Dia

| Jumat, 30 Oktober 2015 | |
Tidak mudah memulai kembali sesuatu yang sudah berjalan begitu jauh. Mengembalikan hal yang sudah dibangun sejak lama kemudian runtuh hanya dalam waktu singkat. Apa yang sudah dikorbankan, diperjuangkan dan dilalui bersama kini menjadi onggokan kenangan yang tak dapat dibedakan mana yang indah dan mana yang menyakitkan. Semua bercampur dalam satu tempat, menyatukan diri dan tersimpan dalam-dalam. Tidak dapat diuraikan seperti apa rasanya memendam perasaan yang entah bagaimana cara membaginya. Onggokan kenangan yang tak bisa bersuara hanya dimampukan untuk menyentuh titik-titik sensitif seorang manusia dalam diamnya.

Semua berawal dari dia. Dia yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Entah bagaimana tanpa direncanakan dia menjadi bagian terpenting dalam hidup saya. Perasaan itu mengalir rapi, menyesup inci demi inci, mengisi semua ruang kemudian diam sangat lama di pikiran.

Dia mampu melengkapi sesuatu yang selama ini hilang dari diri saya. Dia menawarkan banyak cinta. Cinta dia pada saya dan cinta sebuah keluarga. Belum pernah saya merasa benar-benar terobati seperti itu. Saya menatap lelaki itu, dia tersenyum pada saya dan keluarganya mengitari saya dengan cinta kasih.

Nyaris setahun hubungan saya dengannya melarung. Masalah demi masalah tak juga jera menghantam kami. Pertengkaran, selisih paham, terutama jarak yang memisahkan memberi celah besar untuk saya dan dia saling menukar duga. Memang itu yang menjadi tantangannya, tapi sejak saya berkata “iya” untuk pertama kali padanya, saya bertekad untuk serius dalam hubungan itu.

Tapi menyatukan dua orang manusia yang memiliki latar belakang, sikap, sifat dan kebiasaan berbeda tidaklah semudah melepaskan balon gas ke udara. Saya yang seperti ini dan dia yang seperti itu. Yang paling disesali adalah ternyata semua terlambat bahkan sebelum saya menyadarinya. Saya ingin bertahan dan memperbaiki apa yang rusak dalam hubungan kami tapi ternyata saya tertinggal puluhan langkah. Dia sudah berlari jauh sekali, memunggungi saya dan tak mau memelankan langkahnya apalagi berbalik untuk kembali menyamakan langkah kami. Bahkan untuk mengucap selamat tinggal dengan baik pun dia tak mau, apa saya semudah itu untuk tinggalkan?

Ternyata menjaga hubungan itu tidak cukup hanya dengan keseriusan tapi juga harus dibarengi kemauan untuk bertahan dan memperbaiki hal yang mampu memberi peluang untuk mengurai perpisahan. Dan akhirnya saya berada disuatu titik paling tinggi untuk menyayanginya sangat dalam dengan cara yang berbeda.

Membiarkan dia mencari sesuatu yang ingin ia cari, merelakan dia bergerak tanpa harus memegang tangan saya, melepas harapan yang terlanjur membumbung sampai ke langit-langit dan  mengikhlaskan hatinya dimiliki orang lain. Saya kesulitan untuk memahami perasaan dan menenangkan tangisan saya yang menggebu. Pikiran dan jiwa saya berlarian tak karuan, mencari tuan yang tak bertuah. Tak ada terang walau setitik, malah terperosok jatuh sampai ke dasar. Saya benar-benar tak menyadari jurang itu ada diantara kami. Saya memiliki kepercayaan terlalu tinggi, dan mengabaikan hal-hal penting yang bisa jadi memicunya untuk pergi lebih cepat. Tak terbayangkan kalau dia berlalu dengan cara pahit dan membuat pahang lidah hingga berminggu-minggu. Saya salah, saya tidak memiliki hal yang dia harapkan dan saya tak sempat merubahnya dengan benar. Tapi saya tetap harus   membiarkannya pergi. Harus.

Nyeri hati sampai ke ulunya. Saya memberikan semua mimpi, cita dan cinta saya. Itu kesalahan atau bukan, saya tak tau jawabannya. Waktu berlalu lamban, tidak segesit saat kami saling jatuh cinta. Harapan dan doa agar dia kembali kini mulai tertimbun waktu. Mungkin dia tidak akan kembali, mungkin dia tidak akan memilih saya untuk kedua kali dan mungkin dia akan jatuh cinta lebih dalam pada orang lain.

Tak ada kontak setelah dia memutuskan pergi. Dia menghapus, menghilangkan saya dengan cepat dan menggantinya dengan yang baru. Membiasakan diri agar menyabarkan hati, melapangkan dada, mengubur kenangan sedalam mungkin, dan mengabaikan rindu yang tak berkesudahan. Sungguh, sulit sekali berada di fase ini. Tidak ada pilihan selain terus berjalan dan menikmati setiap senti rasa yang tersia-siakan.

Dimampukan melihatnya dari kejauhan. Dia masih tersenyum dengan cara yang sama. Saya lega dia berbahagia dengan keadaannya yang sekarang. Dia menginginkan ketenangan dan dia mendapatkannya. Dia lebih baik tanpa saya. 

Keadaan mengantarkan saya ke pikiran seperti itu. Tidak lagi mengharapkan lebih dari apa yang telah saya dapat. Entah diwaktu yang mana saya bisa kembali merasa lengkap sekali pun tak bersama dia. Saya hanya berdoa, semoga Tuhan merangkul harapan saya satu persatu di waktu yang tepat. Saya berada di level yang berbeda, badai menghantam lebih kuat dan saya pantang untuk karam. Hati saya berkembang dewasa, rasa sakit memberi pelajaran yang melekat. Kini saya memasrahkan hati, menunggu hingga seseorang datang dan tinggal untuk selamanya. Saya tau, tidak cepat memulihkan perasaan dan menata hati yang terlanjur pecah. Tapi waktu masih memanjang jauh kedepan, dan saya tau akan banyak kejutan yang Tuhan siapkan untuk saya.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -