Maaf, Kini Alasanmu Tak Dapat Membantu Lagi
|
Sabtu, 06 April 2013
|
Cerita Hati
|
Apa alasanmu berikutnya?
Kuliah? Kerja? Jemput ade? Nganterin nenek ke Rumah Sakit? Janji
sama temen? Hujan? Ketiduran? Handphone kamu lowbat? Pulsa habis? Lupa? Lagi ada
saudara? Kendaraannya mogok? Jalanan macet?
Harus ke dokter? Nganter ibumu belanja? Sepupu ulangtahun? Kondisi kamu kurang
sehat?
Oh sayang, apa lagi? Terlalu banyak penghalang untuk sekedar
menyatukan perjumpaan antara kita. Hingga aku sulit membedakan mana alasan dan
mana fakta. Sekian banyak hambatan yang terjadi padahal satu hal saja yang ingin
kulakukan denganmu, bertemu. Itu saja, namun semua itu terasa begitu rumit. Milliaran
alasan yang kaupunya membuatku berpikir bahwa sebenarnya kau bukan ingin
membenarkan perasaanku melainkan tak ingin menemuiku lagi. Benarkah hal itu?
Aku tau bagaimana raut wajahmu jika kulontarkan pertanyaan
itu. Tersenyum, itu yang selalu kau lakukan. ‘Tidak, bukan begitu!’ mulutmu
memang berkata demikian, tapi matamu tak senada dengan semua itu. Cahaya di
dalam matamu begitu kelam, gelap dan tak terjamah. Tak mengerti, harus
bagaimana aku ini. Elakkanmu tak meyakinkan, sayang! Ada apa sebenarnya?
Pesan singkat yang kukirim padamu tak lagi kaubalas. Teleponku
juga sama halnya, bahkan seringnya kaumenutup panggilan handphonemu sebelum
kausempat menjawab. Kau tau rasanya diperlakukan begitu? Ah, jelas saja tidak. Kau
dalam posisi yang baik saat ini dan aku adalah pengganggu bagimu, benarkan?
Tidak dianggap penting, diabaikan dan dibiarkan olehmu
adalah hal yang menyakitkan. Untuk bertemu saja kau tak menghiraukan. Rinduku semakin
membuncah, rindu yang selama ini bercampur aduk bersama risau di tiap malamnya.
Jujur saja rasanya ingin muntah jika mendengar alasanmu
lagi. Aku bertanya, kau tak menjawab. Aku bersabar, kau abaikan. Aku membenarkan,
kau mengelak. Aku mendekat, kau menjauh.
Perubahanmu begitu besar hingga kurasa kau bukan orang yang kukenal dulu. Hingga
akhirnya pikiranku tak menemukan kejernihan, akupun patah arang.
Sebenarnya tak pernah terpikir untuk menanyakan hal ini
padamu. Sayangnya, ketidakhiraumu memaksaku untuk melakukannya. Ini bukan pertanyaan
yang sama, yang sering kulontarkan padamu. Ini adalah pertanyaan pertama dan
terakhir. Takkan pernah ku mengulang untuk kedua kali. Jika pilihan ini
kauambil maka berakhirlah hubungan kita. Alasanmu tak banyak membantu. Jawab secepatnya
karena aku tak ingin menunggu lebih lama untuk terus diabaikan. Atau setidaknya,
kau segera lepas dari jeratan hubungan tak jelas ini. Dengarlah, pertanyaanku
yang satu ini. Apakah kau ingin hubungan kita cukup sampai disini? Ya atau
tidak adalah jawabannya. Jika tidak, temui aku besok. Jika ya, jangan pernah
temui aku lagi.
Rasanya sudah jelas. Esok adalah kesempatan terakhirmu. Alasan
apapun tidak kuterima. Terimakasih atas kesediaanmu untuk memutuskan apa yang
terbaik bagi kita berdua.
Salam cinta dariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar