Dengarkanlah Aku Memujimu
|
Senin, 29 April 2013
|
Cerita Hati
|
Menyesali mengapa kita harus berpisah dengan cara ini. Tidak
adakah cara lain yang lebih baik untuk mengakhiri hubunganku denganmu? Mengapa
maut yang harus menyudahi kita?
Kau tau betapa besarnya cinta ini? Kau tau betapa sedihnya
aku ketika kau tinggalkan? Kau tau setiap malam aku menangisi kepergianmu yang
abadi? Kau tau kenang-kenangan indah di dalam otakku semakin beringas saja membuat
lukaku kian tak mengering? Kau tau betapa pilunya hati ini untuk menerima
kenyataan bahwa kau telah pergi untuk selama-lamanya? Kau tau betapa ingin
kumenyusulmu ke tempat suci itu?
Kita adalah pasangan. Pasangan kekasih yang memilki impian
untuk merajut kehidupan di masa depan. Mengenalmu merupakan hadiah terindah
seumur hidupku dan cerita kita berdua untuk terus bergandengan di saat suka
maupun duka adalah keinginan terhebat yang tak bisa kuterima dengan mudah
bahwasanya semua itu tidak akan terwujud bersamamu. Angan-angan yang kandas dan
karam setelah kau menghembuskan nafas terakhir dan menjadi cerita kelam yang
setiap hari membuatku kalut.
Bayangan tentangmu membuatku semakin sakit. Luka terus saja menggores
hatiku yang kian tak mengenal penyembuhan. Kau amat berarti buatku dan aku
tidak bisa melupakannya dengan hanya melempar kenangan-kenangan lalu. Hal itu
sulit, bahkan sangat memilukan.
Dalam hati sering aku menjerit-jerit setelah tak kuasa lagi melepas
suara dari tenggorokan yang lama kelamaan sakit akibat jeritanku yang terus
menerus. Mataku selalu sembab setelah menangis di malam panjang hari jadi kita.
Badanku lemas tak terkira setelah berhari-hari menolak asupan makanan untuk memasuki
ragaku.
Aku mengucap namamu tanpa henti. Menggantung bayang-bayang
semu di pelupuk mataku yang mengundang air mata. Memujimu sejauh-jauhnya sampai
malaikat mau menyampaikan salam rinduku padamu yang tidak berkesudahan ini.
Memimpikanmu di tiap tidurku hingga dunia tak sadarku bisa merasa bosan dengan
segala sumpah serampah tentang kenyataanku yang pahit ini.
Bisakah kau tetap hidup, sayang? Haruskah kita berpisah
dengan cara seperti ini? aku akan rela jika takdir menyatakan bahwasanya kita
bukanlah jodoh tapi kumohon pertahankanlah nafasmu. Biarlah kau tak menjadi
milikku namun setidaknya aku bisa melihatmu dari sisi yang tak harus kausadari
saat kumerasa rindu seperti ini. Benar-benar aku tidak akan menganggu apalagi
mengacaukan hidupmu jika kau berjanji bisa bertahan untuk tetap menjalani
kehidupan. Sayang, kembalilah!
Dari foto yang kupegang ini aku bisa melihat begitu kelamnya
pandanganmu. Tak ada senyum, namun bibirmu yang mengartikan betapa tak
berdayanya kau menghadapi keputusan Tuhan untuk segera menjemputmu. Aku
menyanyangimu, sungguh! Walau aku merasa marah dengan takdir yang merenggutmu
dari pelukanku tetap saja tidak merubah apapun.
Dengarkanlah aku yang sedang memujimu! Malam sudah sangat
mengenal rintihanku. Siang sudah merasa bosan dengan tangisanku. Tapi aku yang
tak lelah mencintaimu hingga seluruh jagat tau bahwa pujianku padamu tidak
menghiraukan dimensi diantara kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar