Saat Memulai
|
Sabtu, 28 September 2013
|
Cerita Hati
|
Setiap malam gadis itu membiarkan
sedih dan kecewa meluap memenuhi hatinya. Pikirannya terbang ke berbagai arah,
dia termangu. Malam ke malam berikutnya pun tak pernah berubah. Gadis itu tetap
dalam keadaan, pikiran dan suasana hati yang sama. Hal-hal yang dianggap
penting dari semua yang ia rasa hanyalah ‘siapa yang membuatnya seperti itu’.
Dia tentu mudah sekali menjelaskan perasaannya lewat raut wajah tapi kali ini ia
memutuskan tak ingin menjadikan malam-malam kedepan seolah-olah tak pernah bergerak.
Aku melihat gadis itu
datar-datar. Aku tentu tak mengerti apa yang bisa kuperbuat untuknya sebelum
dia menggelontorkan kalimat pahit dari mulutnya. Sembari menahan tekanan dan
gejolak hatinya ia bertanya dengan sendu, “Apa ini salah satu cara Tuhan untuk menyiksaku?”
Menelan ludah, itulah yang
pertama kali kulakukan setelah satu detik terkulai mendengar pertanyaan itu. Untuk
beberapa saat aku berpikir, benarkah dia bertanya padaku? Atau ucapannya itu
adalah tameng yang ia gunakan dalam kemelut batin yang tak usai?
Kemudian kupeluk gadis itu dengan
erat. Tak perlu menunggu, ia sontak menangis sesenggukan.
Setelah lama kulepas lembut
rangkulan kedua tanganku. Sorot mataku mulai mencari-cari alasan diantara air mata
gadis itu. Tetap saja tidak ada. Lalu gadis itu menengadah ke arahku, aku
menatapnya lekat-lekat. Seandainya tatapan itu bisa bersuara mungkin kalimat
inilah yang akan keluar, “Bicaralah padaku! Walau aku bukanlah orang sakti yang
bisa menyembuhkan hatimu hanya dengan sekejap tapi aku adalah temanmu. Singkirkan
rasa takut itu!”
Gadis itu menghela nafas
berkali-kali. Berusaha menemukan rongga diantara sesak jiwanya. Bibir gadis itu
bergetar. Aku pun menunggu.
“Jika esok adalah hari terakhirku
mencintainya, aku tak keberatan. Dia tidak pernah mendatangiku tapi aku merasa telah ditinggalkan olehnya. Tentu saja kau
boleh memanggilku bodoh.”
Gadis itu berupaya menata kata
demi kata dengan susah payah. Dia mengepal-ngepal jemarinya dengan kuat yang
kini mulai dihadiri keringat. Dia sungguh kelimpungan dengan konflik yang
terjadi dalam dirinya.
Sekarang aku sedikit
menerjemahkan bahasa hatinya. Lebih tepatnya, cuma menerka. “Jadi, dia tak
pernah berkomitmen?”
“Tidak pernah terjadi sampai
detik ini. Kau tau kenapa? Karena kami tak saling mengenal satu sama lain.
Dalam jarak yang berlipat-lipat jauhnya pun aku masih mengharapkan kami bisa
saling mengetahui. Tapi sayangnya Tuhan tak begitu tertarik dengan semua itu.
Aku masih memerhatikannya, mengaguminya, dan menyukainya. Yang paling parah dari
cerita ini adalah aku tak pernah ingin bersama dengan siapa pun kecuali dia.
Tuhan seolah-olah menguncinya di dalam hatiku namun Tuhan tak mau memberiku
kesempatan untuk memastikan apakah dia benar-benar orangnya, apakah dia hanya
bagian semu yang menutupi kenyataan atau apalah jawaban yang tepat bagiku agar
aku bisa melanjutkan harapan pada orang lain. Tapi Tuhan hanya ingin
menyiksaku! Membuatku terus mencintainya tanpa menakdirkan kami untuk sekadar saling
mencoba.”
Aku kembali menelan ludah. Rumit
sekali, mencintai seseorang yang bahkan tak pernah mengenal sosokmu. Rela menolak
yang lain demi seseorang yang bisa disebut tidak benar-benar ada dalam
kehidupanmu.
“Bukan. Bukan begitu. Tuhan tau,
kau bukan gadis sembarang yang bisa mudah mencintai orang lain. Kau hanya sedang
bersedih bukan putus asa, oke? Tenanglah, ada banyak hal yang bisa kau dapatkan
setelah ini. Kau dan dia, saling mengenal atau pun tidak bukanlah hal yang
berbeda. Yang kaubutuhkan adalah cintai dirimu sendiri. Karena dengan begitu
kau tidak perlu repot mencintai apa-apa yang memperumit perasaanmu. Cinta akan
datang padamu bersama dia yang kaumaksud atau bersama dia yang lain yang justru
lebih baik.”
Perkataanku malah membuat gadis
itu semakin buruk. Kupeluk dia lagi. Batinku pontang-panting menyalahkan
bibirku yang tak sopan. Aku salah, ya sangat salah.
Selama beberapa menit keadaannya
tak kunjung berangkat dari “buruk”. Tapi gadis itu tiba-tiba bangkit dan kontan
melepas rangkulanku. “Malam-malam sebelumnya malah lebih parah,” ucapnya
setengah gemetar. Dia menatapku sembari tersenyum kelu kemudian dia mengucapkan
kalimat tanpa suara hanya gerakan bibir, “Thank you.”
“Memulai dimana aku harus
bertahan bukan lagi demi ‘kami’ agar Tuhan bersedia memberi kesempatan. Ini demi
diriku sendiri. Walau aku tak tau kapan hari itu dimulai, aku masih teramat
bingung. Tuhan tak sedang menyiksaku ‘kan?”
Aku mengangguk mantap. Lega karena
gadis itu akhirnya bisa melihat dirinya sendiri dengan benar.
“Biarlah, biarkan hati dan waktu
saja yang mempertemukanku dengan keadaan yang terbaik. Aku memang sedang
bersedih tapi aku tidak boleh putus asa seperti katamu tadi bahkan di saat aku
masih mencintainya,” kata gadis itu lagi.
“Ya, ya. Kau akan bergegas untuk
memulai,” ucapku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar