#Cinta Oleh Dia
|
Kamis, 07 Maret 2013
|
Cerita Hati
|
Dia. Aku baru memikirkan hal ini setelah dia mulai
mengungkitnya. Setelah dia memberitahuku tentang prinsipnya. Dia adalah salah
satu teman paling dekat, paling mengerti dan paling akrab denganku. Satu pemikiran
tentangnya yang ingin sekali kupaparkan selebihnya dalam tulisan. Ya ini
menarik,setidaknya menurutku begitulah.
Cinta. Bukan sesuatu yang baru segala hal tentang cinta.
Mencintai dan dicintai dalam posisi berbeda akan menciptakan dampak dengan rasa
yang diilhami oleh cara pandang si perasa saja. Seperti temanku ini ia begitu
memiliki pemikiran cinta yang agak berbeda.
Pertama. Katanya ia tak begitu peduli tentang cinta yang ia
rasa. Ia bahkan tak percaya dengan perasaannya sendiri. Siapa-siapa orang yang
dia anggap istimewa untuk beberapa waktu membuatnya merasa korban. Korban dari
rasa sakit. Korban kekecewaan dan korban ketertipuan hatinya sendiri. Menurutnya
dengan menomorduakan cinta yang tumbuh tanpa ia bisa menahannya akan meminimalisir
segala resiko pahit dikemudian hari. Salah mencintai, pikirnya ia selalu merasa
tidak tepat menilai dan mencintai orang lain yang padahal membuat ia tersiksa
tanpa disadari. Ia menyayangi hatinya, mencintai waktunya, dan menyayangkan
kebodohannya.
Kedua. Katanya ia merasa lebih peduli terhadap siapa-siapa
yang mencintainya. Mereka yang menunjukkan, memberi dan mengasihinya dengan
teramat kuat. Lebih hidup, pikirnya. Cinta pada lawan jenis adalah normal dan
baik untuk kehidupan. Walau hatinya tak langsung menerima dan membalas cinta
yang diberikan tentunya dia selalu menghargai kerja keras. Dia tau dengan kesungguhan
mungkin saja bisa merubah perasaan. Dia percaya atas lamanya waktu rasa sayang
akan timbul sendirinya. Dia yakin dan memahami pemikirannya.
Ketidakpercayaan dan keteguhan memang bukan masalah yang
sama. Tidak percayanya ia pada keputusan hati untuk mencintai membuatnya merasa
bersalah atas kata hati sendiri. Keteguhan beserta kerja keras untuk menumbuhkan
rasa cinta oleh seseorang yang benar-benar seniat itu mencintai sosoknya,
itulah seni. Seni untuk kesungguhan yang menciptakan atau bahkan merubah
presepsi semula untuk menolak. Mereka yang mampu berusaha mendapatkan hatinya
adalah seni yang indah tiada tara.
Temanku yang satu ini memang luar biasa. Aku hanya bisa
tersenyum ketika ia menceritakan segala hal tentang semua itu. Kagum, sangatlah
kagum. Cinta menurutnya oleh dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar