Dermaga
|
Senin, 13 Mei 2013
|
Cerita Pendek - Cerpen
|
Hatinya menggeliat. Reza menunggu seseorang dalam cemas yang semakin membuas. Langit sore mulai menua, semburat senja menempeli angkasa. Namun Reza tetap ingin bersabar.
Reza beringsut di bangku kayu pesisir danau. Air beriak di depannya menontoni lelaki itu dengan aneh. Dua jam lebih dia duduk disana, masih dalam tatapan yang sama; tatapan kosong. Pandangannya sekali-kali berpedar ke pepohonan sekitarnya, ke air danau yang tenang, ke rakit yang mengapung di tengah-tengah danau, ke langit yang cerah tak berperah tapi sayangnya semua itu hanya pelampiasan. Hatinya sedang menunggu, Reza berupaya sekuat jiwa agar batinnya tidak berkomentar lagi. Intuisinya bekerja, kemungkinan terburuk pun mulai menampakkan kebenaran pada Reza.
Dia tidak akan datang. Berulang kali bisikan itu menerobos telinganya, menerobos pertahanannya, dan tanpa lelah menyuruh Reza secepat mungkin menyadari sesuatu hal bahwa ia akan lebih kecewa jika terus mengharapkan hal yang sudah jelas tidak memilihnya.
Ujung-ujung air danau bergoyang-goyang di mulut tanah lantaran diterpa angin seakan-akan mereka berusaha menghibur lelaki itu. Tapi semuanya tentu tak berhasil. Reza bergeming, mulutnya selalu bungkam. Reza berada tepat di bawah sebuah pohon rindang, mestinya ia merasa sejuk dan tenang tapi saat itu hatinya sama sekali anti-rasa. Reza menunduk, merenungi segalanya, merengkuh kesakitan yang mulai merambati pembuluh darahnya.
Tiba-tiba Reza berdiri, tungkai kakinya menegak lalu ia mengayunkan langkahnya ke dermaga yang tak jauh dari tempatnya tadi menghabiskan dua jam lebih dalam naungan pohon rindang. Udara hangat mulai menyeliputi tubuhnya, merasuk ke sela-sela sweater abu-abunya. Jarak pun terbunuh seiring langkah Reza yang semakin cepat menghampiri mulut dermaga. Ia berdiri sejenak lalu duduk disana dengan menghempaskan kedua kakinya agar terayun di atas permukaan danau. Disana, raut wajah tak berubah, tatapannya tetap kosong.
Ponsel Reza berdering, suaranya terbenam oleh balutan kain jeans. Reza mengoreh saku celana jeans-nya itu kemudian mendapati seseorang sedang menunggu panggilan itu digubris. Hati Reza bergetar, intuisinya kembali mempermainkan pikiran Reza.
Banyak perdebatan dalam batinnya tapi ia tak tahan lagi, ia harus memastikan sesuatu, Reza harus memperjelasnya. Tombol hijau pun ditekan, lalu dengan ragu ia mengarahkan ponsel itu ke daun telinganya.
“Hallo?” suara Wanda bergetar.
“Ya?” Reza merasa bibirnya membeku.
“Reza, aku mau minta maaf.”
Reza terdiam.
“Aku ga bisa dateng ke danau.”
Energi Reza kontan melemah. Ia mengerti maksud Wanda. “Ga apa-apa. Sesuai kesepakatan berarti kamu nolak aku kan?”
Wanda menelan ludah. “Maafin aku, Za! Aku...”
“Kamu ga perlu minta maaf. Lebih baik aku tahu, lebih baik kamu jujur sama perasaan kamu sendiri. Harusnya akulah yang minta maaf sama kamu!” tukas Reza.
“Engga, kamu ga salah apa-apa,” tegas Wanda.
“Dengerin aku! Dari dulu harusnya aku ngerti. Kamu ga pernah milih aku, kamu terlalu murah hati untuk bilang ‘jangan deketin aku lagi’. Akunya yang ga mau tahu dan keras kepala. Aku harus minta maaf sama kamu karena selama ini aku selalu membuatmu risih.”
Wanda membisu. Kata-kata Reza menjadi perekat bibirnya, Wanda hanya mampu menyalahi dirinya sendiri.
“Ini yang harusnya aku sadari. Jangan merasa bersalah! Aku tidak pernah sekali pun merasa rugi karena sempat menyayangimu. Tapi ini saatnya aku melepasmu,” Reza sekilas tersenyum pahit, “oh bukan, kita belum pernah menjalin cinta, tapi inilah saatnya aku melupakanmu. Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”
“Apa kamu masih disana?”
Reza merubah sedikit posisi tubuhnya. “Ya. Kamu tak perlu kesini.”
“Tapi...”
“Wan, kumohon jangan kesini. Aku akan baik-baik saja.
Maaf Wan, aku sedang tak ingin ditemani siapapun.”
Di ujung telepon terbenam rasa bersalah yang besar.
Hela nafas Wanda tercekat, dan ia pun menyerah. “Baiklah. Kamu butuh
kesendirian sekarang.”
“Iya, kamu tahu
itu. Sebaiknya kaututup telepon ini.”
“Ah ya, baiklah!”
Telepon terputus Reza langsung termenung. Batinnya
benar, inilah waktu dimana ia harus berhenti. Wanda tidak pernah punya perasaan
sama seperti dirinya. Itu bukan salah Wanda. Segalanya telah diatur. Tuhan tahu
mana yang lebih pantas karena cinta tak selamanya dari dua pihak yang sama. Reza
kini menyadari.
Langit mulai menggelap. Jingga telah tersedot habis,
Reza masih merasakan angin itu menerpa wajah dan tubuhnya. Air beriak mengamini
setiap doa kebaikan yang Reza panjatkan dalam hatinya. Ia harus melepaskan
perasaannya, ia harus merentangkan rengkuhannya pada Wanda. Di dermaga, Reza
membiarkan semuanya terbuang sedikit demi sedikit. Reza rela, dia akan
merelakannya. Dermaga ini menjadi tempat yang pantas untuk membiarkan
kesakitannya melepaskan diri dari Reza sebab penolakan Wanda bukanlah akhir
dari segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar