All i ask
“Let this our lesson in love
Let
this be the way we remember us
I
don’t wanna be cruel or vicious
And
i ain’t asking for forgiveness
All
i ask is....
If
this is my last night with you
Hold
me like i’m more than just a friend
Give
me a memory i can use
Take
me by the hand while we do what lovers do
It
matters how this ends
Cause
what if i never love again?”
Lagu itu mengalun ke
nada-nada terakhir. Sampailah ke lirik penutup, Adel merendahkan suaranya. Tertegun
sejenak, ia masih memegang tangan laki-laki itu dengan erat. Senyum semu-semu,
diantara cahaya redup di ruang karaoke. Kelap-kelip berbagai warna memenuhi
ruang, cahaya dari layar televisi pun tak mampu menyembunyikan betapa senangnya
wajah Adel. Ia menyanyikan lagu itu untuk kedua kalinya, namun untuk kali ini
senyumnya ditarik samar, seolah ada hal lain yang ia tahan dalam benaknya.
Diantara sayup-sayup suara Adel mengalun dengan apik. Ia memerhatikan dengan seksama, ia tau maksud dari lagu yang dinyanyikan Adel. Adam tak berkata sepatah kata pun, yang ia perlu lakukan adalah jangan lepas tangannya, sekalipun untuk malam itu saja. Lirik demi lirik, kemudian ke not-not berikutnya mengalir bagai air, suara Adel menyelusup seumpama angin di senja hari.
Hari itu begitu panjang. Mereka lewati berdua saja,
melakukan hal yang mereka suka. Adel dan Adam seolah masih berpacaran, terutama
Adel yang merasa tak pernah melewati perpisahan. Hal yang ia tunggu telah tiba,
untuk hari itu doa-doanya teramini. Kehadiran Adam di pagi itu, permohonannya
diiyakan, betapa bersyukurnya Adel.
Adam melakukan hal-hal yang Adel minta. Hari itu, mata
Adel tak lepas dari Adam. Ia tak membiarkan pautan jemarinya menjauh dari Adam,
ia menggenggam jemarinya, merangkul tangannya, bersandar di bahunya, Adel
merasa de javu berkali-kali.
“Udah jam 11
malem. Kita pulang yuk?” ajak Adel sembari menaruh mike-nya diatas meja.
Adam mengangguk pelan. “Siap, Nona!”
Adel dan Adam pun bersiap meninggalkan ruang karaoke lalu
melaju ke arah lobi. Adam menghampiri mobilnya, ia membuka pintu dan duduk di
kursi kemudi. Adel pun melakukan hal yang sama, ia duduk berdampingan di kursi
depan.
Mobil melaju. Adam merogoh ponselnya, terlihat ada beberapa
notif masuk ke ponselnya. Namun Adam tak membuka notifnya, ia hanya memeriksa
dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Adel pun sibuk melihat-lihat
foto mereka berdua tadi siang di ponselnya, tak disadari ia tersenyum begitu
banyak hari itu.
“Coba liat ini, kamu tu difoto kok manyun-manyun gitu?”
goda Adel sambil menyodorkan layar ponselnya.
“Kan kamu yang nyuruh,” sontak Adam geli.
Setengah perjalanan mereka habiskan dengan bergelut di
pikiran masing-masing. Adel mengingat saat pertama kalinya ia menghubungi Adam,
menanyainya kabar, sampai akhirnya ia meminta untuk satu hari saja bersamanya.
Adam awalnya menolak, tapi Adel bersikukuh membujuknya terus menerus, hingga
Adam pun akhirnya luluh dan mau melakukan hal yang Adel minta. Setelah tahun-tahun
berlalu, Adel masih menyanyangi Adam dengan cara yang sama, ia tak melupakan
hal sekecil apapun tentang Adam. Maka saat Adam datang di pagi itu, Adel girang
bukan main. Ia merasa hampir gila saking senangnya.
Adam pun disuatu malam tak menyangka, Adel tiba-tiba
menghubunginya lagi. Padahal sudah lama sekali ia tak berhubungan dengannya
setelah kejadian itu. Adam memendam sesal yang amat dalam padanya, bahkan untuk
meminta maaf pun Adam tak dimampukan melakukannya, ia tak punya nyali untuk
itu. Betapa malunya ia pada Adel, ia mengkhianati sendiri janjinya. Tapi semua
sudah berlalu, nasi sudah menjadi bubur, Adam masih bersama perempuan yang ia
pilih waktu itu. Adam merasa sangat bersalah, dan di hari itu ia membayar
semuanya. Setidaknya ia akan meminta maaf yang sebenar-benarnya kepada Adel.
Selang bermenit-menit terbunuh begitu saja dalam bisu,
Adam pun membentikan mobilnya tepat di depan rumah Adel.
“Del, aku...,” Adam memecah hening dengan ragu.
“Makasih ya buat malam ini, aku seneng banget,”
cepat-cepat Adel menyergah Adam.
Adam agak terkaget, ia menoleh ke arah Adel, “yang jelas,
aku mau minta maaf sama kamu. Aku ga pernah ngucapinnya langsung, aku malu sama
apa yang udah aku lakuin.”
“Udahlah, kan aku sendiri yang hubungi kamu duluan itu
artinya aku udah maafin kamu,” Adel tertegun sejenak, “mulai besok kamu hapus
aja semua kontak aku.”
Adam terkaget lagi, “kenapa aku harus hapus kontak kamu?”
Nafas dihela dalam-dalam, Adel melanjutkan ucapannya, “Dam,
aku mohon sama kamu! Aku takut ga bisa nahan diri buat ngehubungin kamu. Aku
kan udah janji, ini kali terakhir kita ketemu, aku ga akan ganggu kamu lagi.”
Kata-kata Adel menohok hati Adam. Bagaimana bisa Adel
mengatakan hal itu padanya, padahal yang bersalah dalam hal ini adalah dirinya.
Pikirannya kalut, ia kehilangan kata-kata. Mulutnya terbungkam begitu saja. Ia
hanya dimampukan menatap Adel dengan iba. Adel menunduk menyembunyikan pelupuk
matanya yang nyaris basah oleh air mata.
“Makasih banget buat hari ini, kamu ga akan pernah tau
betapa bersyukurnya aku,” ucap Adel sembari membuka pintu mobil, “dan satu
lagi, aku selalu berharap yang terbaik buat kamu dalam segala hal. Selamat
tinggal, Adam!”
Adel berlalu memunggungi Adam. Ia tak mau memperlihatkan
betapa sedihnya ia. Adam memanggilnya berkali-kali tapi Adel hanya melambatkan
langkahnya dan tidak berhenti atau berbalik pada Adam. Ia tau ini akan sulit,
tapi Adel merasa sudah lebih dari cukup.
Adam hendak keluar dari mobil, tapi ponselnya berdering. Ia
melihat satu nama di layar ponselnya, ia tak menjawab telpon darinya. Adam
termangu. Terlebih Adam masih belum mengerti dengan apa yang ia rasakan. Apakah
perasaannya hanya sebatas rasa bersalah? Mana yang lebih besar, rasa bersalah
ataukah sesalnya? Apakah ia benar-benar mencintai perempuan yang bersamanya sekarang?
Apa yang sebenarnya ia inginkan?
Tak pernah ia mempertanyakan hal itu pada dirinya. Ia
belum menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul begitu saja
dalam benaknya.
Pikirannya seolah memakunya untuk tetap duduk di dalam
mobil. Ia menoleh Adel yang berlalu, ia menatap lekat-lekat dari kejauhan.
Untuk apa ia mengejar Adel, bahkan ia tak punya sepatah katapun untuk
diucapkan. Adam semakin dimakan oleh kebingungnya sendiri. Ia tak ingin
menyakiti Adel lagi.
Adel masuk ke dalam rumah dengan sejuta perasaan yang
bercampur aduk. Air matanya tak terbendung lagi. Ia berlari menuju kamarnya, melemparkan
diri ke atas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya remuk, namun sebagian
masih utuh karena rasa lega. Tapi entah kenapa, ia ingin menangis saja malam
itu. Setelah satu hari bersama Adam, seolah bertahun-tahun yang lalu tak pernah
terjadi rasa sakit yang berkepanjangan.
Kemudian ia merogoh ponselnya di dalam tas dan memainkan
sebuah lagu yang ia nyanyikan bersama Adam. Ia tak tau, hal apa yang akan
terjadi esok hari, sebulan kedepan bahkan setahun yang akan datang. Setidaknya
ia merasa terobati walaupun tak ada yang berubah dari hubungannya dengan Adam.
Tapi kehadirannya hari ini, membuatnya merasa hidup kembali. Seolah
membangunkannya setelah tidur panjang. Lagu all
i ask mengalun terus menerus tanpa jeda, diulang lagi dan lagi. Air matanya
mengalir deras, sangat deras, hingga akhirnya Adel tak bisa menangis lagi. Ia
berjanji tak akan mengganggu Adam melalui apapun, tak akan mengharapkannya
kembali, biar saja semua berjalan begitu adanya.
“Now, dont get me wrong. I know there is no
tomorrow all i ask is...
If
this is my last night with you. Hold me like i’m more than just a friend
Give
me a memory i can use. Take me by the hand while we do what lovers do
It
matters how this ends cause what if i never love again”
Semalaman
Adel habiskan bersama lagu itu. Tak peduli seperti apa ia esok hari, ia sedih
terlebih sangat lega. Setidaknya ia bisa mengucap selamat tinggal langsung pada
Adam. Adel pun tertidur dengan tenang bersama lagu yang menemaninya di sisa
malam.