Adel masuk ke dalam rumah dengan sejuta perasaan yang bercampur aduk. Air matanya tak terbendung lagi. Ia berlari menuju kamarnya, melemparkan diri ke atas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya remuk, namun sebagian masih utuh karena rasa lega. Tapi entah kenapa, ia ingin menangis saja malam itu. Setelah satu hari bersama Adam, seolah bertahun-tahun yang lalu tak pernah terjadi rasa sakit yang berkepanjangan.
Kemudian ia merogoh ponselnya di dalam tas dan memainkan sebuah lagu yang ia nyanyikan bersama Adam. Ia tak tau, hal apa yang akan terjadi esok hari, sebulan kedepan bahkan setahun yang akan datang. Setidaknya ia merasa terobati walaupun tak ada yang berubah dari hubungannya dengan Adam. Tapi kehadirannya hari ini, membuatnya merasa hidup kembali. Seolah membangunkannya setelah tidur panjang. Lagu all i ask mengalun terus menerus tanpa jeda, diulang lagi dan lagi. Air matanya mengalir deras, sangat deras, hingga akhirnya Adel tak bisa menangis lagi. Ia berjanji tak akan mengganggu Adam melalui apapun, tak akan mengharapkannya kembali, biar saja semua berjalan begitu adanya.

Now, dont get me wrong. I know there is no tomorrow all i ask is...
If this is my last night with you. Hold me like i’m more than just a friend
Give me a memory i can use. Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends cause what if i never love again”

Semalaman Adel habiskan bersama lagu itu. Tak peduli seperti apa ia esok hari, ia sedih terlebih sangat lega. Setidaknya ia bisa mengucap selamat tinggal langsung pada Adam. Adel pun tertidur dengan tenang bersama lagu yang menemaninya di sisa malam.

Sewindu

| Minggu, 21 Februari 2016 | |
Waktu menunjuk pukul 15.00, sore yang tak begitu ceria. Matahari ditutupi awan yang amat tebal, hingga cahaya tak dimampukan untuk menerobosnya. Angin berhembus kencang, pohon-pohon pinggir jalan terhuyung  angin kesana-kemari. Dedaunan berjatuhan melintasi jalanan. Namun, Windu tetap menarik gas motornya dengan kecepatan yang biasa, sepanjang perjalanan ia banyak berpikir. Windu tidak mengindahkan cuaca sore itu, ia hanya fokus pada satu tempat yang akan dituju, terlebih pada satu orang yang akan ia temui. Nafasnya naik turun sedikit tak karuan, apalagi nanti mungkin paru-parunya berburu oksigen dengan beringasnya. Perjalanan cukup menyita waktu, bisa dibilang kendaraan di jalanan merapat begitu padat. Windu merasa tak perlu cepat-cepat sampai di tempat itu, hatinya masih sulit diartikan. Tapi rasa penasaran yang amat besar membebani benaknya selama beberapa minggu belakangan ini seolah menyuruhnya cepat-cepat agar sampai disana.
Bagaimana dia? Seperti apa dia? Kenapa.... Apa..... ? pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalanya.
“Aku bisa gila,” gumamnya pelan.
Windu pun memarkirkan motornya di depan sebuah kedai kopi. Kedai kopi itu sudah tak asing lagi baginya, ia pernah beberapa kali datang kesana. Namun, setahun belakangan ini Windu tak lagi berkunjung ke kedai kopi itu. Alasannya, jelas karena orang yang akan ia temui. Windu mungkin tak akan datang kalau tidak karena dia yang meminta.
Langkah demi langkah diayun memasuki area kedai. Sampai dimulut pintu, matanya liar mencari-cari seseorang. Nafas terpengal, dadanya bergetar, mata Windu terkunci pada seseorang berjaket kulit hitam. Windu tau, walau seseorang itu duduk memunggunginya. Ia sangat hafal dengan siapa ia bertemu, postur tubuhnya, gerak-geraknya, kopi yang telah ia pesan bahkan aroma tubuhnya seolah terpantri begitu abadi dalam benaknya.
Benar saja, saat Windu menghampiri dengan sedikit malu-malu terlebih hatinya limbung tak karuan, mungkin tebakannya salah. Tapi dia memang dia.
“Hai,” sapa Windu ragu.
Bakti menaruh kembali cangkir yang akan ia minum. Ia sedikit kaget, “Oh, hai!”, setelah sepersekian detik baru Bakti mempersilakan Windu duduk.
Windu duduk agak sungkan. Satu meja dengan dua kursi saling berhadapan. Tempat pertemuan yang sama, di meja yang sama pula. Pikiran Windu kembali ke masa-masa dulu saat mereka juga disana dalam keadaan yang jauh berbeda.
“Mau pesen?” tanya Bakti.
Windu hanya mengangguk pelan. Ketika seorang pelayan menyodorkan menu padanya, Windu langsung memesan kopi yang sama dengan Bakti.
“Udah lama disini?” tanya Windu membuka obrolan setelah beberapa lama membeku di pikiran masing-masing.
“Ngga kok, baru 15 menitanlah,” jawab Bakti, “udah lama ya kita ga ketemu.”
Windu tersenyum semu, “yaaa, begitulah. Jadi selama ini kamu di Surabaya?”
Malu-malu Bakti memandang Windu. Ia ingin menatapnya agak lama, tapi malah membuatnya kelimpungan. “Iya. Aku dapet kerjaan disana. Gimana kuliah kamu?”
“Beres. Tinggal nunggu wisuda aja sih,” jawab Windu cepat.
Senyum Bakti tak berubah, Windu sangat mengingat semuanya. Betapa senyuman itu yang ia rindukan selama ini. Betapa Windu begitu mensyukuri pertemuannya dengan Bakti saat ini. Walau Windu sadar bahwa  Bakti bukan lagi miliknya. Hubungan itu kandas, lepas entah terbang kemana namun kini Windu melihat wajahnya lagi. 
“Syukurlah, aku seneng dengernya.”
Mereka berdua saling membaur dengan obrolan ringan. Menanyakan hal-hal ringan, saling melempar senyum sipu malu, saling mencuri pandang. Windu maupun Bakti merasa lega, tidak ada perubahan signifikan dari fisik mereka kecuali Bakti dengan sedikit kumis dan janggut tipis.
Sampai pada akhirnya mereka tertawa-tawa geli dengan canda Bakti yang khas, Windu selalu menyauti candaannya dengan lihai hingga suasana beku pun pecah begitu saja.
“Jadi, ga bakal ada yang marah kan kamu ketemu sama aku?” celetuk Bakti diantara tertawaan Windu yang langsung terbungkam.
Windu tersipu namun dia berusaha biasa saja. Tentu saja itu tidak berhasil. Windu berusaha mencari kata, saat mulutnya terbuka, pelayanan pun datang menghampiri dan menaruh pesanan Windu di meja.
“Ga,” dari bermiliar-miliar kata di dunia ini, hanya kata itu saja yang sanggup Windu ucapkan.
Bakti terdiam. Dia lega. Bakti bukan lelaki yang pandai berbasa-basi. Sejak awal, Bakti berniat untuk mengakui semua kesalahannya. Walau batinnya punya rasa malu yang amat besar, gengsi yang melekat kuat, tapi kenyataannya adalah memang ia salah. Bakti telah mempersiapkan pertemuannya sejak lama, namun baru kali ini ia begitu berani melawan dirinya sendiri untuk menghubungi Windu lagi. Setelah beberapa minggu lalu Bakti menghubungi Windu lewat bbm, dan ini kali pertamanya mereka bertemu langsung.
“Kapan kamu balik? Kok tiba-tiba udah di Bandung lagi? ” tanya Windu tak tertahan lagi.
“Tadi pagi. Jadi, aku ngajak kamu ketemu. Ada yang pengen aku omongin langsung sama kamu.”
Windu terhenyak. Bakti memang tak pernah berbasi-basi. Itu membuat Windu agak  kesal, ia merasa belum siap dengan apapun yang Bakti bakal bicarakan.
Nafas dihela dalam-dalam. Bakti telah memikirkan ini matang-matang, mempersiapkan semua penjelasan. “Aku mau minta ma..."
"Udah aku maafin," sergah Windu.
Suara Bakti menggantung ke langit-langit. Dia menganga tak percaya, "Maksud aku, aku bener-bener minta maaf atas semua kesalahan aku selama ini, aku keliru soal dia."
Windu mencoba mencerna kalimat yang menggelontor dari mulut Bakti yang bergetar. Ia menyesap kopi yang sedari tadi bertengger di atas meja. Rasa kopi itu tak membuatnya membaik, Windu menunduk sejenak lalu membuka mulutnya dan malah gumaman yang membuat Bakti semakin bingung.
“Win, asal kamu tau. Aku udah lama mikirin ini semua, mempertimbangkan semuanya. Bukan tiba-tiba, bukan kali ini aja. Aku nyesel banget, udah nyia-nyiain kamu.”
“Kamu tau, yang aku ga ngerti adalah kenapa? Kenapa secepat ini? Aku kira kamu butuh waktu 5 tahun lagi sampe akhirnya kamu ngerti. Aku pikir kamu butuh 10 perempuan lagi sampe kamu bener-bener sadar,” ucap Windu, nafasnya mengaduh terpenggal kalimat yang telah ia simpan untuk waktu yang telah ditunggu, “dulu kamu maksa aku buat sayang ke orang lain, Bakti.....”
Bakti tertunduk malu sekali. Dia tak punya alasan apapun, hak apapun. “Aku minta maaf, Win...”
“Yang berlalu biarlah berlalu," sekuat tenaga Windu memelankan suara, suasana kedai cukup ramai hingga meredam suara Windu yang kepayahan.
Mereka kalut dengan kenyataan yang telah terjadi. Bakti enggan bersuara lagi. Kepala mereka kocar kacir menyatukan kenangan-kenangan apa yang telah mereka lalui dulu.
"Aku ga nyangka semudah itu kamu maafin,"
Windu memecah kalimat lagi, “Ga ada yang berubah sama perasaan aku ke kamu. Aku masih sangat sayang sama  kamu, Bakti. Kamu balik, semua udah cukup buat aku.”
Bakti menelan ludah, kemudian menengadahkan kepalanya, “jadi, kamu mau mulai lagi dari awal sama aku?”
"Ga," ucap Windu sembari menggeleng pelan.
"Tapi tadi kata kamu,..." Bakti kebingungan dengan ucapan Windu.
“Sekarang aku ga lagi mikirin perasaan. Kita masih punya banyak waktu.”
Bakti membisu. Ia berusaha mendeskripsikan perkataan Windu lagi.
“Jujur aja, aku ga bisa komitmen sama siapapun sekarang. Aku ga bakal kemana-mana, bakti.”
“Aku takut kam...”
“Aku bilang aku ga bakal kemana-mana, ga bakal ke siapa-siapa. Udah cape-cape aku nungguin kamu! Setahun kayak sewindu!” potong Windu.
Bakti terhenyak. “Begonya aku selama ini, Win! Maafin aku udah bikin kamu nunggu lama.”
Walau Windu pernah patah hati, ia tak ingin dikalahkan oleh rasa gengsinya. Windu memang ingin Bakti kembali. Dia akan berkata iya, jika memang iya.
Semudah ini memaafkan seseorang, semudah ini melupakan waktu-waktu yang dihabiskan untuk menagisinya. Ini akan terbayar. Tidak akan terjadi lagi kesalahan yang sama.
Tak disadari ternyata hujan mengguyur sedari tadi. Bakti dan Windu menghabiskan sisa waktu untuk kembali mengulang masa-masa berdua mereka. Rasanya setahun terlewatkan masing-masing, menghilang menjalani kehidupan masing-masing, tapi kini mereka kembali dan seperti tak pernah terjadi perpisahan.
Windu lega. Bakti cukup kembali dan semua termaafkan. Bakti tenang. Windu memaafkannya dan semua penyesalan mendidiknya dengan keras. Yang terpenting mau bagaimana pun keadaan berubah, perasaan tidak boleh berubah. Itu saja.

Kata

| Sabtu, 20 Februari 2016 | |
Kata ini punya alur sendiri
Berbaris memaut kata berikutnya
Bait ke bait menyokong makna tersirat
Puisi ini dibuat untuk memandu rasa
Rasa butuh kanvas kosong tuk digambari
Kata terurai, mewujudkan diri di atasnya
Kemudian tergores melalui warna yang terilhami
Warna itu hidup dari sebuah perasaan
Semburat cinta dengan malu-malu terurai merah jambu
Sepercik cinta dengan tangis mewarisi abu-abu

Aku mengartikan apa, mengapa, bagaimana maupun siapa dalam beberapa kata lain
Tuangkan lalu ungkap segalanya ke kanvas yang tak berupa lagi
Kata yang terpapar dari mulut agaknya menyulitkan
Namun kata yang mencair dari jemari itu menenangkan

Semoga Nanti

| Rabu, 17 Februari 2016 | |

Jemari  ini berlalu-lalu mencari tangan yang merentang
Satu sentuhan hangat ‘tuk ucap selamat datang selamanya
Hingga jemari-jemari ini saling berpaut
Jangan lepaskan hingga menjadi tanah

Udara ini sesak kuhirup sendiri
Kutitip separuh nafasku di paru-parumu
Nyawaku hidup diantara panjangnya udara yang kausesap
Rasakan itu, hingga paru-parumu tak juga mampu bekerja

Bayang ini terbang tak karuan
Perlu arah tuk tunjukan di kepala siapa ia bersemayam
Bayang-bayang tentang cerita yang takkan usai
Tetapkanlah, aku selalu menjadi bayangmu bahkan disaat matamu terpejam

Semoga nanti aku tak tuli, tuk dengar derap langkahmu
Semoga nanti aku tak buta, tuk lihat kedatanganmu
Semoga nanti aku tak bisu, tuk ucap sepatah kata
Karena pada akhirnya, kita takkan bisa mengelak karena pintu itu sudah dibuka

Aku Bukan Kalah

| Senin, 15 Februari 2016 | |
Aku bukan kalah, saat memilih untuk mengalah
Aku bukan kalah, saat memilih untuk memaafkan
Aku bukan kalah, saat memilih untuk menghilang

Hati mengosongkan diri namun masih merasa terisi
Terisi oleh setumpuk alasan tak berarti
Berarti benak ini tak juga mau mengerti
Mengerti bahwa lelah itu tak kenal situasi

Langkah ini mengayun begitu berani
Berani terjang waktu tanpa tujuan yang pasti
Pasti barat, utara, timur, selatan akan dilarungi
Larungi arah untuk mencari-cari ilusi

Lihat paras ini kehilangan aura lagi
Lagi menyimpan angan di tepi hari
Hari selalu sendu dan jatuh untuk menangisi
Menangisi janji yang dinjaki

Tangan selalu terulur untuk menanti
Menanti aroma tubuh yang dirindui
Rindu menguap berkali-kali
Berkali-kali pula kenyataan tak mengamini

Aku tak akan kalah, walau mengalah tak berarti menyerah
Aku tak akan kalah, walau memaafkan tak mesti dimaafkan
Aku tak akan kalah, walau hilang tetap meninggalkan jejak
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -