Mencintainya Menjadi Akhir Pertemanan Kita
Teman, aku punya satu pengakuan.
Ini penting, sulit,
setelah
kukatakan yang sebenarnya tentang sesuatu yang kupendam selama ini. Di dalam bayanganku
tak ada gambaran lain selain “kita” tak akan berteman lagi. Kau mungkin
membenciku dan tentu tak ingin memperpanjang masa pertemanan. Tapi, apapun yang
terjadi, apapun resikonya aku akan menerima semua itu. Yang terpenting adalah
kau harus tahu sesuatu yang semestinya kau tahu dari dulu. Kurasa belum terlambat,
walau sudah terlampau jauh namun yang kuinginkan sekarang ini ialah kau harus mengetahui
apa yang aku pendam dan rahasiakan.
Kuharap kau bersedia membaca ini.
Yang kutulis adalah apa yang kurasakan.
Perasaan. Entah sejak kapan aku merasa ada yang salah dengan hatiku.
Perubahan cara pandangku melihat sepasang kekasih yang begitu saling mencinta
satu sama lain. Simpati, awalnya aku memang beranggapan demikian pada pasangan
itu. Namun lama-kelaman setiap aku menyaksikan, mendengar hal-hal mesra dari
pasangan lelakinya untuk merayu, menggoda bahkan menghibur pasangan perempuannya,
tiba-tiba kurasa ada petir yang menyambar ke ulu hati. Sakit, marah, cemburu,
pilu dan semua kesan yang tak ingin seorang pun berharap bisa terjadi pada
dirinya malah menimpaku secara bertubi-tubi. Tanpa ampun. Aku berusaha keras
menutupi segalanya. Mengelabui hingga membuat mereka mengira bahwa kekesalanku bukan
berasal dari apa yang kulihat dari mereka. Cara mereka bermesraan, cara mereka saling
memahami, cara mereka memberi perhatian, menjadikanku berada pada pihak yang
tersakiti dan terbebani. Mereka adalah sejoli yang sangat kukenal, itulah yang
membuat aku menduduki kondisi yang salah, perasaan yang salah dan orang yang
salah.
Apa kau bisa menebak siapa mereka, teman? Aku yakin dugaanmu takkan
keliru. Coba katakan siapa mereka itu. Ungkapkan saja...
Ya, kalian. Kau dan dia.
Perlu kau tahu, sulit bagiku mengatakan semua ini. Bukannya aku mencari
kebenaran dan pembelaan karena sebaik apapun caraku mengungkapnya tetap saja
tidak akan merubah betapa buruknya hal ini. Mencintainya, adalah akhir dari
pertemanan kita. Tak pernah terpikir olehku untuk menghancurkan apalagi memisahkan
kalian. Aku tahu, aku bukan orang yang bisa kaupercaya lagi. Kau pasti kecewa.
Perasaan itu di luar kendali dan aku berani bersumpah bahwa aku tidak akan
menganggu hubungan kalian. Satu hal yang ingin kusampaikan padamu, jika kau tak
ingin berteman denganku atau mungkin lebih buruk dari itu, kau tak mau bertemu
dengan sosok seperti aku lagi, tak apa. Benar, menurutku itulah hukuman yang
pantas bagiku. Kau tentu boleh menjauhiku bahkan berpura-pura tak mengenalku
lagi. Aku sudah terlalu bersalah padamu.
Teman (jika ini kali terakhir aku memanggilmu teman), aku menyayangkan
pertemanan kita.
Salam cinta,
Beribu Maaf Dariku.
Keputusanku berterus terang
terhadapmu adalah kesulitan yang maha besar. Pertentangan batin yang terjadi
antara untuk melakukannya atau tidak sama sekali. Aku bukan teman yang baik
bagimu namun aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu bagaimana pun
caranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar