Truth Or Dare Part 2
|
Rabu, 28 Agustus 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Bel istirahat berdering. Murid-murid
sontak terbangun dari kesibukan masing-masing. Para pelamun seketika pecah
lamunannya, para pemikir seketika buyar konsentrasinya. Kantin sekolah adalah
satu-satunya tempat penolong pertama perut keroncongan mereka. Setelah seorang guru
berlalu meninggalkan kelas dengan gesit Rangga lari ke depan kelas. Kedua
tangannya dilipat, wajah Rangga mengeras dan rambutnya yang mencuat ke segala
arah menambah “horor” penampilan spektakuler itu.
“Hallo!
Hallo! Harap tenang! Edward Cullen mau ngomong!” teriak Rangga kepalang pede.
Nyaris semua orang tidak
menggubris teriakan Rangga. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja, pita suaranya
dikerah sedemikian keras hingga semakin menggelegar. “WOY! TRUTH OR DARE KAPAN DILANJUTIN? JANGAN PURA-PURA LUPA DEH!”
Jery
yang berdiri di mulut pintu pun menoleh ke Rangga. “Yaelah, urusan truth or dare pasti kita beresin. Emang
sekarang lo ga laper?”
“Iya nih! Makhluk di
perut gue lagi pada ngamuk! Belas kasihan dikit dong!” timpal Elsa.
“Pasti sih pasti, laper sih laper, jangan banyak
alesan! Lagian udah kelamaan! Gua mau hari ini!! TITIK!” Rangga ngotot.
Kemudian senyap. Rangga terdiam beberapa saat. “Karena vampir juga butuh makan, ya,
udah! Ayo! Berarti kita mainnya di kantin dan tentunya setelah ritual pemberian
sesembahan sama makhluk di perut kalian semua selesai,” ucapnya sambil berlalu
melewati kerumunan orang-orang yang terbengong mendengar ucapannya barusan.
“Di kantin?”
Karin melongo.
Nando
tersenyum girang. “Bener! Di kantin!”
Walau banyak yang memprotes setting-an tempat truth or dare terutama kelima pemain yang belum sempat menerima
tantangan, permainan tetap dilakukan. Rangga, Vina dan Nando tak mau tahu,
mereka bersikeras bermain truth or dare
di kantin hari itu juga.
Rangga,
Elsa, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando duduk di satu meja yang sama.
Mereka memesan makanan dan minuman untuk memenuhi hasrat lapar di dalam diri
masing-masing. Sembari menunggu makanan datang, Jery tak henti-henti mengulas kenangan
tak sedap khususnya bagi Rangga, Vina dan Nando saat menyeselesaikan tantangan truth or dare beberapa minggu yang lalu.
“Liatin aja lo, Jer! Kena apes ya
nanti!” cetus Vina.
Rangga dan Nando sama jengkelnya
dengan Vina tapi apa boleh buat untuk sementara waktu mereka harus puas dengan bully-an yang diberikan teman-temannya.
“Ketawa aja terus! Mumpung masih
bisa!” sindir Nando.
“Bener banget! Siapa pun diantara
kalian yang dapet tantangan, hmmm, nikmati saja sensasinya!” timpal Rangga.
Vina
berdecak, “tahu rasa lo pada!”
Sebelum
salah satu dari para pemain yang belum sempat memenangkan tantangan itu
menggubris komplotan kompor pemanas suasana, pesanan mereka pun datang dan
segera menghilangkan lahan kosong di atas meja. Mereka terpaksa diam, menyimpan
kalimat-kalimat sanggahan bahwa mereka tidak takut sama sekali. Sebenarnya
tidak benar-benar takut hanya seolah-olah tidak ingin terlihat takut saja.
Kondisi
tak terkendali. Mereka larut dalam hiruk pikuk kantin dan mulai membinasakan
apapun yang berwadahkan mangkuk, piring dan gelas. Seperti sedang
“Mengheningkan Cipta” ketika upacara bendera mereka begitu khidmat, khusuk dan
sunyi untuk mencapai akhir yang bahagia yaitu kenyang, sekenyang-kenyangnya.
Setelah
beberapa menit terbunuh, mereka pun selesai. Yang tersisa di atas meja hanya
mangkok, piring dan gelas tanpa isi. Mereka telah berdamai dengan perut
keroncongan yang sedari tadi memerangi. Semua sudah terkondisikan, perang
berakhir.
“Ga usah berlama-lama lagi. Waktu
kita ga banyak, guys!” ucap Nando.
“Ya
ampun! Bener-bener, ya? Perut gue begah banget, dua menit lagi kek!” protes
Elsa.
Rangga
mengacungkan tangan memberi kode pada Ibu kantin untuk membereskan meja mereka.
Keluhan demi keluhan pun bermunculan sejalannya proses pembersihan meja.
“Sisa truth ada empat gulungan dan dare
ada tiga gulungan. Ga usah gue ulang aturannya kaya gimana. Gue yakin lo semua
punya memori yang cakep!” kata Rangga sambil menaruh pulpen di tengah-tengah
mereka dan tujuh gulungan kertas di sebelahnya.
Walau mereka merasa kekenyangan, truth or dare tetap dimulai. Karena
Nando adalah pemain terakhir di permainan sebelumnya maka ia berkewajiban
memutar pulpen. Tak sabar, Nando memelintir pulpen itu dengan cepat. Sepanjang perputarannya,
mata para pemain berbinar memandangi kemana ujung pulpen itu mengarah.
Mereka tak bisa menduga siapa yang akan terpilih menjadi korban ke-4. Tapi yang
jelas, salah satu diantara mereka pasti tertunjuk. Dan kali ini Jery-lah yang
mendapatkannya.
Bibir Vina merekah. Senyumnya
terkesan ambigu. “Selamat ya, Jer!”
Jery membalasnya
dengan senyuman yang sama. Ambigu, antara senyum menandakan bahwa dia tidak
gentar dan senyum tak menyangka ternyata dia sendirilah yang menjadi orang
pertama pembuka tantangan truth or dare
di sesi kedua itu.
Nando
mengulum tawa, “kami persilakan bagi saudara Jery untuk memilih satu gulungan!”
“Oke!”
intonasi yang membahayakan. Jery tidak mau goyah.
Jery mengambil satu gulungan lalu
membukanya dengan perlahan. Hatinya mencoba menduga-duga. Dan ternyata bagian yang harus ia
bereskan adalah dare.
“Baiklah! Kita bertujuh harus
berunding! Jer, take it easy!” sahut
Reno.
“Don’t worry! Gue tenang-tenang aja kok!”
kalimat Jery mengapung. Kosong tak meyakinkan.
Rangga, Elsa, Desta, Karin, Vina,
Reno dan Nando berdiskusi untuk menentukan tantangan apa yang pantas buat Jery.
Suasana kantin yang bising tak menjadi
kendala lahirnya ide-ide jitu dari otak mereka.
Kemudian setelah cukup lama
mereka pun memutuskan. Jery terkesiap.
“Oke. Gini, kita semua ga tega
kalo ngasih tantangan berat buat lo! Simple
aja sih, paling dua puluh detik juga kelar!” ujar Karin mesem-mesem.
“Well, gue mau mastiin dulu.
Denger-denger, elo lagi deket ya sama Nadia?” sambung Reno.
Sebelum Jery menjawab, Elsa
menunjuk seseorang yang baru saja memasuki area kantin. “Nadia? Itukan
orangnya?”
Jery merasa posisinya tidak aman.
“Oh God, jangan bilang ada sangkut pautnya sama Nadia!”
“Sori, Jer! Berhubungan pas moment apalagi orangnya dateng, ini
bakal lebih gampang,” air muka Desta berangsur serius sekaligus jail. Ia pun
membisikan tantangannya pada Jery.
“Par-rah!” gumam Jery tak
percaya.
“Ayo!
Sana samperin!” ujar Nando.
Cekikikan pun terdengar tak
menarik lagi bagi Jery. Dengan berat hati ia berdiri dari tempat duduknya.
Memalingkan muka dari ketujuh teman-temannya kemudian mencari sosok Nadia.
Pikiran-pikiran konyol pun sekonyong-konyong berselancar bebas di benak Jery. Berandai-andai
ia bisa menghilang seketika itu juga, berandai-andai ia bisa menghipnotis
ketujuh teman-temannya agar lupa dengan tantangan itu, berandai-andai ia bisa
berubah menjadi liliput lalu pergi melarikan diri, berandai-andai Nadia
tiba-tiba merasa sakit perut dan segera berlalu dari sana, berandai-andai
terjadi keributan di kantin itu sehingga mereka bisa menunda tantangan dan
kemudian terus menerus berandai-andai.
Jery berharap ia akan kesulitan
mencari Nadia namun ternyata apa daya Nadia berada dalam jangkauannya. Mata
Jery menemukan dengan mudah letak meja yang baru saja Nadia tempati.
Rangga tak henti mendorong tubuh
Jery. “Oke, oke, oke! Sekarang gue mau
nyamperin Nadia!”
Belum-belum Jery sudah merasa
malu. Langkah Jery lama-lama semakin melemah seiring menghilangnya jarak antara
tubuhnya dengan Nadia.
“Hai!” sapa Jery mengagetkan dua
perempuan di meja itu.
Nadia baru menyadari kedatangan
Jery. “Hai, juga!”
“Hmm, Nad...,” Jery tak ingin
berbasa-basi dalam hal ini. Ia berusaha memusatkan pembicaraan langsung ke inti
masalah walau sayang kala itu nyalinya berkendala.
“Duduk disini, Jer?” tanya Nadia.
"Engga,
hmm, sebentar aja kok,” ucap Jery menahan apapun yang harus ia katakan.
“Oh, gue cabut aja mendingan?”
sela Larisa, teman Nadia.
“Ga usah!” sahut Jery spontan.
Larisa dan Nadia sontak terkejut.
“Nad,
aku cuma mau bilang kalo,” tenggorokan Jery tercekat, “aku hamil 3 bulan.”
Tanpa sadar Nadia menjatuhkan
ponsel yang digengamnya ke atas meja. Jery menelan ludah. Pawai tawa terdengar kompak
ke seisi kantin. Tak salah lagi, asal
muasalnya dari mereka bertujuh.
“Elo baik-baik aja kan?” tanya
Larisa serius.
Nadia
masih terbengong. “Hmm, penjelasannya menyusul. Ini bukan masalah yang harus di
salah pahami. Larisa, please tatapan
kamu terlalu berlebihan! Dan Nadia, nanti aku hubungin kamu lagi ya, oke?”
Jery berbalik kemudian pergi
meninggalkan ekspresi Nadia yang entah bagaimana mendeskripsinya, meninggalkan
kegilaan dan rasa malunya tepat disana dan langkah cepat menuju meja sumber pawai
tawa tadi menjadi pilihan Jery.
Tak
sabar Jery segera duduk di tempat semula dengan memunggungi meja Nadia. Tanpa
belas kasihan mereka bertujuh masih menetapkan keadaan terpingkal-pingkal.
“Mudah-mudahan Nadia bukan cewek
ilfil-an! Hahaha!” celetuk Vina.
Rangga menimpali. “Oh Tuhan,
kenapa ekspresi Nadia seterkejut itu? Bikin gue ngakak ga karuan kaya gini!”
“Tobat gue! Besok-besok kalo
ketemu Nadia, muka lo tutupin pake keresek aja, Jer!” sahut Desta.
Nando geli melihat wajah Jery
yang berubah kusut. Ia memanfaatkan situasi itu dengan baik. “Ga perlu nunggu
besok, sekarang aja!”
Keadaan tak terkontrol. Mereka
bertujuh terus saja mengolok-olok Jery.
“Enough, hadirin yang berbahagia! Jangan senang dulu! Sekarang kita
lihat siapa korban berikutnya!” dengan lemah lembut Jery memutar pulpen itu. Karena
kekuatan putaran tak begitu kuat sehingga pulpen pun berhenti lebih cepat. Dan
seseorang telah terpilih. Pawai tawa langsung terhenti.
Elsa tersenyum simpul. Ia mengambil satu gulungan kemudian merentangkan kertas itu dengan hati-hati. Inilah
yang ia tunggu-tunggu, menurutnya semakin ditunda semakin ia tak tenang. Dan
sekaranglah waktunya, Elsa menentukan peruntungan dan truth berada didalamnya.
Seperti biasa mereka semua
kecuali Elsa berunding untuk menentukan pertanyaan. Sembari menunggu, Elsa
mencuri pandang ke arah Nadia yang ternyata sedang memerhatikan tingkah laku
mereka dari jauh. Elsa senyum-senyum melihat wajah Nadia yang penasaran.
Proses
perundingan pun usai. Rangga, Desta, Karin, Vina, Jery, Reno dan Nando telah
siap dengan satu pertanyaan.
“Kita
mau yang jujur, oke? Pertanyaannya aman-aman aja kok!” kata Reno.
Jery
sedikit menyondongkan tubuhnya. “Peristiwa tergila apa yang pernah lo alamin?”
“Inget ya harus yang bener-bener GI-LA!”
sela Karin.
“Kasih
gue waktu buat mikir! Soalnya banyak banget kejadian gila dalam hidup gue!”
“Caaah! Pura-pura mikir!” seloroh
Rangga sembari tertawa.
Elsa mengangkat telunjuknya
kemudian mengetuk pelan ke arah kepala. Bahasa tubuh yang bisa diartikan bahwa
Elsa benar-benar sedang berpikir.
“Emang ga terlalu relevan sih
pertanyaan tadi buat manusia ini! Istilah jaim-jaiman ga bakalan ada di kamus
hidup si Elsa! Percaya deh sama gue! Dia emang manusia super nekad dan gila,”
celoteh Rangga.
Reno
pun ikut menyela. “Nah itu dia, gue pengen tahu standar tergila versi si Elsa
tu kaya gimana? Soalnya disuruh joged di lapangan juga pasti dijabanin!”
Tak ayal di sepanjang proses
berpikir Elsa, ketujuh temannya bermusyawarah menumpuk komentar tentang
dirinya. Konsentrasi Elsa terganggu dan selalu buyar sebelum menemukan jawaban.
“Kawan-kawan, listen to me! Jawaban gue emang paling
ditunggu dan gue sadar akan hal itu. Kalau dunia tahu, gue yakin cerita ini
bakal langsung jadi trending topic,”
ucap Elsa asal.
Rangga, Karin, Vina dan Nando
bahkan tidak menyadari bahwa Elsa sedang berbicara pada mereka. Mereka berempat
sibuk bermusyawarah dan tiga orang lainnya berpura-pura tak mendengar.
Seolah-olah bohlam di dalam otak
Elsa telah menyala. Ia punya jawaban. “Insiden salah naik mobil!!!” sahutnya.
“Maksud lo?” tanya Vina yang
secara otomatis menghentikan musyawarah aneh mereka tentang Elsa.
“Iya, gue pernah salah naik
mobil. Dan kalian tahu mobil siapa yang gue tumpangin?” mata Elsa
berbinar-binar.
“Who?” saking penasarannya Karin dan Jery bertanya berbarengan.
“Mobil Kak Bayu.”
Vina sontak menutup mulutnya yang
membentuk huruf O besar. Karin merasa punggungnya lunglai langsung
membenamkannya ke sandaran kursi.
“Oh, Si anak basket itu? Apa istimewanya?” tanya Nando
dengan malas.
Vina kemudian menguncang-guncang tubuh
Elsa. “Beneran, El? Kapan kejadiannya? Terus gimana? Elo ga ngapa-ngapain Kak
Bayu kan?”
"Eh,
masa gue yang ngapa-ngapain Kak Bayu sih? Hello...”
“Apanya yang gila? Gue rasa
sah-sah aja si Elsa naik mobil Bayu!” protes Rangga.
Karin menatap tajam pada Rangga.
“Kak Bayu, Ga! Kak Bayu! Prince Charming
yang cakep ga ada obatnya. Udah ya ganteng, pinter, jago basket, tajir pula lagi. Kenalan
aja susah banget apalagi bisa deket, satu mobil sama Kak Bayu itu anugerah!”
“Berlebihan!”
sesingkat itu Jery menanggapi perkataan Karin.
“Gue ga peduli! Sekarang ceritain
sama kita gimana kronologisnya? Harus detail, ga boleh ada secuil pun yang
terlewat! Dan kalian berlima jangan coba-coba nyela!” kepalan Vina mengacung pada
Rangga, Desta, Jery, Reno dan Nando yang menjadi simbol bahwa ia akan
benar-benar meninju siapapun yang berani melanggar.
Elsa menghela nafas sesaat.
“Kejadiannya sekitar satu minggu yang lalu. Waktu itu migrain gue kambuh total!
Kepala gue kaya dipukul-pikul palu segede setan. Saking pengen cepet-cepet nyampe
mobil, gue lari sebisa mungkin. Kepala gue ditekuk, ga nengok kiri kanan dan
saat itu gue liat mobil silver markir di depan gerbang. Tanpa gue liat
keseluruhan mobil dengan beraninya gue buka pintu belakang dan langsung masuk
ke dalem mobil. Karena biasa ngaret, gue marah-marahin si supir! Udah kepala
gue pusing, nunggu lama. Siapa yang bisa nahan emosi, coba?”
Elsa sempat menunggu namun tidak
ada yang merespon sama sekali. Mereka masih penasaran dengan cerita Elsa karena
itulah ia melanjutkan kembali cerita.
“Gaya marah gue emang keren! Gue
ga ngasih waktu setengah detik pun buat dia ngomong. Ngomel-ngomel dan nyerocos
terus! Akhirnya, orang yang gue sangka supir pun nginjek gas juga,” Elsa
terdiam dan memerhatikan ekspresi ketujuh temannya tak berubah: tetap menunggu.
“Seiring jedug-jedug di kepala
gue berkurang, gue sadar satu hal: harum mobil yang berbeda. Awalnya gue kira
emang parfum mobil gue aja yang udah ganti tapi tiba-tiba hape gue bunyi. Gue
liat, gue perhatiin, ternyata supir gue yang sms, nanya gue dimana. Bingung
sekaligus takutlah gue. Kalo mobil gue masih di sekolah, lah gue numpangin mobil siapa dong? Ya udah, gue bangun terus teriak deh!”
Vina dan Karin bertahan. Rangga,
Desta, Jery, Reno dan Nando memaksa diri untuk tetap bungkam tanpa menyela.
“Entah karena kaget atau gimana,
Kak Bayu langsung nengok ke belakang. Gue melongo, Kak Bayu panik. Kalau gue
super hero, udah pasti gue langsung loncat dari itu mobil. Gue minta maaf
berjuta-juta kali sama dia, ga nyangka bakal ada insiden salah naik mobil
segala. Ya udah sih, gue dianterin
pulang. Gue seneng. Gue malu dan selesai.”
“Elo
ga minta folback twitter kan?” Karin melotot.
“Atau
malah minta konfirmasi facebook?” Vina
semakin geregetan.
“Yaelah, ga ada waktu. Dari mulai
gue sadar itu Kak Bayu sampe akhirnya tuntas nganterin gue, ga ada henti-henti
gue minta maaf. Gue ngerasa bersalah tapi ngerasa beruntung juga sih! Hahaha!”
Kalimat terakhir Elsa tak begitu
berkenan di hati Vina dan Karin. Serempak mata mereka menyipit lalu mulai
menggerutu banyak hal pada Elsa.
“Kenapa ga gue aja sih?” rengek
Karin.
“Ih enak banget lo! Yang paling
pantes tuh gue!” sergah Vina.
“Girls, waktu kita dikit lagi! El, cepetan deh puter pulpennya!
Kuping gue suka panas kalo ada cewek-cewek ngomongin cowok yang ga lebih cakep
dari gue!" cetus Rangga.
Tentu saja Elsa, Vina dan Karin
menanggapi pernyataan Rangga itu dengan cara yang anarkis. Setelah puas mengacak-ngacak tubuh Rangga, Elsa
pun meneruskan tanggungjawabnya sebagai pemain. Pulpen pun berputar cukup
cepat. Yang tersisa adalah Karin, Desta dan Reno. Kini satu orang telah
menemukan waktu yang tepat untuk menyanggupi tantangan. Dan Destalah orangnya.
Keadaan tak begitu baik, Desta
mendapat tantangan dare. Serta
ketujuh temannya berdiskusi Desta berupaya menenangkan hati. Sedari pertama
Desta adalah pemain dengan mental paling ciut diantara yang lain. Makanya,
pikiran Desta tak pernah rehat untuk menerka-nerka tantangan apa yang akan
diterimanya.
Nando berdecak. “Nah, itu baru ide
brilian!”
“Oke, deal!” Jery terlihat bersemangat.
Karin menggosok-gosok kedua
telapak tangannya. “Berhubungan bentar lagi mau masuk kelas jadi seperti
permainan sebelumnya kita tunda dulu. Gue sama Reno bakal nyusul. Tenang aja, guys! Dan karena Desta pemain terakhir
di sesi kedua truth or dare ini makanya
kita disini udah nyiapin tantangan tercuco buat lo!”
Rangga, Elsa, Karin, Vina, Jery, Reno, dan
Nando berdiri secara bersamaan. Batin Desta semakin tak terarah. “Apaan?”
Rangga mengacungkan tangannya.
“Bu Kantin! Semua makanan sama minuman di meja ini dibayar sama Desta ‘ya?”
“WHAT?” Desta shock.
Mereka bertujuh kontan berlari
meninggalkan Desta yang masih dalam kondisi linglung. Bel berdering nyaring.
Suasana kantin pun terguncang. Semua orang serta merta meninggalkan area itu.
“WOY! Kampret! Gue ga ada ongkos
pulang, kebangetan lo semua! Reno, Karin, Nando, siapapun tolongin gue!!” teriak
Desta putus asa.
Ya,
mau tak mau Desta harus membayar seluruh makanan dan minuman yang telah
dipesan. Dengan muka memelas Desta meminta keringan pada Ibu Kantin agar
separuh dari total harga bisa dibayarkan esok hari. Desta dongkol bukan main.
Permainan truth or dare membuatnya kapok.
Desta berjanji tidak akan lagi mengikuti permainan itu sekali pun truth or dare adalah syarat agar bisa
menjadinya salah satu deretan cowok cakep melebihi Bayu atau bahkan Rio
Dewanto. Tidak ingin dan tidak akan ingin lagi.
Truth or dare belum berakhir sampai disitu. Karin dan Reno belum
menerima peruntungan apa yang akan mereka dapat. Tunggulah, tunggu hingga
waktunya tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar