Bintang Bicara

| Sabtu, 13 Juli 2013 | |

Rasti merenung. Ingatannya berkelana ke bagian-bagian memori paling sensitif dalam benaknya di dua tahun yang lalu. Pikiran serta hatinya jatuh pada kepingan-kepingan kenangan masa itu. Satu per satu harapan-harapan memberengus kalbunya. Dengan tempat dan dalam posisinya yang sama di dua tahun yang lalu itu, Rasti memangku satu mangkuk mie instan yang mulai mendingin. Aroma mie instan pun terkalahkan oleh desir angin malam yang berselancar ke arahnya. Rasti menengadahkan kepala, sorot matanya penuh harap. Di dalam jiwa Rasti terselip keinginan agar seseorang yang dahulu dengan kebiasannya mengedap-ngendap naik ke pagar rumahnya, kemudian tanpa sedikit pun rasa takut memanjati balkon kamar Rasti dan selalu saja berhasil mencapai genting rumah yang menjadi tempat favorit keduanya untuk sekadar menikmati indahnya hamparan bintang. Ingatan di bagian itu semakin menguat dalam benaknya. Rasti melemah, tak mampu lagi melawan bayangan itu akhirnya, ia pun memasrahkan semua kenangan itu agar hidup kembali di diri dan pikirannya saat itu juga.
Dua tahun yang lalu...
Mie instan yang beberapa saat lalu masih mengepul asap kini bersiap menemui ajalnya. Isal menangkup kedua tangannya ke badan mangkok lalu mengarahkan mangkok itu ke mulutnya. Kuah mie instan yang malang itu pun masuk ke mulut Isal tanpa bisa melawan. Rasti memerhatikan sejenak tindakan Isal dan kemudian ia juga melakukan hal yang sama.
Kini dua mangkok terkapar tanpa nyawa. Rasti sangat menikmati makanan instan itu begitu pula Isal. Rasa pedas dan gurih yang ditinggalkan kuah mie instan masih menempeli rongga mulut mereka. Walau tak benar-benar membuat perut mereka kenyang, Isal dan Rasti merasa lega karena tidak perlu lagi mendengar jeritan malang dari cacing-cacing dalam perut mereka berdua, setidaknya untuk beberapa waktu.
Dengan beralaskan genting rumah, Isal membaringkan badannya. Melipat kedua tangan yang diposisikan sebagai bantalan untuk kepala. Mata Isal liar memandangi hamparan langit hitam yang banyak ditaburi ribuan bintang yang berkelap-kelip. Bibir Isal pun mengembang menandakan senyuman. Rasti yang masih mempertahankan posisi duduk bersilanya diam-diam menoleh ke arah Isal dan menangkap senyuman itu.
“Indah itu ga harus mewah. Makan mie instan di atas genting sambil nikmatin pementasan kekayaan alam kayak gini ga bisa ditandingin sama konser apapun yang ada di dunia ini. Apalagi parahnya suasana se-spekta ini ga lepas dari keberadaan kamu,” ucap Isal mantap.
Mata Isal tetap memandang objek yang sama. Raut wajah Rasti berubah kikuk. Pipinya berangsur merona, walau kebersamaan mereka sudah berjalan satu tahun namun  Rasti tetap saja selalu tergetar hatinya bila Isal mengatakan hal-hal indah seperti itu padanya. Rasti pun   menyembunyikan rasa malunya, ia beringsut membaringkan punggungnya ke atas genting. Tubuh Rasti sedikit demi sedikit bergeser mendekat ke arah Isal. Angin malam berhembus lembut menerpa kulit keduanya. Isal dan Rasti bukan berarti tidak merasakan rasa dingin yang menggigit itu, mereka hanya berupaya mengabaikannya agar bisa menikmati suasana malam itu tanpa gangguan.
Pandangan Rasti berpedar, bintang-bintang mungil itu seolah terus berkedip pada mereka, bak tanda bahwa bintang-bintang sangat menyukai kebersamaan Isal dan Rasti. Dari sekian banyak bintang yang bergantung di langit ada satu bintang yang memiliki cahaya paling terang. Bola mata Rasti sontak berbinar seakan ia telah menemukan sesuatu yang berharga.
“Liat deh, bintang yang itu sinarnya paling kuat. Pemimpinnya kali, ya?” ucap Rasti sambil terkekeh. Tangan Rasti merentang, telujuknya berayun ke posisi bintang yang dimaksudkannya.
“Itu namanya bintang sirius, bintang yang paling terang dari kebanyakan bintang lainnya.”
“Bintang yang menarik. Cahayanya tegas seolah memperjelas bahwa dia adalah bintang yang sangat tangguh dan tak mudah dikalahkan.”
Isal terdiam sejenak lalu ia pun berkata, “Kamu tahu, kalau bintang itu adalah teman baik untuk semua makhluk ya, termasuk kita. Dia bisa menjadi teman dalam segala situasi, tempat curhat yang bisa dipercaya. Ajaibnya, dia juga selalu punya solusi dan jawaban sendiri walau caranya menyampaikan penuh dengan bumbu konotasi yang rumit.”
“Gimana caranya bintang itu bisa nyampein solusi dan jawabannya ke kita?” Rasti membisu sebentar, otaknya dipaksa bekerja, “jangan bilang kalau kamu suka curhat sama bintang?” sekilas Rasti menoleh ke wajah Isal. Mencuatlah rasa penasaraan dalam hatinya.
Isal tersenyum untuk beberapa detik. “Ya, tapi itu dulu. Saat aku masih kecil. Ada dong caranya, tapi ga langsung dapet jawaban. Gitu-gitu juga bintang perlu waktu buat mikir.”
“Bintang bisa mikir? Astaga...” Rasti mendongkak, sikut kanannya kini menjadi tumpuan separuh beban tubuhnya yang mengarah ke Isal. Mata Rasti terbelalak tak sabar ingin secepatnya mendapat penjelasan serius dari Isal.
Isal tertawa terpingkal-pingkal melihat respon pacarnya itu. Sontak Rasti terbengong-bengong karena ditertawakan sehebat itu.
“Ssst.. jangan keras-keras ketawanya! Nanti orang rumah pada gehger!” kata Rasti setengah berbisik.
“Iya, iya, sayang! Maaf! Hmm, bintang bisa bicara,” kalimat Isal menggantung. Rasti mengerut kening kode bahwa ia belum mengerti tentang apa yang Isal ucapkan.
“Biar lebih jelas, gimana kalo kita ajak ngobrol dulu bintangnya?”
“Kamu ga ngajak gila bareng ‘kan?” celetuk Rasti sambil tertawa kecil. Setelah itu, tawaran Isal disambut semangat ’45 olehnya.
“Dulu, perbincangan aku sama bintang berkisar tentang harapan-harapan di masa depan. Aku berangan-angan harapan itu bisa tercapai di kemudian hari. Dan malam ini, perbincangan itu sama aja, tentang harapan terbesarku. Kamu mau tahu?”
Rasti mengangguk.  “Harapan terbesarku saat ini adalah bisa terus bareng sama kamu, kurasa dengan bersamamu tidak ada lagi ukuran waktu buat kita,” suara Isal terdengar begitu yakin dan tulus.
Hati Rasti tergugah. Kontan perasaan Rasti terasa lebih haru pasca ucapan Isal selesai.
Rasti menghela nafas dalam-dalam. “Bintang, kau dengar apa yang Isal ucapkan? Aku tak percaya dia bisa berkata seperti itu, tapi dari semua kata-katanya ada satu hal yang bisa aku pahami bahwa kami memiliki harapan yang sama. Bagaimana menurutmu, Bintang?”
Kini Isal-lah yang terkejut. Jemarinya bergerak, mencari jemari Rasti untuk digenggam. Setelah jemari mereka bertemu, Isal berucap lagi. “Mungkin harapan yang satu ini terdengar begitu mengawang-ngawang. Tapi Bintang, aku ingin dia mendengar harapan itu,” Isal memperat genggaman tangannya, “suatu saat nanti aku ingin menikah dengannya, memiliki anak-anak yang hebat darinya dan menikmati pementasaan bintang bersamanya setiap malam hingga ajal mendatangi kami berdua.”
Rasti mengigit lembut bibir bawahnya. Ia diam seribu bahasa saking terkejutnya. Lalu Isal mengangkat genggaman tangan mereka dan mendaratkan punggung tangan Rasti ke bibirnya. Isal pun mengecupnya dengan lemah lembut.
Saat itu Rasti mengamininya dengan sunguh-sungguh.  Kejadian itu telah berselang dua tahun yang lalu. Harapan-harapan melepuh seiring berjalannya waktu yang tak pernah mengenal perhentian. Batin Rasti pilu, bintang-bintang tak jua memberinya solusi dan jawaban.
Rasti tak ingin menangis. Ia berupaya agar air mata itu tetap terjaga. Kepalanya menengadah, mata Rasti memandangi rasi-rasi bintang yang terlukis tegas di atas sana yang tentu saja tak dapat dimengertinya.  Hati Rasti terhakimi.
"Bintang, bicaralah padaku! Bicaralah!” gumam Rasti dengan putus asa.
Dalam suasana malam yang terlampau dingin, Rasti kembali merenung. Saat itu, Isal dan Rasti berbicara tentang masa depan yang seolah-olah mereka tahu betul arti dari semua itu. Tapi dalam kenyataannya mereka hanya berharap dan tak betul-betul tahu makna dari masa depan itu sendiri. Hal itu mencuat dalam benak Rasti secara tiba-tiba. Masa depan terlalu rumit untuk di pastikan, sebanyak apapun harapan itu nantinya hanya menjadi bumbu dalam segala kemungkinan yang mungkin benar terjadi atau pun tidak sama sekali.
Rasti berpikir, waktu itu ia dan Isal tak sedikit pun memikirkan bahwa mereka mungkin akan berpisah sebelum harapan itu terwujud. Mereka hanya menikmati kebahagiaan kala itu saja, tidak terbesit secuil pun bahwa mereka akan saling menghilang dan meninggalkan. Isal dan Rasti terlalu yakin dengan kebersamaan mereka.
Batin Rasti tergugah. “Apa ini jawabanmu?” tanyanya pada bintang.
Bibirnya kaku, namun ia tak tahan lagi. “Apa solusimu? Apa aku harus mengikhlaskannya? Haruskah aku bersabar?” lanjut Rasti dengan suara yang teramat lirih.
Bintang paling terang, ya, bintang sirius itu berkelap-kelip dengan cepat. Kemudian satu bintang jatuh pun tertangkap oleh mata Rasti. Ia tentu tak melewatkannya, Rasti merasa telah mendapat solusi dan jawaban itu. Dia yakin, yakin sekali.
Rasti menelan ludah. Tanpa ragu ia berkata, “Saat kita terlalu yakin akan sesuatu hal sesungguhnya akan ada banyak kemungkinan baik dan buruknya di depan kita. Takdir lebih memahami. Waktu terus berputar, dan semua akan terbuktikan kebenarannya. Harapan adalah pemicu, walau belum tentu bisa berhasil. Aku harus sabar serta ikhlas, karena aku maupun Isal tidak pernah berencana saling memisahkan diri. Bukan begitu?”
Segurat senyum paling tulus, Rasti lontarkan pada bintang-bintang. Beban hatinya meringan dan perasaannya melega. Rasti merasa angin malam mampu menyegarkan batinnya. Setelah perpisahan terjadi ia merasa telah bersikap egois bahkan pada dirinya sendiri. Rasti sadar segala sesuatu tidaklah abadi, baik pertemuan atapun perpisahan.
“Terimakasih, Bintang! Karena kau sudah bersedia berbicara denganku,” kalimat terakhir yang Rasti sampaikan sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan tempat dengan segala kenangan itu.
Kini Rasti mengerti maksud dari ucapan Isal bahwa bintang menyampaikan solusi dan jawabannya dengan konotasi yang rumit. Rasti bahagia, karena ia telah mendapatkan dan memahaminya dengan baik. Biar masa depan Rasti dan Isal menjadi salah satu kejutan di masa depan keduanya, Rasti harus menerima semua itu. Rasti maupun Isal selalu memiliki harapan yang sama namun belum tentu dibarengi takdir yang sama pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -