Kesalahan Lagi
|
Selasa, 08 Oktober 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Remi masih bertahan dalam satu
cerita. Ia tak juga beranjak dari permasalahan hatinya yang semakin runyam.
Pikirannya sambung menyambung, saling melilit satu sama lain hingga semua
solusi pun tersesat bahkan sebelum dia berusaha mendapatkannya. Remi putus asa,
ia mengerang sekali-kali kemudian bergumam sesuatu yang tak jelas dan kembali
kepada renungannya. Remi merasa otaknya terlalu padat dan penuh, seolah-olah
apa yang ada di dalam sana akan segera meledak tanpa ia sadari. Sebagian diri
Remi berharap demikian, ia ingin terlepas atau setidaknya melepas semrawut
pikiran yang kini dirasa. Meledakkan jeritan terdiamnya, menghancurkan
kekecewaan jiwa yang semakin hari semakin menyakitkan.
Di loteng tempat kostnya, Remi termenung.
Menyandarkan beban tubuhnya ke kursi plastik yang goyah, kaki ditekuk ke atas
kursi dengan posisi miring. Sambil menghadap senja, mata Remi berkeliaran
memandang langit yang mulai surut sinarnya. Senja yang biasa, semburat jingga terlukis
semu di bawah naungan angkasa. Berat-berat Remi bernafas, pandangannya
menerawang ke balik awan yang bergumpal. Ia berusaha mencari sesuatu yang tak
bisa dipahami. Ingatannya selalu berlari ke tempat yang sama, walau senja
segera berakhir tak berarti renungannya ikut berakhir.
Samar-samar telinga Remi
terpancing teriakan yang memanggil namanya. Sedetik ia berniat menoleh ke balik
barisan jemuran yang memisahkan dirinya dengan tangga namun sedetik kemudian
Remi mengurungkannya. Kali ini ia tak ingin peduli. Remi tahu, dia pasti datang
dan akan berteriak-teriak padanya.
Rahne terengah-engah mencapai puncak
tangga. Sembari menahan kesal ia kembali berteriak, “Remi!!! Elo masih aja
nongkrong disini?”
Remi tetap bergeming. Rahne
kemudian menyingkirkan pakaian-pakaian yang menghalangi pandangannya. Dengan
wajah merah padam sekaligus nafas yang tersenggal-senggal Rahne berupaya
memarkir kalimat-kalimat jitu di waktu yang tepat. Sayangnya sudah ia kira, saat ini bukanlah
waktunya ia berteriak ria di depan Remi.
“Oke. Anggap aja elo ga pernah
nyuruh gue nunggu elo di depan kampus. Anggap aja gue ga pernah mangut-mangut
saking ngantuknya nungguin lo kayak baliho yang mau runtuh. Anggap aja gue ga
pernah sekesel ini kay-....”
“Sori,”
tukas Remi tanpa sedikit pun melirik Rahne.
Rahne sontak
terdiam. Ia tergelak tak percaya lalu tanpa pikir lagi ia pun menjatuhkan
tubuhnya dengan kasar ke atas kursi plastik yang berderit nyaring disebelah
Remi. “Ada apa... lagi?”
Bukan
cerita baru. Remi tahu, Rahne juga tahu, cikal bakal dari permasalahan yang
akan ia ungkapkan. Kata ‘lagi’ menjadi tanda bahwa Rahne sudah mengerti karena
siapa Remi menyendiri disana. Hati, otak dan mulutnya terasa bosan selalu
menceritakan hal yang sama bahkan ia juga mulai mengira Rahne pun terlalu jemu
mendengar hal yang berulang-ulang darinya. Apa daya, Remi tetap melakukannya:
memikirkan dan mengucapkannya terus-menerus. Rahne juga tetap melakukannya:
berusaha terlihat bersemangat mendengar cerita Remi yang tak berubah. Bisa
dibilang mereka mengalami de javu
yang disengaja.
Rahne menghela nafas cepat.
“Kenapa? Ada apa dengan dia? Apalagi yang mereka sampein sama elo?”
Remi mengigit bibirnya. Ia
membisu cukup lama hingga Rahne harus mendengus keras kepada Remi agar digubris.
“Seperti biasa, Gita ga pernah serius
sama gue. Dan tadi siang gue mergokin dia jalan sama cowok lain, lagi.”
Sekuat
tenaga Rahne menahan tawanya. Setidaknya dia harus berupaya terlihat bersimpati
dengan keadaan Remi. Semacam pengalihan perhatian Rahne melempar pandangannya
ke hamparan genteng-genteng rumah di sekitar tempat kost Remi.
“Dan elo ga pernah kapok ‘kan
baikan lagi sama Gita? Ya, gampang kok buat ditebak!” ucap Rahne acuh tak acuh tanpa
harus merasa berhati-hati.
Remi
menyilang kedua tangannya di dada. “Bego, ya gue emang bego. Semua orang juga
bilang gitu, termasuk elo, Ne! Gue terlalu sayang sama Gita, semua orang
berusaha ngasih tahu gue kalo selama ini Gita cuma mainin gue aja. Omongan
mereka ga pernah cukup bu....”
“Jelas
aja omongan mereka ga pernah cukup, bahkan kenyataan yang udah elo liat dengan
mata kepala sendiri pun ga pernah terasa cukup buat engga lagi balikan sama
Gita. Dan sekarang apa? Menurut gue ga ada bedanya, sekarang elo ritual
sedih-sedihan disini terus besok Gita minta maaf, elo bakal maafin dia dengan
mudah, ga lama Gita kepergok jalan sama cowok lain lagi, dan terus? Siklusnya
gitu-gitu aja, Rem!” sergah Rahne menjaga setiap kata yang meluncur dari bibirnya
dengan nada yang tak berlebihan namun nyatanya tak begitu berhasil.
“Kalo
diitung-itung putus nyambungnya hubungan gue sama Gita dalam setahun ini pasti
masuk rekor dunia,” suara Remi terdengar seperti sedang berkumur-kumur.
Rahne
menatap sekilas ke arah Remi namun tak ada sedikit pun garis canda tergurat di
wajahnya. Tapi Rahne tetap ingin memastikan, “Lagi ngelawak, Rem?”
Remi
membenamkan wajah ke telapak tangannya. Senja sudah berpulang tapi Remi merasa
tak pernah bisa pulang ke keadaan sebelum ia bertemu Gita.
Lampu-lampu
rumah mulai mengambil alih. Matahari beserta cahayanya sudah meninggalkan bumi,
kini lampu-lampu itu menjadi hiasan cantik yang terhampar luas dinikmati oleh
sepasang sahabat itu dari loteng sana. Oh tapi tidak, Remi berusaha
mengabaikannya. Ia masih sibuk dengan perasaannya sendiri dan tidak
memerdulikan hiburan kecil di depan matanya.
“Gue
sayang Gita, Ne. Gue rela ngelakuin apa aja buat dia, gue pokoknya mau dia
tetap jadi milik gue.”
“Gue
ga pernah tahu kalo yang namanya jatuh cinta bisa separah ini. Elo harus sadar yang
terbaik itu ga berarti sesuatu yang kita harepin.”
“Dan
gue harus apa? Ngelupain? Ninggalin dia gitu aja? Ga segampang itu, Ne!”
“Gita
udah nyakitin elo berkali-kali, Rem! Apa itu belum cukup? Elo kira sekali jatuh
cinta bisa langsung dapet yang bener? Elo cowok, masa karena masalah satu cewek
aja elo lembek banget! Rem, banyak hal yang bisa elo lakuin sekarang selain
mikirin masalah ini. Inget, hidup tu ga cuma ngurusin soal hati sama perasaan
aja!”
Selama ini Remi selalu mengeluh
tentang hubungannya dengan Gita. Nyaris semua orang berusaha memberitahu Remi
agar segera menjauhi Gita tapi ia tetap bersikukuh mempercayai perasaannya. Rahne
tak tahan melihat Remi selalu dipermainkan oleh Gita. Setelah kebenaran
terungkap, Gita berselingkuh berkali-kali dan tertangkap basah jalan dengan
cowok lain yang ternyata tidak membuat Remi kapok merajut lagi kisah cintanya
membuat Rahne tak habis pikir, entah apa yang ada dalam otak sahabatnya itu.
Rahne tidak bermaksud memarahi atau menyalahkan Remi dalam situasi ini hanya
saja dia kesal karena Remi selalu mengeluh padanya di saat genting seperti ini
namun pada akhirnya ia selalu mengulang kesalahan yang sama yaitu kembali ke
pelukan Gita.
“Dan
sekarang elo mau gue kayak gimana?” tanya Rahne.
Remi diam lagi. Ia berpikir lama
sekali. Angin malam berhembus lembut ke kulit lalu bergerak menerobos pori-pori
hingga sampai ke tulangnya. Angin malam dirasa ganas oleh Remi. Hatinya
mengigil. Pertanyaan Rahne menambah perih segalanya, ia tidak menemukan celah
untuk menjawab.
Rahne
mengangkat satu kaki kemudian menggunakan sebelah tangannya sebagai penyangga
kepala. Pergelangan tangan Rahne ditekuk sedikit, beban kepalanya disimpan
disana dan mengarahkan wajahnya ke posisi Remi berada. “OK. Jadi mau kamu apa,
Rem? Saran gue, elo harus tegas kali
ini. Dan gue sebagai sahabat bakal mendukung apapun yang jadi keputusan elo.
Gue bersumpah! Cuma itu yang bisa gue lakuin. Semuanya tergantung sama elo
sekarang!”
“Bahkan
kalo gue masih tetep mertahanin Gita?” Remi menoleh ke arah Rahne takut-takut.
“Yes, Sir! Yang artinya gue ga bakalan bosen buat terus jadi
pendengar setia kisah cinta elo yang... yah, begitulah!” sebagian bibir Rahne
terangkat menampakan senyuman.
“Sumpah?” kini Remi benar-benar
menggeser tubuhnya menghadap Rahne.
Rahne menghela nafas lalu
mengacungkan dua jarinya dengan mantap. “Sumpah! Suer deh!”
Lampu neon di loteng kost-an Remi
yang berada tepat dimulut tangga pun sayup-sayup menaungi Remi dan Rahne. Remi
mencari-cari keseriusan di balik ekspresi Rahne yang super menyakinkan. Dan
Rahne berusaha tak ingin mengecewakan sahabatnya itu.
“Seenggaknya gue bakal pura-pura dengerin elo, Rem!” celetuk Rahne.
“Seenggaknya gue bakal pura-pura dengerin elo, Rem!” celetuk Rahne.
Remi
melongo. “Sialan!”
“Becanda
kali! Mau gimana pun elo pasti cerita sama gue. Apa sih yang elo rahasiain dari
gue? Ga ada ‘kan?” Rahne cekikikan.
Langit malam menggelap sempurna.
Tumpah ruah bintang tak kentara malam itu. Tak ada apapun diatas sana yang bisa
dilihat. Segalanya terlalu padam.
Remi mengacak-ngacak
rambutnya tak karuan. Dia harus memutuskan. Hubungannya dengan Gita memang terbilang
rumit. Banyak permasalahan yang menghantui selama setahun ini tapi Remi
bagaimana pun tetap menginginkan Gita. Remi selalu berharap Gita akan sadar
bahwa tidak ada yang bisa menerima Gita seperti Remi menerima setiap jengkal
sifat dan karakter Gita.
Walau Remi selalu menjadi korban,
walau ia harus tetap menjaga hatinya agar terselamatkan dari patah hati yang
berulang-ulang, walau ia berupaya memaafkan kesalahan Gita, Remi tetaplah Remi.
Perasaannya memang selalu carut marut namun juga selalu keras kepala.
“Gue bertahan,” kata Remi sembari
menghadap lautan lampu rumah.
“Udah gue duga,” balas Rahne
santai.
“Yang penting ada elo. Berapa
kali pun gue sakit hati, elo pasti ada ‘kan buat gue?” Remi nyengir.
“Kok
tiba-tiba gue ngerasa jadi orang paling bego di muka bumi ini ,ya?” Rahne menghela
nafas sejenak, “tapi ya, gue emang sahabat yang ga ada tandingannya. Orang bego
selalu ada buat orang yang lebih bego, iya ‘kan?”
“Bener
banget!” seiring berkata, Remi pun berdiri.
Rahne mendongkak. “Mau kemana
lo?”
“Daripada gue mati keabisan darah
gara-gara disedotin terus sama nyamuk-nyamuk sialan ini mending gue pergi makan
ke warung sebelah!”
“Eh, eh, eh, gue juga mau kali!”
Rahne juga melepas dudukannya dari kursi plastik reyot yang kembali menjerit.
“Kemon!”
Remi pun melangkah menuju mulut tangga.
“Rem, elo ga mau nelepon Gita
dulu?” suara Rahne setengah berteriak.
“Entar aja! Pokoknya elo cuma tau
pas gue lagi galau, itu artinya gue ada masalah sama Gita dan sisanya gue
tanganin sendiri,” Remi setengah mati mengulum tawa.
Rahne
kontak memukul bahu Remi cukup keras. “Kampret! Ga enaknya aja ke gue!”
“Becanda.”
Remi dan Rahne pun menuruni tangga
menuju warung makan di sebelah kost-an Remi. Walau Remi masih bergulat dengan
perasaannya, ia merasa beban hati tidak lebih baik jika dialami sendirian.
Adanya Rahne sebagai sahabat yang selalu mengerti dan ada di setiap waktu
membuat Remi merasa memiliki alasan untuk menemukan dan menentukan pilihan
walaupun selalu saja Remi memilih sesuatu yang salah lagi, lagi dan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar