#Berubah Tanpa Merubah

| Minggu, 10 Maret 2013 | |
Apa kabar, cinta? Bila kuterka hati juga perasaanmu sedang dalam kubangan kebahagiaan yang besar, bukan? Kamu kian menikmati manisnya jatuh cinta, lembutnya perhatian, halusnya kemesraan dan hangatnya romansa.

Sedikit kuingatkan kisah kasih antara aku dan kamu di waktu lampau. Jujur saja aku tak bisa memastikan secara jelas hubungan macam apa kita ini. Jika dibilang teman, bukan sebutkan yang salah. Jika dibilang pacar, bukan jawaban yang benar pula. Kita dekat bahkan terlalu dekat. Mungkin aku terlalu bodoh dalam hal seperti ini sampai akhirnya kamu menemukan sendiri sesuatu yang menurutmu lebih menjelaskan semuanya. Disitulah klimaks hubungan tanpa status kita membuncah sekuat-kuatnya. Hei, ini bukan tentangmu melainkan tentangku yang merasa terlalu galau menerima segalanya secara gamlang tanpa kamu ucapkan.
Dulu, ketika kita masih menjalin hubungan tanpa ikatan aku dan kamu menikmatinya tanpa harus merisaukan  pendapat kiri-kanan. Salah satu temanku pernah berkata “Jangan terlalu percaya sama ‘dia’. Tidak ada maksud mencampuri urusanmu aku hanya berharap kamu tidak jatuh cinta padanya. Tepatnya, untuk sekedar memikirkan hal itu pun tak ada gunanya. Jangan buang waktumu!”. Kurasa itu semua adalah peringat paling tulus yang pernah aku dapatkan dari temanku yang satu ini. Bukan masalah aku tak percaya atau bahkan mengabaikannya melainkan aku bingung. Dia salah mengatakan bahwa aku tidak boleh jatuh cinta padamu. Yang benar adalah aku sudah sangat jatuh cinta. Lebih dari itu, lebih dari perasaan apapun. Dadaku naik turun bahkan kembang kempis jika kamu sedang menatapku penuh antusias saat kita duduk berhadapan dan ah, sayangnya aku paham kamu tak menyadari hal itu. Tak semestinya dirimu menyadari, pikirku. 

Sempat beberapa kali aku sedih bahkan air mata tak bisa terbendung lagi membasahi wajahku. Ketika itu aku tau kamu mendekati seorang perempuan. Sebenarnya, di saat itulah aku mengenal hatiku dengan sebenar-benarnya bahwa aku begitu sakit hati dan jelas hati ini mencintai laki-laki itu, kamu.  Entah mengapa setelah merasa patah arang sekonyong-konyong berubah haluan menjadi begitu lega ketika tau kamu tak berhasil menjalin hubungan kasih dengan perempuan itu. Bukan hanya satu perempuan namun beberapa perempuan cantik. Alasan? aku tak mengingingkan alasan dengan nyatanya kamu telah menghapus kisah mereka membuatku memaafkannya tanpa mengharuskanmu memintanya. Lantaran untuk apa kau meminta maaf kepadaku? Aku bahkan bukan siapa-siapa di dalam hatinya.

Ada yang berbeda denganmu kini setelah bertemu dengan dia. Perempuan manis bermata hitam sekelam malam, berambut panjang tergerai indah dan memiliki warna tubuh kuning pucat memperjelas setiap garis wajah dan lekuk badannya. Alisnya pun seperti merasa terhormat bisa bertengger anggun diantara hiasan wajahmu. Dia cantik dan memesona.

Matamu berbinar dan berharap penuh ketika sewaktu-waktu kamu menceritakan sosok perempuan itu padaku. Caramu berbicara dan menggambarkan setiap hal tentangnya memiliki makna besar untuk. Aku tau lantaran aku mengenali dengan kesungguhan. Kamu mencintainya dengan cara yang tak sama seperti perempuan-perempuan lainnya. Rasa percayamu membumbung dan sangat kentara sekali. Dalam tatapmu padaku begitu meminta jalan atas cinta yang kau miliki sekarang.

Di waktu itulah aku memperjuangkan hatiku walau bukan benar-benar memperjuangkan cintaku. Aku mendekatkanmu dengannya. Awalnya memang sakit bahkan terlebih perih, aku tetap menyampaikan cintamu padanya. Kini aku mengerti senyuman cantik yang dimiliki perempuan itu bak rembulan di kala malam sayu. Begitu indah. Dan pantaslah kamu memujanya sepenuh jiwa.

Perjalanan hatiku pun terujikan. Entah bagaimana aku mengungkapkan perasaan yang dulu selalu menemani tingkah polahku di tiap detik berubah dengan sendirinya. Jatuh cinta padamu bukanlah kesalahan, bukanlah penolakan melainkan penemuan anugerah Tuhan atas romansa kehidupan. Cinta itu menjelma menjadi rasa kasih dan peduli yang harusnya kuberikan padamu dan dirinya kini.
Pernah aku berpikir, mungkin pemikiran inilah yang kusebut paling matang dan paling dewasa dalam hidupku bahwasanya aku tak benar-benar mencintaimu. Aku tak mengelak pernah memilihmu walau tanpa kamu tau. Sesungguhnya tak ada awal diantara kita hanya saja aku ingin menitikan perasaan yang bereinkarnasi ini. Dulu aku pernah merasa senang ketika bersamamu dan sampai kapanpun aku akan terus memeliharanya. Kamu dan dia bukanlah masalah melainkan hikmah terbesarku.

Berbahagialah dengannya. Jangan biarkan aku menyesal telah mendekatmu  dengan perempuan itu. Baik-baiklah hubungan kalian! Aku sayang. Aku mencintai kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -