Acting Or Not Acting?

| Minggu, 11 Agustus 2013 | |
Lampu-lampu penerang jalan mulai menunjukkan kemampuannya untuk menenggelamkan kegelapan massal. Langit menghitam, senja yang jingga sudah mengabur. Dama dan Nepa berjalan menyusuri trotoar jalan menuju halte bus yang letaknya satu blok dari sekolah. Mereka berlalu meninggalkan bangunan sekolah yang lama kelamaan habis ditelan jarak. Selepas latihan teater, Dama dan Nepa segera membubarkan diri. Sepasang sahabat itu tak pernah lepas dari acara “Berangkat dan Pulang Bersama” setiap harinya.
“Akhirnya, setelah sekian lama ternyata gue bisa juga dapet peran bagus buat Pementasan Teater bulan depan. Ini pertama kalinya gue lepas jadi pemeran hantu, yang cuma numpang lewat di panggung pake seragam putih-putih, mana rambut dibikin semrawut ga jelas juntrungannya, muka gue dilukis sedemekian seremnya. Dan parahnya, penonton ga pernah nyambut kehadiran gue dengan senang hati, malah yang ada mereka ngeri liat tampang gue dan pengen cepet-cepet gue hengkang dari panggung,” Nepa geleng-geleng kepala. “Ah, tapi sekarang semuanya terbayar juga! Gue ga jadi hantu, bener-bener engga,” celoteh Nepa yang sedari tadi tak pernah diam membahas pengumuman pembagian peran.
“Ya, tapi kan berkat peran lu yang ‘meyakinkan’ di Pementasan Teater bulan kemaren, ga mungkin Bu Farah sekarang nunjuk lu jadi pemeran utama,” Dama memberi penekanan pada kata “meyakinkan”-nya yang sontak membuat hati Nepa tersentil.
Mulut Nepa berangsur membungkuk. “Kacang asin, lu! Masa seumur-umur gue mesti jadi hantu. Kapan gue naik kastanya?”
Ledakan tawa Dama menjalar di sepanjang jalan menuju halte bus. Udara dingin menyelusup  ke balik jaket dan seragam sekolah yang masih menempel di tubuh Dama dan Nepa dari tadi pagi. Setelah satu belokan dilalui mencuatlah sebuah tempat berbentuk persegi panjang, dengan bangku di dalamnya, empat tiang besi sebagai penyangganya dan di atas atap itu bertuliskan “Halte Bus”.
Sebelum mencapai halte bus, Nepa menepuk bahu Dama dan kontan membuat langkah kaki mereka terhenti. 
“Gue mau ngomong sesuatu sama lu. Bentar aja!” sahut Nepa serius.
“Ngomong apaan?” semburat kebingungan sekaligus penasaran langsung menyebar ke seluruh tubuh Dama.
Nepa menghela nafas panjang, ia terdiam cukup lama dan membuat Dama sedikit kesal. Suasana dingin dan cahaya lampu jalanan yang menyoroti mereka menjadi pendukung yang dramatis. Beberapa orang berseliweran melewati sepasang sahabat yang sedang mematung dan saling berhadapan itu namun mereka seakan tak peduli.
Nepa menarik lengan Dama dengan perlahan ke dinding yang berada di balik punggungnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Hatinya sedikit bergetar, Nepa maupun Dama sama-sama merasakan perubahan atmosfer itu.
“Entah sejak kapan... gue ngerasa kaya gini... perasaan yang menjadi faktor terkuat pengganggung tidur gue... setiap malemnya. Jujur,... gue... bingung.. harus mulai dari mana,” Nepa setengah mati mengendalikan nafasnya namun suara Nepa yang tersendat-sendat tak karuan hanya menambah tegang dirinya.
Otak Dama bersikeras menebak-nebak apa yang sebenarnya Nepa hendak ucapkan kepadanya. Ia mengumpulkan semua presepsi yang muncul dalam pikirannya seketika itu juga.
Sorot mata Nepa seolah terkunci di satu titik. Mata Dama adalah pusat dari segalanya dan pupil Nepa tak sedikit pun beranjak dari sana. “Kita sahabatan dari kecil, lu tahu itu. Gue peduli sama lu, gue sayang sama lu sebagai sahabat,” ia kembali menghela nafas panjang, “tapi semuanya berubah, entah kapan mulainya gue juga ga tahu. Yang jelas, rasa peduli dan rasa sayang gue ke lu udah ga sama lagi. Gue sayang sama lu bukan sebagai sahabat melainkan sebagai cowok.”
Kini kata-kata Nepa berselancar hebat dari mulutnya menuju ke rongga telinga Dama. Ia tak melepaskan pandangan, matanya menetap disana, di mata Dama. Hatinya terguncang hebat, gejolak perasaan tumpah ruah. Laron-laron yang berterbangan di sekitar lampu jalan seolah begitu girang tak kepalang mendengar ucapan Nepa.
Dama merasa bibirnya membeku. Tungkai kakinya goyah mendengar perkataan Nepa. Ini di luar dugaannya. Ia tak menyangka Nepa bisa seberani itu, hatinya berupaya mencerna ucapan sahabatnya itu, semuanya terlihat natural walau sedikit terasa ganjil dan tidak benar baginya. Dama tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, seharusnya dirinya-lah yang mengatakan hal itu lebih dulu. Dama memang cinta, sudah lama cinta pada dia yang kini berada di depannya, yang juga sahabatnya, Nepa.
Walau dalam diri Dama bermunculan perdebatan sengit antara pihak yang memercayai dan yang meragukan, Dama belum bisa memutuskan mana yang benar karena ia pun masih sangat bingung menguraikan semua yang dikatakan perempuan itu. Nepa mematung, kini bibirnya mengatup rapat seolah-olah menunggu respon Dama, menerjemahkan air mukanya yang tak kunjung bisa ia tebak.
Dama pun mencari jalan untuk menengahi perdebatan hatinya yaitu dengan memastikan perkataan Nepa. Mulutnya mulai bergerak, setengah terbuka padahal kata demi kata telah siap digelontorkan namun belum sempat ia melakukan hal itu Nepa sudah lebih dulu meledakkan tawa. “Akting gue bagus ‘kan? Gue udah pantes dapet peran utama? Iya 'kan? Ngaku, ayo ngaku!!” sahutnya sembari tertawa terpingkal-pingkal.
Ucapan Nepa sontak membuat Dama kaget. Akting? Hanya akting? Benar saja, pikirnya. Dama langsung terdiam dan beberapa detik kemudian bibirnya merekah juga, tawanya menyusul tawa Nepa yang sedari tadi bertalu-talu. Dama pun tertawa keras sebisanya walau hati tak bisa dibohongi, Dama sedang menertawai kebodohannya sendiri. Harapan yang tinggi itu sekejap jatuh, lalu hancur tak menyisakan apa pun dan kepingan-kepingannya tergelatak kepayahan di bawah kaki Dama kala itu. Suara tawanya terdengar tidak meyakinkan, sumbang dan terlebih hampa.
Sebuah bus melintas dan berhenti di depan halte. Mereka kontan membungkam tawanya, Nepa menarik lengan Dama dengan terburu-buru lalu beranjak ke mulut pintu bus. Setelah masuk, mereka berdua sepakat duduk di bangku paling belakang. Suasana dalam bus tak begitu menyesakkan seperti biasanya, malam itu bus terasa lengang sekali.
Sepanjang perjalanan pulang, Dama lebih banyak diam. Ia merenungi kejadian tadi, pikirannya bersilewaran, presepsi dan harapannya terbungkus menjadi satu paket yang menyakitkan. Nepa mengamati perubahan Dama, yang bisa ia lihat hanya siluet kekecewaan di wajah Dama. Namun itu hanya perkiraannya, ia tak berani memastikan bahkan dirinya sendiri pun meragukan hal itu. Perasaan sesal pun menghantui lorong-lorong hati Nepa. Bukan menyesal karena ia telah berakting jatuh cinta pada Dama melainkan karena ia menyesal telah berkata separuh benar dan separuh bohong. Ia membohongi Dama juga membohongi dirinya sendiri. Nepa tidak sedang bersandiwara, ia benar-benar mengungkapkannya dengan sepenuh hati. Tapi, sekuat jiwa Nepa tak bisa melakukan itu, ia malah memcemplung diri untuk berkata bahwa semua itu hanyalah sandiwara. 
Mereka duduk dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Perjalanan itu berlangsung tanpa perbincangan yang berarti. Rasanya tidak ada satu pun topik perbincangan yang mampu mengusir semburat kecanggungan hati satu sama lain karena kejadian tadi. Dama dan Nepa saling memikirkan dan saling merenunginya dalam balutan hening. Disayangkan, mereka hanya sanggup berbicara dalam hati saja.

***

Nepa beringsut di sofa besar yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Kedua kakinya dilipat dan ditekuk ke atas kursi. Di ruang keluarga, mata bulatnya menatap kosong televisi yang sedari tadi berupaya meminta perhatian Nepa namun ia tetap saja bergeming. Setumpuk pikiran-pikiran yang membebani kepalanya setelah peristiwa di halte bus tempo hari membuatnya tidak pernah tenang lagi. Sesal menjadi bulan-bulanan hatinya selama ini apalagi mengingat respon Dama waktu itu hanya menambah runyam pikiran Nepa. Mereka bersahabat sedari dulu, itulah masalah utamanya. Nepa maupun Dama tidak mungkin mengorbankan persahabatan mereka untuk perkara seperti itu tapi suara hati berkata lain. Nepa jatuh cinta pada Dama, sulit untuk diubah karena semuanya adalah harga mati.
Bagi Nepa, televisi di depannya hanya benda abstrak yang ia abaikan. Ia tak benar-benar menanggapi celoteh-celoteh yang muncul dari benda itu, ia fokus pada dirinya sendiri. Derap langkah dari balik kursi segera membuyarkan pikiran Nepa, ia berbalik lalu matanya terkesiap menangkap sosok yang datang menghampirinya. 
“Dia ada disini, Mbok!” sahut Dama pada seorang perempuan tua yang mengantarkannya ke ruang keluarga.
“Mau minum apa, Den?” dengan sopan Mbok Minah menawari Dama.
“Enggak usah, Mbok! Makasih!” Mbok Minah pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
Nepa masih mempertahankan posisi duduknya yang setengah tenggelam dalam sofa besar itu. Dama melempar senyum padanya sembari berkacak pinggang ia berkata, “Ini malem minggu! Diajak hang out malah ogah-ogahan! Gak kaya biasanya, kenapa sih?”
“Males. Buat sementara gue pindah profesi jadi kuncen rumah,” ucap Nepa setengah bergumam dan tubuhnya mulai memosisikan diri dengan baik.
Lalu Dama menjatuhkan tubuhnya ke kursi. “Nah, yang kayak gini nih yang disebut virus menular paling berbahaya. Gue jadi ikut-ikutan ga nafsu ngalong!”
Nepa tersenyum sekilas lalu pandangnya bergerak ke sebuah jendela. Ia mengocek nafas sedalam-dalamnya, hati Nepa mulai berteriak dan hal itu membuatnya tidak nyaman. Kemudian ia menurunkan kakinya dari kursi dan berjalan menghampiri jendela itu lalu menyibakkan tirai yang membungkusnya. Ia memaku diri disana untuk beberapa saat yang setidaknya bisa membungkam teriakan-teriakan hatinya kepada Dama.
Dama memerhatikan gerak-gerik Nepa yang tidak biasa itu. Sekonyong-konyong hatinya tergerak untuk menghampiri Nepa. Tanpa pikir panjang, Dama pun bangun dari tempat duduknya lalu beringsut di belakang punggung Nepa sembari sama-sama menontoni hamparan lapangan hitam dari balik jendela.
“Malam yang cerah, ya? Tapi sayangnya, bintang sama bulan lagi malu-malu buat nunjukin diri,” suara Nepa sangat pelan, jika Dama tidak mendekatkan telinganya ke wajah Nepa nyaris saja ia tak mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Bukan gitu, mereka lagi dandan dulu saking takutnya kalah saing sama kamu,” sambil berbisik Dama meluncurkan kata-kata itu langsung ke telinga Nepa.
Sontak membuat Nepa tegang. Keberadaan Dama dengan jarak sedekat itu malah memperbanyak frekuensi deg-degan dalam hatinya. Nepa pun berdehem, “Gue mau minta maaf sama lu soal tempo hari di halte bus.”
“Ngapain minta maaf?”
Nepa membalikkan tubuhnya menghadap Dama, “Menurut lu? Gue juga ga ngerti, tapi gue ngerasa harus minta maaf aja sama lu!”
Dama mundur satu langkah. Ia menatap aneh ke arah Nepa. “Lu harusnya ga usah minta maaf. Lagian cuma akting kan?”
Pertanyaan Dama menambah sesak paru-paru Nepa. Ia tak ingin berbohong lagi tapi ia juga tak ingin terang-terangan mengakui bahwa semua yang ia katakan tempo hari benar-benar ia rasakan sepenuhnya. Nepa sekejap tersenyum lalu kembali mengamati hamparan langit dari balik jendela. Dama merasa batinnya bergetar, sedikit terguncang jika mengingat kejadian itu. Dalam hatinya ia merasakan kekecewaan yang begitu besar, tapi ia masih bertanya-tanya mengapa detik itu ia bisa merasakannya sedikit lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Perdebatan hatinya belum selesai, malah pedebatan kedua belah pihak itu semakin meruncing. Jiwa bergolak-golak, persahabatannya dengan Nepa telah berubah karena kini mereka bukanlah sepasang anak kecil yang polos. Sekarang mereka telah tumbuh dewasa dan mengenal cinta dalam sudut pandang yang lebih luas. Dama merasa pembuluh darahnya bereaksi begitu cepat hingga memunculkan titik-titik keberanian. Ia hela nafas sebanyka-banyaknya hingga paru-paru Dama di penuhi oksigen yang bisa ia pergunakan untuk menghembuskan kepengecutan dirinya selama ini.
Dama melangkahkan kakinya satu per satu, menghitung detik demi detik yang ia habiskan untuk mencapai Nepa. Setelah berada tepat di belakang punggung perempuan yang dicintainya itu, Dama berupaya menguatkan dan mengokohkan keberaniannya. Beberapa saat berlalu, lapis demi lapis keberanian Dama pun semakin bertumpuk dan menebal. Ia tahu konsekuensinya, apa yang menjadi risiko terbesarnya ia bertekad menanggung semua sekali pun itu adalah persahabatan mereka.
“Nep...” kerongkongan Dama tercekat.
Yes?” pandangan Nepa tidak beralih, ia enggan melepaskan tatapannya dari langit.
“Gue mau jujur sama lu. Gue tahu kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa terjadi setelah gue ngungkapin semuanya ke lu. Tapi ini udah berlangsung lama dan gue ga bisa nahan-nahan lagi buat bilang bahwa,” Dama menggantung kalimatnya. Ia terdiam cukup lama dan Nepa pun kembali membalikkan tubuhnya menghadap Dama.
“Bahwa...?” Nepa menaikan alisnya beberapa inci.
Kalimat penting itu masih tertahan di ujung lidahnya. Dama mengangkat kedua tangan lalu meletakkannya di atas bahu Nepa. Wajahnya mengeras, matanya begitu tajam, hal itu membuat perasaan Nepa meledak-ledak tak terkendali.
Dama mengurangi jarak wajahnya dengan wajah Nepa. “Bahwa gue... kecewa setelah denger lu bilang kejadian tempo hari itu cuma akting. Karena gue sebenernya udah sayang sama lu dari dulu. Tapi ini beda, bukan rasa sayang biasa, ini adalah perasaan jatuh cinta yang sesungguhnya.”
Mata Dama dan Nepa bertautan lama sekali. Mereka saling mempertanyaan kebenaran dan mencari kode satu sama lain. Dama berharap banyak tapi sayangnya Nepa menganggap sahabatnya itu sedang bergurau.
Great! Akting lu bagus juga!” decak kagum Nepa bergema keheningan.
Kontan tangan Dama melemah. Energi dalam dirinya mati seketika. Kakinya seolah-olah roboh karena yang menjadi penyangganya telah hancur. Dama menatap Nepa putus asa lalu tubuhnya beringsut mundur kembali. “Siapa bilang gue lagi akting?” gumamnya pelan sekali.
Walau begitu Nepa sanggup menjangkau suara Dama selemah itu. Aliran darahnya bekerja cepat, otaknya mencoba memahami perkataan Dama. “Anggap gue orang paling bego sedunia. Gue minta penjelasan yang lebih detail lagi. Acting or not acting?
Dengan lirih Dama meyakinkan hatinya agar tidak menyesali perkataan yang baru saja ia lontarkan. Ia harus terus bergerak, menjemput apapun yang menjadi keputusan Nepa. “Gue cinta sama lu. Sejak lama, sejak... entahlah gue ga pernah bener-bener sadar kapan tepatnya. Waktu itu, pas kejadian di halte bus apalagi setelah lu bilang semua itu cuma akting, hati gue ga pernah ngerasa nyaman lagi. Gue ngerasa kecewa sama diri gue sendiri, gue cinta sama sahabat gue sendiri!” nafasnya terengah-rengah. “Tapi Nep, please jangan pernah lu berubah karena hal ini! Mungkin setelah gue bilang gini, lu bakal jauhin gue dan gue sadar sesadar-sadarnya bahwa gue ngungkapin semua ini dengan tulus walau dengan risiko yang besar. Gue ga bisa lagi bersikap biasa-biasa aja saat lu di deketin cowok-cowok. Karena gue adalah gue, bukan gue di atas panggung teater. Gue berharap sampai kapan pun kita bersama dalam konteks apapun!” tuturnya dengan penuh keyakinan. Detik itu juga beban di pundaknya seolah terangkat. Dama merasa lebih ringan dan lega.
Nepa mematung. Tubuhnya tak berpindah maupun bergerak sedikit pun. Ia seolah terhipnotis dengan kata-kata yang diungkapkan Dama. Nepa mengatur nafasnya, menetramkan hatinya yang semakin meneriakinya terus menerus. 
Waktu tetap berjalan, Dama masih menunggu tanggapan Nepa tetapi ia masih  sibuk mengubrak-abrik kalimat yang tepat kepadanya. Dama semakin putus asa, sorot matanya penuh harap. “Nepa, please say something! Lu boleh marah sama gue, lu....”
“Akhirnya, lu ngomong juga! Gue udah lama nunggu lu, gue udah cape nyalahin diri gue sendiri karena waktu itu gue malah bilang semuanya cuma akting padahal  gue juga cinta banget sama lu!” tukas Nepa yang sekuat tenaga menahan diri untuk tidak meledak saking bahagianya.
Dama berusaha mencerna perkataan Nepa. Dadanya kembang kempis, hatinya berjingkrak ria, perasaannya melambung ke awang-awang. Dama berjalan lalu mendekap erat Nepa kuat-kuat. Mereka saling menumpahkan perasaan. Pelukkan yang pasti, kehangatan yang penuh cinta menjalar secepat kilat ke seluruh tubuh Dama dan Nepa. Mereka tak malu-malu lagi menuangkan rasa cintanya satu sama lain. Sorot lampu dari atap plafon di balik jendela menjadi saksi bisu yang menikmati betapa harunya mereka. Langit hitam dan gelap mengintip sepasang sejoli itu dengan rasa ingin tahu yang besar. Malam itu terasa panjang untuk Dama dan Nepa. Ketakutan, ketidaknyamanan dan cinta mereka kini terasa lebih ringan.
Dama masih mendekap Nepa, “Acting or not acting?” bisiknya.
Nepa menggeleng pelan. Senyum keduanya terpancar jelas dari bibir yang merekah lepas. Dama dan Nepa saling mengamini dan menghabiskan malam itu dengan perasaan lega luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -