Bertahan Ketika Segalanya Begitu Nyata

| Selasa, 26 Maret 2013 | , |
Dari #DellaPutriPratiwi Teruntuknya

Sebuah perjalanan, sebuah kisah, sebuah kenangan dan sebuah cerita. Ini aku mewakili hatinya untuk kusampaikan sebisa mungkin agar terlukis jelas dan nyata di atas kanvas kata di balut warna rasa. 

Kamu. Pria tak bernama, atau lebih tepatnya pria yang tidak kuketahui panggilannya adalah seseorang yang membekaskan kesan manis padaku. Beberapa tahun lalu, pertama kujumpa denganmu di setiap perjalananku menuju rumah ilmu. Aku yang masih berseragam putih-abu dan kamu yang bisa kutebak memiliki tahun usia yang lebih tinggi dibanding aku. Kamu duduk disana, di tempat yang sama dimana aku bisa menatapmu untuk sebentar saja. Pembalut rasa di waktu kapan saja aku bisa merasa rindu jikalau aku mengingatmu, mengingat wajahmu, mengingat senyummu, mengingat caramu duduk dan mengingat segalanya yang bisa kulihat.

Tentangmu, dari teman dekatku akhirnya satu namapun bisa kudapat. Sekedar tau, sayangnya tidak benar-benar mengenal. Walau begitu, setidaknya aku bisa mengucap namamu di kala malam saat kutertidur. Memang tak merubah apapun diantara kita namun aku menerima semua itu. Ternyata kabar demi kabar berhembus begitu saja padaku. Tentangmu yang membuatku menyerah dan patah hati saat kutau kamu telah memiliki kekasih hati. Di titik itulah aku merasa harus berhenti. Benar-benar harus menghapus pengharapanku selama itu.

Waktu berjalan begitu lurus, mulus, dan tanpa belas kasih. Tahun ke tahun pun berlalu begitu saja. Tuhan memberi rencana baru untukku. Tak bisa kupercaya, ini terasa sangat mustahil. Kamu dan aku berada pada satu kumpulan yang sama. Di tempat tongkrongan yang sama pula awal kita benar-benar saling mengenal satu sama lain. Aku masih menjaga rasa, memelihara angan dan tetap menyukaimu.
Sayangnya disaat itu pula aku harus pergi. Bukan meninggalmu, bukan melupakanmu melainkan menepati keinginanku untuk melanjutkan studi di kota lain. Bagusnya, ternyata kita tak saling menghilangkan komunikasi. Bisa dikatakan aku dan kamu di saat itu hanyalah teman biasa yang mungkin memiliki keterikatan namun tak memiliki status. Dan lama semakin lama tak dapat kuyakini tiba-tiba kamu mengatakan suatu hal. Hal yang kunanti setiap malam, hal yang kuharap setiap hari, hal yang kuingini setiap waktu. Akhirnya, kamu mengatakannya. Mengatakan bahwa kamu menyayangiku. Ah , bisa kaubayangkan betapa aku bahagia tiada tara saat pertama kumendengarnya? Bisakah kau mengerti betapa aku benar-benar menginginkanmu? 

Namun ada sesuatu yang membuatku dilema saat itu dan tak langsung menanggapi pengakuanmu. Tentangmu yang kata berita di luar sana tak begitu baik bagiku. Ada banyak perempuan di hatimu, cinta terbagi-bagi dan tak memiliki keyakinan ‘tuk memilih. Sebenarnya aku tau, namun sesaat saja aku memikirnya dan tak sampai lama aku segera menerjang sisi hatiku itu lalu mengiyakan hubungan kita.

Satu bulan berlalu, waktu terasa manis. Cinta begitu hangat. Perhatian masih terjaga. Aku dan kamu menjalaninya tanpa hambatan berarti. Hanya saja disitulah segalanya benar-benar dimulai. Saat tiada lagi komunikasi, menghilangnya jalinan kasih, menghitamnya cerita kita. Kamu entah dimana keberadaannya, dengan siapa menghabiskan waktu, dan bagaimana cara yang bisa kulakukan untuk dirimu tak lagi kutau. Apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan dan apa yang kuharapkan padamu kini begitu terasa menyakitkan. Banyak diantara orang-orang di sekitarku menyampaikan kabar pahit tentangmu. Perempuan-perempuan yang menjadi temanmu adalah penyebab kerenggangan hubungan kita. Bukan hal baru lagi untukku lantaran sebelum hubungan kita terjalin pun aku telah memutuskan dengan kesungguhan yang amat kuat bahwasanya aku menerimamu seapa adanya. Hei kamu, apa keputusan itu salah?

Tiada kabar darimu selama berminggu-minggu. Telah kulakukan berbagai cara agar bisa mengembalikamu seperti dahulu. Sayangnya, semua itu sia-sia. Tidak ada yang bisa kuperbuat lagi untuk mempertahankan hubungan kita. Ketika aku ingin memperjelas hubungan ini, tak adakah kemauanmu untuk mendefenisikan aku untukmu lagi? Apa aku hanyalah udara yang kemudian menguap begitu saja di hadapanmu? 

Lelah, memang lelah mempertahan ini semua. Entah mengapa tetap saja di saat cerca dan caci maki juga peringatan dari orang-orang di sekitarku tak mampu merubah perasaan. Cinta, aku tetap cinta padamu. Dikala hubungan kita berakhir tanpa tanggapan nyata darimu aku merasa tidak bisa melupakannya. Enggan melepaskan kenangan lalu diantara kita. 

Selalu kuingat katamu bahwasanya hanya aku perempuan yang kau anggap serius. Mereka hanya pelampiasan. Mereka hanya angin lalu. Tapi hal itu tak cukup untuk meyakinkanku. Beri aku pembuktian yang mutlak! Apa semua itu terlalu sulit untukmu? Apa cinta itu tak benar-benar kau rasakan? 

Aku selalu berkata iya padamu. Iya untuk bertahan. Iya untuk memaafkan. Iya untuk menunggu. Iya untuk menerima. Iya untuk menangisi. Iya untuk di sakiti. Iya untuk hubungan kita lagi. Namun waktu tak begitu saja membantu. Kini aku masih terpuruk dalam-dalam di antara kepedihan hati. Risau, pilu, kecewa saat kudengar dirimu bersama dia. Dia adalah mereka. Deretan perempuan yang kaudekati. Menurutku tetap saja itu bukan alasan kuat yang bisa merubah pendirianku saat ini. Aku ingin dan terus ingin menunggumu karena kuyakin kamu akan kembali.

Akhir dari tulisan ini, aku atas nama teman selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Tidak ada kesempatan yang bisa ditemukan jika kita tak mencarinya. Tak ada kesabaran yang tak terbayarkan. Hati, kenyataan dan keyakinan yang bisa membantumu menemukan yang terbaik. 

Rida Farida, salam cinta kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -