#Cinta. Kita Sama. Keyakinan Berbeda.
|
Minggu, 03 Maret 2013
|
Cerita Hati
|
Kamu. Kamu. Kamu.
Saat ini akalku sedang berkompromi dengan hatiku yang kian memiliki
pendapatnya sendiri. Akal ini melogiskan norma perasaan yang sekonyong-konyong
menyamakan secara pasti hatimu dan juga hatiku. Namun di samping itu ada
pemberontakan hati yang tak menyetujui hal penting tentang latar belakang kita
berdua. Bukan hobi, bukan karakter,bukan fisik, bukan pula tipekal yang terlalu
dituju melainkan persamaan yang melahirkan perbedaan.
Kita sama-sama mempercayai adanya zat yang menciptakan cinta
dan rasa antara aku juga kamu. Meyakini dengan sesungguhnya serta setekadnya
iman masing-masing atas adanya zat yang menganugerahkan, menciptakan dan
menghadirkan kamu dalam hidupku. Aku mensyukuri semua itu, aku menyayangkan
segalanya.
Tuhan. Aku percaya pada-Nya dalam tasbih di tiap sujudku
selama kehidupan ini. Syahadat demi syahadat bergema diantara doa siang dan
malam. Mesjid menjadi rumah Tuhanku yang paling megah di dunia. Yakin aku
meyakininya.
Tuhan. Tak berbeda kamu pun memiliki kepercayaan penuh
terhadap zat yang menciptakanmu. Yang tak sama adalah cara kita menyembah-Nya. Di
dalam gereja dirimu berlutut khusyuk dan meminta segala hal atas kekuasaan-Nya.
Salib menggantung manis di lehermu menjadi kalung tercinta yang sering kamu
pakai. Aku tau dan menghargai.
Kamu cinta akupun cinta. Keapaadaan serta kenyataan
menyetarakan kita dalam kubangan asmara. Tak bisa kutahan lagi perasaan
memilihmu untuk kucintai. Bukan aku yang menginginkanmu tapi hati ini yang
menunjuk tegas bahwa kamulah ‘si tambatan cinta’. Kamu mempertahankan aku
diantara ketidaksetujuan mereka yang semakin kuat memaksa kita agar berpisah. Orang
tuamu juga orang tuaku bagai hitam dan putih. Kita maupun mereka sama-sama
percaya adanya Tuhan, sama-sama menjadikan ibadah sebagai tiang terkuat dalam
kehidupan namun warna yang memunculkan perbedaan. Hitam? Putih? Itulah warna. Itulah
ibadah. Dan itulah kenyataan kita.
Orang tua yang kukuh, hubungan kita yang begitu rapuh. Hanya
cinta yang mengikat aku dan kamu selama ini. Mencintaimu bukanlah sesal. Menyayangimu
bukanlah noda. Mengenalmu bukanlah sia-sia. Kamu adalah anugerah terindah yang
Tuhan hadirkan padaku yang biasanya diri ini hanya mengepul jiwa tanpa ingin
berbagi dengan seorang pria manapun. Keyakinan yang memerintah kita secara pasti
dan memaksa untuk menyadarinya. Kadang aku menyalahkan fakta yang tak bisa
kurubah atas dirimu juga diriku yang sulit menyatu. Dalam sujud namamu sering
kupanjatkan setulusnya. Petunjuk demi petunjuk kupinta selalu pada-Nya. Sedih,
risau, gundah, dan dilema terberat menuntunku menuju pilihan. Tangisan menghiasi
kelu, pilu, dan perihnya doaku yang kian tak berdaya lagi. Kamu dan Orangtua. Apakah
kamu seberat hatiku dalam menuntaskan hubungan ini? Apakah cintaku begitu
penting untuk di perjuangkan? Apakah pembakangan atau penurutan yang bisa kita
lakukan untuk menghormati ini semua?
Kamu begitu erat memegang cinta yang memberi luka menganga
dalam hati masing-masing. Aku tau kamu terluka, aku mengerti betapa sulitnya
melepaskan. Luka ini menyakitkan dan melemahkan aku seletihnya diantara nafas
yang kujaga di tiap detiknya. Buntu, pikiran kita memang tak memberi jalan. Semakin
berusaha semakin mengundang murka orang-orang yang telah mengasuh dan
membesarkan kita hingga kini. Tak tau, sampai kapan dan dimana hubungan cinta
ini.
Cara yang membedakan persamaan. Benteng kokoh yang sukar
untuk diruntuhkan. Aku dan kamu pasrah pada waktu yang membawa kita. Biarlah Tuhan
menjatuhkan cerita pada kita berdua. Walau hati tersakiti, aku memaksa diri untuk tegar
melepasmu pada takdir yang tak bisa jamah. Penolakanmu meletup-letup pertama
kali kuungkap kepastian kita. Kamu marah sangat murka terlebih kecewa serta
pedih mewarnai air mukamu yang merah padam tak tertahan. Luka tersayat-sayat,
hati serasa berdarah ketika kuucap segalanya padamu. Menerima adalah kesulitan
terbesarmu dan akupun sama. Meyakinkan dirimu agar bisa memahami keputusan yang
hampir membuatku gila. Dan pada akhirnya di saat aku memasrahkan diri pada
waktu kamupun bisa untuk berkata ‘ya’ walau tidak dengan cara mudah. Ya untuk
perpisahan. Ya untuk melepaskan. Ya untuk merelakan. Ya untuk berkata ‘tidak’
pada hubungan kita. Biarlah alur Tuhan mengantarkan aku dan kamu pada keabadian
cinta walau bukan di waktu ini, bukan di dunia ini, dan bukan pada kehidupan
ini. Mereka, orang tua yang wajib kita hormati patutnya mengharuskan pengorbanan. Walau itu cinta kita, walau itu
hidup kita. Aku memerintah dan mempercayai diri bahwa aku maupun kamu mampu
melewati keputusan. Cinta, selamanya aku cinta kepadamu pria berkalung salib.
Selamat tinggal, wahai asmara yang terbebaskan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar