Sewindu
|
Minggu, 21 Februari 2016
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Waktu menunjuk pukul 15.00, sore yang tak begitu ceria. Matahari ditutupi awan yang amat tebal, hingga cahaya tak dimampukan untuk menerobosnya. Angin berhembus kencang, pohon-pohon pinggir jalan terhuyung angin kesana-kemari. Dedaunan berjatuhan melintasi jalanan. Namun, Windu tetap menarik gas motornya dengan kecepatan yang biasa, sepanjang perjalanan ia banyak berpikir. Windu tidak mengindahkan cuaca sore itu, ia hanya fokus pada satu tempat yang akan dituju, terlebih pada satu orang yang akan ia temui. Nafasnya naik turun sedikit tak karuan, apalagi nanti mungkin paru-parunya berburu oksigen dengan beringasnya. Perjalanan cukup menyita waktu, bisa dibilang kendaraan di jalanan merapat begitu padat. Windu merasa tak perlu cepat-cepat sampai di tempat itu, hatinya masih sulit diartikan. Tapi rasa penasaran yang amat besar membebani benaknya selama beberapa minggu belakangan ini seolah menyuruhnya cepat-cepat agar sampai disana.
Bagaimana dia? Seperti apa dia? Kenapa.... Apa..... ? pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalanya.
“Aku bisa gila,” gumamnya pelan.
Windu pun memarkirkan motornya di depan sebuah kedai kopi. Kedai kopi itu sudah tak asing lagi baginya, ia pernah beberapa kali datang kesana. Namun, setahun belakangan ini Windu tak lagi berkunjung ke kedai kopi itu. Alasannya, jelas karena orang yang akan ia temui. Windu mungkin tak akan datang kalau tidak karena dia yang meminta.
Langkah demi langkah diayun memasuki area kedai. Sampai dimulut pintu, matanya liar mencari-cari seseorang. Nafas terpengal, dadanya bergetar, mata Windu terkunci pada seseorang berjaket kulit hitam. Windu tau, walau seseorang itu duduk memunggunginya. Ia sangat hafal dengan siapa ia bertemu, postur tubuhnya, gerak-geraknya, kopi yang telah ia pesan bahkan aroma tubuhnya seolah terpantri begitu abadi dalam benaknya.
Benar saja, saat Windu menghampiri dengan sedikit malu-malu terlebih hatinya limbung tak karuan, mungkin tebakannya salah. Tapi dia memang dia.
“Hai,” sapa Windu ragu.
Bakti menaruh kembali cangkir yang akan ia minum. Ia sedikit kaget, “Oh, hai!”, setelah sepersekian detik baru Bakti mempersilakan Windu duduk.
Windu duduk agak sungkan. Satu meja dengan dua kursi saling berhadapan. Tempat pertemuan yang sama, di meja yang sama pula. Pikiran Windu kembali ke masa-masa dulu saat mereka juga disana dalam keadaan yang jauh berbeda.
“Mau pesen?” tanya Bakti.
Windu hanya mengangguk pelan. Ketika seorang pelayan menyodorkan menu padanya, Windu langsung memesan kopi yang sama dengan Bakti.
“Udah lama disini?” tanya Windu membuka obrolan setelah beberapa lama membeku di pikiran masing-masing.
“Ngga kok, baru 15 menitanlah,” jawab Bakti, “udah lama ya kita ga ketemu.”
Windu tersenyum semu, “yaaa, begitulah. Jadi selama ini kamu di Surabaya?”
Malu-malu Bakti memandang Windu. Ia ingin menatapnya agak lama, tapi malah membuatnya kelimpungan. “Iya. Aku dapet kerjaan disana. Gimana kuliah kamu?”
“Beres. Tinggal nunggu wisuda aja sih,” jawab Windu cepat.
Senyum Bakti tak berubah, Windu sangat mengingat semuanya. Betapa senyuman itu yang ia rindukan selama ini. Betapa Windu begitu mensyukuri pertemuannya dengan Bakti saat ini. Walau Windu sadar bahwa Bakti bukan lagi miliknya. Hubungan itu kandas, lepas entah terbang kemana namun kini Windu melihat wajahnya lagi.
“Syukurlah, aku seneng
dengernya.”
Mereka berdua saling membaur dengan obrolan ringan.
Menanyakan hal-hal ringan, saling melempar senyum sipu malu, saling mencuri
pandang. Windu maupun Bakti merasa lega, tidak ada perubahan signifikan dari
fisik mereka kecuali Bakti dengan sedikit kumis dan janggut tipis.
Sampai pada akhirnya mereka tertawa-tawa geli dengan
canda Bakti yang khas, Windu selalu menyauti candaannya dengan lihai hingga
suasana beku pun pecah begitu saja.
“Jadi, ga bakal ada yang marah kan kamu ketemu sama aku?”
celetuk Bakti diantara tertawaan Windu yang langsung terbungkam.
Windu tersipu namun dia berusaha biasa saja. Tentu saja
itu tidak berhasil. Windu berusaha mencari kata, saat mulutnya terbuka,
pelayanan pun datang menghampiri dan menaruh pesanan Windu di meja.
“Ga,” dari bermiliar-miliar kata di dunia ini, hanya kata
itu saja yang sanggup Windu ucapkan.
Bakti terdiam. Dia lega. Bakti bukan lelaki yang pandai
berbasa-basi. Sejak awal, Bakti berniat untuk mengakui semua kesalahannya.
Walau batinnya punya rasa malu yang amat besar, gengsi yang melekat kuat, tapi
kenyataannya adalah memang ia salah. Bakti telah mempersiapkan pertemuannya
sejak lama, namun baru kali ini ia begitu berani melawan dirinya sendiri untuk
menghubungi Windu lagi. Setelah beberapa minggu lalu Bakti menghubungi Windu
lewat bbm, dan ini kali pertamanya mereka bertemu langsung.
“Kapan kamu balik? Kok tiba-tiba udah di Bandung lagi? ” tanya
Windu tak tertahan lagi.
“Tadi pagi. Jadi, aku ngajak kamu ketemu. Ada yang pengen
aku omongin langsung sama kamu.”
Windu terhenyak. Bakti memang tak pernah berbasi-basi. Itu
membuat Windu agak kesal, ia merasa
belum siap dengan apapun yang Bakti bakal bicarakan.
Nafas dihela dalam-dalam. Bakti telah memikirkan ini
matang-matang, mempersiapkan semua penjelasan. “Aku mau minta ma..."
"Udah aku maafin," sergah Windu.
Suara Bakti menggantung ke langit-langit. Dia menganga tak percaya, "Maksud aku, aku bener-bener minta maaf atas semua kesalahan aku selama ini, aku keliru soal dia."
Windu mencoba
mencerna kalimat yang menggelontor dari mulut Bakti yang bergetar. Ia menyesap
kopi yang sedari tadi bertengger di atas meja. Rasa kopi itu tak membuatnya
membaik, Windu menunduk sejenak lalu membuka mulutnya dan malah gumaman yang
membuat Bakti semakin bingung.
“Win, asal kamu tau. Aku udah lama mikirin ini semua,
mempertimbangkan semuanya. Bukan tiba-tiba, bukan kali ini aja. Aku nyesel
banget, udah nyia-nyiain kamu.”
“Kamu tau, yang aku ga ngerti adalah kenapa? Kenapa secepat ini? Aku kira kamu butuh waktu 5 tahun
lagi sampe akhirnya kamu ngerti. Aku pikir kamu butuh 10 perempuan lagi sampe kamu bener-bener
sadar,” ucap Windu, nafasnya mengaduh terpenggal kalimat yang telah ia simpan
untuk waktu yang telah ditunggu, “dulu kamu maksa aku buat sayang ke orang
lain, Bakti.....”
Bakti tertunduk malu sekali. Dia tak punya alasan apapun,
hak apapun. “Aku minta maaf, Win...”
“Yang berlalu biarlah berlalu," sekuat tenaga Windu memelankan suara, suasana kedai cukup
ramai hingga meredam suara Windu yang kepayahan.
Mereka kalut dengan kenyataan yang telah terjadi. Bakti
enggan bersuara lagi. Kepala mereka kocar kacir menyatukan kenangan-kenangan
apa yang telah mereka lalui dulu.
"Aku ga nyangka semudah itu kamu maafin,"
Windu memecah kalimat lagi, “Ga ada yang berubah sama
perasaan aku ke kamu. Aku masih sangat sayang sama kamu, Bakti. Kamu balik, semua udah cukup buat aku.”
Bakti menelan ludah, kemudian menengadahkan kepalanya, “jadi, kamu mau mulai lagi dari awal sama aku?”
"Ga," ucap Windu sembari menggeleng pelan.
"Tapi tadi kata kamu,..." Bakti kebingungan dengan ucapan Windu.
“Sekarang aku ga lagi mikirin perasaan. Kita masih punya banyak waktu.”
Bakti membisu. Ia berusaha mendeskripsikan perkataan Windu lagi.
“Jujur aja, aku ga bisa komitmen sama siapapun sekarang. Aku
ga bakal kemana-mana, bakti.”
“Aku takut kam...”
“Aku bilang aku ga bakal kemana-mana, ga bakal ke
siapa-siapa. Udah cape-cape aku nungguin kamu! Setahun kayak sewindu!” potong
Windu.
Bakti terhenyak. “Begonya aku selama ini, Win! Maafin aku udah bikin kamu nunggu lama.”
Walau
Windu pernah patah hati, ia tak ingin dikalahkan oleh rasa gengsinya. Windu
memang ingin Bakti kembali. Dia akan berkata iya, jika memang iya.
Semudah ini memaafkan seseorang, semudah ini melupakan waktu-waktu yang dihabiskan untuk menagisinya. Ini akan terbayar. Tidak akan terjadi lagi kesalahan yang sama.
Tak disadari ternyata hujan mengguyur sedari tadi. Bakti
dan Windu menghabiskan sisa waktu untuk kembali mengulang masa-masa berdua
mereka. Rasanya setahun terlewatkan masing-masing, menghilang menjalani
kehidupan masing-masing, tapi kini mereka kembali dan seperti tak pernah
terjadi perpisahan.
Windu lega. Bakti cukup kembali dan semua termaafkan. Bakti
tenang. Windu memaafkannya dan semua penyesalan mendidiknya dengan keras. Yang
terpenting mau bagaimana pun keadaan berubah, perasaan tidak boleh berubah. Itu
saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar