Kamu Adalah Aku ke-758

| Sabtu, 02 Maret 2013 | |
Tertanggal 30 yang manis,

Ini adalah hari ke- 758nya aku mengenal gambaran lain dari sosok diriku, kamu. Selama itu aku mulai menerawang, menjelajahi, menyelami dan menerjemahkan sisi hatimu. Kata orang, kita, ya aku dan kamu di nobatkan sebagai sepasang kekasih tercocok sepanjang masa. Menurutku perkataan mereka tidak begitu benar dan nyatanya tidak terlalu salah juga. Kami teman atau lebih tepatnya sahabat karib yang teramat dekat. Katanya kemiripan wajah, cara tersenyum, logat bicara, warna kulit, cara berjalan, bahkan kebiasaan yang kita lakukan mengundang keingintahuan orang-orang di sekitar atas hubungan kita. Seringnya mereka menganggap kita adalah sepasang saudara kandung. Yang parahnya mereka pernah membuat pernyataan yang di luar akal sehat. Mereka menganggap kita saudara kandung  yang dulunya terpisah lalu sekarang Tuhan mempertemukan kita lagi namun sayangnya aku dan kamu tidak menyadari hal itu. Konyol, sangat konyol dan aneh. Yang tak kalah kuat anggapan mereka terhadap hubungan antara kita adalah dua sejoli yang sedang menjalin kasih. Dan anggapan itulah yang sering kita terima. Keakraban dan kedekatan kita memang menimbulkan perhatian setiap orang di sekitar namun aku dan kamu tak pernah peduli bahkan tak mau peduli. Kamu hanya tersenyum jika ada orang yang berpendapat demikian, tidak mengiyakan juga tidak membantah. Aku berpikir mungkin dirimu terlalu berhati lunak sehingga tidak mampu membantah hal itu. Untuk sekedar mengklarifikasinya dirimu terlalu malas melakukannya.Kita asyik dengan segala kecocokan dalam diri masing-masing. Permasalahan minoritas diantara aku dan kamu hanyalah sekelumit perbedaan yang tak perlu dipikirkan lantaran persamaan yang mendominasi menjadikan kedekatan kita lebih dari penting.  Tidak hanya kemiripan fisik yang kita miliki seperti yang mereka katakan namun kita memiliki satu kemiripan kebiasaan dan hal-hal yang disukai. 

Barcelona? Ah, aku tau ekspresi itu. Matamu berbinar dan wajahmu begitu ekspresif sekali. Hebatnya kita memiliki tim jagoan yang sama. The Messiah? Hmm, aku hafal senyuman nakal itu. Julukan bagi Lionel Messi sang titisan Diego Maradona. Dengan posisinya sebagai penyerang yang sangat hebat, jitu, luar biasa dan memesona itulah membuat aku juga kamu begitu menggemari pesepak bola jebolan Argentina tersebut. Tak pernah terlewat dalam keadaan bagaimanapun kita selalu menonton pertandingan tim jagoan itu bersama-sama. Tengah malam menjelang subuh biasanya kita selalu kompak menontonnya sampai selesai. Hiruk-piruk komentar serta dukungan terhadap Messi terus saja digelontorkan sekuat-kuatnya. Aku suka kebiasaan itu entah karena Messi atau ada alasan lain. Yaaa contohnya adanya kamu. Aku tak tau dan tak begitu mengerti hal seperti itu namun kurasa ada kamu dan Messi adalah paket menyenang bagiku.

Aku mencintai dunia tulis menulis terlebih pada puisi. Bait demi bait yang menciptakan sajak berisi kata-kata indah dipenuhi majas serta di balut penjiwaan di dalamnya membuatku langsung jatuh cinta. Pertama aku mengenalnya sejak SMP dan ketika itu juga aku mulai menuliskan segala kesan dan rasa di tiap harinya dalam sajak. Tak berbeda denganmu puisi adalah bagian lain yang tak banyak orang tau. Puisi yang kamu buat begitu hidup dan memiliki jiwa yang berbeda. Di tiap percakapan kita selalu ada bumbu-bumbu sajak untuk meruntuhkan kebosanan dan kejenuhan yang kadang-kadang kita alami. Saling menimpali dan melengkapi. Mungkin jika ditulis bisa juga menjadi rangkaian puisi bersama. Menarik, unik, dan misterius sekali. Setiap aku membaca, mendengar serta mengartikan sajak-sajakmu entah mengapa aku merasa kamu memiliki dunia yang tak bisa kupahami. Terkesan dirahasiakan setiap makna yang tersirat tak terjamah jika aku tidak berusaha teliti menerjemahkan sajakmu terlebih hatimu. Hal itu yang  seringnya membuatku gelisah bahkan kadang mengganggu tidurku menjadi tak karuan. Aku mengenalmu dan tak benar-benar memahamimu, pikirku. Tapi aku ingin melakukannya jika kamu mengizinkan namun kurasa kamu belum bisa membaginya. Aku tau posisiku, aku menyadari  ketidaknyamananmu lantaran disanalah wilayah pribadimu yang mungkin aku tak berhak mengetahuinya. Aku menghormati hal itu.

Buah berkulit hijau dengan duri-duri tajam memenuhi tubuhnya, kamu tentu tau tentangnya. Durian. Dari mulai jus, sup, kue, es krim, puding, serabi dan segala apapun yang ada campurannya dengan durian maka kita selalu siap menyantap habis makanan tersebut. Bahkan hampir setiap tiga hari sekali kita sengaja mendatangi tempat-tempat makan yang berhubungan dengan buah itu. Saking gilanya kita dengan durian sejauh manapun tempat yang menyediakan rangkaian aneka durian yang enak menjanjikan maka kita selalu menyanggupi. Aroma khas dan menyengat membuat kita tidak pernah merasa bosan menyantap mantap hidangan durian. Ah, untuk sekedar membayangkannya saja nafsuku langsung meningkat. Aku suka durian sesukanya aku memakan buah itu bersamamu. 

Hari ke-758 ini aku ingin mengingatkan secuil tulisan antara aku dan kamu. Kamu yang menjadi sahabat terhebat yang pernah kupunya. Sahabat dekat yang terlampau dekat dan kadang sekejap aku melupakannya. Harmoni aneh dan berbeda antara kita agaknya membuatku sadar akan satu hal yang jujur saja aku tak ingin mengerti. Perasaan yang entah timbul dari mana dan dimulai sejak kapan aku tidak bisa memastikan. Dan kenyataan atas persahabatan ini membuatku mengerti. Aku tau, kamu pun tau, mungkin. Sadarnya aku di sela-sela canda tawa kita membuatku semakin kuat dan teguh menjaga persahabatan ini. Tidak, aku takkan pernah menghancurkan hubungan baik yang teramat baik ini dengan perasaan baru yang kupunya. Penggambaran aku dalam wujud seorang pria. Tak jauh dengan segala sifat dan rutinitas yang kita miliki. Aku bersyukur bisa menemukan sosok sepertimu yang memberi gambaran tentangku yang begini adanya. Untukmu, aku ciptakan tulisan semu yang tak berani kusampaikan. Biar takdir yang mengirimkan tulisanku padamu hingga waktu memberi jalan untukmu bisa membacanya. Tak usah terburu-buru, kapanpun kamu menemukan tulisan ini aku hanya berterimakasih atas kesediaanmu menuntaskannya. Aku akan pasrah pada waktu biarlah mengalir seapaadanya cerita Tuhan yang menghendaki. Aku akhiri atas nama tanggal 30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -