Semoga Nanti
|
Rabu, 17 Februari 2016
|
Puisi
|
Jemari ini berlalu-lalu mencari tangan yang merentang
Satu sentuhan hangat ‘tuk ucap selamat datang selamanya
Hingga jemari-jemari ini saling berpaut
Jangan lepaskan hingga menjadi tanah
Udara ini sesak kuhirup sendiri
Kutitip separuh nafasku di paru-parumu
Nyawaku hidup diantara panjangnya udara yang kausesap
Rasakan itu, hingga paru-parumu tak juga mampu bekerja
Bayang ini terbang tak karuan
Perlu arah tuk tunjukan di kepala siapa ia bersemayam
Bayang-bayang tentang cerita yang takkan usai
Tetapkanlah, aku selalu menjadi bayangmu bahkan disaat
matamu terpejam
Semoga nanti aku tak tuli, tuk dengar derap langkahmu
Semoga nanti aku tak buta, tuk lihat kedatanganmu
Semoga nanti aku tak bisu, tuk ucap sepatah kata
Karena pada akhirnya, kita takkan bisa mengelak karena pintu
itu sudah dibuka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar