Terhalang Restu

| Rabu, 24 April 2013 | |
Cinta ini milikmu seutuhnya. Begitu juga cintamu, akulah pemiliknya. Kita saling memiliki dan menjaga satu sama lain. Tak ada sesuatu hal pun yang membuatku ragu. Ketulusanmu sangat indah.

Hampir tidak pernah ada percekcokan berarti di antara kita. Saling mengerti, memahami, dan mempercayai janji masing-masing. Kau selalu memaklumi, ketika aku melakukan salah. Kau selalu menasehati, ketika aku berbuat ceroboh. Kau selalu memperingatkan, ketika aku bertindak bodoh. Ya, kau bukan sekedar kekasih, tapi lebih itu. Teman, sahabat, saudara bahkan menjadi Ayahku sendiri. Kau baik di mataku namun tidak di mata kedua orangtuaku.

Dua orang itu. Ayah dan Ibu tak menyetujuiku memilihmu sebagai kekasih. Mereka melarang, menentang, memperingatiku untuk segera menjauhimu. Keputusan se-ekstrim itu benar-benar tak bisa kuterima. Di matanya kau begitu buruk. Menurut pandangannya, sangatlah tidak pantas aku bersanding denganmu. Nyaris setiap hari mereka membicarakanmu, mengingatku bahwa kau tak lebih baik di banding latar belakangmu. Mereka tak mengerti. Mereka memandangmu dengan satu sisi dan aku tak suka itu. Aku tau bagaimana seluk-beluk dirimu, namun tak secuil pun merubah perasaanku. Latar belakangmu hanyalah bagian dari masa lalu dan kepingan lain kesalahan yang kau pun tak bisa merubahnya. Kau tak akan bisa mengoreksi takdir, dan itu memang bukanlah hakmu. Orang-orang di masa lalumu-lah yang membuatnya menjadi begini. Dan hal itu tidak menjadi masalah besar terhadap kelanjutan hubungan kita. Sayangnya, dua orang itu, Ayah dan Ibu tidak dengan mudah menerima selayaknya aku. Mereka pikir kau tak jauh berbeda dari masa lalumu. Mereka tak ingin berebut tawar tentang semua itu. Mereka memberiku harga mati. 

Ini bukan pilihan. Dua hal tentang mereka dan kau. Apa yang mereka lakukan atas dasar cinta dan kasih sayang. Jelas saja aku tau tapi ini semua membingungkan. Tak terbesit sedikit pun aku ingin membangkang apalagi melawan atas apa yang orangtuaku harapankan. Tapi ini berbeda, aku ingin membuat mereka mengerti. Kau mengajariku segalanya. Cara memandang suatu masalah dari berbagai sisi hingga kupahami bahwasanya memaafkan itu akan lebih mempermudah hati masing-masing. Aku tak bisa melupakan hal itu apalagi membiarkanmu lepas dariku. Itu sulit. 

Patah arang. Tidak ada yang ingin kukorbankan. Orangtua begitu penting pengaruhnya padaku selama ini dan kau membuatku benar-benar bisa menikmati hidup dengan sederhana. Itulah yang tak kutemukan di hati siapapun. Bahagia di matamu tidaklah rumit. Kau buatku lebih berarti.

Tak pernah sekali pun hubungan kita di terpa badai masalah. Sekalinya ada, haruskah sebesar ini kekuatannya? Tak bisakah orangtuaku percaya padamu? Mengapa aku harus memilih salah satu dari kalian? Bagaimana bisa aku membuat keputusan sedangkan satu diantara kalian harus tersakiti? Manusia macam apa aku ini jika tega melakukan hal itu?

Orangtua dan kau adalah cinta yang kupunya. Orangtua, kusimpan kasih sayangnya dalam hatiku yang paling dalam. Dan kau, kusimpan perhatian serta cintamu di pikiranku selama-lamanya. Kalian haruslah mengerti, jika salah satunya menghilang maka akupun akan menghilang. Aku mencintai semuanya. Aku menyayangi waktu yang kelak akan meluluhkan hati kedua orangtuaku. Suatu saat nanti, jika kita memang bersikukuh mempertahankan hubungan ini pastilah ada jalan keluar untuk melahirkan restu. Restu untukmu, untuk kita berdua dari mereka.

“Sayang, yakinkanlah mereka sebagaimana kau meyakinkanku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content - Rida In Wordland -