Truth Or Dare Part 2

| Rabu, 28 Agustus 2013 | |

Bel istirahat berdering. Murid-murid sontak terbangun dari kesibukan masing-masing. Para pelamun seketika pecah lamunannya, para pemikir seketika buyar konsentrasinya. Kantin sekolah adalah satu-satunya tempat penolong pertama perut keroncongan mereka. Setelah seorang guru berlalu meninggalkan kelas dengan gesit Rangga lari ke depan kelas. Kedua tangannya dilipat, wajah Rangga mengeras dan rambutnya yang mencuat ke segala arah menambah “horor” penampilan spektakuler itu.
“Hallo! Hallo! Harap tenang! Edward Cullen mau ngomong!” teriak Rangga kepalang pede.
Nyaris semua orang tidak menggubris teriakan Rangga. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja, pita suaranya dikerah sedemikian keras hingga semakin menggelegar. “WOY! TRUTH OR DARE KAPAN DILANJUTIN? JANGAN PURA-PURA LUPA DEH!”
Jery yang berdiri di mulut pintu pun menoleh ke Rangga. “Yaelah, urusan truth or dare pasti kita beresin. Emang sekarang lo ga laper?”
“Iya nih! Makhluk di perut gue lagi pada ngamuk! Belas kasihan dikit dong!” timpal Elsa.
“Pasti sih pasti, laper sih laper, jangan banyak alesan! Lagian udah kelamaan! Gua mau hari ini!! TITIK!” Rangga ngotot.
Kemudian senyap. Rangga terdiam beberapa saat. “Karena vampir juga butuh makan, ya, udah! Ayo! Berarti kita mainnya di kantin dan tentunya setelah ritual pemberian sesembahan sama makhluk di perut kalian semua selesai,” ucapnya sambil berlalu melewati kerumunan orang-orang yang terbengong mendengar ucapannya barusan.
“Di kantin?” Karin melongo.
Nando tersenyum girang. “Bener! Di kantin!”
Walau banyak yang memprotes setting-an tempat truth or dare terutama kelima pemain yang belum sempat menerima tantangan, permainan tetap dilakukan. Rangga, Vina dan Nando tak mau tahu, mereka bersikeras bermain truth or dare di kantin hari itu juga.
Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando duduk di satu meja yang sama. Mereka memesan makanan dan minuman untuk memenuhi hasrat lapar di dalam diri masing-masing. Sembari menunggu makanan datang, Jery tak henti-henti mengulas kenangan tak sedap khususnya bagi Rangga, Vina dan Nando saat menyeselesaikan tantangan truth or dare beberapa minggu yang lalu.
“Liatin aja lo, Jer! Kena apes ya nanti!” cetus Vina.
Rangga dan Nando sama jengkelnya dengan Vina tapi apa boleh buat untuk sementara waktu mereka harus puas dengan bully-an yang diberikan teman-temannya. 
“Ketawa aja terus! Mumpung masih bisa!” sindir Nando.
“Bener banget! Siapa pun diantara kalian yang dapet tantangan, hmmm, nikmati saja sensasinya!” timpal Rangga.
Vina berdecak, “tahu rasa lo pada!”
Sebelum salah satu dari para pemain yang belum sempat memenangkan tantangan itu menggubris komplotan kompor pemanas suasana, pesanan mereka pun datang dan segera menghilangkan lahan kosong di atas meja. Mereka terpaksa diam, menyimpan kalimat-kalimat sanggahan bahwa mereka tidak takut sama sekali. Sebenarnya tidak benar-benar takut hanya seolah-olah tidak ingin terlihat takut saja.
Kondisi tak terkendali. Mereka larut dalam hiruk pikuk kantin dan mulai membinasakan apapun yang berwadahkan mangkuk, piring dan gelas. Seperti sedang “Mengheningkan Cipta” ketika upacara bendera mereka begitu khidmat, khusuk dan sunyi untuk mencapai akhir yang bahagia yaitu kenyang, sekenyang-kenyangnya.
Setelah beberapa menit terbunuh, mereka pun selesai. Yang tersisa di atas meja hanya mangkok, piring dan gelas tanpa isi. Mereka telah berdamai dengan perut keroncongan yang sedari tadi memerangi. Semua sudah terkondisikan, perang berakhir.
“Ga usah berlama-lama lagi. Waktu kita ga banyak, guys!” ucap Nando.
“Ya ampun! Bener-bener, ya? Perut gue begah banget, dua menit lagi kek!” protes Elsa.
Rangga mengacungkan tangan memberi kode pada Ibu kantin untuk membereskan meja mereka. Keluhan demi keluhan pun bermunculan sejalannya proses pembersihan meja. 
“Sisa truth ada empat gulungan dan dare ada tiga gulungan. Ga usah gue ulang aturannya kaya gimana. Gue yakin lo semua punya memori yang cakep!” kata Rangga sambil menaruh pulpen di tengah-tengah mereka dan tujuh gulungan kertas di sebelahnya.
Walau mereka merasa kekenyangan, truth or dare tetap dimulai. Karena Nando adalah pemain terakhir di permainan sebelumnya maka ia berkewajiban memutar pulpen. Tak sabar, Nando memelintir pulpen itu dengan cepat. Sepanjang perputarannya, mata para pemain berbinar memandangi kemana ujung pulpen itu mengarah. Mereka tak bisa menduga siapa yang akan terpilih menjadi korban ke-4. Tapi yang jelas, salah satu diantara mereka pasti tertunjuk. Dan kali ini Jery-lah yang mendapatkannya.
Bibir Vina merekah. Senyumnya terkesan ambigu. “Selamat ya, Jer!”
Jery membalasnya dengan senyuman yang sama. Ambigu, antara senyum menandakan bahwa dia tidak gentar dan senyum tak menyangka ternyata dia sendirilah yang menjadi orang pertama pembuka tantangan truth or dare di sesi kedua itu.
Nando mengulum tawa, “kami persilakan bagi saudara Jery untuk memilih satu gulungan!”
“Oke!” intonasi yang membahayakan. Jery tidak mau goyah.
Jery mengambil satu gulungan lalu membukanya dengan perlahan. Hatinya mencoba menduga-duga. Dan ternyata bagian yang harus ia bereskan adalah dare.
“Baiklah! Kita bertujuh harus berunding! Jer, take it easy!” sahut Reno.
Don’t worry! Gue tenang-tenang aja kok!” kalimat Jery mengapung. Kosong tak meyakinkan.
Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina, Reno dan Nando berdiskusi untuk menentukan tantangan apa yang pantas buat Jery.  Suasana kantin yang bising tak menjadi kendala lahirnya ide-ide jitu dari otak mereka.
Kemudian setelah cukup lama mereka pun memutuskan. Jery terkesiap.
“Oke. Gini, kita semua ga tega kalo ngasih tantangan berat buat lo! Simple aja sih, paling dua puluh detik juga kelar!” ujar Karin mesem-mesem.
Well, gue mau mastiin dulu. Denger-denger, elo lagi deket ya sama Nadia?” sambung Reno.
Sebelum Jery menjawab, Elsa menunjuk seseorang yang baru saja memasuki area kantin. “Nadia? Itukan orangnya?”
Jery merasa posisinya tidak aman. “Oh God, jangan bilang ada sangkut pautnya sama Nadia!”
“Sori, Jer! Berhubungan pas moment apalagi orangnya dateng, ini bakal lebih gampang,” air muka Desta berangsur serius sekaligus jail. Ia pun membisikan tantangannya pada Jery.
“Par-rah!” gumam Jery tak percaya.
“Ayo! Sana samperin!” ujar Nando.
Cekikikan pun terdengar tak menarik lagi bagi Jery. Dengan berat hati ia berdiri dari tempat duduknya. Memalingkan muka dari ketujuh teman-temannya kemudian mencari sosok Nadia. Pikiran-pikiran konyol pun sekonyong-konyong berselancar bebas di benak Jery. Berandai-andai ia bisa menghilang seketika itu juga, berandai-andai ia bisa menghipnotis ketujuh teman-temannya agar lupa dengan tantangan itu, berandai-andai ia bisa berubah menjadi liliput lalu pergi melarikan diri, berandai-andai Nadia tiba-tiba merasa sakit perut dan segera berlalu dari sana, berandai-andai terjadi keributan di kantin itu sehingga mereka bisa menunda tantangan dan kemudian terus menerus berandai-andai.
Jery berharap ia akan kesulitan mencari Nadia namun ternyata apa daya Nadia berada dalam jangkauannya. Mata Jery menemukan dengan mudah letak meja yang baru saja Nadia tempati. 
Rangga tak henti mendorong tubuh Jery. “Oke, oke, oke!  Sekarang gue mau nyamperin Nadia!”
Belum-belum Jery sudah merasa malu. Langkah Jery lama-lama semakin melemah seiring menghilangnya jarak antara tubuhnya dengan Nadia. 
“Hai!” sapa Jery mengagetkan dua perempuan di meja itu.
Nadia baru menyadari kedatangan Jery. “Hai, juga!”
“Hmm, Nad...,” Jery tak ingin berbasa-basi dalam hal ini. Ia berusaha memusatkan pembicaraan langsung ke inti masalah walau sayang kala itu nyalinya berkendala.
“Duduk disini, Jer?” tanya Nadia.
"Engga, hmm, sebentar aja kok,” ucap Jery menahan apapun yang harus ia katakan.
“Oh, gue cabut aja mendingan?” sela Larisa, teman Nadia.
“Ga usah!” sahut Jery spontan. Larisa dan Nadia sontak terkejut.
“Nad, aku cuma mau bilang kalo,” tenggorokan Jery tercekat, “aku hamil 3 bulan.”
Tanpa sadar Nadia menjatuhkan ponsel yang digengamnya ke atas meja. Jery menelan ludah. Pawai tawa terdengar kompak ke seisi kantin.  Tak salah lagi, asal muasalnya dari mereka bertujuh.
“Elo baik-baik aja kan?” tanya Larisa serius.
Nadia masih terbengong. “Hmm, penjelasannya menyusul. Ini bukan masalah yang harus di salah pahami. Larisa, please tatapan kamu terlalu berlebihan! Dan Nadia, nanti aku hubungin kamu lagi ya, oke?”
Jery berbalik kemudian pergi meninggalkan ekspresi Nadia yang entah bagaimana mendeskripsinya, meninggalkan kegilaan dan rasa malunya tepat disana dan langkah cepat menuju meja sumber pawai tawa tadi menjadi pilihan Jery.
Tak sabar Jery segera duduk di tempat semula dengan memunggungi meja Nadia. Tanpa belas kasihan mereka bertujuh masih menetapkan keadaan terpingkal-pingkal. 
“Mudah-mudahan Nadia bukan cewek ilfil-an! Hahaha!” celetuk Vina.
Rangga menimpali. “Oh Tuhan, kenapa ekspresi Nadia seterkejut itu? Bikin gue ngakak ga karuan kaya gini!”
“Tobat gue! Besok-besok kalo ketemu Nadia, muka lo tutupin pake keresek aja, Jer!” sahut Desta.
Nando geli melihat wajah Jery yang berubah kusut. Ia memanfaatkan situasi itu dengan baik. “Ga perlu nunggu besok, sekarang aja!” 
Keadaan tak terkontrol. Mereka bertujuh terus saja mengolok-olok Jery.
Enough, hadirin yang berbahagia! Jangan senang dulu! Sekarang kita lihat siapa korban berikutnya!” dengan lemah lembut Jery memutar pulpen itu. Karena kekuatan putaran tak begitu kuat sehingga pulpen pun berhenti lebih cepat. Dan seseorang telah terpilih. Pawai tawa langsung terhenti.
Elsa tersenyum simpul. Ia mengambil satu gulungan kemudian merentangkan kertas itu dengan hati-hati. Inilah yang ia tunggu-tunggu, menurutnya semakin ditunda semakin ia tak tenang. Dan sekaranglah waktunya, Elsa menentukan peruntungan dan truth berada didalamnya.
Seperti biasa mereka semua kecuali Elsa berunding untuk menentukan pertanyaan. Sembari menunggu, Elsa mencuri pandang ke arah Nadia yang ternyata sedang memerhatikan tingkah laku mereka dari jauh. Elsa senyum-senyum melihat wajah Nadia yang penasaran.
Proses perundingan pun usai. Rangga, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando telah siap dengan satu pertanyaan.
“Kita mau yang jujur, oke? Pertanyaannya aman-aman aja kok!” kata Reno.
Jery sedikit menyondongkan tubuhnya. “Peristiwa tergila apa yang pernah lo alamin?”
“Inget ya harus yang bener-bener GI-LA!” sela Karin.
“Kasih gue waktu buat mikir! Soalnya banyak banget kejadian gila dalam hidup gue!”
“Caaah! Pura-pura mikir!” seloroh Rangga sembari tertawa.
Elsa mengangkat telunjuknya kemudian mengetuk pelan ke arah kepala. Bahasa tubuh yang bisa diartikan bahwa Elsa benar-benar sedang berpikir.
“Emang ga terlalu relevan sih pertanyaan tadi buat manusia ini! Istilah jaim-jaiman ga bakalan ada di kamus hidup si Elsa! Percaya deh sama gue! Dia emang manusia super nekad dan gila,” celoteh Rangga.
Reno pun ikut menyela. “Nah itu dia, gue pengen tahu standar tergila versi si Elsa tu kaya gimana? Soalnya disuruh joged di lapangan juga pasti dijabanin!”
Tak ayal di sepanjang proses berpikir Elsa, ketujuh temannya bermusyawarah menumpuk komentar tentang dirinya. Konsentrasi Elsa terganggu dan selalu buyar sebelum menemukan jawaban.
“Kawan-kawan, listen to me! Jawaban gue emang paling ditunggu dan gue sadar akan hal itu. Kalau dunia tahu, gue yakin cerita ini bakal langsung jadi trending topic,” ucap Elsa asal.
Rangga, Karin, Vina dan Nando bahkan tidak menyadari bahwa Elsa sedang berbicara pada mereka. Mereka berempat sibuk bermusyawarah dan tiga orang lainnya berpura-pura tak mendengar.
Seolah-olah bohlam di dalam otak Elsa telah menyala. Ia punya jawaban. “Insiden salah naik mobil!!!” sahutnya.
“Maksud lo?” tanya Vina yang secara otomatis menghentikan musyawarah aneh mereka tentang Elsa.
“Iya, gue pernah salah naik mobil. Dan kalian tahu mobil siapa yang gue tumpangin?” mata Elsa berbinar-binar.
Who?” saking penasarannya Karin dan Jery bertanya berbarengan.
“Mobil Kak Bayu.”
Vina sontak menutup mulutnya yang membentuk huruf O besar. Karin merasa punggungnya lunglai langsung membenamkannya ke sandaran kursi.
“Oh, Si anak basket itu? Apa istimewanya?” tanya Nando dengan malas.
Vina kemudian menguncang-guncang tubuh Elsa. “Beneran, El? Kapan kejadiannya? Terus gimana? Elo ga ngapa-ngapain Kak Bayu kan?”
"Eh, masa gue yang ngapa-ngapain Kak Bayu sih? Hello...”
“Apanya yang gila? Gue rasa sah-sah aja si Elsa naik mobil Bayu!” protes Rangga.
Karin menatap tajam pada Rangga. “Kak Bayu, Ga! Kak Bayu! Prince Charming yang cakep ga ada obatnya. Udah ya ganteng, pinter, jago basket, tajir pula lagi. Kenalan aja susah banget apalagi bisa deket, satu mobil sama Kak Bayu itu anugerah!”
“Berlebihan!” sesingkat itu Jery menanggapi perkataan Karin.
“Gue ga peduli! Sekarang ceritain sama kita gimana kronologisnya? Harus detail, ga boleh ada secuil pun yang terlewat! Dan kalian berlima jangan coba-coba nyela!” kepalan Vina mengacung pada Rangga, Desta, Jery, Reno dan Nando yang menjadi simbol bahwa ia akan benar-benar meninju siapapun yang berani melanggar.
Elsa menghela nafas sesaat. “Kejadiannya sekitar satu minggu yang lalu. Waktu itu migrain gue kambuh total! Kepala gue kaya dipukul-pikul palu segede setan. Saking pengen cepet-cepet nyampe mobil, gue lari sebisa mungkin. Kepala gue ditekuk, ga nengok kiri kanan dan saat itu gue liat mobil silver markir di depan gerbang. Tanpa gue liat keseluruhan mobil dengan beraninya gue buka pintu belakang dan langsung masuk ke dalem mobil. Karena biasa ngaret, gue marah-marahin si supir! Udah kepala gue pusing, nunggu lama. Siapa yang bisa nahan emosi, coba?”
Elsa sempat menunggu namun tidak ada yang merespon sama sekali. Mereka masih penasaran dengan cerita Elsa karena itulah ia melanjutkan kembali cerita.
“Gaya marah gue emang keren! Gue ga ngasih waktu setengah detik pun buat dia ngomong. Ngomel-ngomel dan nyerocos terus! Akhirnya, orang yang gue sangka supir pun nginjek gas juga,” Elsa terdiam dan memerhatikan ekspresi ketujuh temannya tak berubah: tetap menunggu. 
“Seiring jedug-jedug di kepala gue berkurang, gue sadar satu hal: harum mobil yang berbeda. Awalnya gue kira emang parfum mobil gue aja yang udah ganti tapi tiba-tiba hape gue bunyi. Gue liat, gue perhatiin, ternyata supir gue yang sms, nanya gue dimana. Bingung sekaligus takutlah gue. Kalo mobil gue masih di sekolah, lah gue numpangin mobil siapa dong? Ya udah, gue bangun terus teriak deh!”
Vina dan Karin bertahan. Rangga, Desta, Jery, Reno dan Nando memaksa diri untuk tetap bungkam tanpa menyela.
“Entah karena kaget atau gimana, Kak Bayu langsung nengok ke belakang. Gue melongo, Kak Bayu panik. Kalau gue super hero, udah pasti gue langsung loncat dari itu mobil. Gue minta maaf berjuta-juta kali sama dia, ga nyangka bakal ada insiden salah naik mobil segala.  Ya udah sih, gue dianterin pulang. Gue seneng. Gue malu dan selesai.”
“Elo ga minta folback twitter kan?” Karin melotot.
“Atau malah  minta konfirmasi facebook?” Vina semakin geregetan.
“Yaelah, ga ada waktu. Dari mulai gue sadar itu Kak Bayu sampe akhirnya tuntas nganterin gue, ga ada henti-henti gue minta maaf. Gue ngerasa bersalah tapi ngerasa beruntung juga sih! Hahaha!”
Kalimat terakhir Elsa tak begitu berkenan di hati Vina dan Karin. Serempak mata mereka menyipit lalu mulai menggerutu banyak hal pada Elsa. 
“Kenapa ga gue aja sih?” rengek Karin.
“Ih enak banget lo! Yang paling pantes tuh gue!” sergah Vina.
Girls, waktu kita dikit lagi! El, cepetan deh puter pulpennya! Kuping gue suka panas kalo ada cewek-cewek ngomongin cowok yang ga lebih cakep dari gue!" cetus Rangga.
Tentu saja Elsa, Vina dan Karin menanggapi pernyataan Rangga itu dengan cara yang anarkis. Setelah puas mengacak-ngacak tubuh Rangga, Elsa pun meneruskan tanggungjawabnya sebagai pemain. Pulpen pun berputar cukup cepat. Yang tersisa adalah Karin, Desta dan Reno. Kini satu orang telah menemukan waktu yang tepat untuk menyanggupi tantangan. Dan Destalah orangnya.
Keadaan tak begitu baik, Desta mendapat tantangan dare. Serta ketujuh temannya berdiskusi Desta berupaya menenangkan hati. Sedari pertama Desta adalah pemain dengan mental paling ciut diantara yang lain. Makanya, pikiran Desta tak pernah rehat untuk menerka-nerka tantangan apa yang akan diterimanya.
Nando berdecak. “Nah, itu baru ide brilian!”
“Oke, deal!” Jery terlihat bersemangat.
Karin menggosok-gosok kedua telapak tangannya. “Berhubungan bentar lagi mau masuk kelas jadi seperti permainan sebelumnya kita tunda dulu. Gue sama Reno bakal nyusul. Tenang aja, guys! Dan karena Desta pemain terakhir di sesi kedua truth or dare ini makanya kita disini udah nyiapin tantangan tercuco buat lo!”
Rangga, Elsa, Karin, Vina, Jery, Reno, dan Nando berdiri secara bersamaan. Batin Desta semakin tak terarah. “Apaan?”
Rangga mengacungkan tangannya. “Bu Kantin! Semua makanan sama minuman di meja ini dibayar sama Desta ‘ya?”
“WHAT?” Desta shock.
Mereka bertujuh kontan berlari meninggalkan Desta yang masih dalam kondisi linglung. Bel berdering nyaring. Suasana kantin pun terguncang. Semua orang serta merta meninggalkan area itu.
“WOY! Kampret! Gue ga ada ongkos pulang, kebangetan lo semua! Reno, Karin, Nando, siapapun tolongin gue!!” teriak Desta putus asa.
Ya, mau tak mau Desta harus membayar seluruh makanan dan minuman yang telah dipesan. Dengan muka memelas Desta meminta keringan pada Ibu Kantin agar separuh dari total harga bisa dibayarkan esok hari. Desta dongkol bukan main. Permainan truth or dare membuatnya kapok. Desta berjanji tidak akan lagi mengikuti permainan itu sekali pun truth or dare adalah syarat agar bisa menjadinya salah satu deretan cowok cakep melebihi Bayu atau bahkan Rio Dewanto. Tidak ingin dan tidak akan ingin lagi.
 Truth or dare belum berakhir sampai disitu. Karin dan Reno belum menerima peruntungan apa yang akan mereka dapat. Tunggulah, tunggu hingga waktunya tiba.

Pengeluh Amatir

| Minggu, 25 Agustus 2013 | |


Kisah berlalu melewati jalan perjuangan
Harapan membumbung, doa diharumkan tiap hari
Pikir demi pikir dikerahkan dalam apa-apa
Selepas menuangkan sabar dan keringat disana
Puisiku mulai berbisik, aku ingin, aku ingin, aku ingin

Kisah menunggu di depan sana
Sebelum menerima, waktu memelukku seeratnya
Harapan terbungkam dan apa-apa yang terjadi siap melemparku
Masih dalam bisik, aku ingin, aku ingin, aku ingin

Bahagia yang di agungkan kemudian menolak
Menggeleng kepala dan pergi ke takdir yang lain
Tidak ada, aku tak dapat

Hal yang sama selalu kembali padaku
Kini aku berpuisi dalam keluh dan kalah
Sajak-sajak menggerutu dari si pengeluh
Puisi juang tertelan habis oleh pungkiran nasib yang didapati
Lolongan di benak mengasihaniku sebagai pengeluh amatir

Acting Or Not Acting?

| Minggu, 11 Agustus 2013 | |
Lampu-lampu penerang jalan mulai menunjukkan kemampuannya untuk menenggelamkan kegelapan massal. Langit menghitam, senja yang jingga sudah mengabur. Dama dan Nepa berjalan menyusuri trotoar jalan menuju halte bus yang letaknya satu blok dari sekolah. Mereka berlalu meninggalkan bangunan sekolah yang lama kelamaan habis ditelan jarak. Selepas latihan teater, Dama dan Nepa segera membubarkan diri. Sepasang sahabat itu tak pernah lepas dari acara “Berangkat dan Pulang Bersama” setiap harinya.
“Akhirnya, setelah sekian lama ternyata gue bisa juga dapet peran bagus buat Pementasan Teater bulan depan. Ini pertama kalinya gue lepas jadi pemeran hantu, yang cuma numpang lewat di panggung pake seragam putih-putih, mana rambut dibikin semrawut ga jelas juntrungannya, muka gue dilukis sedemekian seremnya. Dan parahnya, penonton ga pernah nyambut kehadiran gue dengan senang hati, malah yang ada mereka ngeri liat tampang gue dan pengen cepet-cepet gue hengkang dari panggung,” Nepa geleng-geleng kepala. “Ah, tapi sekarang semuanya terbayar juga! Gue ga jadi hantu, bener-bener engga,” celoteh Nepa yang sedari tadi tak pernah diam membahas pengumuman pembagian peran.
“Ya, tapi kan berkat peran lu yang ‘meyakinkan’ di Pementasan Teater bulan kemaren, ga mungkin Bu Farah sekarang nunjuk lu jadi pemeran utama,” Dama memberi penekanan pada kata “meyakinkan”-nya yang sontak membuat hati Nepa tersentil.
Mulut Nepa berangsur membungkuk. “Kacang asin, lu! Masa seumur-umur gue mesti jadi hantu. Kapan gue naik kastanya?”
Ledakan tawa Dama menjalar di sepanjang jalan menuju halte bus. Udara dingin menyelusup  ke balik jaket dan seragam sekolah yang masih menempel di tubuh Dama dan Nepa dari tadi pagi. Setelah satu belokan dilalui mencuatlah sebuah tempat berbentuk persegi panjang, dengan bangku di dalamnya, empat tiang besi sebagai penyangganya dan di atas atap itu bertuliskan “Halte Bus”.
Sebelum mencapai halte bus, Nepa menepuk bahu Dama dan kontan membuat langkah kaki mereka terhenti. 
“Gue mau ngomong sesuatu sama lu. Bentar aja!” sahut Nepa serius.
“Ngomong apaan?” semburat kebingungan sekaligus penasaran langsung menyebar ke seluruh tubuh Dama.
Nepa menghela nafas panjang, ia terdiam cukup lama dan membuat Dama sedikit kesal. Suasana dingin dan cahaya lampu jalanan yang menyoroti mereka menjadi pendukung yang dramatis. Beberapa orang berseliweran melewati sepasang sahabat yang sedang mematung dan saling berhadapan itu namun mereka seakan tak peduli.
Nepa menarik lengan Dama dengan perlahan ke dinding yang berada di balik punggungnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Hatinya sedikit bergetar, Nepa maupun Dama sama-sama merasakan perubahan atmosfer itu.
“Entah sejak kapan... gue ngerasa kaya gini... perasaan yang menjadi faktor terkuat pengganggung tidur gue... setiap malemnya. Jujur,... gue... bingung.. harus mulai dari mana,” Nepa setengah mati mengendalikan nafasnya namun suara Nepa yang tersendat-sendat tak karuan hanya menambah tegang dirinya.
Otak Dama bersikeras menebak-nebak apa yang sebenarnya Nepa hendak ucapkan kepadanya. Ia mengumpulkan semua presepsi yang muncul dalam pikirannya seketika itu juga.
Sorot mata Nepa seolah terkunci di satu titik. Mata Dama adalah pusat dari segalanya dan pupil Nepa tak sedikit pun beranjak dari sana. “Kita sahabatan dari kecil, lu tahu itu. Gue peduli sama lu, gue sayang sama lu sebagai sahabat,” ia kembali menghela nafas panjang, “tapi semuanya berubah, entah kapan mulainya gue juga ga tahu. Yang jelas, rasa peduli dan rasa sayang gue ke lu udah ga sama lagi. Gue sayang sama lu bukan sebagai sahabat melainkan sebagai cowok.”
Kini kata-kata Nepa berselancar hebat dari mulutnya menuju ke rongga telinga Dama. Ia tak melepaskan pandangan, matanya menetap disana, di mata Dama. Hatinya terguncang hebat, gejolak perasaan tumpah ruah. Laron-laron yang berterbangan di sekitar lampu jalan seolah begitu girang tak kepalang mendengar ucapan Nepa.
Dama merasa bibirnya membeku. Tungkai kakinya goyah mendengar perkataan Nepa. Ini di luar dugaannya. Ia tak menyangka Nepa bisa seberani itu, hatinya berupaya mencerna ucapan sahabatnya itu, semuanya terlihat natural walau sedikit terasa ganjil dan tidak benar baginya. Dama tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, seharusnya dirinya-lah yang mengatakan hal itu lebih dulu. Dama memang cinta, sudah lama cinta pada dia yang kini berada di depannya, yang juga sahabatnya, Nepa.
Walau dalam diri Dama bermunculan perdebatan sengit antara pihak yang memercayai dan yang meragukan, Dama belum bisa memutuskan mana yang benar karena ia pun masih sangat bingung menguraikan semua yang dikatakan perempuan itu. Nepa mematung, kini bibirnya mengatup rapat seolah-olah menunggu respon Dama, menerjemahkan air mukanya yang tak kunjung bisa ia tebak.
Dama pun mencari jalan untuk menengahi perdebatan hatinya yaitu dengan memastikan perkataan Nepa. Mulutnya mulai bergerak, setengah terbuka padahal kata demi kata telah siap digelontorkan namun belum sempat ia melakukan hal itu Nepa sudah lebih dulu meledakkan tawa. “Akting gue bagus ‘kan? Gue udah pantes dapet peran utama? Iya 'kan? Ngaku, ayo ngaku!!” sahutnya sembari tertawa terpingkal-pingkal.
Ucapan Nepa sontak membuat Dama kaget. Akting? Hanya akting? Benar saja, pikirnya. Dama langsung terdiam dan beberapa detik kemudian bibirnya merekah juga, tawanya menyusul tawa Nepa yang sedari tadi bertalu-talu. Dama pun tertawa keras sebisanya walau hati tak bisa dibohongi, Dama sedang menertawai kebodohannya sendiri. Harapan yang tinggi itu sekejap jatuh, lalu hancur tak menyisakan apa pun dan kepingan-kepingannya tergelatak kepayahan di bawah kaki Dama kala itu. Suara tawanya terdengar tidak meyakinkan, sumbang dan terlebih hampa.
Sebuah bus melintas dan berhenti di depan halte. Mereka kontan membungkam tawanya, Nepa menarik lengan Dama dengan terburu-buru lalu beranjak ke mulut pintu bus. Setelah masuk, mereka berdua sepakat duduk di bangku paling belakang. Suasana dalam bus tak begitu menyesakkan seperti biasanya, malam itu bus terasa lengang sekali.
Sepanjang perjalanan pulang, Dama lebih banyak diam. Ia merenungi kejadian tadi, pikirannya bersilewaran, presepsi dan harapannya terbungkus menjadi satu paket yang menyakitkan. Nepa mengamati perubahan Dama, yang bisa ia lihat hanya siluet kekecewaan di wajah Dama. Namun itu hanya perkiraannya, ia tak berani memastikan bahkan dirinya sendiri pun meragukan hal itu. Perasaan sesal pun menghantui lorong-lorong hati Nepa. Bukan menyesal karena ia telah berakting jatuh cinta pada Dama melainkan karena ia menyesal telah berkata separuh benar dan separuh bohong. Ia membohongi Dama juga membohongi dirinya sendiri. Nepa tidak sedang bersandiwara, ia benar-benar mengungkapkannya dengan sepenuh hati. Tapi, sekuat jiwa Nepa tak bisa melakukan itu, ia malah memcemplung diri untuk berkata bahwa semua itu hanyalah sandiwara. 
Mereka duduk dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Perjalanan itu berlangsung tanpa perbincangan yang berarti. Rasanya tidak ada satu pun topik perbincangan yang mampu mengusir semburat kecanggungan hati satu sama lain karena kejadian tadi. Dama dan Nepa saling memikirkan dan saling merenunginya dalam balutan hening. Disayangkan, mereka hanya sanggup berbicara dalam hati saja.

***

Nepa beringsut di sofa besar yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Kedua kakinya dilipat dan ditekuk ke atas kursi. Di ruang keluarga, mata bulatnya menatap kosong televisi yang sedari tadi berupaya meminta perhatian Nepa namun ia tetap saja bergeming. Setumpuk pikiran-pikiran yang membebani kepalanya setelah peristiwa di halte bus tempo hari membuatnya tidak pernah tenang lagi. Sesal menjadi bulan-bulanan hatinya selama ini apalagi mengingat respon Dama waktu itu hanya menambah runyam pikiran Nepa. Mereka bersahabat sedari dulu, itulah masalah utamanya. Nepa maupun Dama tidak mungkin mengorbankan persahabatan mereka untuk perkara seperti itu tapi suara hati berkata lain. Nepa jatuh cinta pada Dama, sulit untuk diubah karena semuanya adalah harga mati.
Bagi Nepa, televisi di depannya hanya benda abstrak yang ia abaikan. Ia tak benar-benar menanggapi celoteh-celoteh yang muncul dari benda itu, ia fokus pada dirinya sendiri. Derap langkah dari balik kursi segera membuyarkan pikiran Nepa, ia berbalik lalu matanya terkesiap menangkap sosok yang datang menghampirinya. 
“Dia ada disini, Mbok!” sahut Dama pada seorang perempuan tua yang mengantarkannya ke ruang keluarga.
“Mau minum apa, Den?” dengan sopan Mbok Minah menawari Dama.
“Enggak usah, Mbok! Makasih!” Mbok Minah pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Nepa masih mempertahankan posisi duduknya yang setengah tenggelam dalam sofa besar itu. Dama melempar senyum padanya sembari berkacak pinggang ia berkata, “Ini malem minggu! Diajak hang out malah ogah-ogahan! Gak kaya biasanya, kenapa sih?”
“Males. Buat sementara gue pindah profesi jadi kuncen rumah,” ucap Nepa setengah bergumam dan tubuhnya mulai memosisikan diri dengan baik.
Lalu Dama menjatuhkan tubuhnya ke kursi. “Nah, yang kayak gini nih yang disebut virus menular paling berbahaya. Gue jadi ikut-ikutan ga nafsu ngalong!”
Nepa tersenyum sekilas lalu pandangnya bergerak ke sebuah jendela. Ia mengocek nafas sedalam-dalamnya, hati Nepa mulai berteriak dan hal itu membuatnya tidak nyaman. Kemudian ia menurunkan kakinya dari kursi dan berjalan menghampiri jendela itu lalu menyibakkan tirai yang membungkusnya. Ia memaku diri disana untuk beberapa saat yang setidaknya bisa membungkam teriakan-teriakan hatinya kepada Dama.
Dama memerhatikan gerak-gerik Nepa yang tidak biasa itu. Sekonyong-konyong hatinya tergerak untuk menghampiri Nepa. Tanpa pikir panjang, Dama pun bangun dari tempat duduknya lalu beringsut di belakang punggung Nepa sembari sama-sama menontoni hamparan lapangan hitam dari balik jendela.
“Malam yang cerah, ya? Tapi sayangnya, bintang sama bulan lagi malu-malu buat nunjukin diri,” suara Nepa sangat pelan, jika Dama tidak mendekatkan telinganya ke wajah Nepa nyaris saja ia tak mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Bukan gitu, mereka lagi dandan dulu saking takutnya kalah saing sama kamu,” sambil berbisik Dama meluncurkan kata-kata itu langsung ke telinga Nepa.
Sontak membuat Nepa tegang. Keberadaan Dama dengan jarak sedekat itu malah memperbanyak frekuensi deg-degan dalam hatinya. Nepa pun berdehem, “Gue mau minta maaf sama lu soal tempo hari di halte bus.”
“Ngapain minta maaf?”
Nepa membalikkan tubuhnya menghadap Dama, “Menurut lu? Gue juga ga ngerti, tapi gue ngerasa harus minta maaf aja sama lu!”
Dama mundur satu langkah. Ia menatap aneh ke arah Nepa. “Lu harusnya ga usah minta maaf. Lagian cuma akting kan?”
Pertanyaan Dama menambah sesak paru-paru Nepa. Ia tak ingin berbohong lagi tapi ia juga tak ingin terang-terangan mengakui bahwa semua yang ia katakan tempo hari benar-benar ia rasakan sepenuhnya. Nepa sekejap tersenyum lalu kembali mengamati hamparan langit dari balik jendela. Dama merasa batinnya bergetar, sedikit terguncang jika mengingat kejadian itu. Dalam hatinya ia merasakan kekecewaan yang begitu besar, tapi ia masih bertanya-tanya mengapa detik itu ia bisa merasakannya sedikit lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Perdebatan hatinya belum selesai, malah pedebatan kedua belah pihak itu semakin meruncing. Jiwa bergolak-golak, persahabatannya dengan Nepa telah berubah karena kini mereka bukanlah sepasang anak kecil yang polos. Sekarang mereka telah tumbuh dewasa dan mengenal cinta dalam sudut pandang yang lebih luas. Dama merasa pembuluh darahnya bereaksi begitu cepat hingga memunculkan titik-titik keberanian. Ia hela nafas sebanyka-banyaknya hingga paru-paru Dama di penuhi oksigen yang bisa ia pergunakan untuk menghembuskan kepengecutan dirinya selama ini.
Dama melangkahkan kakinya satu per satu, menghitung detik demi detik yang ia habiskan untuk mencapai Nepa. Setelah berada tepat di belakang punggung perempuan yang dicintainya itu, Dama berupaya menguatkan dan mengokohkan keberaniannya. Beberapa saat berlalu, lapis demi lapis keberanian Dama pun semakin bertumpuk dan menebal. Ia tahu konsekuensinya, apa yang menjadi risiko terbesarnya ia bertekad menanggung semua sekali pun itu adalah persahabatan mereka.
“Nep...” kerongkongan Dama tercekat.
Yes?” pandangan Nepa tidak beralih, ia enggan melepaskan tatapannya dari langit.
“Gue mau jujur sama lu. Gue tahu kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa terjadi setelah gue ngungkapin semuanya ke lu. Tapi ini udah berlangsung lama dan gue ga bisa nahan-nahan lagi buat bilang bahwa,” Dama menggantung kalimatnya. Ia terdiam cukup lama dan Nepa pun kembali membalikkan tubuhnya menghadap Dama.
“Bahwa...?” Nepa menaikan alisnya beberapa inci.
Kalimat penting itu masih tertahan di ujung lidahnya. Dama mengangkat kedua tangan lalu meletakkannya di atas bahu Nepa. Wajahnya mengeras, matanya begitu tajam, hal itu membuat perasaan Nepa meledak-ledak tak terkendali.
Dama mengurangi jarak wajahnya dengan wajah Nepa. “Bahwa gue... kecewa setelah denger lu bilang kejadian tempo hari itu cuma akting. Karena gue sebenernya udah sayang sama lu dari dulu. Tapi ini beda, bukan rasa sayang biasa, ini adalah perasaan jatuh cinta yang sesungguhnya.”
Mata Dama dan Nepa bertautan lama sekali. Mereka saling mempertanyaan kebenaran dan mencari kode satu sama lain. Dama berharap banyak tapi sayangnya Nepa menganggap sahabatnya itu sedang bergurau.
Great! Akting lu bagus juga!” decak kagum Nepa bergema keheningan.
Kontan tangan Dama melemah. Energi dalam dirinya mati seketika. Kakinya seolah-olah roboh karena yang menjadi penyangganya telah hancur. Dama menatap Nepa putus asa lalu tubuhnya beringsut mundur kembali. “Siapa bilang gue lagi akting?” gumamnya pelan sekali.
Walau begitu Nepa sanggup menjangkau suara Dama selemah itu. Aliran darahnya bekerja cepat, otaknya mencoba memahami perkataan Dama. “Anggap gue orang paling bego sedunia. Gue minta penjelasan yang lebih detail lagi. Acting or not acting?
Dengan lirih Dama meyakinkan hatinya agar tidak menyesali perkataan yang baru saja ia lontarkan. Ia harus terus bergerak, menjemput apapun yang menjadi keputusan Nepa. “Gue cinta sama lu. Sejak lama, sejak... entahlah gue ga pernah bener-bener sadar kapan tepatnya. Waktu itu, pas kejadian di halte bus apalagi setelah lu bilang semua itu cuma akting, hati gue ga pernah ngerasa nyaman lagi. Gue ngerasa kecewa sama diri gue sendiri, gue cinta sama sahabat gue sendiri!” nafasnya terengah-rengah. “Tapi Nep, please jangan pernah lu berubah karena hal ini! Mungkin setelah gue bilang gini, lu bakal jauhin gue dan gue sadar sesadar-sadarnya bahwa gue ngungkapin semua ini dengan tulus walau dengan risiko yang besar. Gue ga bisa lagi bersikap biasa-biasa aja saat lu di deketin cowok-cowok. Karena gue adalah gue, bukan gue di atas panggung teater. Gue berharap sampai kapan pun kita bersama dalam konteks apapun!” tuturnya dengan penuh keyakinan. Detik itu juga beban di pundaknya seolah terangkat. Dama merasa lebih ringan dan lega.
Nepa mematung. Tubuhnya tak berpindah maupun bergerak sedikit pun. Ia seolah terhipnotis dengan kata-kata yang diungkapkan Dama. Nepa mengatur nafasnya, menetramkan hatinya yang semakin meneriakinya terus menerus. 
Waktu tetap berjalan, Dama masih menunggu tanggapan Nepa tetapi ia masih  sibuk mengubrak-abrik kalimat yang tepat kepadanya. Dama semakin putus asa, sorot matanya penuh harap. “Nepa, please say something! Lu boleh marah sama gue, lu....”
“Akhirnya, lu ngomong juga! Gue udah lama nunggu lu, gue udah cape nyalahin diri gue sendiri karena waktu itu gue malah bilang semuanya cuma akting padahal  gue juga cinta banget sama lu!” tukas Nepa yang sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meledak saking bahagianya.
Dama berusaha mencerna perkataan Nepa. Dadanya kembang kempis, hatinya berjingkrak ria, perasaannya melambung ke awang-awang. Dama berjalan lalu mendekap erat Nepa kuat-kuat. Mereka saling menumpahkan perasaan. Pelukkan yang pasti, kehangatan yang penuh cinta menjalar secepat kilat ke seluruh tubuh Dama dan Nepa. Mereka tak malu-malu lagi menuangkan rasa cintanya satu sama lain. Sorot lampu dari atap plafon di balik jendela menjadi saksi bisu yang menikmati betapa harunya mereka. Langit hitam dan gelap mengintip sepasang sejoli itu dengan rasa ingin tahu yang besar. Malam itu terasa panjang untuk Dama dan Nepa. Ketakutan, ketidaknyamanan dan cinta mereka kini terasa lebih ringan.
Dama masih mendekap Nepa, “Acting or not acting?” bisiknya.
Nepa menggeleng pelan. Senyum keduanya terpancar jelas dari bibir yang merekah lepas. Dama dan Nepa saling mengamini dan menghabiskan malam itu dengan perasaan lega luar biasa.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -