Halte Bus
|
Sabtu, 01 Juni 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Senja tersenyum. Semburat jingga
terlukis indah di kanvas langit. Jalanan kota Bandung terasa ramai. Kepulan
asap dari sana-sini memenuhi udara yang mengapung di sekitar tubuh Bella. Lampu-lampu
penerang jalan telah memulai tugasnya sedari tadi. Padahal petang belum
benar-benar tua namun gelap seperti tak sabar ingin memeluk langit secepatnya.
Bella mengulum waktu. Ia duduk kemudian berdiri lalu
duduk lagi dan kembali berdiri, ia terus melakukan hal itu tanpa berhenti. Di
halte bus yang biasa ia datangi setelah pulang mengajar private menjadi tempat langganannya untuk menanti seseorang. Keramaian di
sepanjang jalan Dago tak dapat di hindari. Kendaraan-kendaraan saling
berdempetan, berdesak-desakan dan bunyi klakson dari pengemudi yang tak
bersahabat dengan kemacetan menjadi soundtrack
yang terpaksa di nikmati. Nyaris semua pekerja, mahasiswa dan pelajar keluar
dari waktu efektifnya untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Jadi,
bayangkan saja di waktu yang sama, mereka semua berhamburan memadati jalan
raya.
Senja mulai larut dalam malam dan semarak suasana kota
Bandung mulai terlihat. Udara dingin merasuki kemeja pink pucat yang di kenakan
Bella. Akhirnya, setelah lama berdiri ia pun menyerah untuk duduk di bangku
halte. Pandangan Bella melebar, dari lampu-lampu kafe di depannya kemudian
melewati trotoar usang yang warna hitam putihnya sudah memudar, lalu beranjak
ke angkot yang sedang menurunkan penumpangnya di seberang jalan dan akhirnya
terkunci ke baliho yang tersampir di pinggir jalan. Gambar seorang lelaki yang
bisa di perkiraan usianya tak jauh berbeda dengan Bella. Mata lelaki itu seolah
tertuju pada Bella. Telunjuknya
mengacung seperti sedang memperingatkan sesuatu. Kerut-kerut di keningnya
menegaskan bahwa lelaki itu serius menyampaikan apa yang ingin di sampaikan. Mulut
lelaki itu sedikit membuka dan membentuk huruf “O”. Ada sebuah tulisan di sudut
kanan baliho itu. Aksaranya jelas, tegas, besar dan merah merona. Disana
terurai kalimat, “Jangan buang waktumu dengan NARKOBA!”. Dalam pikiran Bella
tulisan itu tercipta untuknya hanya saja sedikit berbeda di akhir kata. Bella
membayangkan tulisan itu berubah menjadi, “Jangan buang waktumu dengan DIA!”.
Dia yang dimaksud adalah dia yang Bella harapkan kehadirannya. Bella tersenyum
pahit dan menatap kembali layar handphone di tangannya. Dia tak henti-hentinya
membaca sms dari dia yang telah membuatnya menunggu. Sms itu berisi, “Tunggulah
di tempat biasa. Aku akan menemuimu.”
Di lubuk hati paling dalam, Bella percaya, dia akan
datang. Berpuluh-puluh menit pun terus bertumpuk di atas kepala Bella, nafasnya
teratur namun ada secuil rasa gundah merayap dalam benaknya. Ia menunduk dan
mencoba membujuk hatinya agar tetap tenang.
Sebuah motor berhenti di sisi trotoar halte bus tepat
di depan Bella. Si pengendara melepas helmnya lalu berkata, “Bella, maaf aku
terlambat.”
Wajah Bella seketika menengadah dan semburat rasa lega
langsung menyembur ke hatinya.
“Akbar, aku hampir putus asa nungguin kamu.”
Akbar menurunkan standard motornya lalu turun dan
berjalan mendekati Bella.
“Maafin aku. Tadi ada kendala di jalan, udah mah macet ada yang kecelakaan juga.
Makanya aku terlambat.”
“Maafin aku. Tadi ada kendala di jalan, udah mah macet ada yang kecelakaan juga.
Makanya aku terlambat.”
Akbar lalu duduk di sebelah Bella. Di halte itu hanya
ada mereka berdua. Orang-orang yang berada disana sudah pergi meninggalkan
tempat itu. Beberapa orang saja yang berjalan melewati mereka dan suasana jalan
untungnya tidak sepadat tadi sore.
“Kukira kamu bakalan marah. Handphone aku mati,
baterainya sekarat. Jadi tadi aku ga bisa ngehubungin kamu. Maaf ya?”
Bella tersenyum lembut pada Akbar. “Udah jangan minta maaf
terus. Bosen dengernya.”
Tempat itu, halte bus yang menjadi tempat pertemuan
mereka di saat rasa rindu mulai menggoda keduanya. Disana Bella dan Akbar
merasa terbebas dari apa yang membuat mereka tak nyaman. Tidak ada cibiran, bully-an, komentar pedas atau pandangan-pandangan
tak suka yang dilemparkan oleh orang-orang ke arah mereka. Walau bukan tempat
yang indah namun disana mereka lebih merasa tenang dibanding harus bertemu di tempat
yang mengundang cibiran. Mereka tak perlu berlama-lama bertemu karena yang mereka
butuhkan bukan terus berdamping melainkan cukup saling melepas rindu satu sama
lain walau hanya beberapa saat.
“Gimana ngajar private-nya,
Bel? Lancar?”
“Ya, seperti biasa. Kamu sendiri UAS-nya gimana?”
“Lumayan. Seperti yang telah diprediksi.”
"Syukurlah! Mudah-mudahan kali ini IP kamu sama
tingginya kaya IP di semester 2.”
“Iya, amin. Oh ya, udah di kirimin belum lamaran
kerjanya ke perusahaan yang kemaren?”
“Engga jadi. Soalnya batas umurnya kan 24 tahun
sedangkan aku udah 26.”
Air muka Akbar sedikit beralih. Wajahnya terlihat
kecewa namun bibir Akbar berusaha menenangkannya dengan senyum manis yang ia
berikan pada kekasihnya itu.
“Ga apa-apa. Masih banyak perusahaan lain kok. Tenang
aja!”
“Kalo kamu, Bar masih bisa ngelamar ke perusahaan itu.
Umur kamu kan masih 20.”
Bella menatap
ragu ke arah Akbar. Cahaya remang-remang di halte bus itu membuat mereka tak
bisa melihat jelas wajah masing-masing. Namun saat itu, Akbar tahu bahwa
perasaan Bella tidak terlalu baik. Bukan karena ia tak memiliki kesempatan
untuk melamar pekerjaan ke perusahaan itu namun kekhawatiran atas hubungan
mereka. Segala resah yang bisa ia dengar dari ritme nafas Bella yang berhembus
ke tubuh Akbar menandakan betapa Bella
menyayangkan hubungan ini.
“Tapi sayangnya aku ga bakal ngelakuin itu. Setelah
lulus nanti hal yang bakal aku lakuin adalah ngelamar kamu bukan ngelamar ke
perusahaan itu.”
Bella
terkesiap. Rambutnya yang tergerai seakan-akan melayang dalam angin. Perkataan
Akbar memang indah tapi dalam hatinya ia merasa tak begitu teguh, bukan ragu
hanya saja ada sekelumit rasa takut jika hal itu tidak terjadi.
“Kita lihat
nanti.”Akbar tak melepas tatapannya dari
perempuan yang amat ia cintai itu. Walau usia menjadi kerikil dalam kisah
percintaan mereka tapi Akbar tetap yakin akan memperjuangkan Bella. Ia tak
peduli dengan cibiran dan selentingan murahan yang di lontarkan padanya karena
telah berpacaran dengan perempuan yang lebih dewasa dibandingnya. Akbar tahu
apa yang benar-benar ia inginkan, ia tahu bahwa Bella adalah pilihan hatinya. Tak
peduli sebesar apa masalah yang Akbar
hadapi karena cinta yang hidup dalam dirinya tak mengenal sesuatu apapun
termasuk perbedaan umurnya dengan Bella.
“Kita akan saling membuktikan. Udah lumayan malem. Mau pulang? Ayo, aku antar!"
Bella menyampirkan tasnya ke atas bahu. Akbar kemudian meraih tangan Bella dan bersama-sama beranjak dari tempat duduknya. Mereka menaiki motor lalu pergi meninggalkan halte bus itu. Sebelum pergi, Bella sempat memandangi halte bus itu dan sekilas melempar senyum pada tempat yang setia menjadi titik pertemuannya dengan Akbar. Leher Bella berputar lalu melihat kembali ke baliho tadi dan mengucap selamat tinggal dalam hati pada gambar lelaki itu.
Dan gelapnya malam itu memayungi Bella dan Akbar di sepanjang perjalanannya.
“Kita akan saling membuktikan. Udah lumayan malem. Mau pulang? Ayo, aku antar!"
Bella menyampirkan tasnya ke atas bahu. Akbar kemudian meraih tangan Bella dan bersama-sama beranjak dari tempat duduknya. Mereka menaiki motor lalu pergi meninggalkan halte bus itu. Sebelum pergi, Bella sempat memandangi halte bus itu dan sekilas melempar senyum pada tempat yang setia menjadi titik pertemuannya dengan Akbar. Leher Bella berputar lalu melihat kembali ke baliho tadi dan mengucap selamat tinggal dalam hati pada gambar lelaki itu.
Dan gelapnya malam itu memayungi Bella dan Akbar di sepanjang perjalanannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar