Mencintaimu Sama Halnya Kotamu

| Selasa, 14 Mei 2013 | |
Selalu terkenang olehku tentang dirimu yang masih kucintai. Senyummu adalah keindahan terbaik yang pernah kudapat dari sosok yang amat membuat hidupku lebih menarik. Garis-garis wajahmu melukiskan suasana-suasana hati, psesepsi dan semua hal tentang bagaimana kau mengartikan keadaan. Cara bicaramu halus, tegas dan menenangkan membuatku mengerti bahwa kau tidak hanya bisa menjadi pendengar yang baik namun sekaligus penentram hatiku di kala kalut melanda.

Aku mencintaimu. Perlu kau tau, apa yang kurasakan benar-benar terpelihara dengan baik sepanjang 2 tahun belakangan ini. Sebenarnya bukan aku yang memeliharanya, tapi dia. Dia menjaganya seapik mungkin hingga tidak menciptakan cela untukku melupakanmu sedetikpun. Dia yang menutup rapat kesempatan pada mereka yang menawarkan kasih yang pasti dan memungkin. Sempat aku merasa begitu risau, pilu, dan kesal pada rindu yang selalu datang menghampiri dan tak sampai disitu saja rindu juga dengan lancangnya mengundang tangis padaku. Ya, semakin gila aku merindukanmu. Semakin putus asa aku mencintaimu. Dan dia, selalu memiliki andil dalam hal itu. Dia selalu bisa meyakinkanku bahwa aku bisa berjumpa lagi denganmu. Pada saat itulah cerita pun berubah. Penantian terbayarkan, rindu terpecahkan, tangis terhapuskan dan mencintaimu adalah takdir yang akan kujalani seumur hidupku. Kau tau siapa dia? Mungkin kau mengenalnya. Atau sedikit tebakan bisa membuatmu tidak mempertanyakannya lagi. Baiklah, aku akan memberitahumu, dia adalah sang waktu yang maha misterius. Hari demi hari menjadi janjinya padaku. Memang tak ada jaminan apapun yang bisa ia berikan, namun mencintaimu adalah alasan agar kutetap menghirup udara di atmosfer ini.

Kota itu. Secintanya aku padamu dan kota yang mengenalkanku pada keindahan seni. Wajar saja, dirimu sangat menghargai seni. Lihatlah, segala yang ada, tumbuh, dan berkembang disana adalah hasil dari kecintaan seni penduduknya. Kamu dan kota itu adalah kesatuan yang amat sempurna. Karenanya, aku bisa menemukanmu. Aku mencintaimu sama halnya aku mencintai kotamu.

Perpisahan membuat segalanya berubah. Awal aku menginjakkan kaki di kotamu hatiku sedang terluka. Hal yang kubawa dari tempat asalku hanyalah kesedihan mendalam. Pikirku tak lagi jernih, yang kumau kotamulah yang bisa mengobati hatiku yang terluka ini. Lama semakin lama, waktu pun merasa kepayahan melihat kepedihanku yang tak kunjung usai. Cara dan caralah yang ia tawarkan padaku untuk setidaknya bisa merubah rasa sakit ini menjadi semangat menjalani kehidupan. Tidak ada, belum kutemukan cara yang lebih baik. Sampai akhirnya, aku bertemu denganmu. Mungkin itulah cara terakhir yang waktu berikan padaku. Ternyata berhasil, kamu adalah obat termujarab yang tak pernah kutemui.

Bulan ke bulan kita jalani bersama. Masa menjadi begitu singkat dan kita menikmati segalanya dengan baik tanpa hambatan. Kita adalah aku dan kamu yang memiliki latar belakang berbeda. Masa lalu yang tak sama dan perjalanan hidup yang berarti untuk satu sama lain. Manis, tiada bosan atau jenuh padamu. Kelihaimu membuat kutersenyum di tiap harinya. Melupakan masa lalu yang buram dan menikmati keindahan terbaik di depan mataku. Kamu sangat istimewa. Waktu tidak dengan mudahnya menyerahkanku pada kebahagiaan secara cuma-cuma. Di suatu malam yang kelam, langit kian gelap, makhluk angkasa tiada menunjukan diri, tiba-tiba kamu datang meminta perpisahan. Cara bicaramu yang halus berubah menjadi sangat bengis di telingaku. Sakitnya terasa sampai ulu hati, otakku tak ingin berfungsi, dan ragaku kaku tak berdaya. Kata-katamu sangat meyakinkan, matamu tajam menatapku, bahasa tubuhmu memohon dengan sangat untukku bisa menerimanya tanpa tangisan. Apakah itu konyol? Benar saja aku tidak bisa menahan perasaan yang meledak-ledak ini tanpa hujan di mataku. Oh Tuhan, luka itu kembali terbuka bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Diantara bagian-bagian kata yang kau muntahkan tak satu pun alasan yang terungkap. Berulang-ulang kupertanyakan padamu dengan intonasi yang amat meminta namun kau malah membungkam. Menyimpan alasan yang ingin kutau, ingin kumengerti, ingin kudapati. Satu hal yang bisa kuduga dari garis wajahmu, ada hal penting, sangat beralasan, tidak ada jalan lain, dan kau tidak ingin mengungkapkannya padaku. Entah apa itu, aku memang tak tau.

Semua itu membawa kukembali. Sama halnya ketika aku mendatangi kotamu, luka hatilah yang kujinjing dan saat kumemutar arah untuk pulang aku tetap bersamanya. Pergi dengan luka, pulangpun dengan luka.
Dua tahun waktu yang cukup kejam untukku. Hanya saja bukan lagi kerelaan hati yang selama ini kupertahankan melainkan keyakinan bahwa kau akan memohon maaf padaku kelak. Aku tau, kau selalu mencintaiku begitu juga sebaliknya. Waktu yang mempertemukan, waktu pula yang memisahkan. Dan kapan dan dimanapun kau berada, aku pasti akan menantimu dan waktu akan mempersatukan kita lagi. 

Aku mencintaimu. Aku mencintai kotamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -