Mimpi Dan Realita. Selamanya Akan Menulis Walaupun Tak Bisa Menolong
|
Rabu, 03 April 2013
|
Cerita Hati
|
Realistis. Hidup itu memang harus realistis. Ketika sesuatu
yang dianggap kebanyakan orang mustahil maka mungkin benar dan mungkin saja itu
salah. Tidak selalu apa yang dipikirkan itu bisa menjadi nyata. Takdir dan
kehendak Tuhan itu teka-teki. Misteri yang tidak siapapun berhak memastikannya.
Sulit, ya memang tiada yang gampang di dunia ini. Dan di atas bumi yang kupijak
ini selalu tercipta, tumbuh kemudian berkembang hal-hal yang di luar logika.
Kenyataan akan membantu kita untuk menerima dan mimpi akan membawa kita pada
kenyataan.
Itulah pengecualian dalam diriku saat ini. Mimpiku ini
sangat besar dan terlalu kecil kemungkinannya untuk bertahan. Setiap tarikan
nafas berhembus kaku meminta pertanggungjawaban atas jawaban hati serta
mimpi-mimpi yang kulahirkan sepanjang kehidupanku sampai sekarang. Aku merasa
lemah mewujudkan apa yang kuinginkan. Kumau di waktu yang akan kuhabiskan hingga
tua nanti kelak bisa menemukan kepingan jiwa. Jiwa yang kutitipkan dalam
deretan kata-kata. Cerita demi cerita menjadi nyawa terbaik selalu
kupertahankan dan selamanya tetap begitu.
Terkadang aku merasa takut untuk bermimpi. Takut untuk
menerima. Takut untuk memahami. Aku tak ingin yang menjadi mimpiku ini hanyalah
penghias kehidupan yang kelak berubah semu dan tanpa sadar aku
menelantarkannya. Aku mengingatnya di kala tua lalu melupakannya begitu saja.
Rasanya semua itu menyedihkan.
Penulis. Aku bukan penulis. Aku bukan benar-benar penulis.
Keinginan besar yang memberitahu bahwa aku sebenarnya akan mencintai tulisan. Tanpa
kupercaya, ternyata aku benar-benar mencintai dunia itu. Dunia yang bisa
membuatku hidup, dunia yang bisa membuatku tertawa, dunia yang bisa membuatku
bahagia. Dan sekali lagi, sayangnya aku tidak hidup di satu dunia. Ada mimpi,
ada pula realita. Aku menyelami mimpi sedalamnya.
Menerjemahkan waktu dalam
kata-kata. Menyatukan hati dengan ilusi-ilusi majas. Menikmati suasana dalam
gejolak pikiran makhluk-makhluk yang kuciptakan. Bermain tanpa kenal batas
bersama alur cerita semengalir mungkin. Bertahan selamanya di atas panggung
fantasi. Sayangnya, tidak ada penonton. Tidak ada yang peduli. Menggerakan
tokoh-tokoh semu yang kuanggap bagianku yang lain. Dan disitulah kerealistisan
menjadi tuan. Membolak-balikkan lalu menghancurkan mimpiku hingga tak berdaya.
Bagian demi bagian tidak dapat tertolong lagi yang tersisa hanyalah
keyakinan.Keyakinan yang membuatku merasa tidak bodoh. Menciptakan,
menghasilkan dan menata cerita adalah mimpi yang akan kubangun lagi. Tak ada
jaminan untuk mewujudkannya namun inilah nyawa yang kupunya, keyakinan.
Realistis itu dibutuhkan. Mimpi itu yang paling utama. Untuk
menemukan cinta kita harus memiliki mimpi. Bukan sekedar mimpi namun rasa
percaya besar yang mampu mengilhami mereka yang ingin terkenang. Sekarang
hingga sampai kapanpun itu aku akan terus menulis, tetap menulis, selalu
menulis dan selamanya menulis. Karena aku adalah dia, dia tulisan yang kupilih
sepanjang waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar