Perangaimu Yang Sering Berubah
|
Rabu, 17 April 2013
|
Cerita Hati
|
Pikirku, aku mulai berpikir akan sesuatu.
Tentangmu. Bukan tentang apa yang kau punya. Bukan tentang
apa yang kau bisa. Dan bukan tentang apa yang kau tau. Ini tentang bagaimana
dirimu. Apa yang sebenarnya ada dalam dirimu.
Pernah terbesit olehku, mungkinkah kau memiliki saudara
kembar? Hingga kau terlihat berbeda di beberapa keadaan. Aku bisa saja bertemu kamu
dengan sifat yang kutau, kemudian di tempat lain aku bertemu saudaramu dengan
sifat yang membuatku tak percaya. Ah, buntu! kurasa itu semua terlalu mustahil.
Maaf, itu hanya salah satu pendapatku saja. Mungkinkah kau memiliki kepribadian
lebih dari satu? Mungkinkah kau mencoba mempermainkan pemikiranku? Mungkinkah
kau? Mungkinkah kau? Mungkinkah kau? Ah, aku terus saja membuat ribuan presepsi
yang tak bisa kukendalikan.
Satu. Ketika kau
bersama teman-temanmu.
Ucapan-ucapan, tingkah laku, candaan remeh temeh kau katakan
padaku dengan seenaknya. Air mukamu yang mengejek dan menertawakanku secara
halus di depan mereka. Terlebih kau sering menjailiku dengan seringai anehmu
yang kadang membuatku kesal. Kau memperlakukanku layaknya anak ingusan, kadang
tiba-tiba mencubit pipiku, mengacak-ngacak rambutku tanpa ampun, mengomentari
gaya berbusanaku, merecokiku setiap saat, menggodaku dengan humor-humormu. Dan
kadang sekonyong-konyong kau menjauhiku tanpa sebab jelas. Bahkan sekedar
bertatap matapun kau enggan. ‘Ada apa?’ pertanyaan itulah yang selalu
bersemayam nyaman di otakku sampai aku mulai merasa risau akan keberadaannya.
Dan setelah itu kau kembali seperti semula untuk mengejek dan menggodaku tanpa
henti lagi. Candaan renyahmu terhadapku di depan mereka membuatku kebal. Ah,
aku mulai terbiasa dengan rasa bingungku yang satu ini.
Kedua. Ketika hanya
ada kau dan aku saja.
Kejailanmu seakan musnah, binasa, hilang , lenyap tak
berbekas. Aku tak melihat seringai jailmu sedikitpun. Bahkan yang kulihat
dibalik seringaimu di saat kita berdua adalah seringai manis dan meyakinkan.
Romansamu mengalir lembut di setiap tatapan dan bicaramu. Aku tak percaya bisa
mengatakan ini padamu, “Kamu baik”. Tak ada lagi ejekan dan godaan ketika
mereka tak berada di samping kiri-kananmu. Kamu berbeda. Perhatian yang lembut kau
curahkan tanpaku bisa menerkanya. Dan bingung yang kali kurasakan benar-benar
tak bisa dienyahkan lagi.
Lamunanku tak lagi kosong selalu ada bayangmu berkeliaran di
ingatanku. Bisa dibilang kamu mengisi setiap mimpi dalam tidurku. Tiada satu
malam pun yang terlewat tanpa memimpikanmu. Kurasa terdengar seperti berlebihan
namun itulah yang terjadi, bagaimana denganmu?
Kita memang teman. Tak lebih dari itu. Kenyataannya tak ada
ikatan berarti selain selalu saling mengenal satu sama lain dengan kondisi perangaimu
yang sering berubah-ubah. Mungkin ada alasannya hingga sampai kini pun kau
mengatakan sesuatu hal yang menegaskan segalanya. Biarlah waktu yang membimbing
kita. Kularungkan harapan-harapan semu ini hingga kelak menemukan muara akhir.
Aku
akan tetap begini selama yang aku bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar