Setengah Hati
|
Rabu, 08 Mei 2013
|
Cerita Hati
|
Semestinya aku tak memulai hubungan ini denganmu. Semestinya
aku menyadari bahwa cinta yang kurasakan ini tak mampu kaubalas sepenuh hati. Semestinya
aku membiarkanmu pergi tanpa sempat menyakitiku lebih dari penolakanmu. Itulah
yang semestinya!
Maaf, selama ini aku tlah memaksamu untuk mencintaiku. Aku
yang terlalu mengegoiskan perasaan tanpa memahami keinginamu. Hubungan yang
kita jalani selama ini bukanlah omong kosong melainkan kenangan terindah yang
pernah kurasakan. Yang kusesalkan adalah telah menyia-nyiakan penolakanmu.
Memaksamu untuk menerima aku sebagai pasanganmu adalah kesalahan terbesar. Aku
bersikeras mencintaimu, memberi segalanya agar kau percaya padaku, memahami
cara pandangmu bahkan setulusnya mempersembahkan cinta yang mungkin belum kau
temukan di hati siapapun. Aku tau, semua itu belum cukup untuk merubah perasaanmu
padaku. Hati itu bukan untuk di paksa melainkan di bebaskan semaunya. Pilu memang
menghadapi penolakanmu. Kecewa, kala perasaanku semakin menggebu namun dirimu
masih tetap bergeming.
Dan di suatu hari kau merubah segala keputusan. Apa
penyebabnya, aku tak mengerti. Mungkin karena kesal padaku kau mengiyakan cinta
yang selama ini kusuguhkan. Entah aku yang terlalu bodoh, tidak menyadari,
terlalu senang, tidak memperdulikan atau memang aku yang tidak ingin mengerti bahwa
sesungguhnya kau menerima cintaku tidak dengan sepenuh jiwa melainkan setengah
hati. Harusnya aku tau, seharusnya aku mempertanyakan.
Selama ini aku yang terus mencekokimu dengan perhatian namun
yang kulihat dari air mukamu hanyalah ‘tanpa rasa’. Kau hambar. Kau bahkan
tidak menikmati canda tawa kita. Tak meladeni saat kumenghiburmu. Kau memang
tak bahagia bersamaku, dan aku? Terlalu egois memikirkan bagaimana caranya kau
menganggapku segalanya seperti yang kurasakan padamu. Aku menyesal, sangat
menyesal.
Berbaik hati sekali dirimu dengan tak pernah mengucap putus
terlebih dahulu. Sebenarnya akulah yang pantas mendapatkannya namun kamu
berusaha memberitahuku dengan segala kiasan-kiasan ekspresimu. Kau ingin aku yang mengakhiri
hubungan kita. Kau ingin aku yang memutuskanmu. Kau tak tega melihatku semakin
tak berdaya. Tapi nyatanya, semua itu memperburuk keadaan.
Maaf, bila sepanjang hubungan kita, aku selalu memaksamu
tersenyum untuk melegakan hatiku.
Maaf, bila aku selalu menuntut cinta yang sebenarnya kau pun
tak memiliki andil untuk mengadakan perasaan itu.
Maaf, bila selama ini aku membiarkanmu bertahan dalam
jalinan cinta satu pihak.
Aku memang terluka dan tak berniat menyangkalnya. Salahku
adalah tidak ingin memahami betapa menderitanya dirimu menjalani cinta begini.
Walau setengah hati kau memberikan cintamu, aku tetap merasa beruntung karena
sempat memilikimu walau tak benar-benar sepenuhnya. Aku merasa sangat bersalah
padamu terhadap apa yang selama ini kulakukan. Mungkin dengan cara melepaskanmu
pergi aku bisa merasa lebih tenang. Dan ya, kini aku memang merasakannya.
Pergilah, kau berhak untuk meninggalkanku. Cari apa yang kau inginkan, yang tak
kau temukan dalam diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar