Maaf Kupilih Dia
|
Kamis, 09 Mei 2013
|
Cerita Hati
|
Maafkan aku. Maafkanlah kebodohanku...
Aku takkan memintamu melupakan kesalahan dan kekeliruanku. Tentu
saja, kau bukan pendendam tapi kuyakin hal ini takkan bisa kau abaikan dengan
mudah. Aku yang membuatmu begini. Dan akulah orang yang semestinya
bertanggungjawab atas apa yang kuperbuat untukmu.
Ketika aku mengatakan “aku cinta kamu” untuk pertama kalinya,
percayalah itu kebenaran. Aku jatuh cinta padamu bukan pada pandangan pertama,
ya kau juga begitu padaku. Tapi, tak sedikit pun terpikir olehku untuk
membohongimu apalagi berniat melukai hatimu. Sejak awal aku menjalin hubungan
denganmu semuanya murni karena cinta. Tak ada alasan lain. Kau baik, pengertian
dan sempurna seharusnya aku tidak melakukan ini padamu. Ya, memang aku tidak
baik untukmu. Aku bukan orang yang pantas mendampingi dirimu.
Hubungan kita berjalan dengan lancar. Bagaimana tidak, tak
pernah sekali pun kau membuatku susah. Yang paling kusuka darimu adalah
ketidakbawelanmu yang menjadikanku nyaman menjalani aktivitas namun tidak
memudarkan perhatian yang begitu romantis. Kau memiliki cara sendiri untuk
menetramkan kisah kasih kita. Kau memang kekasih luar biasa. Kau harusnya
mendapatkan kekasih yang lebih baik di banding aku.
Semuanya bermula ketika aku bertemu mantan pasanganku di
masa lalu. Dia adalah salah satu orang yang paling kupertahankan keberadaannya.
Sulit sekali melupakan kenangan yang pernah aku dan dia alami. Dia tiba-tiba
datang kembali dan memintaku bersamanya lagi. Aku menolak, ya asalnya aku tak
ingin menerima. Luka yang ia goreskan dalam hatiku bukanlah alasan yang mampu
dengan gampangnya dimaafkan. Sayangnya, dan ini yang disayangkan ketika lama
kelamaan aku terus saja teringat dan terhanyut kembali oleh cintanya. Sekuat
tenaga aku mengusir pikiran-pikiran itu malah semakin membuatku lemah. Maaf,
aku harus mengatakan ini padamu. Walau menyakitkan namun kurasa kau harus
mengetahuinya.
“Sebelum kita menjalin
hubungan, aku telah lebih dulu mencintainya. Dan ketika dia
meninggalkanku maka tidak ada lagi yang tersisa. Hatiku perih, hatiku berdarah,
hatiku menangis. Dan kau datang membawa cinta yang maha mewah padaku. Meyakinkanku
untuk bangkit dan melupakan kenangan lalu. Kesabaranmu sungguh kokoh hingga aku
pun mengalah. Mengalah pada perpisahan dan mengalah pada kesakitan. Bersamamu adalah
masa-masa yang penuh warna. Tanpa sadar kau menanam cinta dalam jiwaku. Besar dan
sangat luas. Kau isi setiap ruang kosong di dalam hati ini. Hingga aku merasa
begitu istimewa di matamu. Tapi ternyata, aku mengabaikan sesuatu. Ah tidak,
maksudku aku sengaja tidak merubahnya. Tidak menghilangkannya. Ada satu ruang
di dalam diriku yang tak ingin kubagi. Aku berusaha memeliharanya walau dalam
ukuran sempit. Ruang itu bukan untukmu. Bukan untuk cintamu. Kau tau maksudku.
Ya, satu ruang yang kukhususkan untuk dia, mantan kekasihku. Dan saat dia
berbalik, menyadari bahwa akulah satu-satunya orang yang memahaminya aku pun
terlena. Godaan yang memang tak bisa kutolak dengan mudah. Sungguh ku tak
sanggup membiarkannya pergi lagi.”
Kau boleh membenciku. Kau boleh memakiku. Kau boleh
mencaciku. Aku pantas menerimanya. Cukup sudah aku mendustaimu. Aku lelah
melakukannya. Aku tak bisa lagi menyakitiku seperti itu. Tersakiti, aku lebih
dulu merasakannya. Aku bukan orang baik, aku berperilaku jahat padamu tapi aku
tidak ingin memperumit hubungan kita lebih dari kebohonganku.
Kata terakhir dan akan menjadi beban hidup yang paling berat
bagiku, “Maafkan aku!”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar