Hubungan Berjarak
#PriaBermataPanda
Aku disini. Ya, aku masih disini.
‘Apa yang sedang kulakukan?’ mungkinkah itu pertanyaan yang
akan kaulontarkan padaku, sayang? Aku sedang menganyam kesendirianku, mengulum
rindu serta mengibaratkan boneka panda di selasarku ini adalah wujudmu. Oh ya,
yang terakhir itu bukan ejekan, aku mengatakannya tanpa sarkastik sedikitpun. ‘Kan
kau pernah bilang padaku anggap saja boneka panda itu adalah dirimu sebagai
pelipur rindu yang tak berkesudahan ini. Sekian banyak hadiah yang kauberikan,
boneka panda itulah yang paling istimewa buatku. Kenapa begitu? Lantaran
menurut pandanganku setidaknya lingkaran hitam di matanya mengingatkanku pada
sosok dirimu. Lingkaran mata hitamnya menyerupai kacamata minus yang sering
kaupakai. Ah sayang, jangan tersinggung! Sebenarnya ini benar-benar membantu
untuk sekedar memoles rinduku yang teramat besar padamu dan mengertilah
kemudian cepat tarik bibirmu hingga membentuk senyuman seperti biasanya karena
aku sangat menyukai seringai itu.
Aku disini dan kau disana. Kita dipisahkan jarak
beratus-ratus kilometer. Raga tak bisa menjamahmu namun seringnya mimpikulah
yang mampu mempertemukan kita walau tak benar-benar bertemu. Aku merasa lega,
setidaknya ada media yang amat efektif untuk mengobati rinduku padamu walau hanya
beberapa saat.
Aku tau, kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu. Berkutat,
terfokus dan berkonsentrasi penuh ke puluhan data yang harus kauteliti. Belum lagi
setelahnya kauharus mengulang memeriksa data-data itu. Kau pasti merasa lelah,
bukan? Aku tidak ingin merecokimu dengan kekesalan hatiku yang semakin merindu
karena aku mengerti bagaimana seharusnya aku bertindak.
Sesekali kita bertautan komunikasi melalui handphone walau
tidak setiap waktu. Selelah dan sesibuk apapun dirimu tak pernah kaulupa atau
malas menghubungiku setidaknya 5 menit saja. Mengetahui keadaanmu baik-baik
saja pun aku sudah tak merasa khawatir lagi.
Sayang, kepergianmu itu membuatku harus merelakannya. Aku
tau ini hanya sementara setelah kau selesai menuntaskan pekerjaanmu itu. Setiap
tarikan nafasku terasa sangat berat jikalau aku mengingat keberjarakan kita
berdua. Satu tahun kulalui tanpa kepuasan memandangi wajahmu secara nyata,
hanya lewat lembaran-lembaran foto inilah yang mampu memperbaiki suasana
hatiku yang kian mematri rindu.
Ada hal bodoh yang sering kulakukan. Jika malam tiba, jika
aku ingin berada sangat dekat denganmu aku selalu memejamkan mata untuk
beberapa saat. Menghitung satu sampai seratus sembari membayangkan kenangan
lama kita kemudian setelahnya menggiring harapanku merasuki angka-angka yang
kuucapkan pelan. Dan setelah mencapai hitungan ke seratus lalu aku membuka mata,
aku berangan-angan kau bisa berada tepat dihadapanku. Kau tau apa yang terjadi?
Aku tersenyum, menarik oksigen sebanyak-banyaknya hingga memenuhi paru-paru dan
melepaskannya beberapa saat ke udara. Kau tidak ada di hadapanku, kau tidak
berada dekat denganku, kau bersemayam dalam pikiranku. ‘Konyol!’ kau pasti akan
berkata begitu padaku. Ah sayang, bukankah kau mencintai kekonyolanku?
Jarak meminta ruangan yang begitu besar untuk kita bedua.
Namun semua itu bukanlah hantaman yang kuat untuk memudarkan cinta ini. Aku
tetap menyanyangi seperti dahulu bahkan hari demi hari semakin menggila saja. Aku
percaya disana kaupun sama menjaga dengan ketatnya hubungan kita ini selayaknya
aku.
Kau yang kusayang, selamat sore pria bermata panda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar